Pendidikan

Kemendikdasmen Pastikan Pembelajaran di Medan Pulih Pascabanjir

Kemendikdasmen Pastikan Pembelajaran di Medan Pulih Pascabanjir
Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi, Pendidikan Khusus, dan Pendidikan Layanan Khusus (PKPLK) Kemendikdasmen, Tatang Muttaqin menegaskan bahwa kembali ke sekolah setelah bencana bukan hal mudah bagi murid maupun guru. Rasa cemas, kelelahan, hingga duka akibat kehilangan harta benda bahkan anggota keluarga masih mungkin dirasakan. Namun, semangat untuk belajar harus terus dijaga.
Kecil Besar
14px

JAKARTA (Waspada.id) :Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) memastikan kegiatan belajar mengajar di sekolah-sekolah terdampak banjir besar di Kota Medan dan sekitarnya kembali berangsur pulih. Memasuki awal semester genap tahun ajaran 2025/2026, sejumlah satuan pendidikan telah siap melaksanakan pembelajaran, termasuk SLB Negeri Pembina Tingkat Provinsi Sumatra Utara.

Kesiapan tersebut ditandai dengan pelaksanaan upacara bendera hari pertama sekolah yang dipimpin Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi, Pendidikan Khusus, dan Pendidikan Layanan Khusus (PKPLK) Kemendikdasmen, Tatang Muttaqin, di SLB Negeri Pembina Tingkat Provinsi Sumatra Utara, Senin (5/1).

Upacara diikuti ratusan murid dan guru dengan penuh semangat.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Direktur Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus, Saryadi, serta Kepala Balai Besar Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi Bidang Bangunan dan Listrik, Rasoki Lubis.

Kehadiran jajaran Kemendikdasmen menjadi bagian dari upaya memastikan pemulihan pembelajaran pascabencana berjalan optimal.

Dalam amanatnya, Dirjen Tatang menegaskan bahwa kembali ke sekolah setelah bencana bukan hal mudah bagi murid maupun guru. Rasa cemas, kelelahan, hingga duka akibat kehilangan harta benda bahkan anggota keluarga masih mungkin dirasakan. Namun, semangat untuk belajar harus terus dijaga.

“Anak-anakku, kita harus tetap gemar belajar kapan pun, di mana pun, dan dalam kondisi apa pun. Bapak dan Ibu guru akan terus berupaya menjadi teman belajar yang aman, nyaman, dan menyenangkan bagi kalian semua,” ujar Tatang.

Untuk membangkitkan semangat belajar, Dirjen Tatang mengajak para murid melakukan Senam Anak Indonesia Hebat dan menyanyikan lagu Hari Baru.

Suasana semakin hangat saat para murid menyapa Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, yang memimpin upacara hari pertama sekolah secara nasional dari Kabupaten Aceh Tamiang melalui Papan Interaktif Digital (PID).

Sementara itu, Kepala SLB Negeri Pembina Tingkat Provinsi Sumatra Utara, Mardi Panjaitan, menjelaskan bahwa banjir sempat merendam hampir seluruh ruang kelas dengan ketinggian air lebih dari satu meter. Akibatnya, sekitar 400 murid terpaksa mengikuti pembelajaran secara daring dari rumah masing-masing.

Selain ruang kelas, banjir juga merusak sejumlah fasilitas sekolah, termasuk ruang administrasi dan kantin hasil program revitalisasi satuan pendidikan tahun 2025. Perabot sekolah yang baru digunakan turut terdampak dan memerlukan perbaikan ulang.

“Mebel yang baru akhirnya kondisinya seperti mebel lama karena terendam banjir. Untungnya papan interaktif digital datang setelah banjir, sehingga bisa kami selamatkan,” kata Mardi.

Selain meninjau SLB Negeri Pembina, Dirjen Tatang juga mengunjungi sejumlah sekolah terdampak lainnya di Kota Medan, antara lain SMKN 14 Medan, SMPN 16 Medan, SDN 49 Medan, dan SDN 13 Medan. Di SMKN 14 Medan, banjir menyebabkan kerusakan berat pada peralatan praktik siswa. Sementara itu, di SMPN 16 Medan dan SDN 49 Medan, koleksi buku perpustakaan rusak dan tidak dapat digunakan kembali.

Sebagai bagian dari penguatan pemulihan pembelajaran, Kemendikdasmen melalui Ditjen PKPLK menyalurkan bantuan berupa schoolkit yang terdiri atas peralatan sekolah, buku, tas, dan sepatu bagi para murid. Bantuan tersebut diharapkan dapat meringankan beban orang tua sekaligus mengembalikan semangat belajar anak-anak.

Sejak banjir melanda wilayah Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat, Ditjen PKPLK melalui Direktorat Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus terus melakukan penanganan dampak bencana terhadap keberlanjutan pendidikan. Total bantuan yang disalurkan di ketiga wilayah tersebut mencapai lebih dari Rp13 miliar.

Bantuan mencakup 109 unit tenda darurat, 7.600 paket schoolkit, 2.000 pasang sepatu, serta 80 paket sekolah darurat. Selain itu, dukungan psikososial berupa layanan trauma healing juga diberikan kepada murid serta orang tua dan keluarga terdampak.

Salah satu penerima bantuan, Devina Tiara, murid SMPN 16 Medan, mengaku senang menerima schoolkit. Banjir setinggi hampir satu meter merusak buku, tas, dan perlengkapan sekolah miliknya.

Direktur Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus, Saryadi, berharap bantuan tersebut dapat menjadi penguat semangat murid untuk tetap belajar dan pantang menyerah. Ia menegaskan, keberlanjutan pembelajaran di daerah terdampak bencana merupakan prioritas pemerintah.

“Program pemulihan pembelajaran akan terus dilakukan dengan pendekatan yang fleksibel dan diferensiatif, sesuai kondisi murid, lingkungan, dan sekolah, serta melalui kolaborasi dengan berbagai pihak,” tutup Saryadi.(id11)

Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE