Akhlak yang Hilang, Kesombongan yang Tumbuh: Sumber Kehancuran di Tengah Masyarakat

Capek. Kata sederhana itu kini terasa berat. Capek secara Islam, capek secara tantangan, capek secara moral. Kehidupan masyarakat kita seakan penuh sesak oleh orang pintar, tetapi semakin miskin orang benar. Di mana kecerdasan berkumpul, justru di sanalah perpecahan sering lahir. Ironi yang membuat hati semakin letih.
Ilmu yang Berlimpah, Akhlak yang Merosot
Dayah tumbuh di hampir setiap gampong, balai pengajian ramai, anak-anak belajar mengaji. Namun, akhlak yang seharusnya menjadi buah dari ilmu justru semakin berkurang. Kampus melahirkan ribuan sarjana setiap tahun, pesantren meluluskan santri yang fasih kitab, tetapi mengapa kehidupan tetap semrawut? Mengapa birokrasi bobrok, manajemen kacau, dan gampong penuh konflik? Jawabannya sederhana: ilmu berlimpah, akhlak hilang.
Dua Penyakit yang Merusak
Pimpinan Dayah QAHA Ukhwatul Quran, Tengku Jamaluddin Abdul Kadir, saat menjadi khatib Jumat pada Jumat lalu di Masjid Al Ikhlas Teupin Punti, Kecamatan Syamtalira Aron, Aceh Utara, menyebutkan, kata dia, ulama menyebut ada dua penyakit yang menjadi akar kehancuran: hilangnya akhlak dan tumbuhnya kesombongan.
Ketika dekadensi moral berpadu dengan sifat sombong, sebut Waled Jamal di atas mimbar, lahirlah bencana. Penyakit ini merambah dari negara hingga gampong, dari kampus hingga birokrasi. Rasulullah pernah menghadapi kafir Quraisy yang jelas menentang, namun beliau berhasil menundukkan hati mereka dengan akhlak. Hari ini, kita justru bertengkar sesama muslim, sesama saudara, karena kesombongan menutup pintu akhlak.
Dakwah Rasul: Akhlak sebagai Senjata
Hadis yang paling sering kita dengar: Rasulullah diutus bukan untuk memperbanyak salat atau puasa, melainkan untuk memperbaiki akhlak manusia. Sebab, jika akhlak baik, ibadah akan mudah dijalankan. Kisah pengemis miskin yang memaki Rasul, namun dibalas dengan kebaikan, adalah bukti nyata. Akhlak menjadi senjata dakwah, bukan amarah, bukan kekerasan.
Empat Sumber Kesombongan
Kata Waled Jamal, begitu dia biasa disapa, para ulama merumuskan empat hal yang memicu kesombongan manusia, yaitu:
Ilmu Pengetahuan – Profesor berselisih dengan profesor, ustaz berdebat dengan ustaz. Padahal, tujuan sama: mengajarkan kebaikan.
Kemudian, Harta – Kaya membuat suara lantang, tetapi lupa bahwa kekayaan lahir dari orang miskin yang membeli dagangannya.
Selanjutnya, Ibadah – Ke masjid lima waktu, tetapi merasa paling alim. Ibadah yang sombong justru menjadi sumber kehancuran.
Lalu, kata Waled Jamal, Jabatan – Sebelum menjabat, merendah mencari dukungan. Setelah dilantik, sombong menunjuk dengan tangan kiri.
"Kesombongan ini, bila berpadu dengan hilangnya akhlak, menjadi racun yang tak ada obatnya," kata Tengku Jamaluddin di hadapan para jamaah Jumat.
Jalan Pulang ke Akhlak
Iblis lebih alim daripada manusia, tetapi ia dikutuk karena sombong. Ia menolak sujud kepada Adam, merasa lebih mulia karena diciptakan lebih dulu. Dari kisah itu kita belajar: kehancuran bukan karena kurang ilmu, bukan karena miskin harta, bukan karena sedikit ibadah, melainkan karena sombong dan hilangnya akhlak.
"Hari ini, Aceh memiliki ribuan sarjana, ribuan santri, ribuan ahli manajemen. Tetapi jika akhlak tidak kembali menjadi pondasi, maka ilmu, harta, ibadah, dan jabatan hanya akan melahirkan perpecahan. Jalan pulang kita satu: kembali kepada akhlak, sebagaimana Rasulullah mencontohkan. Semoga kita semua Allah kumpulkan dalam surga-Nya, amin..." doa Waled Jamal menutup khutbah Jumat. (Maimun Asnawi, S.HI., M.Kom.I./Waspada.id)



























Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda