Mantan Wali Kota Langsa Terjebak Banjir Di Peunaron

  • Bagikan
Mantan Wali Kota Langsa, Usman Abdullah, bersama warga terjebak banjir di Peunaron, Aceh Timur, Senin (25/12) malam. Waspada/Ist.
Mantan Wali Kota Langsa, Usman Abdullah, bersama warga terjebak banjir di Peunaron, Aceh Timur, Senin (25/12) malam. Waspada/Ist.

IDI (Waspada): Mantan Wali Kota Langsa, Usman Abdullah atau akrab disapa Toke Seu’um terjebak banjir di Peunaron, Kabupaten Aceh Timur. Pasalnya, jalan lintas provinsi yang menghubungkan Peureulak – Lokop, putus di Peunaron Lama, Kecamatan Peunaron.

Kabarnya, Toke Seu’um bersama rombongan saat itu dalam perjalanan berwisata ke Lokop. Dalam perjalanan tiba-tiba melihat antrian panjang mengular hingga ke lokasi jembatan. Ternyata, jembatan berukuran 4X8 meter itu telah ambruk dan tak kunjung diperbaiki.

“Sebenarnya mobil Toke Seu’um bisa melewati titik genangan banjir, tapi mobil-mobil yang serombongan dengan tidak bisa lewat, sehingga Toke Seu’um memutuskan untuk menginap di Peunaron,” kata Usman, warga Peureulak Barat, kepada Waspada, Senin (25/12) malam.

Mantan Wali Kota Langsa Terjebak Banjir Di Peunaron
Kendaraan roda dua digotong di lokasi jembatan ambruk yang digenangi banjir di Peunaron Baru, Peunaron, Aceh Timur, Senin (25/12). Waspada/Ist.

Bukan hanya mantan Kepala Daerah (KDh) di Kota Langsa, namun dia bersama keluarga juga terjebak. Begitu juga dengan wisatawan lainnya dari berbagai daerah di pantai timur Provinsi Aceh. “Sejak sore pukul 17:00 Wib sampai saat ini belum bisa lewat, karena ketinggian air di lokasi jembatan ambruk mencapai sedada,” timpa Usman.

Dia mengaku, mala mini akan menginap di Peunaron dan akan mencoba untuk melanjutkan pulang ke Peureulak Barat setelah salat subuh. “Mudah-mudahan besok subuh bisa lewat, sehingga arus transportasi dari dua arah kembali normal,” sebut Usman.

Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) Peunaron, Agus Kiswanto, dikonfirmasi terpisah membenarkan adanya luapan sungai di wilayahnya, bahkan 22 unit rumah di Gampong Peunaron Baru, juga ikut terendam. Begitu juga dengan lahan perkebunan dan pertanian warga di dataran rendah juga karam.

“Arus transportasi terhenti, karena luapan air sungai mengakibatkan genangan air di lokasi jembatan ambruk dengan ketinggian mencapai 80 centimeter, sehingga kendaraan rendah tidak berani menerobos. Bahkan sejumlah kendaraan roda dua juga harus digotong ramai-ramai,” pungkas Agus Kiswanto. (b11).

  • Bagikan