42 Tahun UT, Ali Muktiyanto: Kita Harus Hadirkan Masa Depan ke Masa Kini


TANGERANG SELATAN (Waspada.id): Rektor Universitas Terbuka (UT) Prof. Dr. Ali Muktiyanto menegaskan pentingnya inovasi radikal dan transformasi lintas generasi untuk membawa perguruan tinggi tetap berada di garis terdepan menghadapi perubahan zaman.
Hal itu disampaikan Ali dalam sambutannya pada acara puncak Dies Natalis ke-42 Universitas Terbuka (UT) di UTCC, Tangerang Selatan, Jumat (4/9/2026).
Ali mengatakan, usia 42 tahun bagi sebuah institusi pendidikan tinggi bukan sekadar deretan angka, melainkan bukti kedewasaan, ketangguhan, dan rekam jejak panjang dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.
Namun, menurut dia, capaian tersebut tidak boleh membuat seluruh sivitas akademika terlena dan merasa nyaman.
“Generasi saat ini tidak boleh membuat kita merasa nyaman dan lelah. Ini adalah era disrupsi dan pergerakan yang cepat di depan mata,” ujarnya.
Ia menegaskan UT harus mampu menghadirkan masa depan ke masa kini. Karena itu, inovasi yang dikembangkan tidak cukup sekadar inovasi yang mampu bertahan, tetapi harus mengakar dan bersifat revolusioner.
“Kita harus menjadi pencipta tren, bukan pengikut tren agar UT senantiasa berada di garis terdepan,” katanya.
Ali menyebut, visi tersebut dijalankan dengan pendekatan lintas generasi, mulai dari generasi Baby Boomers, Generasi X, Milenial, hingga Generasi Z.
Menurutnya, semangat inovasi radikal tersebut telah diwujudkan melalui berbagai capaian UT dalam beberapa tahun terakhir. Salah satunya terlihat dari pertumbuhan jumlah mahasiswa. Saat ini UT melayani 856.444 mahasiswa, meningkat dibandingkan jumlah mahasiswa sejak awal berdirinya yang tercatat 768.258 mahasiswa.
“Lonjakan ini membuktikan tingginya kepercayaan masyarakat terhadap UT sekaligus komitmen kita untuk terus menghadirkan akses pendidikan tinggi berkualitas ke seluruh negeri, bahkan mancanegara,” ujarnya.
Layanan Akademik Tetap Terjaga
Ali menegaskan pertumbuhan jumlah mahasiswa tidak membuat kualitas layanan akademik UT menurun.
Ia menyebut pelaksanaan tutorial dan ujian selama dua semester terakhir berjalan lancar. UT bahkan mampu melayani lebih dari 120.000 kontak mahasiswa dalam setiap sesi ujian, dengan kapasitas sistem mencapai 250.000 peserta.
Menurut Ali, UT juga berhasil menghadirkan inovasi berupa ujian online berbasis perangkat mobile lebih cepat dari target sebelumnya.
“Inovasi dalam bentuk ujian online berbasis mobile, yang sebelumnya kita prediksi baru bisa hadir tahun depan, ternyata hari ini sudah bisa melayani mahasiswa kita semua,” katanya.
Ia menilai keberhasilan tersebut merupakan hasil kerja sama seluruh sivitas akademika dalam membangun sistem pendidikan jarak jauh yang semakin tangguh.
Akreditasi dan Riset Meningkat
Dari sisi mutu pendidikan, Ali menyampaikan jumlah program studi dengan akreditasi unggul secara nasional meningkat dari 52 persen menjadi 59,62 persen.
Selain itu, UT telah memiliki akreditasi A pada level perguruan tinggi serta memperoleh akreditasi internasional dari HECI dan SIBA.
Pada level internasional, UT juga telah melalui quality review. Ali mengungkapkan salah satu reviewer menyebut UT layak disebut sebagai “The World's Mega Quality University.”
Komitmen UT terhadap pengembangan keilmuan juga tercermin dari peningkatan publikasi penelitian dosen dan peneliti.
Jumlah publikasi meningkat dari 1.151 menjadi 1.251 publikasi, sedangkan publikasi yang terindeks internasional bereputasi pada kuartil Q1 hingga Q4 meningkat dari 748 pada 2024 menjadi 922 pada 2026.
Peningkatan tersebut sejalan dengan kebijakan strategis UT dalam memperbesar alokasi anggaran penelitian. Anggaran riset meningkat 73,6 persen, dari Rp32,9 miliar pada 2025 menjadi Rp57,1 miliar pada 2026.
“Tahun ini juga telah diluncurkan program kelompok riset profesional dan berbagai program riset untuk mendukung program strategis Presiden, yaitu Riset Strategis Nasional,” kata Ali.
UT Melonjak dalam Pemeringkatan SDGs
Ali juga menyampaikan capaian UT dalam Times Higher Education Sustainability Impact Rankings 2026. Dalam pemeringkatan tersebut, posisi UT meningkat ke peringkat 801–1.000 dunia, dari sebelumnya berada pada posisi 1.001–1.500 dunia.
Yang lebih membanggakan, UT kini telah berkontribusi pada seluruh 17 Sustainable Development Goals (SDGs), meningkat dari sebelumnya yang baru mencakup lima fokus SDGs.
Efisiensi Tata Kelola
Dari sisi tata kelola keuangan, UT juga melakukan efisiensi melalui pengadaan bahan ajar cetak melalui program Paramita.
Bahan ajar dicetak dan dikirim langsung dari vendor kepada mahasiswa. Skema tersebut mencapai 95 persen dari total bahan ajar yang dicetak. Kebijakan itu mampu menekan biaya dari sebelumnya sekitar Rp105.000 menjadi Rp42.000 per eksemplar.
Ali menegaskan efisiensi tersebut merupakan bagian dari upaya UT beroperasi secara lebih gesit, tepat, dan tepat sasaran.
“Kita beroperasi dengan lebih gesit, tepat, dan tepat sasaran tanpa membuang sumber daya secara percuma,” ujarnya.
Kesejahteraan Pegawai Meningkat
Sementara itu, efisiensi tata kelola juga turut berdampak terhadap peningkatan kesejahteraan pegawai UT.
Ali menyebut, dengan jumlah sekitar 2.400 pegawai pada akhir 2025, pendapatan rata-rata per pegawai mencapai sekitar Rp281 juta per tahun.
Angka tersebut diperkirakan meningkat menjadi sekitar Rp283 juta per pegawai per tahun pada akhir 2026.
Menurut Ali, berbagai capaian tersebut menjadi bukti bahwa transformasi UT tidak hanya menyasar peningkatan jumlah mahasiswa, tetapi juga kualitas layanan, mutu akademik, riset, keberlanjutan, efisiensi tata kelola, hingga kesejahteraan pegawai.
“Usia 42 tahun harus menjadi momentum untuk terus bergerak. Kita harus menghadirkan masa depan ke masa kini dan memastikan UT senantiasa berada di garis terdepan,” katanya.(id11)












Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda