GUNUNGSITOLI (Waspada.id): Kepala Kejaksaan Negeri Gunungsitoli, Dr. Firman Halawa, SH, MH menegaskan pihaknya tidak pernah membatasi insan pers dalam mendapatkan informasi terkait penanganan dan penegakan hukum di institusi yang dipimpinnya.
Menurutnya insan pers merupakan mitra strategis institusi kejaksaan dalam mendukung penyebarluasan informasi tentang proses penanganan dalam penegakan hukum. Jika ada pihak yang menuding Kejaksaan Negeri Gunungsitoli pilih kasih atau melakukan pengkotak-kotakkan wartawan dalam mendapatkan informasi merupakan hal yang tidak berdasar.
Penegasan itu disampaikan Kajari Gunungsitoli melalui Kasi Intelijen, Yaatulo Hulu, SH, MH, Jumat (17/4) menanggapi adanya tudingan atau penilaian yang menyebutkan pihak Kejari melakuka pengkotak-kotakkan wartawan dalam mendapatkan informasi pada institusi yang dipimpinnya.
Yaatulo Hulu, menegaskan pihak Kejari Gunungsitoli tidak ada niat untuk mengkotak-kotakkan Wartawan. Ia mengungkapkan bahwa pertemuan yang dilaksanakan beberapa hari lalu dengan Forum Wartawan Kejaksaan (Forwaka) Gunungsitoli bukan agenda konferensi pers melainkan diskusi terkait rencana pelantikan Forwaka Gunungsitoli.
“Pada pertemuan itu rekan-rekan dari Forwaka menyelingi pertanyaan atas adanya isu liar yang beredar seputar penanganan kasus dugaan korupsi pembangunan RSU Pratama Kabupaten Nias, dan Pak Kajari menanggapi untuk meluruskan informasi liar yang beredar, jadi tidak ada konferensi pers dan tak ada niat mengkotak-kotakkan wartawan,” ujar Yaatulo Hulu.
Beberapa pihak menuding dengan adanya pertemuan itu, Firman Halawa dianggap terkesan hanya mau terbuka kepada oknum wartawan tertentu saja, terutama kepada wartawan yang sudah masuk di Forwaka.
Secara terpisah Sekretaris Forwaka Gunungsitoli, Haogo Zega menanggapi tudingan tersebut mengatakan bahwa pertemuan yang dilaksanakan dengan Kajari Gunungsitoli didampingi Kasi Intel untuk membahas rencana pelantikan Forwaka Gunungsitoli.
Haogo Zega menerangkan bahwa di sela-sela pertemuan itu beberapa Pengurus Forwaka Gunungsitoli menyelingi untuk konfirmasi isu liar yang beredar di tengah publik terkait penanganan kasus dugaan korupsi RSU Pratama Kabupaten Nias.
“Jadi tidak ada konferensi pers, konfirmasi kasus itu tidak terencana sebelumnya, itu spontan dan hanya kebetulan di sela-sela diskusi mengenai rencana pelantikan Forwaka,” ujarnya.
Haogo Zega juga menjelaskan bahwa Forwaka Gunungsitoli adalah wadah berhimpunnya Wartawan yang memiliki tujuan dan visi misi yang sama. Forwaka sendiri adalah forum yang terbentuk secara berjenjang mulai dari pusat, provinsi dan daerah.
“Jadi Forwaka ini sama dengan organisasi kewartawanan lainnya, dibentuk secara mandiri dan ada AD-ARTnya sendiri,” imbuhnya.
Ia memastikan keberadaan Forwaka Gunungsitoli siap bersinergi dengan pihak manapun, khususnya kepada seluruh insan pers. Forwaka ini dibentuk bertujuan untuk menjadi mitra strategis pihak kejaksaan dalam menyampaikan informasi terkait penegakan hukum dan kinerja kejaksaan kepada publik, serta mewujudkan sinergitas yang sehat antara kejaksaan dengan media.
“Kemarin sewaktu bulan puasa dan hari raya, Forwaka di tingkat Sumut menggelar safari ramadhan bersama organisasi pers lainnya. Jadi kami di Forwaka Gunungsitoli siap bersinergi maupun berkolaborasi dengan siapapun, terutama rekan-rekan pers,” ujarnya.
Pada kesempatan tersebut Haogo Zega mengajak rekan-rekan wartawan dari berbagai media untuk selalu bersatu dan bergandengan-tangan.
“Mari kita jaga kebersamaan sebagai sesama insan pers, melakukan tugas sesuai dengan Kode Etik Jurnalis (KEJ), dan kami memohon dukungan semua pihak terkhusus rekan-rekan pers terkait rencana pelantikan Forwaka Gunungsitoli,” ajak Haogo Zega
Haogo Zega juga menyarankan agar pihak Kejari Gunungsitoli dapat memberikan informasi kepada wartawan tanpa dibeda-bedakan.
“Kami yakin dan percaya Kejari Gunungsitoli tidak ada niat untuk mengkotak-kotakan wartawan, dan harapan kami dapat bersinergi dengan semua insan pers serta memberikan informasi sesuai dengan mekanisme atau SOP-nya,” pungkas Haogo Zega. (id60).










