Breaking News
Memuat breaking news...

20 Ribu Mahasiswa Indonesia di Tiongkok, Modal Baru Diplomasi People-to-People

Redaksi
Redaksi
Rabu, 16 September 2026 - 7.00 AM WIB
20 Ribu Mahasiswa Indonesia di Tiongkok, Modal Baru Diplomasi People-to-People
Peluncuran Indonesia Friends of Silk Road Club (IFSRC) bertema “Memahami Global Civilization Initiative (GCI) dari Perspektif Hubungan Indonesia–Tiongkok” di Hotel Borobudur Jakarta, Selasa (15/9/2026).
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

JAKARTA(Waspada.id): Sekitar 20.000 mahasiswa Indonesia yang saat ini menempuh pendidikan di berbagai perguruan tinggi di Tiongkok dinilai memiliki posisi strategis dalam memperkuat hubungan antarmasyarakat kedua negara.

Keberadaan ribuan mahasiswa tersebut tidak hanya dipandang sebagai bagian dari pertukaran pendidikan, tetapi juga sebagai potensi grassroots diplomats atau duta hubungan antarmasyarakat yang dapat membangun pemahaman dan kedekatan Indonesia-Tiongkok dari tingkat masyarakat.

Hal tersebut mengemuka dalam Seminar Nasional dan Peluncuran Indonesia Friends of Silk Road Club (IFSRC) bertema “Memahami Global Civilization Initiative (GCI) dari Perspektif Hubungan Indonesia–Tiongkok” di Hotel Borobudur Jakarta, Selasa (15/9/2026).

Seminar yang diselenggarakan Sino-Nusantara Institute tersebut membahas pentingnya memperluas hubungan Indonesia-Tiongkok dari kerja sama antarpemerintah (Government-to-Government/G2G) menuju hubungan antarmasyarakat (People-to-People/P2P).

Sekretaris Jenderal Kementerian Agama Kamaruddin Amin menilai inisiatif yang memperkuat hubungan Indonesia dan Tiongkok melalui kerja sama kebudayaan merupakan langkah strategis. Menurut dia, kebudayaan memiliki peran penting dalam membangun kehidupan global yang mampu menghargai perbedaan.

“Saya kira ini sebuah inisiatif yang sangat strategis, yang sangat bagus. Kerja sama untuk membangun peradaban global dari sisi kebudayaan,” ujar Kamaruddin.

Ia mengatakan, keberagaman atau diversity merupakan kekuatan yang dapat dikapitalisasi oleh Indonesia dan Tiongkok dalam membangun hubungan yang lebih luas.

Menurut Kamaruddin, kemampuan menghargai perbedaan menjadi bagian penting dalam membangun harmoni di tengah keragaman agama, budaya, bahasa, dan latar belakang masyarakat.

“Bagaimana kebudayaan menghargai perbedaan, menghargai diversity, itu sesuatu yang dikapitalisasi oleh kedua negara, Indonesia dan China,” katanya.

Kamaruddin menambahkan, pendekatan tersebut sejalan dengan visi Kementerian Agama yang menempatkan harmoni dan penghargaan terhadap keberagaman sebagai bagian penting dalam kehidupan masyarakat.

Karena itu, Kementerian Agama, kata dia, merespons positif berbagai inisiatif yang dapat mempertemukan potensi masyarakat kedua negara melalui kebudayaan dan pendidikan.

Ia menilai Tiongkok merupakan salah satu kebudayaan besar dunia sehingga kerja sama dengan Indonesia memiliki potensi untuk dikembangkan dalam berbagai bidang.

“Tiongkok ini salah satu kebudayaan besar di dunia, yang membuat inisiatif ini bagi saya sangat strategis dan sangat produktif,” ujarnya.

Ke depan, Kamaruddin berharap hubungan Indonesia dan Tiongkok tidak hanya dibangun melalui kerja sama antarpemerintah, tetapi juga diperkuat melalui kolaborasi antarmasyarakat.

Dalam keynote speech, Wakil Ketua DPR RI Sari Yuliati menekankan bahwa hubungan bilateral yang kuat tidak cukup hanya dibangun melalui diplomasi formal. Kepercayaan dan saling pengertian di antara masyarakat kedua negara juga menjadi bagian penting dalam menjaga hubungan jangka panjang.

“Diplomasi pada abad ke-21 tidak dapat lagi hanya mengandalkan Government-to-Government (G2G), tetapi juga harus berakar kuat pada People-to-People (P2P) exchanges,” demikian salah satu gagasan yang disampaikan dalam keynote speech tersebut.

Mahasiswa Jadi Jembatan Dua Negara

Keberadaan sekitar 20.000 mahasiswa Indonesia di Tiongkok menjadi salah satu modal dalam membangun hubungan antarmasyarakat. Selama menjalani pendidikan, mahasiswa Indonesia berinteraksi langsung dengan masyarakat, akademisi, institusi pendidikan, dan komunitas di Tiongkok. Pengalaman tersebut dapat menjadi jembatan untuk memperkenalkan Indonesia sekaligus memahami masyarakat dan kebudayaan Tiongkok secara lebih dekat.

Peran serupa juga dapat dimainkan oleh peneliti, jurnalis, pelaku usaha, serta komunitas masyarakat kedua negara.

Dalam forum tersebut, kelompok-kelompok tersebut dipandang memiliki ruang untuk berkontribusi dalam membangun komunikasi dan pemahaman lintas budaya di luar jalur diplomasi formal.

Direktur Sino-Nusantara Institute A. Syaifuddin Zuhri mengatakan, penguatan hubungan Indonesia-Tiongkok membutuhkan keterlibatan masyarakat secara lebih luas.

Karena itu, IFSRC diluncurkan sebagai salah satu platform people-to-people yang mempertemukan akademisi, pelajar, pemuda, pebisnis, serta berbagai elemen masyarakat lainnya dari Indonesia dan Tiongkok.

“Hubungan yang kuat juga membutuhkan hubungan antarmasyarakat,” menjadi salah satu gagasan yang ditekankan dalam peluncuran IFSRC.

Dari Kampus ke Diplomasi Budaya

Potensi mahasiswa Indonesia di Tiongkok juga berkaitan dengan agenda pertukaran budaya dan dialog antarperadaban yang menjadi bagian dari pembahasan Global Civilization Initiative (GCI).

GCI yang diperkenalkan Presiden Tiongkok Xi Jinping pada 15 Maret 2023 antara lain menekankan dialog antarperadaban, penghormatan terhadap keberagaman, serta penguatan hubungan antarmasyarakat.

Dalam konteks tersebut, mahasiswa dapat menjadi bagian dari ekosistem pertukaran pengetahuan dan budaya. Interaksi sehari-hari di kampus, kegiatan akademik, organisasi mahasiswa, hingga jejaring pertemanan dapat membuka ruang bagi masyarakat kedua negara untuk saling mengenal secara lebih langsung.

IFSRC kemudian diarahkan untuk memperluas jejaring tersebut melalui kolaborasi akademisi, mahasiswa, peneliti, media, tokoh agama dan budaya, organisasi kepemudaan, institusi pendidikan, serta dunia usaha.

Dengan demikian, keberadaan sekitar 20.000 mahasiswa Indonesia di Tiongkok tidak hanya memiliki dimensi pendidikan. Jejaring tersebut juga menjadi salah satu modal sosial dalam membangun hubungan Indonesia-Tiongkok melalui jalur people-to-people.

Melalui IFSRC, jejaring tersebut diharapkan dapat berkembang menjadi kolaborasi yang lebih luas dalam bidang pendidikan, riset, kebudayaan, media, dialog keagamaan, hingga pemberdayaan masyarakat.(id11)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement