Breaking News
Memuat breaking news...

Anggi Rhaditya: Kendala UMKM Bukan Kekurangan Modal, Namun Sulit Memperoleh Pembiayaan

Redaksi
Redaksi
Senin, 20 Juli 2026 - 4.54 PM WIB
Anggi Rhaditya: Kendala UMKM Bukan Kekurangan Modal, Namun Sulit Memperoleh Pembiayaan
Direktur Utama PT Asoka Arians Properti, Anggi Rhaditya Lubis, S.P., M.M., (tengah) pada acara Workshop Pembiayaan UMKM Potensial oleh Bank Indonesia di Hotel Grand City Hall pada 10 Juli 2026. aspada.id/Ist
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

MEDAN (Waspada.id): Akses pembiayaan yang tepat dinilai menjadi faktor utama dalam mendorong usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) naik kelas, meningkatkan daya saing, serta mampu tumbuh secara berkelanjutan di tengah tantangan ekonomi yang semakin kompetitif.

Hal tersebut disampaikan Direktur Utama PT Asoka Arians Properti, Anggi Rhaditya Lubis, S.P., M.M., dalam paparannya bertajuk Meningkatkan Akses Pembiayaan untuk Mendorong UMKM Potensial Naik Kelas, Berdaya Saing, dan Berkelanjutan pada acara Workshop Pembiayaan UMKM Potensial oleh Bank Indonesia di Hotel Grand City Hall pada 10 Juli 2026.

Anggi juga menjabat sebagai Ketua BPW HIPKA Sumatera Utara, Wakil Ketua REI Sumatera Utara, serta Bendahara Umum Persatuan Sarjana Pertanian Indonesia (PISPI) Sumatera Utara kembali menyampaikan kepada media di Medan, Senin (20/7/2026), bahwa UMKM merupakan tulang punggung perekonomian nasional.

Ia menyebut, saat ini terdapat sekitar 65 juta UMKM yang berkontribusi sebesar 61 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dan menyerap 97 persen tenaga kerja di Indonesia. Namun, besarnya kontribusi tersebut belum diimbangi dengan kemudahan memperoleh akses pembiayaan.

Ia juga menjelaskan bahwa kendala utama yang dihadapi pelaku UMKM bukan semata-mata kekurangan modal, melainkan sulitnya memperoleh pembiayaan yang sesuai.

Sejumlah faktor penyebabnya antara lain belum tersedianya laporan keuangan yang baik, legalitas usaha yang belum lengkap, rendahnya literasi keuangan, serta arus kas yang belum kuat. Akibatnya, banyak UMKM belum memenuhi syarat sebagai usaha yang bankable.

Anggi menegaskan bahwa pembiayaan harus dimanfaatkan secara produktif, seperti untuk meningkatkan kapasitas produksi, membeli mesin atau peralatan, melakukan digitalisasi usaha, hingga membuka cabang baru. Sebaliknya, penggunaan dana untuk kebutuhan konsumtif justru akan menghambat pertumbuhan usaha.

Menurutnya, UMKM dapat dikatakan naik kelas apabila mengalami peningkatan omzet, produktivitas, jumlah tenaga kerja, perluasan pasar, pengelolaan usaha yang semakin profesional, serta mampu mengakses pembiayaan formal. Pembiayaan yang tepat akan mendorong investasi, meningkatkan kualitas produk, memperkuat daya saing, dan menciptakan keberlanjutan usaha.

Berdasarkan pengalamannya sebagai pelaku usaha, Anggi mengingatkan pentingnya menjaga arus kas, menentukan prioritas investasi, membangun kepercayaan mitra bisnis, serta terus berinvestasi pada sektor pemasaran. Langkah-langkah tersebut menjadi fondasi agar UMKM mampu berkembang secara sehat.

Ia juga mendorong pelaku UMKM untuk memisahkan keuangan pribadi dan usaha, mencatat seluruh transaksi, melengkapi legalitas usaha, menggunakan rekening khusus usaha, menjaga rekam jejak pembayaran, serta mengelola arus kas secara disiplin. Langkah tersebut diyakini dapat meningkatkan kepercayaan lembaga keuangan terhadap pelaku usaha.

Selain kesiapan pelaku usaha, Anggi menilai kolaborasi antara pemerintah, lembaga keuangan, pendamping UMKM, dan dunia usaha menjadi syarat utama dalam membangun ekosistem yang mampu mempercepat UMKM naik kelas. Penguatan literasi keuangan, perluasan akses pembiayaan, digitalisasi, serta sinergi lintas sektor harus dijalankan secara berkelanjutan.

Sebagai penutup, Anggi menegaskan bahwa akses pembiayaan bukan sekadar sumber modal, melainkan jembatan bagi UMKM untuk tumbuh menjadi usaha yang sehat, bankable, kompetitif, dan berkelanjutan. Dengan dukungan ekosistem yang kuat, UMKM diharapkan mampu menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi Indonesia pada masa mendatang.(id96)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik
No topics for this article yet.

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement