13,5 Juta Keluarga Jadi Prioritas Penurunan Stunting13,5 Juta Keluarga Jadi Prioritas Penurunan Stunting

JAKARTA (Waspada): Sekira 13,5 juta keluarga berisiko stunting akan menjadi sasaran utama Program Percepatan Penurunan Stunting (PPS).
Berdasarkan hasil Pemutakhiran Data Keluarga Indonesia tahun 2022, terdapat 13.511.649 keluarga berisiko stunting. Jumlah ini merupakan bagian dari 71.334.664 total jumlah seluruh keluarga di Indonesia. Di dalam keluarga berisiko stunting juga termasuk di dalamnya adalah keluarga dengan kategori miskin ekstrem.
Selain menyasar pada keluarga berisiko stunting, Sukaryo Teguh menegaskan bahwa calon pengantin (catin) juga menjadi sasaran prioritas program PPS.
Sukaryo menyebutkan kalau upaya PPS adalah kerja sama seluruh pemangku kepentingan, utamanya masyarakat sampai di akar rumput. Basis pencegahan stunting difokuskan pada wilayah kecamatan hingga ke tingkat RT.
Di wilayah kecamatan inilah para petugas di lini lapangan bergumul dengan tugasnya -- dibantu para Pembina Pembantu Keluarga Berencana Desa (PPKBD) dan sub PPKBD -- melakukan sosialisasi, penyuluhan dan pelayanan.
Saat ini sedikitnya terdapat 14.000 Petugas Lapangan Keluarga Berencana (PLKB). Mereka tersebar di berbagai pelosok dan dalam menjalankan tugasnya dibantu PPKBD atau kader KB yang jumlahnya jutaan. Cukup efektif karena PPKBD, yang telah mengantarkan program KB menggapai sukses, menyebar hingga tingkat RT/RW di seluruh wilayah Indonesia.
Dalam program PPS, para PLKB dan relawan kader KB ini dibantu oleh 593.137 personil yang tergabung dalam 200.000 Tim Pendamping Keluarga (TPK). Tim ini terdiri atas bidan, kader PKK dan juga kader KB.
Fungsi dari masing-masing anggota TPK berbeda, tetapi memiliki tujuan sama, yakni memberikan pendampingan pada keluarga risiko stunting (KRS). Bentuknya berupa penyuluhan dan edukasi.
Salah satu tugas yang diemban TPK adalah memastikan bantuan yang disalurkan tepat sasaran dan diterima KRS dengan baik. Seperti bantuan telur yang benar-benar harus di makan oleh anak stunting atau berpotensi stunting, bukan oleh anggota keluarga yang lain.
Berdasarkan Rencana Strategis BKKBN 2020-2024, target keluarga risiko stunting yang mendapat pendampingan TPK sebesar 90 persen dari total KRS yang ada.
Selain faktor spesifik terkait stunting, di antaranya pemberian ASI eksklusif, Sukaryo Teguh juga mengatakan bahwa faktor sensitif mengambil peran 70 persen atas terjadinya kasus stunting.
Mengutip data yang ada, Sukaryo Teguh mengatakan 3,8 juta keluarga memanfaatkan sumber air tidak layak, dan 6,7 juta keluarga menggunakan jamban tidak layak. Ini berdasarkan hasil Pendataan Keluarga 2022.
Sukaryo Teguh juga mengungkap bahwa hampir 100 persen kepala daerah menyatakan berkomitmen terhadap proram PPS. "Bupati dan walikota bicara stunting, itu luar biasa. Ini menunjukkan komitmen mereka," tutur Sukaryo Teguh.
Hingga Semester I/2023, Pemerintah Provinsi yang telah mengalokasikan APBD untuk PPS mencapai 79 persen. Sementara di tingkat kabupaten/kota sebesar 80 persen.
Optimistis Target Dicapai
Program Manager Sekretariat Pelaksana Percepatan Penurunan Stunting, Ipin ZA Husni mengatakan optimistis target penurunan stunting menjadi 14 persen di 2024 akan terealisasi.
Optimisme Ipin dilatarbelakangi adanya keterlibatan 19 kementerian dalam program PPS. Selain juga didukung keterlibatan langsung ratusan ribu petugas yang tergabung dalam Tim Pendamping Keluarga dan Tim Percepatan Penurunan Stunting.
Kata Ipin, ada lima pilar strategi nasional percepatan penurunan stunting yang dimassifkan BKKBN dan mitra kerja. Yakni, komitmen berkelanjutan dari para pemimpin, peningkatan literasi masyarakat, konvergensi dan keterpaduan lintas sektor, pemenuhan gizi yang tepat, dan penguatan sistem pemantauan dan evaluasi.































Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda