Breaking News
Memuat breaking news...

BARA DI DADA

Redaksi
Redaksi
Minggu, 18 Oktober 2026 - 2.12 PM WIB
BARA DI DADA
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size
Advertisement

Cerpen Agusni AH

HATI yang telah lama tersulut kini kembali tertimpa bara. Luka yang pernah dikubur dalam-dalam, yang dikira telah luruh bersama waktu, ternyata masih menyimpan api di sudut paling sunyi dari ingatan.
“Apa kau peram bara?”
Suara antara tanya dan gugatan berkecamuk di benak lelaki itu.
“Tidak!”
“Hahaha ...”
“Sudahlah!”
Lalu, ia terdiam setelah berbicara dalam diam di beranda rumah, menatap langit yang perlahan kehilangan warna. Angin petang menyusup di antara dedaunan, membawa aroma tanah basah setelah seharian diguyuri hujan, bersama kenangan yang tak pernah benar-benar pergi. Di kejauhan, suara kendaraan sesekali melintas, kemudian lenyap ditelan jalanan yang mulai lengang. Sementara itu, di dalam rumah, jam dinding berdetak pelan, seolah menghitung sisa waktu yang masih dimilikinya bersama sesuatu yang tak pernah ia pahami sepenuhnya.
Ada sesuatu yang kembali mengusik dadanya. Sesuatu yang pernah membuatnya kehilangan kepercayaan, meragukan ketulusan, bahkan mempertanyakan arti sebuah pengorbanan.
Dulu, ia memilih diam. Bukan karena tak mampu melawan, melainkan karena percaya bahwa waktu akan mengajarkan kebenaran menemukan jalannya sendiri. Ia membiarkan luka mengering tanpa banyak bertanya, meski bekasnya tetap tinggal sebagai garis-garis tipis yang tak kasatmata.
Namun, sore itu, sebuah peristiwa kecil membuka kembali pintu yang selama ini susah payah ia tutup.
Sebuah kalimat sederhana. Sebuah tatapan yang terasa asing. Dan sikap seseorang yang mengingatkannya pada kejadian bertahun-tahun silam. Semua itu cukup untuk membangunkan sesuatu yang selama ini tidur di dasar ingatannya.
Dadanya sesak.
Ada amarah yang merangkak naik, ada kekecewaan yang mengetuk-ngetuk ingatan. Semua yang pernah ia tahan seolah meminta jalan keluar. Ia ingin berteriak, ingin memaki, ingin menumpahkan segala sesuatu yang selama ini disimpannya sendirian. Tetapi, kepada siapa ia harus mengadu? Kepada siapa ia harus menjelaskan bahwa luka yang telah lama mengering ternyata masih terasa perih ketika disentuh?
“Tidak ...!”
Ia berontak seraya mengepalkan tangan, lalu melepaskannya perlahan.
Ia tak ingin menjadi api yang membakar siapa saja. Ia juga tak ingin menjadikan luka sebagai alasan untuk melukai orang lain.
Akan tetapi, menahan amarah ternyata bukan perkara mudah. Terlebih ketika ingatan mulai menghidupkan kembali peristiwa-peristiwa yang selama ini berusaha ia lupakan.
Ia masih ingat perempuan itu.
Perempuan yang pernah datang membawa kehangatan ke dalam hidupnya. Perempuan yang dahulu mampu membuat rumah sederhana terasa seperti tempat paling nyaman di dunia. Perempuan yang mengenal kebiasaan-kebiasaan kecilnya, tahu kapan ia sedang bersedih meskipun mulutnya mengatakan baik-baik saja, dan mengerti bahwa di balik sikap kerasnya tersimpan hati yang sesungguhnya mudah terluka.
Mereka pernah tertawa bersama, membicarakan masa depan, merencanakan hari-hari yang belum tiba, dan saling berjanji untuk tetap bertahan meski kehidupan sesekali mempertemukan mereka dengan kesulitan.
“Tak ada kesulitanmu tanpaku,” cetus perempuan itu.
“Benarkah?” Lelaki itu mencari keteguhan dalam janji tersebut.
Namun, manusia sering kali lebih pandai mengucapkan janji daripada memeliharanya.
Hari demi hari, sesuatu mulai berubah di antara mereka. Bukan perubahan yang datang dengan suara gaduh atau pertengkaran besar. Ia justru tumbuh perlahan, menyelinap di sela-sela percakapan, bersembunyi di balik kesibukan, kemudian menjelma jarak yang semakin sulit dijembatani.
Lelaki itu merasa dirinya telah banyak berkorban. Ia bekerja, memenuhi kebutuhan rumah, menanggung beban kehidupan, dan berusaha memastikan bahwa segala sesuatu berjalan sebagaimana mestinya. Baginya, itulah bentuk kasih sayang yang paling nyata.
Ia mengira perempuan itu akan memahami semua yang dilakukannya tanpa perlu penjelasan.
Sementara itu, perempuan tersebut menunggu sesuatu yang berbeda.
Ia menunggu waktu untuk duduk bersama. Menunggu pertanyaan sederhana tentang bagaimana harinya berlalu. Menunggu telinga yang bersedia mendengarkan keluh kesahnya tanpa buru-buru memberikan jawaban. Ia merindukan percakapan yang tidak selalu berakhir dengan perdebatan, serta pelukan yang tidak harus didahului permintaan.
Perempuan itu ingin didengar, sedangkan lelaki itu merasa dirinya sudah cukup banyak memberi.
Keduanya sama-sama merasa lelah.
Keduanya sama-sama merasa benar.
Dan keduanya sama-sama menunggu pihak lain untuk mengalah.
Setiap kali pertengkaran terjadi, lelaki itu memilih diam. Ia menganggap diam sebagai cara terbaik untuk menghindari persoalan yang lebih besar. Baginya, tidak membalas perkataan perempuan itu merupakan bentuk pengendalian diri.
Tetapi, ia tidak pernah menyadari bahwa diamnya sering kali terasa seperti pintu yang dikunci dari dalam.
Perempuan itu berbicara, tetapi tak menemukan jawaban. Ia menangis, tetapi tak menemukan tempat bersandar. Ia berusaha menjelaskan isi hatinya, tetapi lelaki itu justru menganggapnya terlalu banyak menuntut.
“Bukankah selama ini aku sudah melakukan semuanya?” Begitulah kalimat yang sering muncul dalam benaknya.
Ia tidak pernah benar-benar mengucapkannya dengan suara keras, tetapi sikapnya telah lebih dahulu menyampaikan kalimat itu.
Perempuan itu pun perlahan berhenti bercerita.
Mula-mula hanya tentang persoalan kecil. Kemudian tentang kesedihannya. Lalu tentang hal-hal yang dahulu selalu mereka bicarakan bersama.
Rumah mereka masih berdiri. Seisi rumah tetap pada tempatnya. Perabotan kamar masih tertata sebagaimana biasanya. Dapur masih mengepulkan asap, sementara ruang tamu yang sederhana tetap berada di posisinya. Lampu-lampu menyala seperti biasa setiap malam.
Namun, sesuatu yang tak terlihat mulai meninggalkan rumah itu.
Kehangatan.
Pada suatu malam, perempuan itu pernah duduk di tepi tempat tidur, memandangi lelaki yang sedang sibuk dengan pikirannya sendiri.
“Apa kau masih mencintaiku?” tanyanya pelan.
Lelaki itu mengangkat wajah. Ia merasa pertanyaan tersebut tidak masuk akal. Bukankah selama ini ia tetap tinggal? Bukankah ia masih bekerja untuk memenuhi kebutuhan mereka? Bukankah ia tidak pernah benar-benar meninggalkan rumah?
“Mengapa kau bertanya begitu?” jawabnya.
“Aku hanya ingin tahu.”
“Kalau aku tidak mencintaimu, untuk apa aku bertahan selama ini?”
Perempuan itu menunduk. Ada sesuatu yang ingin disampaikannya, tetapi ia mengurungkan niat. Ia tahu percakapan itu hanya akan berakhir dengan perdebatan yang sama.
“Sudahlah,” katanya kemudian.
Lelaki itu kembali pada kesibukannya. Ia merasa persoalan telah selesai.
Padahal, bagi perempuan itu, malam tersebut justru menjadi satu lagi kenangan yang mengajarkannya bahwa tidak semua pertanyaan membutuhkan jawaban panjang. Terkadang, seseorang hanya membutuhkan sedikit kelembutan agar tidak merasa sendirian di tengah kehidupan yang dijalani bersama.
Waktu terus berjalan.
Lelaki itu tidak menyadari bahwa perempuan yang berada di sampingnya semakin jauh, meskipun jarak di antara mereka hanya selebar tempat tidur. Ia tidak menyadari bahwa ada kelelahan yang tidak bisa disembuhkan oleh uang, ada kesepian yang tidak bisa diusir oleh kehadiran fisik, dan ada hati yang perlahan berhenti berharap setelah berkali-kali mengetuk pintu yang sama.
Perempuan itu pun bukan tanpa kesalahan.
Ia menyimpan kekecewaan terlalu lama. Ia berharap lelaki itu mampu membaca isi pikirannya, seolah cinta memberinya kemampuan untuk mengetahui segala sesuatu tanpa perlu diberi tahu. Ketika harapannya tak terpenuhi, ia memilih menjauh. Ketika lelaki itu diam, ia membalas dengan kebisuan. Ketika lelaki itu mengeraskan hati, ia pun membangun dindingnya sendiri.
Ia ingin dimengerti, tetapi terkadang lupa menjelaskan.
Ia ingin dipeluk, tetapi justru menjauh ketika lelaki itu mendekat.
Keduanya terluka, tetapi sama-sama menyembunyikan luka itu di balik sikap yang mereka anggap sebagai perlindungan diri.
Tak seorang pun menyadari bahwa mereka sedang berlomba mempertahankan ego, sementara sesuatu yang mereka cintai perlahan-lahan kehilangan tempat untuk bertumbuh.
Sampai suatu hari, perempuan itu pergi.
Kepergiannya tidak disertai kemarahan yang meledak-ledak. Tidak pula diiringi kata-kata panjang tentang segala kesalahan yang pernah dilakukan lelaki itu. Ia hanya membawa beberapa barang yang diperlukan, meninggalkan rumah yang pernah mereka bangun dengan harapan, lalu melangkah menuju kehidupan yang tidak lagi menempatkan dirinya sebagai seseorang yang harus terus-menerus menunggu.
Lelaki itu terpaku.
Ia tidak percaya perempuan itu benar-benar pergi.
Dalam pikirannya, perempuan itu hanya ingin menakut-nakutinya. Barangkali beberapa hari lagi ia akan kembali. Barangkali setelah amarahnya reda, ia akan mengetuk pintu dan meminta maaf. Bukankah selama ini pertengkaran mereka selalu berakhir seperti itu?
Ia menunggu.
Hari pertama, ia masih menyimpan keyakinan bahwa perempuan itu akan pulang sebelum malam tiba.
Hari kedua, ia mulai gelisah, tetapi harga dirinya melarangnya menghubungi lebih dahulu.
Hari ketiga, ia mengambil telepon, membuka nama perempuan itu, lalu meletakkannya kembali. Ia ingin bertanya di mana perempuan itu berada. Ia ingin mengatakan bahwa rumah terasa berbeda tanpa kehadirannya.
Namun, jari-jarinya kaku.
Bagaimana mungkin ia harus memulai percakapan, sementara menurut pikirannya, bukan dirinya yang meninggalkan rumah?
Ia menunggu perempuan itu menyadari kesalahannya.
Sementara itu, perempuan tersebut mungkin sedang menunggu hal yang sama darinya.
Hari-hari berikutnya berjalan seperti lorong panjang tanpa ujung. Pagi datang, tetapi tidak membawa kabar. Malam tiba, tetapi tidak menghadirkan suara yang dirindukannya. Rumah yang dahulu terasa sempit karena dipenuhi percakapan kini menjelma ruang luas yang memantulkan kesunyian.
Lelaki itu mulai menyadari betapa banyak hal kecil yang dahulu tidak pernah dianggapnya penting.
Secangkir minuman yang biasa tersedia di meja. Suara langkah kaki menjelang malam. Pertanyaan sederhana tentang apakah ia sudah makan. Bahkan teguran kecil yang dahulu sering membuatnya kesal.
Kini, semua itu hanya tinggal kenangan.
Ia baru memahami bahwa kehadiran seseorang sering kali terasa biasa ketika masih berada di dekat kita. Nilainya justru terasa ketika ruang yang ditinggalkannya tak lagi dapat diisi oleh siapa pun.
Tetapi, kesadaran itu datang terlambat.
Sore itu, setelah sekian lama mencoba mengubur kenangan, lelaki itu kembali duduk di beranda.
Langit di hadapannya semakin gelap. Angin bergerak pelan, menggoyangkan daun-daun yang mulai kehilangan kesegaran. Ia memandang pintu rumah yang terbuka, seolah berharap seseorang akan muncul dari baliknya.
Tak ada siapa-siapa.
Ia teringat pertengkaran terakhir mereka. Tentang kata-kata yang terlalu tajam, tentang tuduhan yang dilemparkan tanpa mempertimbangkan perasaan, tentang keheningan yang sengaja dipertahankan demi memenangkan perdebatan.
Dulu, ia mengira kepergian perempuan itu disebabkan oleh kesalahan perempuan tersebut. Ia merasa telah menjadi pihak yang paling banyak berkorban. Ia merasa berhak kecewa karena segala usahanya seolah tidak dihargai.
Namun, sore itu, untuk pertama kalinya, ia mencoba memandang peristiwa tersebut dari sisi yang berbeda.
Bagaimana jika selama ini ia terlalu sibuk menghitung pengorbanannya sendiri hingga lupa melihat kesedihan orang lain?
Bagaimana jika perempuan itu bukan tidak menghargai perjuangannya, melainkan lelah karena tidak pernah benar-benar diajak berbagi perasaan?
Bagaimana jika kepergian itu bukan semata-mata keputusan seorang perempuan yang egois, melainkan akhir dari perjalanan dua manusia yang sama-sama gagal memahami satu sama lain?
Pertanyaan demi pertanyaan muncul, membongkar keyakinan yang selama ini dibangunnya dengan susah payah.
Ia mulai mengingat wajah perempuan itu ketika mencoba berbicara. Mata yang menahan air mata. Bibir yang akhirnya memilih diam. Bahu yang perlahan menjauh setiap kali ia menganggap persoalan mereka tidak perlu dibicarakan lagi.
Dulu, ia melihat semua itu sebagai sikap berlebihan.
Sekarang, ia melihatnya sebagai permohonan yang tidak pernah sungguh-sungguh didengarnya.
Dadanya terasa semakin sesak.
Barangkali perempuan itu memang memiliki ego. Barangkali dirinya pun demikian. Mereka sama-sama ingin dimengerti, tetapi enggan memahami. Sama-sama ingin dipeluk, tetapi terlalu gengsi untuk lebih dahulu merentangkan tangan. Sama-sama menuntut pengertian, tetapi tidak cukup sabar mendengarkan.
Mereka bukan kehilangan cinta dalam satu malam.
Mereka kehilangan jalan untuk mencapai satu sama lain, sedikit demi sedikit, sampai akhirnya cinta yang tersisa tidak lagi menemukan tempat untuk pulang.
Lelaki itu menundukkan kepala.
Untuk pertama kalinya, ia tidak ingin mencari siapa yang paling bersalah.
Ia hanya ingin mengakui bahwa dirinya juga telah mengambil bagian dalam kehancuran itu.
Senja pun tenggelam.
Lelaki itu bangkit, melangkah memasuki rumah, meninggalkan beranda yang mulai diselimuti gelap. Luka itu mungkin belum sembuh. Bara itu mungkin belum sepenuhnya padam. Tetapi, malam ini, ia tidak lagi ingin menyulutnya.
Ia berjalan menuju kamar, lalu duduk di tepi tempat tidur yang terasa begitu luas. Tangannya meraba sisi yang kosong. Di sanalah perempuan itu dahulu berbaring, berbagi cerita, mengeluhkan letih, atau sekadar memejamkan mata setelah melewati hari yang panjang.
Ia memejamkan mata.
Dalam gelap, ia mendengar kembali suara yang pernah memenuhi rumah itu. Suara yang bertanya apakah ia sudah makan. Suara yang memanggil namanya dari dapur. Suara yang terkadang meninggi karena kecewa, tetapi juga suara yang dahulu membuatnya merasa bahwa hidupnya tidak benar-benar sendiri.
“Pulanglah,” bisiknya.
Tak ada jawaban.
Ia mengulanginya, kali ini dengan suara yang lebih lirih.
“Pulanglah. Aku lelah.”
Namun, yang menjawab hanya detak jam dinding dan desau angin yang menyelinap melalui celah jendela.
Tiba-tiba, ia merasa kecil. Begitu kecil, seolah seluruh kekuatan yang selama ini dibanggakannya luruh dalam sekejap. Ia tak lagi merasa sebagai lelaki dewasa yang mampu menanggung beban kehidupan, yang bisa menyelesaikan persoalan dengan logika, atau yang selalu berusaha tampak kuat di hadapan orang lain.
Ia hanya ingin seseorang datang, duduk di sampingnya, mengusap kepalanya, lalu berkata bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Ia ingin menangis tanpa harus menjelaskan alasan.
Ingin mengadu tanpa takut dianggap lemah.
Ingin dipeluk tanpa terlebih dahulu membuktikan bahwa dirinya layak mendapatkan kasih sayang.
Di sanalah ia akhirnya mengerti: di balik segala amarah, pertahanan diri, dan kebanggaan yang selama ini dijaganya, ada seorang anak kecil yang tak pernah benar-benar tumbuh dewasa. Anak yang takut ditinggalkan, tetapi justru membiarkan orang yang dicintainya merasa sendirian. Anak yang ingin dipahami, tetapi tidak tahu bagaimana memahami. Anak yang menuntut kehangatan, tetapi terlalu sering menyembunyikan hatinya di balik pintu yang terkunci.
Ia menatap pintu kamar.
Dalam bayangannya, pintu itu bukan lagi pintu rumahnya, melainkan pintu sebuah masa yang telah lama berlalu. Masa ketika dunia terasa luas, ketika suara langkah seorang ibu menjadi tanda bahwa segala sesuatu akan baik-baik saja, ketika tangisan cukup untuk mendatangkan pelukan, dan ketika kesedihan tidak perlu diterjemahkan menjadi kata-kata.
Ia teringat ibunya.
Betapa dahulu ia menunggu perempuan itu pulang, duduk di dekat pintu, memandangi jalan, lalu berlari menyambut begitu mendengar langkah yang dikenalnya. Ia tidak pernah memikirkan siapa yang benar atau salah. Ia tidak mengenal ego, tidak memahami pengorbanan, tidak pula tahu cara menyembunyikan rindu.
Ia hanya tahu bahwa ketika ibunya pergi, ia ingin ibunya kembali.
Kini, setelah bertahun-tahun menjadi lelaki dewasa, ia kembali menemukan dirinya di tempat yang sama: di hadapan pintu, di tengah kesunyian, dengan hati yang tak lagi mampu membedakan antara penyesalan dan kerinduan.
Ia tersadar bahwa kepergian perempuan itu bukan semata-mata akibat kesalahan salah satu dari mereka. Perempuan itu membawa egonya sendiri, sementara ia mempertahankan egonya dengan keyakinan bahwa dirinya selalu benar. Mereka sama-sama ingin menang, sampai lupa bahwa dalam sebuah hubungan, kemenangan yang diperoleh dengan mengalahkan perasaan orang yang dicintai sering kali hanyalah nama lain dari kekalahan.
Seandainya dahulu ia bersedia mendengarkan sedikit lebih lama.
Seandainya perempuan itu bersedia menjelaskan sedikit lebih jujur.
Seandainya mereka berdua mau menurunkan suara, melunakkan hati, dan berhenti menghitung siapa yang paling banyak berkorban, mungkin pintu itu tidak akan menjadi batas antara mereka.
Tetapi, waktu tidak pernah menyediakan jalan untuk mengulang sesuatu yang telah berlalu.
Lelaki itu merosot perlahan dari tepi tempat tidur. Ia duduk di lantai, memeluk lututnya sendiri. Tubuhnya menggigil, bukan karena dingin, melainkan karena kesadaran yang datang bersama kehilangan. Semua kebanggaan yang dahulu dipertahankannya kini terasa tidak berguna. Semua argumen yang pernah disusunnya kehilangan makna. Tak ada lagi perdebatan yang perlu dimenangkan, tak ada lagi tuduhan yang harus dibuktikan.
Hanya ada kesunyian.
Hanya ada penyesalan.
Dan seorang lelaki yang mendadak merasa dirinya begitu kecil di hadapan kehilangan.
Ia menatap pintu sekali lagi, seperti seorang anak yang menunggu ibunya pulang dari pasar. Ia membayangkan seseorang akan datang, membuka pintu, lalu memanggil namanya dengan suara lembut.
Namun, pintu itu tetap diam.
Air matanya jatuh tanpa suara. Ia mengusap pipi dengan punggung tangan, lalu kembali menatap ke arah pintu, menunggu sesuatu yang bahkan tidak lagi berani ia janjikan kepada dirinya sendiri.
Malam semakin larut.
Di rumah yang luas itu, seorang lelaki dewasa telah kehilangan seluruh keberaniannya untuk berpura-pura kuat. Ia tidak lagi ingin membenarkan dirinya, tidak lagi ingin menyalahkan perempuan yang pergi, dan tidak lagi ingin memelihara bara yang selama ini membuat dadanya terbakar.
Ia hanya ingin pulang.
Pulang ke masa ketika kasih sayang tidak perlu diperdebatkan, ketika pelukan tidak harus diminta berkali-kali, dan ketika seseorang akan datang hanya karena mendengar tangisnya.
Tetapi, masa itu telah jauh tertinggal.
Dan malam itu, lelaki itu akhirnya tersadar: perempuan yang pergi bukan hanya meninggalkan sebuah rumah, melainkan juga membawa serta bagian dari dirinya yang selama ini tak pernah ia rawat. Ia baru memahami bahwa mereka berdua telah kalah oleh ego masing-masing—ego yang membuat mereka lebih sibuk mempertahankan kebenaran daripada menyelamatkan cinta.
Kini, di tengah rumah yang sunyi, lelaki itu menemukan dirinya kembali menjadi seorang balita, duduk memeluk lutut di hadapan pintu, menunggu sang ibu pulang, dengan air mata yang tak mengenal kata-kata dan hati kecil yang hanya tahu satu hal: ia ingin seseorang kembali memeluknya, agar dunia tidak terasa begitu sepi.[]

Agusni AH Adalah, seorang kuli demokrasi dan tukang sastra kelahiran pesisir Aceh, kini berdomisili di Kota Banda Aceh.

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.

Berita Terkait

Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement