Breaking News
Memuat breaking news...

Ke-NU-an Dan Ke-Muhammadiyah-an oleh Ir Tengku Nevatuhella

Redaksi
Redaksi
Sabtu, 19 Februari 2022 - 8.42 PM WIB
W
Waspada
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

Bagi saya, dua organisasi terbesar di Indonesia, Muhammadiyah dan Nadhatul Ulama (NU) mempunyai kekhasan—bahkan kejenakaan masing-masing. Misalnya saja, saat ini saya berada di kota Bandung bagian Barat.

Setiap menjelang Maghrib di masjid atau mushalla dibacakan selawat nabi oleh anak-anak. Saya rasakan suasana shalawatan lebih meriah dari penyambutan Rasul ketika tiba di Madinah. Suara nyaring anak-anak, uniknya tak hanya membawakan selawat, tapi juga menyanyikan lagu:

Indung indung kepala lindung, hujan di udik disini mendung, anak siapa pakai kerudung, mata melirik kaki kesandung. Tak salah memang. Lirik lagu yang dulu dibawakan Endang S. Taurina ini berisi nasihat untuk mata yang jelalatan walau sudah pakai kerudung.

Di kampung halaman saya, Medan, Sumatera Utara shalawat menjelang Maghrib tak ada. Bahkan shalat sunah sebelum Maghrib pun langka. Selesai azan, iqamah langsung dilafazkan. Tapi entah sekarang ini, karena makin meluasnya jangkauan NU di Sumatera Utara. Salah satu kekhasan NU, ya itu tadi: selawatan sesudah azan Maghrib.

Pernah seorang ibu yang NU, teman saya ketika berada di Denpasar, Bali, mengatakan begini, “Eh, Mbak Neva. Setiap waktu saya berdoa agar anak saya jangan menjadi Muhammadiyah, lho!” Saya tak habis pikir dengan pernyataan ini.

Dalam hati saya menyebut, “Lha, wong suamimu Muhammadiyah tulen.” Kalau dipanjangi tentu saya akan mempermasalahkan kenapa dia kawin sama laki-laki Muhammadiyah.

Saya sendiri mengenal dan pernah bergabung dengan perwiridan NU, membaca selawat dalam acara-acara keagamaan dan kekeluargaan, ketika berada di Denpasar. Kalau di Medan, marhaban atau barzanji hanya dibacakan atau dilagukan saat memperingati Maulid dan acara keluarga.

Misalnya mencukur anak atau sunatan dan di pagi hari kenduri perkawinan. Ya, sebagai meramaikan suasana saja. Tidak menjadi keharusan.

Lalu ada pula teman saya boru Batak. Menikah dengan laki-laki NU. Menetap di Bangil, Jawa Timur. Mereka bertemu di kota Brastagi tahun 80-an. Waktu itu pemuda Jawa Timur ini sedang menjalankan progam pengislaman warga Brastagi yang masih Pelbegu, yang didanai Rabithah Al-Islami, Arab Saudi.

Di awal perkawinan, teman saya selalu menolak kegiatan ke-NU-an. Termasuk ziarah dan acara yang diwarnai shalawat nabi. Tapi kini, ia berubah, ia bahkan memuji suaminya yang rajin bershalawat dan berzikir. Semua dimudahkan Allah dengan ibadah sunnah suaminya ini, menurutnya. Tiga anaknya sarjana, bahkan ada yang dibiayai beasiswa NU.

Tentang kawan saya ini mungkin—sama seperti saya—sejak kecil dibesarkan dalam suasana ke-Alwashliyah-an di Sumut. Organisasi sosial keagamaan yang pusatnya di Medan. Bukan seperti NU dan Muhammadiyah yang berpusat di Jakarta.

Selawat kepada rasul memang ikonnya NU. Bersamaan dengan zikir-zikir. Tak ada hari apalagi perayaan tanpa selawat nabi. Biasanya selawat dibaca sampai puluhan ribu kali. Dengan kemeriahan makan dan minum. Sungguh akbar acara-acara tahlilal NU.

Walaupun tentunya tak seharu dan sekolosal ketika rombongan peziarah Syiah selama tiga hari berjalan kaki dari Najaf ke Karbala, Irak. Atraksi pilu selama perjalanan dilakukan. Tangisan pilu dan para perrmpuan dengan memukul-mukul dada.

Memang betapa besar kisah Ali bin Abi Thalib beserta putranya Hasan dan Husein yang menjadi korban di Karbala pada peperangan melawan kelompok Utsman.

Tentang haul NU, ada cerita seorang anak muda di Sumatera Utara dalam status medsosnya mengingatkan bahwa kalau ia meninggal dunia, jangan ada haul-haulan. Teman NU-nya tersenyum-senyum saja menyikapi pernyataan temannya ini. Begitu pun persahabatan mereka tetap tak pernah kendor.

Gesekan antara NU dan Muhammadiyah di tahun 70-an dan 80-an, ketika saya masih duduk di SD dan SMP, beberapa kali saya dengar ceritanya dari ayah dan atok saya. Seorang bapak yang rumahnya bersebelahan dengan masjid Muhammadiyah di Medan tak pernah menjejakkan kakinya di masjid tersebut.

“Masak pulak mau shalat bakecek pitih mereka,” komentar bapak ini. Memang disekitar masjid berada warga kebanyakan suku Minang. Dan hingga kini, soal bakecik pitih sebelum shalat Jumat, banyak dilakukan pengurus masjid -masjid di Indonesia. Wallahualam, apakah di masjid -masjid dekat Ka’bah sana, orang-orang bakecek pitih juga sebelum shalat Jumat.

Pernah suatu waktu di tahun 80-an, menjelang shalat Asar, Sulaiman Sambas—sastrawan asal Tanjungbalai—dan rekan-rekan penyairnya akan shalat di sebuah masjid di sekitar Jalan Puri, Medan.

Seorang anak muda muncul dan kemudian melantunkan azan karena melihat tak ada jamaah yang bergerak menuju mikrofon. Ia mengawali azan dengan membacakan, “Innallaha wa Malaiakatahu…” Begitu selesai azan, pengurus masjid menegurnya, “Jangan pernah kau azan di sini lagi!” Masjid itu tentunya milik Muhammadiyah.

Lain cerita di sebuah masjid lain, ada pengurus masjid Muhammadiyah yang mencerca jamaah shalat yang membaca niat shalat dengan bersuara. “Tak ada usholli, ushalli di sini!” Memang Muhammadiyah tak mengharuskan membaca niat setiap akan mengangkat takbir.

Menurut mereka niat sudah dilakukan dari sejak mau salat. Sama dengan berpuasa, banyak umat Islam yang berniat sebulan penuh, hingga tak harus berniat setiap hari.

Semua perbedaan NU dan Muhammadiyah sebatas furuk atau ranting-ranting fikih yang tak menjadi masalah besar. Sebab ajaran Islam bertitik tolak dari enam Rukun Iman dan lima Rukun Islam. Rukun Iman menyatakan keyakinan, dan Rukun Islam sebagai realisasi dari keyakinan.

Kian Mencair

“Kalau tak ada (kekuasaan) yang diperebutkan, tak ada masalah dua organisasi ini,” ungkap Ustad Abdul Somad dalam satu kesempatan. Benar memang! Saat ini hubungan NU dan Muhammadiyah sudah mencair sedemikian rupa. Masing-masing memahami posisinya.

Muhammadiyah dengan upaya memurnikan ajaran Islam dari banyaknya bidah atau mengada-ngada, takhyul dan khurafat. Sedangkan NU berorientasi bertoleransi terhadap tradisi-tradisi yang ada di Indonesia.

NU sendiri lahir 31 Januari 1926. Didirikan oleh KH. Hasyim Asy’ari, ulama besar yang lama berguru di Tanah Suci. NU lahir guna menampung gagasan keagamaan para ulama tradisional sebagai reaksi atas prestasi gerakan modernisasi, yang didahului oleh berdirinya Muhammadiyah pada 14 tahun sebelumnya (1912).

Dua organisasi besar Islam ini, tidak bisa tidak, kini harus diakui sulit memisah antara kepentingan politik dengan kepentingan keagamaan. NU memiliki PKB. Muhammadiyah punya PAN.

Islam adalah ideologi ketauhidan yang tak bisa lepas dari politik sebagai pengejewantahan kepentingan memelihara ketertiban nafsu berkuasa. Jangan sampai menjadi penindas atau ditindas. Ini yang diinginkan Islam sebagai agama yang rahmatan lil alamin.

Semoga kedua organisasi Islam terbesar di Indonesia ini terus mengakrabkan diri. Lebih mengutamakan kemajuan Islam. Kalau NU ingin punya universitas besar dan megah seperti Muhammadiyah wajar.

Sebaliknya Muhammadiyah pun kalau ingin punya pondok pesantren wajar. Tapi yang menggelitik jawaban dari dua keinginan ini adalah sehebat apa NU memiliki universitas, ya akan menjadi Ponpes juga. Sebaliknya juga terhadap Muhammadiyah.

Ke-NU-an dan ke-Muhammadiyah-an sebagi manifestasi manusia pada saat-saat tertentu membutuhkan humor untuk menghaluskan perasaan dan kritik. Seperti tanya jawab ini. Seorang warga Muhammadiyah bertanya pada warga NU, apakah mendengar musik haram. Yang ditanya menjawab, “Yang haram itu musyrik.”

96 Tahun NU dan 110 Muhammadiyah. Kakak beradik harus bergandengan membela Islam. Lihat Afganistan yang kini merana akibat pecah belah antara Sunni-Syiah oleh tangan yang tak bertanggungjawab, alias kurang ajarnya bangsa-bangsa yang memporak-porandakannnya. Etnis Hazara disana nyaris musnah hanya dengan karena mereka Syiah.

Umat Islam Indonesia harus bergandengtangan memajukan kehidupan umat. Baitul Maal harus dihidupkan untuk menanggulangi kemiskinan sebagian umat Islam. Islam for Islam harus ditegakkan. Mengharap pemerintah yang sekuler sepertinya berat. Dalam hal ini cocoklah kalau para cendekiawan dan pengurus masjid bekecek pitih.

Bangunan masjid sudah begitu megah menyebar di banyak provinsi. Maka sudah saatnya memikirkan pitih untuk lambung dan pendidikan umat yang masih membutuhkan. Soal perbedaan di furuk harus dikesampingkan sedemikian rupa.

Akhirul kalam, saya tutup tulisan ini dengan suatu kejadian perbedaan furuk yang pernah saya saksikan dan ikut di dalamnya. Ramadhan dua tahun silam, saya dan anak lajang saya berbuka bersama di masjid Al-Jihad Medan.

Selepas berbuka, biasanya shalat Maghrib tak terus dilaksanakan sesudah azan. Pada waktu itu, begitu cukup lama shalat Maghrib dilaksanakan. Rupanya menunggu seorang tamu asal Arab Saudi.

Sesudah jamaah menunggu dengan sabar, muncullah seorang lelaki Arab bertubuh besar tinggi diiringi pengurus masjid. Sang tamu langsung mengambil posisi imam dan memimpin shalat. Ciri wahabiyah muncul ketika ia tidak membaca basmallah ketika membaca Al-Fatiha. Tapi hal yang paling membuat gusar sebagian besar makmum adalah bacaan ayatnya yang panjang sekali.

Selesai shalat anak saya berkomentar, “Mau patah kaki awak berdiri. Tak adala imam, tu. Ia mungkin baru makan sekilo daging kambing dan seliter susu ketika tadi berbuka puasa. Awak, nasi sebutir pun belum.” Dalam hati saya mengatakan bagaimana pula rasanya kaki saya ketika shalat tadi. Kaki emak-emak berusia 60 tahun.

Waktu memakai sepatu di emperan masjid, dua orang ibu yang lebih tua dari saya mendiskusikan imam Arab tadi. Salah seorang mengatakan, “Itu imam shalat Bapak Arab kaum tua, apa kaum muda, ya?” Sang teman menjawab, “Ah, yang penting ada Al-Fatihanya, lho!” Perbedaan pun mencair. Sebab keduanya tak mempunyai kepentingan, kecuali ibadah menyembah Allah.

Penulis adalah Alumnus Teknik Kimia USU (1988), Sastrawan.

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik
No topics for this article yet.

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement