BANG NEBO CERPEN AGUSNI AHBANG NEBO CERPEN AGUSNI AH

PENGANTAR REDAKSI:
Di tengah padatnya aktivitas sebagai punggawa demokrasi di Aceh, Agusni AH tetap konsisten menekuni dunia sastra sebagai penyair dan penulis. Pada edisi kali ini, ia kembali menghadirkan cerpen berjudul "Bang Nebo", sebuah kisah yang memotret sunyi penantian, kehilangan, dan proses menerima kenyataan.
Melalui sosok lelaki yang terus menggenggam harapan di tengah terputusnya komunikasi dengan perempuan yang dicintainya, Agusni AH mengajak pembaca menyelami pergulatan batin ketika cinta tak lagi memiliki ruang untuk kembali. Dengan gaya bertutur yang liris, kontemplatif, dan menyentuh, cerpen ini mengingatkan bahwa tidak semua perpisahan membutuhkan penjelasan; terkadang, keheningan justru menjadi jawaban yang paling jujur. Sebuah kisah tentang keberanian berdamai dengan kenyataan dan melepaskan masa lalu. Berikut kisahnya dapat pembaca simak di bawah ini:
BANG NEBO
MALAM baru saja menjemput senja. Seusai menunaikan Shalat Isya, seperti biasa Bang Nebo melangkah ke keude kupi, tempat ia menghabiskan waktu sebelum pulang ke rumah untuk beristirahat sejenak sembari menunggu pagi kembali hadir.
Rutinitas itu telah menjadi siklus yang terus berulang selama setahun terakhir. Di tengah suasana warung yang mulai lengang, ia menyeruput kopi perlahan. Seteguk demi seteguk, hingga hangatnya nyaris menghilang, sementara pandangannya tak pernah lepas dari layar telepon genggam yang digenggam dengan kedua tangannya.
Ia menunggu sebuah notifikasi yang tak pernah juga datang.
Beberapa pesan yang dikirim sejak pagi masih bertahan dengan satu centang, seolah berhenti di suatu tempat yang tak pernah berhasil dijangkau. Kotak masuk messenger yang sehari sebelumnya sempat memperlihatkan tanda kehidupan kini kembali sunyi. Saluran komunikasi lainnya bahkan telah lebih dulu kehilangan fungsi. Satu per satu telah diblokir.
Bang Nebo menarik napas panjang. Matanya kembali menatap layar yang tetap bisu. "Sepertinya... saluran ini pun kembali diblokir," gumamnya lirih.
Di hadapannya kopi mulai mendingin. Di dalam dadanya, harapan perlahan ikut mengendap, seperti ampas yang takkan pernah larut. Malam terus merambat, tetapi penantian itu tetap diam di tempatnya, seakan ada jarak yang tak bisa lagi terjangkau kata-kata maupun sinyal.
Di tengah kesunyian yang memeluk hatinya, sembari menunggu notifikasi yang entah kapan akan kembali menyala di layar ponselnya, Bang Nebo mencoba menumpahkan segala rasa yang selama ini berjejal di dadanya. Rindu dan dendam datang silih berganti, timbul lalu tenggelam seperti ombak dan air pasang yang tak pernah surut. Jiwanya telah lama terkurung oleh rindu yang tak menemukan jalan pulang. Ia terpasung dalam cinta yang hanya hidup di satu sisi, lalu terperangkap di lorong sunyi yang tanpa jalan keluar. Harapan masih ada, tetapi semakin hari semakin kehilangan suara, seolah tak pernah didengar oleh siapa pun.
Pada saat-saat seperti itulah, dendam kerap menyelinap. Bukan semata kepada seseorang, melainkan kepada dirinya sendiri; kepada kebodohan yang terus memelihara harapan, kepada hati yang tak juga belajar melepaskan. Ia merasa seperti tersuruk ke dalam lumpur kehidupan. Semakin ingin mengangkat kaki, semakin kuat tarikan yang menyeretnya ke dasar. Seolah ada kekuatan tak kasatmata yang terus menahan langkahnya untuk keluar dari pusaran kenangan yang telah lama kehilangan masa depan.
Dadanya menggemuruh, seperti gema panjang yang bersahut-sahutan di ruang kalbu paling terdalam. Tak seorang pun mengetahuinya. Bahkan dia—perempuan yang selama ini memenuhi seluruh ruang hatinya, seolah tak lagi peduli. Semuanya benar-benar membiarkannya berjalan sendiri, seakan ia telah tenggelam di dasar lautan harapan yang tak bertepi. Berkali-kali gelombang kemelut menghantam jiwanya. Berkali-kali pula Bang Nebo membiarkan dirinya tersungkur di bawah badai kesunyian. Ia terjerembab dalam penantian yang tak mengenal ujung, sementara rindu yang mengendap begitu dalam tak pernah surut. Waktu terus berjalan, tetapi perasaannya seolah berhenti pada titik yang sama.
Di tengah kepasrahan itu, Bang Nebo masih setia menunggu dalam kesendirian. Ada harapan kecil yang terus dipeliharanya, meski hampir padam. Sesekali matanya kembali menatap layar ponsel yang tetap membisu. Tak ada getar, tak ada bunyi, tak ada _notifikasi_ dari seseorang yang telah lama menjadi penghuni paling setia di dalam hatinya.
***
Dulu mereka hampir tak pernah melewatkan malam tanpa saling berbagi cerita. Seusai menjalani rutinitas yang melelahkan, mereka masih menyempatkan diri duduk berdua di sebuah warung sederhana. Segelas minuman hangat dan sepotong roti bakar sudah cukup menjadi teman percakapan yang panjang. Mereka saling bertukar kisah tentang pekerjaan, tentang lelah yang dijalani, juga tentang mimpi-mimpi yang ingin dicapai bersama. Ketika persoalan datang menghimpit, Bang Nebo hampir selalu berusaha menjadi jalan keluar. Ia lebih memilih mencari solusi daripada memperpanjang pertengkaran. Baginya, setiap masalah selalu memiliki pintu untuk diselesaikan selama dua hati masih mau saling mendengar.
Namun waktu perlahan mengubah banyak hal. Perbedaan cara pandang yang semula hanya riak kecil menjelma menjadi gelombang yang sulit diredam. Terutama ketika persoalan hati mulai dipenuhi prasangka. Segala sikap yang dulu dianggap sebagai bentuk kepedulian, lambat laun justru ditafsirkan sebagai ketidakjujuran. Bang Nebo tak lagi dipandang sebagai lelaki yang mampu memahami perasaan seorang perempuan. Ia mulai dicurigai memiliki hati yang terbagi.
Padahal, berkali-kali ia telah meyakinkan bahwa di dalam hatinya hanya ada satu nama. Satu perempuan yang tak pernah benar-benar berhasil ia lepaskan. Namun, ketika kepercayaan telah retak, pengakuan sering kali kehilangan maknanya. Kata-kata tak lagi memiliki daya untuk meyakinkan. Yang tersisa hanyalah diam, lalu jarak yang semakin melebar, hingga akhirnya mereka berdiri di dua sisi kehidupan yang saling memandang, tetapi tak lagi mampu saling menjangkau.
Bang Nebo kembali mengingat-ingat sebuah saran agar dirinya segera kembali kepada perempuan yang pernah mengisi hidupnya, atau membuka lembaran baru dengan mencari pengganti. Saran itu semula terdengar seperti jalan keluar, tetapi semakin lama justeru berubah menjadi lorong panjang yang penuh pertanyaan.
"Tak perlu lagi menungguku," ujar perempuan itu suatu waktu.
Kini, perlahan Bang Nebo mulai memahami makna di balik kalimat itu. Barangkali, sejak kata-kata itu terucap, perempuan yang begitu disayangi dan dicintainya sepenuh hati sesungguhnya telah lebih dahulu melangkah pergi, meninggalkan hubungan mereka tanpa pernah benar-benar menjelaskan ke mana arah akhirnya. Yang tersisa bagi Bang Nebo hanyalah kenangan dan ruang hening yang tak kunjung terisi.
Dalam benaknya sempat terlintas bahwa perpisahan itu mengingatkannya pada kisah masa lalu perempuan tersebut ketika mengakhiri kehidupan rumah tangganya. Hal serupa diajukan kepada suaminya untuk kemudian menjadi alasan mereka berpisah. Entah hanya kebetulan atau memang begitulah caranya menutup sebuah babak kehidupan. Bang Nebo tak pernah benar-benar tahu. Ia sadar, setiap orang memiliki alasan yang sering kali hanya dimengerti oleh dirinya sendiri.
***
Meski sempat berpapasan di tengah keramaian, pertemuan itu hanya sekejap—sesingkat embusan angin yang datang lalu pergi tanpa sempat meninggalkan jejak. Dalam kesempatan yang rapuh itu, Bang Nebo memberanikan diri memohon agar perempuan itu bersedia menemuinya di warung kopi tempat ia kini duduk seorang diri.
"Kuharap kau mau datang. Kumohon, bukalah blokir saluran komunikasi itu. Aku hanya ingin kejelasan tentang hubungan kita," ucapnya lirih, lebih seperti doa daripada permintaan.
Namun waktu terus bergulir. Cangkir kopinya telah lama kehilangan hangat, langit perlahan berganti warna, dan kursi di hadapannya tetap kosong. Nomornya masih terblokir, seolah menjadi tembok yang tak mampu ditembus oleh penjelasan, penyesalan, ataupun harapan. Perempuan itu tak pernah datang. Bahkan bayang hidungnya pun tak tampak. Yang tersisa hanyalah Bang Nebo, ditemani sunyi yang perlahan mengendap lebih pekat daripada ampas kopi di dasar cangkirnya.
***
Di tengah benaknya yang semakin liar memikirkan saran perempuan itu, Bang Nebo tiba-tiba dikejutkan oleh kedatangan seorang remaja lelaki.
"Izin, Om... sendiri saja?" Suara itu begitu akrab. Sebelum Bang Nebo sempat menjawab, remaja itu menambahkan: "Mama di meja dekat dinding." Seketika pandangan Bang Nebo beralih ke arah yang ditunjuk. Tak jauh dari meja tempatnya duduk, perempuan yang selama ini memenuhi ruang pikirannya tampak tenang menikmati segelas minuman. Wajahnya datar, nyaris tanpa ekspresi. Berusaha menyembunyikan kegugupan, Bang Nebo bertanya: "Sudah lama kalian datang? Naik apa kemari?" "Lumayan...kami naik mobil, Om," jawab remaja itu sopan. Seketika darah Bang Nebo terasa mendesir. Bukankah selama ini perempuan itu pernah mengatakan mobilnya telah diambil, lalu dijual mantan suaminya. Lantas mobil yang dimaksud anak itu mobil siapa? Berbagai dugaan berkelebat di benaknya. Sedikit demi sedikit, teka-teki itu mulai menemukan jawabannya. Sorot mata remaja itu memancarkan kebahagiaan yang begitu tulus. Dari caranya bercerita, senyum yang tak putus mengembang di wajahnya. Bang Nebo menangkap satu kenyataan yang tak pernah siap diterimanya: kedua orang tua anak itu tampaknya telah kembali rujuk. Bahkan perempuan itu kini telah memiliki mobil baru, seolah menjadi penanda bahwa kehidupan mereka perlahan kembali utuh. Dengan sisa keberanian yang masih dimilikinya, Bang Nebo mengangkat tangan memberi isyarat agar perempuan itu bersedia duduk semeja dengannya. Perempuan itu menatap sejenak, lalu mengangguk pelan. Ia meminta pelayan memindahkan gelas minumannya ke meja Bang Nebo.
Akhirnya mereka duduk bertiga. Anehnya, pertemuan yang begitu lama dibayangkan itu justru dipenuhi keheningan. Tak ada percakapan panjang, tak ada penjelasan yang selama ini diharapkan Bang Nebo. Yang terdengar hanya bunyi sendok menyentuh gelas dan riuh pelan warung kopi di sekeliling mereka.
Bang Nebo sesekali mengalihkan pembicaraan kepada remaja itu. Menanyakan kabarnya, sekolahnya, dan aktivitasnya sehari-hari. Remaja itu menjawab setiap pertanyaan dengan santun, penuh hormat, diselingi senyum yang menenangkan. Bahkan di hati Bang Nebo, lelaki remaja itu bagai anaknya sendiri. Sementara perempuan itu lebih banyak mengalihkan pembicaraan, bilamana ada pertanyaan Bang Nebo dengan bahasa samar tentang keberadaan posisi hubungannya. Seakan ada kata-kata yang sengaja dipilih untuk tetap tinggal di dalam hati.
Di meja itu, Bang Nebo akhirnya memahami bahwa diam pun dapat menjadi sebuah bahasa. Ada keheningan yang lebih fasih daripada ribuan kalimat, karena di dalamnya terkandung jawaban-jawaban yang tak lagi memerlukan penjelasan. Kadang, takdir tidak mengakhiri sebuah kisah dengan pertengkaran atau perpisahan yang dramatis. Ia hanya mempertemukan kembali orang-orang yang pernah saling mencintai, agar salah satunya mengerti bahwa yang sedang duduk di hadapannya bukan lagi masa depan, melainkan kenangan yang sempat singgah dan kini telah memilih jalannya sendiri.***.



























Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda