Breaking News
Memuat breaking news...

Agar Tak “Hura-hura” di Hunian Sementara

Redaksi
Redaksi
Selasa, 21 April 2026 - 11.42 AM WIB
Agar Tak “Hura-hura” di Hunian Sementara
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

Huntara bukan solusi final karena bangunan sementara tak mungkin bisa mengobati kehilangan permanen.

DI BALIK jejak lumpur setebal dua meter menutupi tubuh Aceh Tamiang, sesuatu yang langka tumbuh: new hope—harapan baru. Bukan doa mengambang, tapi bangunan beratap seng dan berdinding plywood—Hunian Sementara atau Huntara—kini bertumbuhan di gampong-gampong yang sempat hilang dari peta.

Bencana hidrometeorologi akhir November 2025, adalah nukilan sejarah. Siklon Senyar menghantam Sumatera: menewaskan 1.204 jiwa di tiga provinsi. Aceh Tamiang jadi episentrum: 101 korban, 296.367 terdampak, 23.967 rumah hancur—33,7% kerusakan Aceh. Angka itu bukan abstraksi; mereka tetangga yang dulu ngobrol di warung kopi, kini “menggigil” di tenda darurat.

Data terbaru menunjukkan dari 600 unit Huntara Aceh Tamiang, 204 siap huni per 1 Januari 2026, dan 84 unit di lokasi Aceh Tamiang I mencapai 100%—satu-satunya titik sempurna di seluruh wilayah bencana. Ini bukan melulu proyek perumahan; ini bukti konsep negara bisa gesit ketika urgensi menggigit.

Huntara Aceh Tamiang boleh dibilang istimewa, bukan spesifikasi sederhana—kayu hanyutan didaur ulang jadi material, luasan tak mewah tapi cukup lega. Timingnya tepat dan menghipnotis: empat bulan pasca-bencana, ketika korban masih terjebak trauma, Huntara datang. Ini bukti konkret pemulihan. Tito Karnavian memastikan seluruh korban Aceh mendapat Huntara; Satgas PRR menambah 97 unit atas permintaan daerah.

Tapi jangan terbuai dulu. Dari 16.688 unit Huntara dibutuhkan di Aceh, baru 50% terbangun. Hunian tetap (Huntap) lebih miris: 7,7% dari 16.329 target. Total kebutuhan rehabilitasi di Aceh mencapai Rp153,25 triliun—melebihi kebutuhan pasca-tsunami 2004: Rp51,7 triliun. Aceh Tamiang sendiri menanggung kerugian Rp17,1 triliun di sektor sosial, Rp5,43 triliun di ekonomi, dan 8.231 hektar lahan pertanian kini menjadi tanah mati.

Konteks Sumatera memperburuk daya “cacat”-nya. Di Sumatera Barat, 264 jiwa tewas: kerugian Rp33,3 triliun. Di Sumatera Utara, 112 korban jiwa dan 99.169 rumah rusak. Jalan Lintas Sumatera putus di enam titik, 117 lokasi longsor, dan distribusi logistik lumpuh. Ini bukan bencana lokal; ini krisis regional yang menuntut respons radikal.

Huntara Aceh Tamiang simbol dualisme: harapan tumbuh di tengah realitas yang menganga. Bukan solusi final—bangunan sementara tak mungkin bisa mengobati kehilangan permanen—tapi necessary fiction agar korban tak mati dalam keputusasaan. Masih ada harapan dari lumpur yang menikam. Huntara, babak pertama narasi pemulihan panjang dan penuh cedera.

Yang paling menghipnotis lagi, ketegaran warga. Empat bulan pasca kehilangan segalanya, para penyintas menjadi survivor: membersihkan kebun pasca-Lebaran, mengikuti Cash for Work (Rp1,1 triliun diserap 50.360 tenaga kerja), kini memasuki rumah baru dengan lantai tak becek. Huntara bukan pemberian; ia adalah platform merebut kembali martabat korban.

Pertanyaan para penyintas, apa yang terjadi setelah sementara berakhir? Data menunjukkan 71.115 rumah rusak di Aceh, tapi program Huntap baru mencapai 1.254 unit. Rehabilitasi irigasi daerah baru 24,5%, normalisasi sungai 37%. Aceh Tamiang masih berstatus "atensi khusus" dengan pemerintahan daerah yang belum berjalan efektif. Jadi, Huntara adalah harapan yang valid tapi fragile.

Di sini letak teatrikalnya. Huntara adalah janji yang tidak bisa bohong—karena fisik, karena terlihat, karena bisa disentuh. Tapi ia juga mesin pengingat bahwa "sementara" bisa jadi permanen jika negara lengah. Seperti banjir itu sendiri yang datang tiba-tiba, harapan juga bisa sirna jika tidak dijaga dengan kerja keras berkelanjutan.

Aceh Tamiang menulis ulang definisinya: dari kabupaten paling parah, jadi paling cepat bangkit. Huntara, prolognya. Bab selanjutnya bergantung pada translatibilitas angka-angka moncer itu—Rp153 triliun, 71 ribu rumah, ribuan hektar sawah—jadi atap yang tak bocor, anak kembali bersekolah, petani menanam padi lagi.

Sementara di Gampong Bundar, 84 unit Huntara berdiri tegak. Di dalamnya, lampu petromak diganti lampu listrik, tikar plastik diganti lantai plywood, dan tidur meringkuk diganti tidur terlentang. Itu bukan banyak. Tapi untuk seseorang yang kehilangan segalanya, itu adalah universe yang baru—sementara, tapi cukup nyata untuk membuat besok terlihat seperti hari yang layak dijalani.

Mungkin, itulah definisi harapan pasca-bencana: bukan keyakinan semua baik-baik saja, tapi keberanian membangun Huntara sambil menatap Huntap yang masih jauh. Dan keniscayaan bagi negara mengawasi aparaturnya agar tak "hura-hura" menggali "untung beliung" di Hunian Sementara.

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement