P. SIDIMPUAN (Waspada.id): Sekretaris MUI Kota Padangsidimpuan Ustadz Dr. Zul Anwar Ajim Harahap, MA mengajak umat Islam agar berbuat Ihsan (lebih baik) dalam menjalankan ibadah, baik dibukan suci Ramadhan maupun di waktu lainnya demi meningkatkan ketaqwaan kepada Allah SWT.
“Kalau beribadah itu tidak dilakukan dengan Ihsan, maka shalat itu hanya lepas kewajiban saja. Alangkah baiknya ibadah itu dilakukan dengan Ihsan,” kata Ustadz Dr. Zul Anwar Ajim Harahap, MA dalam ceramahnya pada Kajian Ramadhan 1447 di Aula Kantor MUI, Jl.HT.Rizal Nurdin, Palampat, Padangsidimpuan, Rabu (25/2/2026).
Kajian Ramadhan yang digelar MUI Padangsidimpuan tiga kali dalam seminggu (Senin, Rabu dan Jumat) bertujuan untuk memberikan edukasi dan pencerahan pada umat dalam rangka meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT.
Dr. Zul Anwar Ajim yang juga sebagai Dosen Fakultas Syariah dan Ilmu Hukum UIN Syahada Padangsidimpuan menjelaskan, berbuat Ihsan dalam menjalankan ibadah atau beribadah dengan insan mencerminkan kualitas ibadah yang dilakukan seseorang.
“Dalam beribadah kita harus menjadi muslim yang muhsin. Dengan itu kita mempersembahkan ibadah yang terbaik di sisi Allah. Seorang muslim yang tidak menerapkan Ihsan dalam ibadahnya tentu mengurangi kualitas dari amal ibadahnya. Ibadahnya hanya sekadar lepas kewajiban dan sekedar melepaskan syariat dan rukunnya saja,” ucapnya.
Ustadz Dr.Zul Anwar Ajim, mengungkapkan bahwa tidak kurang dari 50 ayat dalam Al-Quran yang menyebutkan kata Ihsan dan mayoritas dalam kategori kata perintah seperti dalam surat Al-Baqarah : 195, surat An-Nahl : 90 dan surat Al-Qasas : 77.
Nabi Muhammad SAW juga menekankan kepada umat Islam dan para sahabatnya untuk berusaha mengamalkan ibadah dengan Ihsan karena Ihsan merupakan bagian kesempurnaan ibadah.
“Rasulullah menerangkan ketika menjawab pertanyaan malaikat Jibril tentang Ihsan. Dimana jawaban tersebut dibenarkan oleh Jibril dengan mengatakan : Engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihatnya dan apabila engkau tidak dapat melihatnya, maka sesungguhnya dia melihatmu,” ungkapnya.

Ia menegaskan bahwa Ihsan adalah puncak prestasi dalam ibadah, muamalah, dan akhlaq sehingga orang yang menyadari pentingnya Ihsan, maka akan berusaha untuk menjadi yang terbaik di hadapan Allah dengan berbuat Ihsan dalam ibadah dan kehidupan sehari-hari.
Dalam konteks ibadah puasa, lanjut Dr.Zul Anwar Ajim, dapat dilakukan dengan menghiasi puasa dengan amalan-amalan yang disunnahkan, mentakhkhirkan sahur dan menyegerakan berbuka puasa jika sudah waktunya, menjaga lisan dan anggota tubuh dari keinginan syahwat seperti banyak bicara dan bersenang-senang.
Ia juga menjelaskan tentang penerapan Ihsan dalam shalat, Ihsan dalam wudhu, Ihsan berbakti kepada orang tua, Ihsan dalam bergaul, Ihsan pada anak yatim dan faqir miskin, Ihsan pada tetangga dan teman sejawat, Ihsan terhadap karyawan, Ihsan dalam berbicara dan belaku Ihsan terhadap binatang.
Menjawab pertanyaan peserta kajian Ramadhan 1447 H, Dr. Zul Anwar Ajim menjelaskan bahwa jangan terlalu sibuk dengan perbedaan seperti dalam berdoa, ada yang mengangkat tangan dan ada yang tidak mengangkat tangan. “Makanya MUI itu tidak disibukkan dengan perbedaan di masyarakat, sepanjang itu tidak melanggar,” tegasnya.
Jika ingin Ihsan dalam membayar zakat, maka bayarlah zakat dengan cara yang terbaik. “Sepeti secara umum beras yang dimasak merupakan jenis 64, tapi sesekali kita makan beras si latihan atau si pulo pandan, maka saat bayar zakat berikan si latihan atau si pulo, itu yang dinamakan Ihsan,” ujar Dr. Zul Anwar.(id46)











