Angkat Dinamika Kehidupan Urban, Pameran Pengajar IKJ Libatkan Seniman Lima Negara


JAKARTA (Waspada.id): Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Kesenian Jakarta (FSRD IKJ) menggelar pameran seni rupa bertaraf internasional bertajuk Urban Art Expression 2026: Beyond Classroom di Galeri Cipta 1 dan 2, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, 3–9 November 2026.
Pameran tahunan yang telah berlangsung sejak 1997 ini menghadirkan 48 seniman, terdiri atas 42 pengajar FSRD IKJ dan enam seniman tamu dari Malaysia, Uruguay, Kolombia, Amerika Serikat, dan Ukraina. Penyelenggaraan tahun ini menjadi istimewa karena untuk pertama kalinya pameran pengajar FSRD IKJ ditingkatkan ke skala internasional.
Dekan FSRD IKJ, Adlien Fadlia, mengatakan perubahan tersebut merupakan bagian dari upaya memperluas jejaring seni dan memperkenalkan karya para pengajar kepada masyarakat serta komunitas seni internasional.
Menurutnya, tema Beyond Classroom dipilih untuk menegaskan bahwa peran dosen seni tidak berhenti pada aktivitas mengajar di ruang kelas. Para pengajar juga harus terus berkarya dan menunjukkan praktik artistik secara langsung kepada publik.
“Melalui pameran di ruang publik, kami ingin memberikan pemahaman kepada mahasiswa dan masyarakat bahwa mengajar, khususnya di bidang seni, tidak bisa dilepaskan dari aktivitas memproduksi karya,” ujar Adlien.
Ia menjelaskan, tema Urban Art Expression juga berangkat dari karakter FSRD IKJ yang tumbuh di tengah dinamika perkotaan, khususnya Jakarta. Ruang urban tidak hanya dipahami sebagai lanskap fisik, tetapi juga sebagai ruang sosial yang menyimpan berbagai persoalan, perubahan nilai, dan kompleksitas kehidupan manusia.
Karena itu, karya-karya yang ditampilkan merespons beragam fenomena sosial, budaya, kemanusiaan, lingkungan, hingga identitas lokal melalui pendekatan dan medium artistik yang beragam.

Adlien menambahkan, kehadiran seniman dari lima negara menjadi langkah strategis untuk memperkuat kerja sama internasional sekaligus membuka ruang pertukaran gagasan dan pengalaman berkesenian.
Pameran ini juga menjadi bagian dari upaya mendukung internasionalisasi perguruan tinggi, penguatan riset berbasis kekaryaan, serta peningkatan reputasi akademik melalui karya seni yang memiliki relevansi dengan perkembangan global.
Dari sisi kuratorial, Citra Smara Dewi menilai pameran ini memiliki karakter tersendiri karena memberikan ruang bagi para pengajar untuk menampilkan ekspresi artistik secara lebih bebas, tanpa terlalu dibebani pertimbangan pasar.
“Yang ingin saya tekankan, pameran ini menjadi salah satu alternatif dari pameran-pameran yang cenderung seragam di Jakarta. Para dosen yang juga seniman dapat berkarya tanpa beban pasar. Karya-karya mereka tampil sebagai ekspresi personal dan ekspresi urban,” ungkap Citra.
Sementara itu, kurator Anna Sungkar menjelaskan, salah satu keistimewaan pameran tahun ini adalah pemilihan karya terbaik atau masterpiece dari masing-masing seniman, bukan semata-mata karya yang paling baru.
Para peserta diberikan keleluasaan memilih karya yang dianggap paling merepresentasikan pencapaian artistik mereka, termasuk karya yang telah dibuat beberapa tahun sebelumnya.
“Setiap seniman, baik dari IKJ maupun seniman tamu, menampilkan karya terbaik menurut versi masing-masing. Kami sebagai kurator melakukan seleksi. Ada yang mengajukan dua sampai empat karya, kemudian dipilih sesuai dengan pertimbangan kuratorial dan kapasitas ruang pamer,” jelas Anna.
Ketua Panitia Pameran, Anindyo Widito, mengatakan proses kurasi melibatkan tiga kurator, yakni Citra Smara Dewi, Anna Sungkar, dan Imran, kurator internasional asal Bangladesh. Seleksi dilakukan secara ketat hingga menghasilkan satu atau dua karya pilihan dari setiap peserta.
Dalam pameran ini, karya-karya dikelompokkan ke dalam lima tema besar, yakni realitas sosial, politik dan kemanusiaan; tradisi, ingatan budaya dan identitas lokal; diri, ingatan dan perjalanan batin; alam, siklus kehidupan dan keterhubungan; serta imajinasi, eksperimen visual dan permainan medium.
Sejumlah karya mengangkat persoalan sosial dan kemanusiaan, seperti Teman Perjalanan karya Dionisius Bowo Purnonomo yang merekam kesendirian dan kebersamaan dalam gerbong KRL. Ada pula Semoga Bencana Segera Berlalu karya Ehwan Kurniawan yang merespons persoalan lingkungan dan bencana, serta The Fish Dies by Its Mouth karya Santiago Escobar-Jaramillo dari Kolombia yang merefleksikan ketahanan masyarakat pesisir di tengah bayang-bayang perdagangan narkoba.
Sementara itu, tema tradisi dan identitas lokal hadir melalui karya Spectrum of Batavia karya Muhamad Fahmi dan Ondel in Bloom karya Retno Andri Pramudyarini. Karya-karya tersebut mengeksplorasi kekayaan budaya Betawi dan hubungannya dengan kehidupan masyarakat urban masa kini.
Keberagaman pendekatan juga terlihat dalam karya yang mengangkat pengalaman personal, alam, hingga eksperimen visual melalui berbagai medium, mulai dari seni lukis, desain, tekstil, seni grafis, instalasi, hingga video.
Adlien menambahkan, keberagaman tema tersebut menunjukkan bahwa para pengajar FSRD IKJ tetap terbuka terhadap berbagai isu aktual. Salah satunya adalah persoalan lingkungan dan kemanusiaan, termasuk isu Kartika yang turut disinggung melalui karya poster Ehwan Kurniawan.
Di sisi lain, sejumlah pengajar dari program studi mode dan busana memilih mengangkat kekayaan sejarah Batavia sebagai bagian dari menyambut 500 tahun Kota Batavia pada 2027, dengan pendekatan desain yang lebih modern.
Melalui Urban Art Expression 2026: Beyond Classroom, FSRD IKJ ingin menegaskan bahwa dosen seni tidak hanya berperan sebagai pendidik, tetapi juga sebagai seniman yang terus mengembangkan gagasan, eksplorasi medium, dan praktik kekaryaan.
Pameran ini sekaligus menjadi ruang bagi publik untuk mengenal, mengapresiasi, dan menilai pencapaian artistik para pengajar, sekaligus memperluas dialog seni rupa Indonesia dengan komunitas seni internasional.(id11)
Berita Terkait











































































Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda