Breaking News
Memuat breaking news...

76 Tahun Perjalanan PSMS Medan

Redaksi
Redaksi
Selasa, 21 April 2026 - 8.10 AM WIB
76 Tahun Perjalanan PSMS Medan
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

Oleh : Indra Efendi Rangkuti

Tak terasa 21 April 2026 ini PSMS Medan genap berusia 76 tahun. Momen yang usia yang sudah cukup dewasa ini seharusnya bermakna puncak prestasi perjalanan sebuah klub seperti PSMS yang pernah menjadi klub terkemuka di Indonesia dan Asia.

Namun apa daya di ulang tahun ke-76 ini PSMS justru berada di luar kasta tertinggi persepakbolaan Indonesia.PSMS kini jauh tertinggal dari pesaing - pesaing lamanya di persepakbolaan Indonesia seperti : Persija,Persib,Persebaya dan PSM.Dahulu PSMS berdiri sama kuat dengan Persija,Persebaya,Persib dan PSM. Namun kini PSMS justru berada di luar kasta tertinggi persepakbolaan Indonesia.

Walau demikian tentunya doa dan harapan para pecinta PSMS tidak putus agar PSMS bisa bangkit kembali dan bisa berkibar lagi dengan torehan - torehan prestasi Emas di persepakbolaan Indonesia dan Internasional khususnya Asia.

Sejarah PSMS bermula dari berdirinya Deliesche Voetbal Bond (DVB) pada 7 Juli 1907 di Medan. Kemudian dengan berdirinya Oost Sumatera Voetbal Bond (OSVB) pada 1915, DVB secara terbuka menyatakan bersedia berintegrasi dengan OSVB (proses peleburan).

Sesuai dengan perkembangan situasi dan kondisi, wilayah cakupan OSVB tidak lagi efektif. Pada September 1949, para pemangku kepentingan sepak bola di Medan membentuk Vecht Buiten Medansche Organisatie (VBMO). Dalam rangka penyesuaian kebijakan Voetbal Unie in de Verenigde Staten van Indonesie (VUVSI) yang merupakan penerus federasi sepakbola Hindia Belanda (NIVU) pada 1948 untuk menerjemahkan VUVSI menjadi Ikatan Sepakbola Negara Indonesia Serikat (ISNIS), maka VBMO pun menjadi perserikatan sepak bola Medan disebut VBMO.

Pada bulan Maret 1950, militer Belanda meninggalkan Medan. Organisasi sepak bola Negara Bagian Sumatera Timur pada masa pendudukan Belanda, Rumah Susun Football Club (RSFC) dan Oost Sumatra Voetbal Bond (OSVB) yang telah berdiri sejak awal tahun 1930-an kemudian menurut beberapa fihak pada tahun 1950 berganti nama menjadi Persatuan Sepakbola Medan dan Sekitarnya atau disingkat menjadi PSMS.

Akan tetapi, tidak ada bukti yang jelas dan kuat bahwa klub - klub seperti MVC, DVB, OSVB, VBMO, RSFC dan klub-klub sepak bola lainnya yang berdiri pada masa penjajahan Belanda merupakan embrio atau cikal bakal PSMS.

Para penggagas lahirnya PSMS Medan adalah 6 tokoh yang mewakili 6 Klub Amatir di Medan pada tahun 1950. Keenam tokoh tersebut adalah Adinegoro (Al Wathan), Madja Purba (Sahata), Sulaiman Siregar (PO Polisi), TM Harris (Medan Sport), dr Pierngadi (Deli Matschapij) dan Tedja Singh (India Football Team). Merekalah yang mengkoordinir 23 klub di Medan saat itu hingga berdirinya PSMS Medan pada tanggal 21 April 1950.

4 dari 6 tokoh yang memprakarsai lahirnya PSMS pada 1950 yaitu dr.Pirngadie,Madja Purba,Sulaeman Siregar dan Adinegoro

Kota Medan sudah lama dikenal dunia karena perkebunan tembakau Deli-nya. Tidak heran jika logo PSMS berbentuk "daun" dan "bunga tembakau Deli". Tembakau Deli juga menjadi lambang PSMS Medan hingga kini.

Gambar enam helai logo tembakau, enam berarti enam klub perintis/berserikat membentuk PSMS Medan yaitu Sahata, PO Polisi, Al Wathan, Indian Football Team, Deli Mascapaij, dan Medan Sport.

Tembakau Deli berarti primadonanya ekspor Medan dan sekitarnya yang tersohor ke seluruh dunia.1950 berarti kelahiran PSMS pada 21 April 1950.

Warna Hijau berarti perkebunan.Dasar Putih berarti Suci yang dalam arti luas berarti Sportif.

Warna hijau tetap dipertahankan sebagai warna kostum utama PSMS Medan.Warna hijau dalam kostum PSMS juga bisa diartikan sebagai kesejukan,kesegaran dan ketenangan.

PSMS Medan dikenal dengan tipe permainan yang khas, yakni sepak bola yang keras, cepat, dan ngotot namun tetap bermain bersih dan menjunjung tinggi sportivitas. Hal inilah yang kerap ditunjukkan oleh tim berjuluk "The Killer" yang kini dijuluki "Ayam Kinantan" ini.

PSMS 1950 (Formasi I PSMS April 1950)

Berdiri Ki-Ka : Kliwon,Sarpi,Rais Siregar,Gus Ramlan,Philip Tobing

Jongkok Ki-Ka : Fung Min,Ramlan Yatim,T.Dzat,Cornel Siahaan,Ramli Yatim,Machrum

Era The Killer I (1950–1966)

Masa kejayaan PSMS terjadi sejak tahun 1950-an. Kala itu, PSMS kerap mengundang tim-tim dari luar negeri seperti Grazer AK , Kowloon Motorbus (Hong Kong), Grasshopper , Star Soccerites (Singapura) dan lain-lain. Berkat kemenangan-kemenangan yang kerap diraih PSMS saat melawan tim-tim luar negeri, PSMS mendapat julukan "The Killer" atau "Algojo" bagi tim-tim dari luar negeri.

Eksistensi PSMS pada awal-awal kemunculannya memang sudah tidak diragukan lagi. PSMS kerap kali menang melawan setiap pertandingan klub dalam dan luar negeri. Saat itu PSMS dijuluki dengan julukan The Killer karena selalu menghajar lawannya di lapangan.

Saat itu PSMS juga bermaterikan pemain-pemain fenomenal seperti Ramlan Yatim, Ramli Yatim, Buyung Bahrum, Kliwon, Cornel Siahaan, Yusuf Siregar, M.Rasijd, Arnold Van Der Vin dan lain-lain. Kepiawaian mereka dalam menggiring bola membuat PSMS dan Sumatera Utara kerap menjuarai beberapa turnamen dan liga olahraga.

Pada tahun 1953 dan 1957 pemain PSMS yang membela Tim Sumatera Utara di Pekan Olahraga Nasional (PON) mempersembahkan Medali Emas.

Pada Kejurnas PSSI (Perserikatan) 1954 dan 1957 PSMS berhasil meraih gelar Runner Up. Pada Olimpiade 1956 di Melbourne 3 pemain PSMS Medan yaitu Ramlan Yatim, Ramli Yatim dan M.Rasijd tampil membela Tim Nasional Sepakbola yang tampil di Olimpiade.

Demikian pula dengan Asian Games 1958 di Tokyo 3 pemain PSMS yaitu : M.Rasijd,Saari dan Bakir Goordy tampil membela Timnas dan berperan besar membawa Timnas Indonesia meraih Medali Perunggu.

Hingga kini Medali Perunggu Asian Games 1958 ini adalah prestasi terbaik sepakbola Indonesia di Asian Games.

Era The Killer II (1967–1975)

Memasuki era 1960-an, PSMS menjadi momok menakutkan bagi klub-klub di Indonesia. Pada April 1967, Final Piala Suratin berlangsung di Stadion Menteng, Jakarta. Di babak final ini, PSMS Jr yang dilatih Legenda PSMS Ramli Yatim berhasil unjuk gigi sebagai kekuatan utama sepak bola saat itu.

PSMS MEDAN DI PUTARAN FINAL KEJURNAS PSSI 1967

Berdiri Kika : Yuswardi, Muslim, Sukiman, Ronny Pasla, Sunarto,Sarman Panggabean.

Jongkok Kika : Azis Siregar,Chaliq Mazlan, Achmadsyah "Ipong" Silalahi, Syamsuddin Panjaitan, A Rahim.

Ramli Yatim berhasil memoles sosok Ronny Pasla, Sarman Panggabean, Chaliq Mazlan,Tumsila, Nobon dll sebagai bintang masa depan Medan dan Indonesia. Di final yang berlangsung pada 26 April 1967, PSMS berhadapan dengan tuan rumah yang juga musuh bebuyutan mereka, Persija. Ronny Pasla menjadi bintang dalam duel ini dengan aksi gemilangnya di bawah mistar. Karena hari mulai gelap dan Stadion Menteng tidak memiliki penerangan yang memadai, akhirnya diputuskan bahwa PSMS dan Persija akan menjadi Juara Bersama dengan ketentuan 6 bulan pertama piala dibawa ke Medan dan 6 bulan berikutnya piala dibawa ke Jakarta.

Kesuksesan skuad PSMS Jr membuat pelatih PSMS Jusuf Siregar yang didampingi Ramli Yatim mempromosikan beberapa pemain PSMS Jr ke Tim Senior PSMS yang berlaga di Kejurnas PSSI 1967, antara lain Ronny Pasla, Tumsila, Sarman Panggabean,Chaliq Mazlan dan Wibisono. Perpaduan pemain muda tersebut dengan pemain senior antara lain Yuswardi, Zulham Yahya, Sukiman, Ipong Silalahi, Muslim, A.Rahim, Syamsuddin, Sunarto, Aziz Siregar, Zulkarnaen Pasaribu dll ternyata sukses besar membuat PSMS semakin solid dan akhirnya sukses menjadi juara Wilayah Barat dan lolos ke babak semifinal yang berlangsung di Jakarta didampingi Persib.

Pada babak semifinal yang berlangsung di Stadion Utama Senayan Jakarta, PSMS menghadapi Persebaya dan Persib menghadapi PSM.

Pada semifinal ini, PSMS sukses menaklukkan Persebaya dan Persib menaklukkan PSM. Final mempertemukan PSMS dengan Persib pada Final tanggal 10 September 1967.

Pada Final ini PSMS tampil menawan dan akhirnya berhasil mengalahkan Persib dengan skor 2-0 lewat gol yang dicetak A.Rahim dan Zulkarnaen Pasaribu ke gawang Persib yang dikawal Jus Etek. Ini merupakan kali pertama PSMS Medan menjuarai Kejuaraan Nasional/Divisi Utama Perserikatan PSSI sejak berdiri tahun 1950 dan disambut meriah oleh para pendukung PSMS Medan di Jakarta maupun di Sumatera Utara.

Keberhasilan PSMS membuat PSMS Medan mewakili Indonesia dalam ajang Piala Emas Aga Khan 1967 yang berlangsung di Bangladesh. Dan akhirnya pada Turnamen ini PSMS berhasil menjadi Juara setelah di Final berhasil mengalahkan tim tuan rumah Mohammaden 2-0 Saat kembali ke Medan rombongan disambut oleh Pangdam II/Bukit Barisan Brigjend TNI Sarwo Edhie Wibowo Saat itulah PSMS 1967 menjadi "Raja" Sepakbola Indonesia.

Setelah timnas menjuarai Piala Raja 1968, para pemain timnas dikontrak secara profesional oleh TD Pardede di klubnya, Pardedetex. Pemain yang dikontrak antara lain Soetjipto Soentoro , Sinyo Aliandoe , Iswadi Idris , Judo Hadianto , Muliyadi (Persija), M. Basri (PSM), Abdul Kadir , Jacob Sihasale (Persebaya), Anwar Udjang (Persika),Max Timisela (Persib), ditambah ada 3 bintang PSMS Medan yaitu Sarman Panggabean, Sunarto dan Aziz Siregar.

Pardedetex meski saat itu mengontrak pemain secara profesional namun dalam kompetisi bernaung di Kelas Utama PSMS sehingga secara otomatis skuad Pardedetex memperkuat PSMS di ajang Kejurnas/Divisi Utama PSSI 1969.

Skuad Pardedetex ini memperkuat PSMS plus dan didukung oleh Pemain Sepak Bola Medan Non Pardedetex antara lain Ronny Pasla, Yuswardi, Tumsila, Zulham Yahya, Ipong Silalahi, Syamsuddin dan pada saat-saat tertentu ditambah Nobon. Skuad ini dilatih oleh Ramli Yatim dan EA Mangindaan.

Skuad inilah yang membawa PSMS Medan menjuarai Kejuaraan Nasional PSSI 1969 pada 6 Juli 1969 dengan catatan gol yang mengerikan pada putaran Final yang diikuti oleh 7 tim, yakni mencetak 29 gol dan hanya kebobolan 2 gol serta tidak terkalahkan.

Keberhasilan ini membuat PSMS Medan untuk kedua kalinya menjuarai Kejuaraan Nasional PSSI setelah sebelumnya menjadi Juara Kejuaraan Nasional PSSI pada tahun 1967.

Pada bulan September 1969 skuad PSMS yang berhasil menjadi Juara Kejurnas PSSI membela panji Sumatera Utara (Sumut) dalam PON VII yang berlangsung di Surabaya.

Dalam PON ini skuad Sumatera Utara yang diasuh Ramli Yatim dan EA Mangindaan tampil gemilang dan membawa Sumatera Utara meraih Medali Emas setelah pada pertandingan final yang diwarnai adu jotos antar pemain berhasil mengalahkan DKI Jakarta dengan skor 2-1 lewat gol yang dicetak oleh Iswadi Idris dan Soetjipto Soentoro. Ini merupakan Medali Emas ketiga bagi Sumatera Utara dalam cabang sepak bola PON setelah sebelumnya meraih Emas pada PON 1953 dan 1957.

PSMS MEDAN 1969

Ki-Ka : Iswadi Idris,Abdul Kadir,Achmadsyah "Ipong" Silalahi,Anwar Ujang,Sunarto,Sarman Panggabean,Jacob Sihasale,Yuswardi,M.Basri,Yudo Hadianto dan Soetjipto Soentoro (Cpt)

Ramli Yatim juga sukses mencatat sejarah meraih Medali Emas PON sebagai pemain dan pelatih.Sebelumnya pada 1953 dan 1957 Ramli Yatim sebagai pemain membawa Sumut meraih Medali Emas.

Pada tahun 1970 PSMS menjadi klub Indonesia pertama yang ikut serta dalam Turnamen Antar Klub Juara Asia (sekarang AFC Champions League).

PSMS berhasil meraih peringkat keempat pada babak semifinal setelah dikalahkan oleh Taj Club 2-0 dan pada perebutan peringkat ketiga dikalahkan oleh Homenetmen 1-0.

PSMS kembali mempertahankan gelar juara Kejurnas PSSI pada tahun 1971 setelah pada putaran Final mengungguli Persebaya dan Persija.Ini merupakan ketiga kalinya PSMS menjadi Juara Kejurnas PSSI.

Kesuksesan meraih Juara Kejurnas PSSI 1967,1969 dan 1971 ini membuat PSMS menjadi klub Indonesia pertama yang menjadi Juara Kejurnas PSSI 3 kali berturut - turut sesudah Indonesia merdeka.Ketua Umum PSMS saat itu M.H Sinaga juga tercatat sebagai satu - satunya Ketua Umum PSMS yang membawa PSMS Juara Kejurnas PSSI 3 kali berturut - turut.

PSMS MEDAN DI KEJURNAS PSSI 1971

Ki-Ka : Ronny Pasla,Sarman Panggabean,Wibisono,Tumpak Uli Sihite,Nobon,Suwarno,Saleh Harahap,Sunarto,Zulham Yahya,Sukiman dan Anwar Ujang.

Tahun 1972 PSMS sukses meraih Juara Marah Halim Cup dan Soeharto Cup.Sukses terus berlanjut dengan kesuksesan PSMS menjadi Juara Marah Halim Cup 1973.

Setelah kehilangan gelar juara Kejurnas PSSI pada 1973 PSMS terus berbenah. Hasilnya mulai tampak ketika PSMS sukses meraih Juara Jusuf Cup 1974.Selanjutnya skuad PSMS yang memperkuat PSSI Wilayah I sukses menjadi Juara Kejurnas Antar Wilayah PSSI 1974 dan meraih Runner Up di President Cup 1974 di Seoul.

Pada 7 Juni 1975 skuad PSMS yang memperkuat PSSI Wilayah I (90% pemain PSMS) sukses menaklukkan jawara Champions Cup 1971-1973 Ajax Amsterdam 4-2 di Stadion Teladan.Ajax yang diperkuat bintang - bintang besar seperti : Ruud Krol,Johnny Rep,Arie Haan dll dibuat tak berkutik menghadapi PSSI Wilayah I (90% pemain PSMS) ini.

PSMS tampil garang pada Kejurnas PSSI 1975.Sayang pada saat Final menghadapi Persija Jakarta pertandingan berlangsung ricuh akibat protes berlebihan kepada wasit pada menit ke-40 yang menyebabkan pertandingan harus dihentikan. Akhirnya diputuskan PSMS dan Persija menjadi Juara Bersama Kejurnas PSSI 1975.

Ketua Umum PSSI Bardosono (tengah) mengangkat tangan Kapten PSMS Yuswardi (kanan) dan Kapten Persija Oyong Liza (kiri) sebagai penobatan PSMS dan Persija Juara Bersama Kejurnas/Divisi Utama Perserikatan PSSI 1975

Era The Killer III (1983–1985)

Setelah PSMS menjadi Juara Bersama Kejurnas PSSI 1975 PSMS mengalami kegagalan di Kejurnas PSSI 1977 dan 1979.Walau demikian skuad PSMS yang saat itu dilatih Yuswardi berhasil meraih Juara Tugu Muda Cup 1979.

Pada 1980 PSMS Jr yang dilatih oleh Eddy Simon sukses meraih Juara Suratin Cup 1980.Di Final yang berlangsung 26 Mei 1980 PSMS Jr sukses menaklukkan juara bertahan Persiter Jr 3-0.Gol kemenangan PSMS Jr dicetak oleh Taufik Azhari dan Syaiful Ramadhan yang mencetak 2 gol.

Kesuksesan ini membuat 4 pemainnya yaitu : Bambang Usmanto,Juanda,Ricky Yakob dan Supardi dipromosikan pelatih Yuswardi ke PSMS Sr yang akan berlaga di putaran Final Divisi Utama Perserikatan 1980.

Sayang skuad PSMS yang saat itu dikapteni Nobon gagal menjadi Juara. Namun hadirnya bintang - bintang muda itu memberi secercah harapan kebangkitan PSMS.

Pada 1982 Bambang Usmanto dan Supardi berperan besar membawa PSMS yang saat itu dlatih oleh Herman Tamaela menjadi Juara Fatahillah Cup 1982.Di Final PSMS menaklukkan PSIS 2-1.

Kesuksesan menjadi Juara Suratin Cup 1980 dan Fatahillah Cup 1982 ini membuat PSMS optimis menghadapi Divisi Utama Perserikatan PSSI 1982/1983.Trio pelatih Wibisono,Zulkarnaen Pasaribu dan Parlin Siagian mampu membawa PSMS lolos ke putaran Final di tengah kondisi PSMS yang penuh keterbatasan.

3 bintang PSMS di Suratin Cup 1980 yaitu Bambang Usmanto,Musimin dan Marzuki Nyakmad tampil gemilang bersama bintang - bintang senior seperti : Zulham Effendi Harahap,Sunardi B,Sunardi A,Suherman,Ponirin Meka dll.

Di Final yang berlangsung 10 November 1983 PSMS sukses menaklukkan Persib 3-2 lewat drama adu penalti setelah bermain imbang 0-0 di babak normal dan perpanjangan waktu. Ini merupakan gelar juara kelima bagi PSMS di Kejurnas/Divisi Utama Perserikatan PSSI.

PSMS MEDAN DI FINAL DIVISI UTAMA PERSERIKATAN PSSI 1983

Berdiri ki-ka : Sunardi B (cpt), Sunardi A, Ponirin Meka, Marzuki Nyakmad, Ahmad, M.Nurdin.

Jongkok ki-ka : Musimin, Suherman, Sakum Nugroho, Hadi Sakiman, Hamdardi.

Trio Pelatih PSMS Medan Wibisono,Zulkarnaen Pasaribu dan Parlin Siagian mencatat sejarah atas keberhasilan PSMS Medan menjadi Juara Divisi Utama Perserikatan PSSI 1983 ini. Ketiganya mencatat sejarah sebagai sosok pertama yang sukses membawa PSMS Medan menjadi Juara Kejurnas/Divisi Utama Perserikatan PSSI sebagai pemain dan pelatih.

Sebelumnya sebagai pemain Wibisono sukses membawa PSMS Juara Kejurnas PSSI pada 1967 dan 1971. Zulkarnaen Pasaribu sebagai pemain membawa PSMS menjadi Juara Kejurnas PSSI pada 1967, 1971 dan 1975 (Juara bersama dengan Persija). Parlin Siagian sebagai pemain membawa PSMS Medan menjadi Juara Kejurnas PSSI pada 1975 (Juara bersama dengan Persija).

Pada musim 1984/1985 Parlin Siagian tampil sebagai pelatih kepala PSMS didampingi Sunardi B yang merangkap sebagai asisten pelatih sekaligus kapten tim.

Dengan gemilang Parlin Siagian sukses membawa PSMS Medan tampil di Final dan kembali berhadapan dengan Persib.Di Final yang berlangsung pada 23 Februari 1985 ini PSMS sukses menjadi Juara setelah di Final menaklukkan Persib 2-1 lewat adu penalti setelah bermain imbang 2-2 di babak normal dan perpanjangan waktu.

Ponirin Meka kembali menunjukkan ketangkasannya dalam mengawal gawang PSMS di adu penalti. Sunardi B sukses mencatat sejarah sebagai Kapten PSMS yang menjadi Juara Divisi Utama Perserikatan PSSI 2 kali berturut - turut.

Pertandingan yang dimainkan di Stadion Utama Senayan Jakarta itu disaksikan oleh 150.000 penonton dari kapasitas 110.000 tempat duduk, yang membuat rekor penonton terbanyak dalam sejarah sepak bola Indonesia. Menurut buku Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) yang diterbitkan pada tahun 1987, pertandingan ini adalah pertandingan terbesar dalam sejarah sepak bola amatir di dunia.

Kesuksesan ini membuat PSMS untuk keenam kalinya menjadi Juara Divisi Utama Perserikatan PSSI sekaligus klub terbanyak yang meraih Juara setelah Indonesia merdeka. Di tahun 1985 ini pula julukan Ayam Kinantan mulai tersemat di PSMS.Julukan ini dipopulerkan oleh wartawan senior Zatako.

PSMS Medan 1985 (Juara Div.Utama Perserikatan PSSI 1985)

Susunan pemain PSMS dr Kiri ke Kanan :

Berdiri : Mamek Sudiono, Musimin, Hadi Sakiman, Ponirin Meka, Hamdardi, Sunardi B (cpt)

Jongkok : Nirwanto, Sunardi A, Suheri, Amrustian, Sakum Nugroho.

Pada PON 1985 yang berlangsung 9-20 September 1985 skuad PSMS yang memperkuat Tim PON Sumut di bawah asuhan pelatih Legenda PSMS dan Timnas Nobon sukses meraih Medali Emas.

Di Final Sumut menaklukkan Irian Jaya 3-2 melalui adu penalti.Ini merupakan keempat kalinya Sumut meraih Medali Emas di PON.

Sayangnya setelah 1985 ini PSMS tidak pernah lagi meraih Juara hingga Divisi Utama Perserikatan PSSI digelar terakhir pada musim 1993/1994.

Pada Asian Games 1986 yang berlangsung di Seoul,skuad PSMS juga turut dipanggil untuk memperkuat Timnas yang saat itu dilatih oleh Bertje Matulapelwa,Sarman Panggabean dan Sutan Harhara.Tiga pemain PSMS memperkuat Timnas Asian Games 1986 yaitu : Abdul Rahman Gurning,Sumardi dan Sutrisno.Selain itu juga terdapat beberapa pemain yang dilahirkan oleh PSMS yaitu : Ponirin Meka,Marzuki Nyakmad,Jaya Hartono,Patar Tambunan,Zulkarnaen Lubis dan Ricky Yacob.Saat itu Timnas dimanajeri oleh tokoh sepakbola Sumut yang juga mantan Ketua Umum PSMS Wahab Abdi Simatupang.

Timnas Indonesia sukses lolos hingga Semifinal Asian Games Seoul 1986 ini.Sebuah prestasi yang hingga kini belum mampu diulangi lagi oleh Timnas di Asian Games.

Tahun 1987 saat SEA Games digelar di Jakarta,bintang PSMS Medan Sutrisno kembali dipanggil oleh trio pelatih Timnas Bertje Matulapelwa,Sarman Panggabean dan Sutan Harhara.Selain itu Timnas juga diperkuat oleh beberapa pemain yang dilahirkan oleh PSMS yaitu : Ponirin Meka,Marzuki Nyakmad,Jaya Hartono,Patar Tambunan dan Ricky Yacob. Saat itu Timnas kembali dimanajeri oleh tokoh sepakbola Sumut yang juga mantan Ketua Umum PSMS Wahab Abdi Simatupang.

Dan di SEA Games 1987 ini untuk pertama kalinya sukses meraih Medali Emas SEA Games setelah di Final menaklukkan Malaysia dengan skor 1-0.

Pada PON 1989,skuad Tim Sumut yang dilatih duet legenda PSMS Nobon dan Sunardi B sukses meraih Medali Emas setelah di Final mrnaklukkan Jawa Timur 2-1.Striker PSMS Suharto AD menjadi pahlawan kemenangan Tim Sumut setelah golnya di perpanjangan waktu menjadi penentu kemenangan Tim Sumut. Selain Suharto AD Tim PON Sumut saat itu juga diperkuat bintang PSMS lainnya yaitu Bambang Usmanto.Ini merupakan Medali Emas kelima bagi Sumut di PON.

Pada SEA Games 1991 yang digelar di Manila trio pelatih Timnas Anatoly Polosin,Vladimir Urin dan Danurwindo memang tidak memanggil satupun pemain PSMS.Namun saat itu Timnas diperkuat kiper Eddy Harto yang merupakan kiper utama Timnas.Eddy Harto adalah kiper yang membawa PSMS Jr menjadi Juara Piala Suratin 1980.

Selain itu Timnas juga diperkuat Toyo Haryono yang pernah mengikuti kompetisi antar klub PSMS bersama klub Teras dan Perisai.Penampilan gemilang Eddy Harto di bawah mistar gawang membawa Timnas sukses meraih Medali Emas setelah di Final menaklukkan Thailand lewat drama adu penalti.Ini merupakan kali kedua Timnas Indonesia meraih Medali Emas SEA Games.

Ketika kompetisi Perserikatan digabung dengan Galatama pada 1994/1995 menjadi Liga Indonesia prestasi PSMS juga mengalami naik turun.

Era Liga Indonesia

Pada Liga Indonesia 1994-95 dan 1995–96 , mereka menjadi klub papan tengah. Namun pada musim 1996–97 , PSMS nyaris terdegradasi ke Divisi I . Keadaan membaik ketika pada musim 1997/1998, PSMS menduduki peringkat 1 Wilayah Tengah namun kompetisi terhenti karena kerusuhan Mei 1998 yang membuat kondisi keamanan Indonesia tidak kondusif.

Kiper PSMS Medan Ponirin Meka memeluk Piala Presiden yang diraih oleh PSMS di Divisi Utama Perserikatan PSSI 1983 di pesawat dalam perjalanan pulang ke Medan.PSMS menjadi Juara setelah di Final mengalahkan Persib 3-2 dlm drama adu penalti setelah dlm babak normal dan perpanjangan waktu bermain imbang 0-0 pd Final yg berlangsung di Std.Utama Senayan Jakarta 10 November 1983

Setelah kerusuhan tersebut, Liga Indonesia kembali digelar pada musim 1998/1999 . Pada musim ini, PSMS yang dilatih Suimin Diharja berhasil lolos ke babak Semifinal . Di babak semifinal, PSMS kalah melawan Persebaya 2–4 dalam adu penalti.

Pada musim berikutnya , PSMS lolos ke babak 8 besar dan menduduki peringkat ke-4 Grup A bersama PSM, Pupuk Kaltim , dan Persijatim namun sayang langkah PSMS terhenti di 8 Besar.

Pada musim 2001 , PSMS yang masih dilatih Suimin Diharja lolos ke babak semifinal dan bertanding melawan PSM Makassar.Namun PSMS kalah 2–3 dalam drama adu penalti.

Di Liga Indonesia 2002 ini PSMS mengalami nasib buruk terdegradasi ke Divisi I.Namun pada 2003 di bawah asuhan Nobon PSMS kembali promosi ke Divisi Utama Liga Indonesia.

Pada Liga Indonesia 2004 PSMS yang saat itu dilatih Sutan Harhara berhasil menduduki peringkat 7.Pada Februari 2005 PSMS berhasil menjuarai Piala Emas Bang Yos II.Namun di Liga Indonesia 2005 ini langkah PSMS terhenti di putaran Final.

Pada Desember 2005 PSMS berhasil menjuarai Piala Emas Bang Yos III.Namun di Liga Indonesia langkah PSMS terhenti di penyisihan Grup.

Pada Desember 2006 PSMS kembali berhasil menjuarai Piala Emas Bang Yos IV.Di Liga Indonesia 2007/2008 PSMS yang saat itu dilatih Freddy Muli berhasil melangkah hingga Final namun akhirnya takluk 1-3 dari Sriwijaya FC di Final.

Era Liga Super, Liga 1 Dan Liga 2

Pada 2008 PSSI meluncurkan format baru liga dengan meluncurkan Liga Super Indonesia (ISL).PSMS saat itu dikelola oleh pengusaha Sihar Sitorus. Namun sayang meski berhasl lolos hingga 16 Besar AFC Cup 2009,PSMS gagal total di ISL ini.

Kapten PSMS Generasi I Ramlan Yatim

PSMS akhirnya terdegradasi untuk kedua kalinya setelah kalah 4-5 dalam adu penalti dari Persebaya pada babak play off di Stadion Siliwangi. Untuk kedua kalinya, PSMS harus menerima kenyataan degradasi setelah menyelesaikan musim sebelumnya sebagai runner-up liga.

Dan inilah awal dari keterpurukan PSMS di era sepakbola profesional.Berbagai konflik bahkan perpecahan mewarnai langkah PSMS sejak degradasi pada 2009.

Sempat promosi ke Liga 1 pada 2017 namun di musim perdananya di Liga 1 pada 2018 PSMS kembali degradasi ke Liga 2 dan hingga kini belum mampu lagi kembali ke Liga 1 sebagai kasta tertinggi persepakbolaan Indonesia.

Di momen ulang tahun ke-76 ini tentu PSMS diharapkan bisa berbenah menata tim untuk bisa kembali ke kasta tertinggi sepakbola Indonesia.

Akankah itu akan terwujud ? Menarik untuk ditunggu.

SELAMAT ULANG TAHUN Ke-76 PSMS MEDAN KEBANGGAAN MEDAN DAN SUMUT.

SEMOGA ALLAH SWT MEMBERIKAN KEBERKAHAN BAGI PSMS MEDAN UNTUK TERUS BERJAYA DI PENTAS PERSEPAKBOLAAN NASIONAL DAN INTERNASIONAL.

JAYA SELALU PSMS "THE KILLER"

Penulis adalah pemerhati olahraga

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik
No topics for this article yet.

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement