Breaking News
Memuat breaking news...

79 Tahun HMI: Konsisten Jaga Api Keislaman dan Keindonesiaan

Redaksi
Redaksi
Kamis, 5 Februari 2026 - 12.24 PM WIB
79 Tahun HMI: Konsisten Jaga Api Keislaman dan Keindonesiaan
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

Oleh Ali Amran Tanjung

ZAMAN berubah cepat. Digitalisasi, krisis ekologis, polarisasi politik, hingga degradasi etika publik. Satu komitmen, jaga keislaman dan keindonesiaan.

Di tengah semua itu, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) diuji bukan oleh besarnya nama masa lalu, tetapi oleh relevansi sikapnya hari ini.

Tujuh puluh sembilan tahun, bukan sekadar hitungan usia. Ia adalah jejak panjang pergulatan ide, pengabdian dan keberanian moral.

Tepat 5 Februari 1947, di tengah bangsa yang masih rapuh, menyusul proklamasi, HMI lahir sebagai ikhtiar sadar untuk merawat dua cita besar sekaligus, yakni keislaman dan keindonesiaan.

Lafran Pane dan kawan-kawan, mendirikan HMI, sejak awal nyaris tak memilih jalan nyaman. Ia lahir dalam situasi genting, ketika kemerdekaan belum sepenuhnya aman dan arah bangsa masih diperebutkan.

HMI hadir bukan hanya sebagai organisasi mahasiswa, tetapi sebagai kekuatan intelektual dan moral yang berpihak pada republik, umat dan masa depan.

Dalam lintasan sejarah, HMI telah melahirkan kader-kader yang mengisi hampir seluruh ruang pengabdian, yakni pendidikan, birokrasi, politik, ekonomi, hingga gerakan sosial.

Namun terpenting, HMI membentuk tradisi berpikir kritis, tradisi yang tidak tunduk pada kekuasaan, tetapi juga tidak tercerabut dari nilai.

Usia 79 tahun, tentu membawa tantangan baru. Zaman berubah cepat. Digitalisasi, krisis ekologis, polarisasi politik, hingga degradasi etika publik.

Di tengah semua itu, HMI diuji bukan oleh besarnya nama masa lalu, tetapi oleh relevansi sikapnya hari ini.

Pertanyaannya, apakah HMI masih akan mampu menjadi suara nurani. Apakah kader-kadernya masih teguh memegang independensi, kejujuran, dan keberpihakan pada rakyat kecil.

Apapun alasannya, HMI tidak boleh puas sebatas menjadi organisasi nostalgia. Ia harus terus menjadi laboratorium gagasan, tempat lahirnya pemikiran alternatif atas kebuntuan bangsa.

Islam yang diperjuangkan HMI bukan Islam simbolik, melainkan Islam yang membebaskan, mencerdaskan dan menegakkan keadilan.

Indonesia yang dicintai HMI bukan Indonesia elitis, tetapi Indonesia yang adil bagi seluruh rakyatnya.

Pada usia ke-79 ini, HMI dituntut untuk kembali ke khittah perjuangan. Khittah itu, memperkuat kaderisasi, menjaga independensi dan memperdalam kualitas intelektual.

Tantangan zaman mungkin berubah, tetapi panggilan sejarah tetap sama, berdiri di sisi kebenaran.

Selamat Milad ke-79 Himpunan Mahasiswa Islam. Tetap hijau, tetap kritis, tetap berpihak. Karena bangsa ini masih membutuhkan mahasiswa yang berpikir, bergerak dan berani.

Penulis adalah Alumni HMI, Ketua Umum PP Persaudaraan Muslimin Indonesia (Parmusi)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement