Mahasiswa Kecam Politik DinastiMahasiswa Kecam Politik Dinasti

MEDAN (Waspada): Belasan massa dari DPC Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Kota Medan menggeruduk gedung DPRD Sumut, Jumat (3/11) sore. Mereka mengecam politik dinasti pada pemilihan umum tahun 2024 nanti.
Kordinator aksi Fransiscus Sigalingging dalam orasinya mengatakan, politik dinasti begitu kentara setelah Mahkamah Konstitusi (MK) memutuskan tentang batas minimal usia calon presiden (capres), yang telah memuluskan jalan bagi putra sulung Presiden Jokowi, Gibran Rakabuming Raka, untuk menjadi calon wakil presiden (cawapres) mendampingi Prabowo Subianto.
"Putusan MK telah merusak tatatan demokrasi kita, dan ini akan mengganggu proses pemilihan presiden kita nanti," teriak Fransiscus, melalui pengeras suara.
Publik kemudian, tambah Fransiscus menuduh Jokowi telah menancapkan politik dinasti, terlebih beliau dianggap bungkam dan tidak bertindak di tengah persoalan ini.
GMNI Kota Medan khawatir jika tidak diatasi, akan melahirkan sikap otoriter dan kehendak sang raja untuk melanjutkan kekuasaan yang tidak lari jauh dari lingkaran kekeluargaan.
"Kita minta seluruh elemen masyarakat bergerak dan mencegah makin buruknya keadaan," katanya.
Aksi ini mendapat pengawalan aparat kepolisian dan security DPRD Sumut, dan seluruh anggota dewan tidak berada di tempat saat unjukrasa berlangsung.
Karena kesal tidak direspon, para mahasiswa tampak membakar ban dan merangsek maju ke pintu pagar besi dan sebagian menempelkan spanduk di atas pagar sambil berteriak ingin masuk ke dalam gedung.
Kordinator security Sugeng menjelaskan bahwa para anggota dewan tidak berada di tempat, namun itu tidak dipercaya para mahasiswa. Bahkan mereka ngotot lima perwakilan mereka diizinkan masuk.
Akibat salah pengertian ini sempat terjadi cekcok, namun akhirnya setelah dilobi, perwakilan aksi dibolehkan masuk diantar petugas kepolisian dan staf.
Setelah melakukan sweeping, perwakilan aksi kecewa karena tidak ada satupun wakil mereka ada di dalam. Mereka berjanji akan berunjukrasa lagi dengan jumlah yang besar. Usai berorasi, peserta aksi meninggalkan gedung dewan dengan tertib, menjelang magrib. (cpb)






























Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda