Breaking News
Memuat breaking news...

Aktivitas Gunung Anak Krakatau Mulai Meluruh, Frekuensi Erupsi Menurun

Redaksi
Redaksi
Minggu, 6 September 2026 - 12.59 PM WIB
Aktivitas Gunung Anak Krakatau Mulai Meluruh, Frekuensi Erupsi Menurun
Gunung Anak Krakatau (waspada.id/ist)
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size
Advertisement

JAKARTA (Waspada id): Aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau masih berlangsung hingga Minggu pagi, namun hasil pemantauan menunjukkan aktivitas gunung api tersebut mulai mengalami peluruhan.

Direktur Gempa Bumi dan Tsunami Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dr. Wijayanto mengatakan erupsi Gunung Anak Krakatau saat ini merupakan erupsi yang menerus. Semburan lava masih terpantau dan aktivitas tersebut masih berpotensi berlangsung.

"Erupsi ini adalah erupsi yang menerus. Jadi memang ada semburan-semburan lava dan ini mungkin akan masih terus terjadi," ujar Wijayanto dalam jumpa pers secara daring di Jakarta, Minggu (6/9/2026)..

Menurut dia, aktivitas Gunung Anak Krakatau masih terpantau hingga Sabtu malam dan Minggu pagi. Pemantauan dilakukan melalui aktivitas di permukaan serta monitoring petir.

"Sampai tadi malam juga terpantau, tadi pagi masih terpantau, dan ini mungkin akan terus terjadi," katanya.

Meski aktivitas masih berlangsung, Wijayanto mengatakan intensitasnya mulai meluruh. Kondisi tersebut terlihat dari hasil pemantauan aktivitas permukaan dan petir yang menunjukkan penurunan dibandingkan kondisi saat aktivitas meningkat pada 4 September 2026 pukul 23.07 WIB.

"Namun sudah mulai meluruh, tidak seperti pada tanggal 4 jam 23.00 malam," ujarnya.

Wijayanto mengatakan frekuensi erupsi diperkirakan akan terus menurun dibandingkan aktivitas pada 4 September 2026 pukul 23.07 WIB.

"Kita pastikan frekuensinya akan terus menurun dibandingkan dengan yang tanggal 4 jam 23.07 kemarin," katanya.

Gunung Anak Krakatau sebelumnya telah berstatus Level III atau Siaga sejak 2 Juli 2026. Kemudian pada 4 September 2026 pukul 23.07 WIB, gunung api tersebut mengalami erupsi yang berlangsung menerus.

Erupsi Gunung Anak Krakatau diketahui bertipe strombolian, yang berkaitan dengan magma cair dengan tekanan gas sedang. Erupsi tipe ini ditandai letusan-letusan kecil yang berulang dan dapat memunculkan kembang api lava, bom vulkanik, serta lapili ke udara.

Sementara itu, Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan mengimbau masyarakat tidak mendekati kawasan gunung api untuk melihat maupun mendokumentasikan aktivitas erupsi karena masih terdapat potensi lontaran material dari kawah aktif.

"Masyarakat diminta tidak mendekati kawasan gunungapi untuk melihat aktivitas erupsi maupun mengambil gambar atau video, mengingat masih terdapat potensi lontaran material dari kawah aktif," ujar Berton.

Berton juga meminta masyarakat, khususnya di wilayah pesisir Banten dan Lampung, tidak panik terkait kekhawatiran potensi tsunami. Berdasarkan evaluasi PVMBG, pertumbuhan tubuh Gunung Anak Krakatau yang terbentuk kembali setelah erupsi 22 Desember 2018 masih relatif kecil dan tidak berpotensi mengalami keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami.

Meski demikian, masyarakat diminta tetap mengikuti informasi dan rekomendasi resmi dari PVMBG, BNPB, BMKG, serta pemerintah daerah dan tidak mengambil kesimpulan sendiri berdasarkan aktivitas visual maupun suara dentuman.

Pemerintah melalui instansi terkait terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau untuk mengantisipasi dampak erupsi terhadap masyarakat maupun wilayah di sekitarnya.(id11)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement