Ayahwa di Ruang Perawatan Tiro: Ketika Kepedulian Menyusuri Lorong-lorong Luka


"Di tengah kabar duka dan luka, yang paling dibutuhkan korban bukan hanya obat dan perban, tetapi juga keyakinan bahwa mereka tidak ditinggalkan".
Lorong-lorong RSUD Tgk. Abdullah Safii, Beureunuen, Kamis (5/11/2026), tidak hanya dipenuhi aroma obat dan langkah tergesa tenaga medis. Di balik pintu-pintu ruang perawatan, tersimpan kisah pilu para korban yang selamat dari insiden berdarah di Kecamatan Tiro/Truseb, Kabupaten Pidie. Luka yang mereka derita bukan sekadar sayatan pada tubuh, tetapi juga bekas trauma yang membekas dalam ingatan.
Di tengah suasana itu, hadir Bupati Aceh Utara, H. Ismail A. Jalil, S.E., M.M., yang akrab disapa Ayahwa. Kehadirannya bukan untuk urusan pemerintahan, melainkan untuk sebuah panggilan yang lebih mendasar: kemanusiaan.
Satu per satu tempat tidur pasien ia datangi. Tatapannya menyapu wajah-wajah yang masih menyimpan kepedihan. Sesekali ia menunduk, menggenggam tangan korban, mendengarkan cerita yang mungkin sulit diucapkan, tetapi tetap harus didengar. Di saat sebagian luka masih dibalut perban, perhatian menjadi obat yang tak kalah penting.
Kunjungan tersebut menjadi simbol bahwa duka tidak mengenal batas wilayah administratif. Meski peristiwa itu terjadi di Kabupaten Pidie, rasa empati melintasi batas kabupaten dan jarak geografis. Ayahwa datang membawa pesan sederhana namun kuat: bahwa penderitaan sesama adalah urusan bersama.
Peristiwa berdarah di Tiro telah meninggalkan luka mendalam. Nyawa melayang, sementara belasan lainnya harus menjalani perawatan akibat luka-luka yang mereka alami. Di balik angka-angka korban itu terdapat keluarga yang cemas, anak-anak yang menanti kepulangan orang tuanya, serta harapan yang kini bergantung pada proses penyembuhan.
Ayahwa mengaku sangat prihatin atas tragedi tersebut. Menurutnya, tidak ada satu pun masyarakat yang menginginkan musibah seperti itu terjadi. Karena itu, ia berharap seluruh korban yang masih menjalani perawatan dapat segera pulih dan memperoleh penanganan medis terbaik hingga kembali sehat.
Namun, kunjungan itu tidak hanya membawa simpati. Dari ruang perawatan yang sunyi, Ayahwa juga menyampaikan pesan penting kepada masyarakat. Ia mengajak semua pihak untuk menahan diri, menjaga ketenangan, dan tidak melakukan tindakan yang dapat memperkeruh keadaan.
Baginya, setiap persoalan harus diselesaikan melalui jalur hukum dan mekanisme yang berlaku. Di tengah situasi yang emosional, keadilan hanya dapat ditegakkan melalui proses yang bermartabat, bukan melalui tindakan yang menambah deretan korban baru.
Kehadiran Ayahwa di rumah sakit tersebut menjadi cermin bahwa seorang pemimpin tidak cukup hanya hadir saat peresmian dan seremoni. Pemimpin juga harus hadir ketika rakyat terluka, ketika air mata jatuh, dan ketika harapan mulai meredup. Sebab pada saat-saat seperti itulah, kepemimpinan menemukan makna yang sesungguhnya.
Di ruang-ruang perawatan RSUD Tgk. Abdullah Safii, perhatian seorang kepala daerah mungkin tidak dapat menghapus seluruh trauma yang dialami para korban. Namun kehadiran itu menjadi penanda bahwa mereka tidak berjuang sendiri.
Ketika senja perlahan turun di Beureunuen, para korban masih berbaring dalam proses penyembuhan. Tetapi setidaknya pada hari itu, mereka menerima satu pesan penting yang datang bersama langkah Ayahwa menyusuri lorong rumah sakit: bahwa di tengah luka dan dukacita, kemanusiaan masih berdiri tegak, memeluk mereka yang sedang berjuang kembali menata hidup.
"Solidaritas bukan tentang berada di tempat yang sama, melainkan tentang merasakan luka yang sama sebagai sesama manusia." (Maimun Asnawi, S.HI.,M.Kom.I/WASPADA.id).
Berita Terkait












































































Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda