LANGKAT (Waspada.id): Petani di Desa Pulau Kampai, Kec. Pangkalansusu, Kab. Langkat, mengalami gagal panen. Ratusan hektare areal hamparan persawahan di desa pesisir ini dilanda kekeringan parah.
Curah hujan yang sangat minim sejak dua bulan terakhir ini menyebabkan sumber air untuk mengaliri sawah mengering. Diperkirakan, ratusan hektare lahan pertanian menjadi tandus dan tanah sawah retak-retak.
Kondisi ini membuat tanaman padi yang seharusnya siap panen justru mati dan gagal tumbuh secara optimal. Akibat fenomena alam ini, para petani mengaku mengalami kerugian yang cukup besar.
“Areal persawahan sudah kering total. Kami hanya dapat pasrah menghadapi kenyataan ini,” kata Nila, salah seorang petani kepada waspada.id, Selasa (14/4). Ia mengaku rugi karena hasil produksi mengalami penurunan cukup tajam.
Selain sebagian banyak tanaman padi yang mati akibat dilanda kekeringan ini, padi yang berbuah juga banyak yang tidak berisi alias hampa. “Lebih separuh pada hasil panen hampa,” keluh perempuan berdarah Aceh itu.
Selama ini, daerah pesisir Dusun Damar Seratus, Desa Pulau Kampai, termasuk salah satu desa sentra penghasil gabah di Langkat. Luas areal persawahan di dusun ini mencapai kurang lebih 600 s.d 800 hektare.
Meski termasuk sentra penghasil gabah, tapi sampai sejauh ini belum ada perhatian dari pemerintah daerah untuk membangun infrastruktur irigasi modern guna mendorong usaha ketahanan pangan untuk mendukung program pemerintahan Presiden Prabowo.
Menurut salah seorang pemilik areal sawah, irigasi tersier memang sudah dikerjakan beberapa waktu lalu, namun irigasi sekunder sama sekali belum digarap sehingga upaya optimalisasi lahan (oplah) tidak maksimal karena volume ketersediaan air terbatas.
Petani mengatakan, sarana dan prasarana pertanian di daerah ini masih kurang memadai. Padahal, Plt Sekjen Kementan pada tahun 2024 telah menetapkan acuan tentang tentang Pedoman Umum Pertanian Modern Berbasis Tanaman Padi.
Selain gagal panen, para petani juga kesulitan untuk mempersiapkan modal dan lahan guna musim tanam berikutnya karena tanah yang terlalu keras dan kering.
Kondisi yang sangat merugikan ini diharapkan menjadi perhatian. Pemerintah daerah harus maksimal memberikan bantuan sarana dan prasarana untuk meningkatkan hasil produksi agar petani tidak lagi didera kerugian saat menghadapi musim kemarau.
Para petani berharap pemerintah daerah serius memperhatikan nasib petani. Para ‘Pahlawan’ karbohidrat ini butuh bantuan dari pemerintah agar mereka bisa kembali bertani demi memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga.(a14)










