MEDAN (Waspada.id): Kolegium Obstetri dan Ginekologi Indonesia bekerja sama dengan Universitas Sumatera Utara menggelar kegiatan Basic Surgical Skill (BSS) 1 Medan yang berlangsung selama tiga hari, Jumat (10/4/2026) hingga Minggu (12/4/2026), bertempat di Diamond Room Cambridge Hotel Medan.
Basic Surgical Skill (BSS) merupakan program pelatihan yang disusun oleh Kolegium Obstetri dan Ginekologi Indonesia untuk meningkatkan kompetensi serta keterampilan dasar bedah calon dokter spesialis. Kegiatan ini diikuti oleh 32 peserta PPDS Obgyn dari lima senter pendidikan, yaitu Universitas Sumatera Utara sebagai tuan rumah, Universitas Andalas, Universitas Syiah Kuala, Universitas Riau, dan Universitas Prima Indonesia.
Ketua Panitia, dr. Iman Helmi Effendi, M.Ked(OG), Sp.OG(K), dalam laporannya saat pembukaan menyampaikan bahwa pelatihan ini diharapkan dapat meningkatkan kemampuan dasar bedah peserta sesuai standar kompetensi pendidikan.
Sekretaris Program Studi Obgyn FK USU tersebut juga menegaskan bahwa pelatihan ini harus memberikan manfaat optimal bagi peningkatan kompetensi PPDS.
Wakil Ketua Kolegium Obstetri dan Ginekologi Indonesia yang juga Direktur Pelatihan, Prof. Dr. dr. Muhammad Rusda, M.Ked., Sp.OG., Subsp.FER., menjelaskan bahwa BSS merupakan pelatihan dasar yang diberikan kepada peserta semester awal dan menjadi fondasi penting sepanjang masa pendidikan spesialis.
Ia menambahkan, BSS telah dilaksanakan sejak tahun 2000 dan digilir di 24 senter pendidikan Obgyn di Indonesia. USU sebagai salah satu senter tertua menjadi tuan rumah pada pelaksanaan kali ini.
“Dengan USU sebagai tuan rumah, diharapkan semakin memperkuat reputasi sebagai salah satu pusat pendidikan Obgyn di Indonesia,” ujarnya.
Prof. Rusda juga menyebutkan bahwa setiap pelatihan dilakukan monitoring dan evaluasi untuk melihat kesesuaian antara target dan capaian, dengan harapan tingkat pencapaian dapat di atas 90 persen.
Sementara itu, Wakil Dekan II FK USU, Dr. dr. Muara Panusunan Lubis, M.Ked(OG), Sp.OG(K), memberikan motivasi kepada peserta agar mengikuti seluruh rangkaian pelatihan dengan sungguh-sungguh karena keterampilan ini sangat penting dalam praktik klinis.
Materi pelatihan meliputi etika pembedahan, prinsip pencegahan infeksi, penggunaan jarum dan benang bedah, instrumen bedah, teknik simpul, insisi, dan penjahitan, yang kemudian dilanjutkan dengan praktik langsung pada hari berikutnya.
Kegiatan ini melibatkan 19 pelatih dari empat senter pendidikan serta didukung tiga observer dari Universitas Sumatera Utara dan Universitas Prima Indonesia. (wsp.id)










