Breaking News
Memuat breaking news...

BALADA CINTA

Redaksi
Redaksi
Senin, 11 Mei 2026 - 10.40 PM WIB
BALADA CINTA
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

Cerpen: Agusni AH

“Sudah berulang kali saya perintahkan tapi AI tetap menolak, Bang. Ia bilang tidak bisa mengoperasional seperti yang kita mau itu versi berbayar. 'Anda segera lanjut ke menu 'bayar'.

"Ada-ada saja AI...” ungkap Putra di ujung telepon selularnya dengan suara terkekeh, "kita perintah dia balik perintahkan kita".

"Ooo...Ya sudah,” jawabku pendek seraya menutup telepon. Geli juga dibuatnya. Memang dunia ini tak ada yang gratis. Sisi lain aku memahami sesuatu memang harus mengeluarkan modal.

Sebelumnya aku meminta Putra membuat sebuah ilustrasi menggunakan Artificial Intelligence (AI) untuk cerpen yang sedang kutulis tentang seorang perempuan yang ditinggal kekasihnya. Kisah yang dirundung duka. Luka akibat belati cinta.

Aku memandangi layar ponsel beberapa saat.

Di luar jendela, hujan baru saja reda. Tetes-tetes air masih bergelayut seperti sisa tangis yang belum selesai. Langit sore pucat pasi, murung. Seolah ikut memikul kelelahan dari hari-hari yang kian menua.

Ya...Tentang seorang perempuan yang akhir-akhir ini sering termenung. Yang hidupnya tampak baik-baik saja di mata orang-orang, tetapi sesungguhnya sedang runtuh perlahan dari dalam dirinya.

Entah mengapa, bayangan perempuan itu malah semakin jelas di kepalaku. Dan, aku harus menyelesaikan kisah dia.

Namanya Cut. Lengkapnya Cut Ainal.

Setiap pagi Cut berangkat kerja dengan balutan rapi nan anggun. Wajahnya teduh, bibirnya menyembul senyum halus yang dipaksakan. Ia bekerja di sebuah satker kecil di Kota Tua, mengurusi data-data administrasi dan tumpukan perencanaan yang nyaris tak pernah habis-habisnya.

Cut bergegas masuk ke ruangannya, mengejar tenggat yang menumpuk di atas meja. Jemarinya bergerak lembut, namun lincah menyentuh tuts-tuts keyboard komputer di meja. Tetapi pikirannya kerap melayang entah ke mana.

Ke masa lalu.

Ke seseorang bernama Fajar.

Tak ada yang tahu bahwa perempuan yang tampak tenang itu sebenarnya sedang mengusung beban teramat berat di pundaknya dan reruntuhan di dalam dadanya. Rekan-rekannya hanya mengenal Cut Ainal sebagai perempuan pendiam yang sesekali ikut mengimbangi celoteh-celoteh kantor dengan senyuman seadanya.

Padahal dulu ia mudah tertawa. Mudah melebur dalam percakapan. Mudah percaya bahwa cinta adalah rumah yang tidak akan ke mana-mana.

Sampai Fajar pergi meninggalkannya.

Bukan karena maut.

Bukan pula karena pertengkaran yang menyulut.

Lelaki itu pergi sebab memilih perempuan lain, seorang janda mapan yang dianggap lebih menjanjikan masa depan.

Sesederhana itu.

Dan, memberi sesakit itu.

Sejak saat itu, malam-malam Cut Ainal berubah menjadi goa yang sunyi. Ia sering duduk di dekat jendela rumahnya. Lampu-lampu di sepanjang Kota Tua, tampak samar seperti kunang-kunang yang diterpa angin malam dan kehilangan arah. Sementara di ruang dada Cut Ainal dipenuhi gelap tanpa sedikit cahaya. Ia menangis diam-diam.

Tangis yang tak bersuara.

Tangis yang jatuh perlahan seperti hujan gerimis di malam pekat tak berkesudahan.

Beberapa kali Uminya memergoki Cut tertunduk diam. Lesu.

“Cut baik-baik saja, Nak...?”

“Iya, Mi...” Sergah Cut.

Padahal tidak.

Hatinya kosong seperti rumah tua yang ditinggal penghuninya. Berantakan, gelap, dan hampa. Di benak kepalanya ada gema langkah-langkah lama yang menjejak. Sudut hatinya penuh karatan kenangan,

ia pernah mencoba menghapusnya. Namun tetap saja berkarat tebal, lekat.

Cut menghindari jalan-jalan yang dulu sering mereka lalui bersama.

Namun kenangan tidak pernah benar-benar bisa dibuang. Ia hanya berpindah tempat, dari mata menuju kepala, lalu menetap di hati sebagai luka yang diam-diam bernapas.

Dan dera derita, kadang, lebih setia daripada manusia.

Suatu sore sepulang kerja, ketika langit menggantung mendung dan aroma tanah basah memenuhi udara, Cut Ainal melihat seorang lelaki berdiri di depan kantor.

Fajar.

Tubuhnya seketika kaku.

Lelaki itu tampak lebih kurus. Tak terurus. Wajahnya letih seperti seseorang yang terlalu lama berkelahi dengan hidup. Tetapi sorot matanya masih sama seperti dulu. Mata yang pernah membuat Cut Ainal percaya bahwa cinta dapat menyembuhkan segala kepiluan.

“Cut...” suaranya lirih.

Perempuan itu menelan napas pelan. Dadanya mendadak sesak. Berat. Ada begitu banyak kenangan menyerbu sekaligus tawa di warung kopi, rumah makan, bahkan pesan-pesan panjang menjelang tidur, mimpi-mimpi kecil tentang rumah sederhana yang dulu mereka rancang bersama.

“Aku cuma ingin bicara sebentar.” Fajar setengah memaksa.

Rinai hujan turun lagi. Rintiknya tipis-tipis menempel di wajah. Cut Ainal tetap diam di tempatnya.

“Aku tahu ini tak berguna, tapi aku benar-benar menyesal,” lanjut lelaki itu: “aku kira kebahagiaan itu soal kemapanan. Soal masa depan yang akan menjadi nyaman. Tapi ternyata... tidak semua yang tampak terang bisa menghangatkan.”

Cut Ainal tersenyum kecil.

Senyum yang getir.

Ada luka-luka yang terlalu dalam untuk dijahit kembali hanya dengan kata maaf. Hati tak bisa direnda karena ia sudah telanjur patah dan belajar hidup dengan retaknya sendiri.

“Kau terlambat, Fajar.”

Kalimat itu meluncur pelan, tetapi terasa seperti sayatan pisau yang sama-sama melukai keduanya.

Fajar menunduk. Untuk pertama kalinya lelaki itu tampak benar-benar kalah.

“Aku masih mencintaimu,” katanya lirih.

Cut Ainal mendongak seraya memejamkan mata sesaat. Angin sore mengibas-ngibas dedaunan, rintik-rintik gerimis mulai menebal. Hujan pun turun padat membasahi mereka.

Di kejauhan, azan magrib mulai berkumandang, samar dan sendu.

“Aku juga pernah mencintaimu dengan sangat,” jawabnya pelan. “Sampai aku lupa bagaimana mencintai diriku sendiri.”

Hening.

Hanya suara hujan yang jatuh di atas aspal.

Cut Ainal lalu melangkah pergi meninggalkan lelaki itu di depan tepi jalan. Cut Ainal berjalan pelan. Tidak tergesa. Tidak pula menoleh kembali.

Sebab ada perpisahan yang tidak membutuhkan air mata.

Ada cinta yang selesai bukan karena hilang, melainkan karena terlalu lama dibiarkan menjadi luka.

Dan sejak hari itu, Cut Ainal mulai belajar satu hal yang paling sulit dalam hidupnya:

memaafkan tanpa harus kembali dan bersama lagi.

Ya...

Kisah Cut Ainal dan Fajar berakhir. Tinggal kini satu lagi pekerjaanku yang belum selesai. Adalah mengilustrasikan wajah Cut Ainal semirip mungkin, namun tak satu pun bisa memenuhi ekspektasiku dalam mengaktualkan imajinasi dan kesedihan perempuan itu. Aku mencarinya di banyak rupa, di wajah-wajah yang melintas, pada bayang-bayang senja, tetapi tak satu pun benar-benar menyerupainya. Barangkali memang ada tokoh yang ditakdirkan hanya hidup di dalam cerita belaka.

Tiba-tiba ponselku berbunyi: "Bang, ini sudah deadline. Tolong kirim segera cerpennya, ya." Putra, Si Redaktur Sastra Budaya Media Oneline berbasis di Aceh itu memerintahkanku. Aku pun cepat-cepat mengirimnya. Kali ini Putra berhasil memerintahkanku setelah sebelumnya ia gagal memerintahkan AI. Aku kembali menjadi lumpuh seperti gagal mencari kemiripan wajah perempuan dalam Balada Cinta. Hahaha.***

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement