Breaking News
Memuat breaking news...

5 Bulan Terakhir Indonesia Alami Deflasi Dan September Deflasi 0,12 Persen

Redaksi
Redaksi
Selasa, 1 Oktober 2024 - 2.16 PM WIB
5 Bulan Terakhir Indonesia Alami Deflasi Dan September Deflasi 0,12 Persen
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

JAKARTA -- Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, selama lima bulan terakhir Indonesia mengalami deflasi dan pada bulan September 2024 deflasi sebesar 0,12 persen secara bulanan (month to month/m-to-m).

"Deflasi September ini terlihat lebih dalam dibandingkan bulan Agustus 2024 (0,03 persen). Ini merupakan deflasi kelima pada tahun 2024, secara bulanan, dengan indeks harga konsumennya dari 106,06 pada Agustus 2024 menjadi 105,93 pada September 2024," kata Plt Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti secara virtual, Selasa (1/10/2024).

Secara tahunan (year on year/yoy) terjadi inflasi sebesar 1,84 persen, dan secara tahun kalender (year to date/YTD) terjadi inflasi sebesar 0,74 persen.

"Kelompok pengeluaran penyumbang deflasi bulanan terbesar adalah makanan, minuman, dan tembakau dengan deflasi sebesar 0,59 persen, dan memberikan andil deflasi sebesar 0,17 persen," ungkapnya.

Terdapat komoditas yang memberikan andil inflasi, di antaranya, ikan segar dan kopi bubuk, dengan andil inflasi, masing-masing sebesar 0,02 persen. Biaya kuliah, akademi atau perguruan tinggi, kemudian tarif angkutan udara dan juga sigaret kretek mesin (SKM) yang memberikan andil inflasi masing-masing sebesar 0,01 persen.

"BPS juga mencatat beberapa peristiwa penting yang dapat berpengaruh terhadap indikator-indikator harga. Pertama harga BBM nonsubsidi mengalami penurunan pada September 2024 setelah bulan lalu (Sebelumnya) mengalami penurunan harga," tutur Amalia.

Pertamax, turun Rp600 - Rp750, atau sekitar 5-6 persen. Pertamax Turbo, turun Rp980 - Rp 1.050, atau sekitar 6-7 persen. Dexlite, turun Rp 1.200 - Rp 1.350 ataua sekitar 8-9 persen. Pertamina Dex, turun Rp1.100 - Rp1.150, atau sekitar 7 persen.

"Seiring dengan peningkatan produksi di beberapa daerah, pasokan cabai rawit dan cabai merah terlihat meningkat. Ketiga, tren penurunan harga rata-rata ayam ras pedaging hidup atau yang disebut dengan livebird di tingkat produsen, masih terus berlanjut hingga September 2024," ujar Amalia.

Terakhir, lanjutnya, bertepatan dengan hari kopi internasional yang jatuh pada hari ini (1 Oktober). BPS mengutip dari International Coffee Organization, telah terjadi tren kenaikan harga kopi dunia, hingga September 2024. (J03)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik
No topics for this article yet.

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement