BASI


Cerpen Agusni AH
"Tolong bungkuskan nasi, menu seperti biasa."
"Berapa bungkus?"
_"Kan_ sudah saya bilang, seperti biasa."
"Ooo, ya, ya ... baik, Pak."
Penjual sarapan pagi itu bergegas membungkus nasi. Tangannya cekatan memasukkan nasi dan lauk ke dalam bungkusan daun pisang, lalu memasukkannya ke dalam kantung plastik.
"Ini, Pak. Dua bungkus, kan?"
Lelaki itu tidak menjawab. Wajahnya tampak masam. Ia langsung meraih kantung plastik berisi dua bungkus nasi dari tangan penjual, lalu bergegas pulang.
Tidak seperti pagi-pagi sebelumnya, ia tak lagi menyempatkan diri duduk lebih lama di warung kopi. Biasanya, setelah menghabiskan secangkir kopi dan sepiring nasi gurih, ia membawa pulang sebungkus nasi dengan lima pulut bakar untuk istrinya di rumah.
Namun, beberapa hari terakhir, kebiasaannya berubah. Ia membeli dua bungkus nasi setiap pagi, meskipun hanya dirinya yang bersarapan.
Ia tak lagi tahu apakah istrinya akan makan atau tidak. Bahkan, jauh sebelum keadaan berubah seperti sekarang, perempuan itu memang kerap menghindari sarapan.
Alasannya sederhana. Tubuhnya semakin membesar, sementara tinggi badannya tak bertambah. Ia khawatir bentuk tubuhnya semakin tak seimbang, sebagaimana yang sering dikeluhkannya setiap kali berdiri di depan cermin.
"Tak perlu terlalu menahan diri," ucap suaminya suatu pagi.
"Tapi ... badan semakin bongsor, Bang."
"Yang penting kamu sehat."
"Sehat, ya, sehat. Badan jadi seperti bagong nanti, Abang malah beralih pandang ke wanita lain."
"Ah, pikiran dan hati jauh lebih penting diurus," sanggah lelaki itu. Kemudian, dengan nada sungguh-sungguh, ia menambahkan, "Karena aku tidak hanya mencintaimu sebatas tubuhmu."
Mendengar pernyataan itu, perempuan tersebut merasa gembira sekaligus bangga. Ternyata, cinta dan kasih sayang suaminya telah melampaui batas fisik semata.
"Syukur Alhamdulillah jika Abang masih menerima kondisiku apa adanya."
Perempuan itu tersenyum. Namun, jauh di dalam hatinya, terselip keraguan yang tak mudah disingkirkan.
Jangan-jangan hanya basa-basi, batinnya.
Bukankah perasaan perempuan terkadang lebih peka daripada logika lelaki yang gemar mengumbar kata-kata? Bukankah sebagian lelaki pandai menyembunyikan sesuatu yang bertolak belakang dengan kenyataan, bahkan membolak-balikkan fakta demi menyelamatkan dirinya sendiri?
Buktinya, dengan tubuh yang semakin membesar, suaminya masih saja mengatakan dirinya langsing.
"Tubuhmu masih ideal. Lagi pula, apa yang perlu dipersoalkan dengan bentuk tubuhmu itu?"
Perempuan itu hanya tersenyum. Ia ingin percaya. Sungguh, ia ingin sekali percaya.
Namun, manusia tidak selalu bertengkar karena kehilangan cinta. Terkadang, mereka bertengkar justru karena merasa paling berhak dicintai dengan cara yang mereka inginkan.
***
Pagi itu, lelaki tersebut pulang dengan dua bungkus nasi di tangan.
Ia membuka pintu rumah, meletakkan kantung plastik di atas meja makan, kemudian melongok ke ruang tengah.
"Sudah bangun?" tanyanya.
Tidak ada jawaban.
Ia melangkah ke kamar. Tempat tidur tampak berantakan, tetapi tak ada siapa-siapa di sana. Lemari pakaian yang biasanya tertutup rapat sedikit terbuka. Beberapa gantungan baju bergoyang pelan ketika tersentuh tangannya.
Ia kembali ke ruang tengah.
_Mungkin istriku sedang keluar membeli sesuatu,_ pikirnya.
Ia duduk, membuka salah satu bungkus nasi, lalu menyuap ke mulutnya perlahan. Bungkus yang satunya dibiarkan tetap terikat. Nanti, jika istrinya pulang, perempuan itu tinggal mengambilnya.
Namun, hingga matahari meninggi, istrinya tak kunjung datang.
Menjelang siang, ia mencoba menghubungi nomor telepon perempuan itu. Tidak tersambung.
"Ke mana pula perempuan ini?" gumamnya.
Kejengkelan merayap di dadanya. Ia merasa istrinya sengaja membuatnya khawatir. Bukankah seharusnya seorang istri memberi kabar kepada suami jika hendak pergi agak lama?
Namun, ia segera mengusir pikiran itu. Barangkali istrinya sedang bersama keluarga atau mengunjungi seorang teman.
Malam harinya, ia tidur sendirian.
Sisi tempat tidur yang biasanya ditempati istrinya terasa terlalu luas. Bantal yang biasa dipeluk perempuan itu masih berada di tempatnya. Aroma samar rambutnya seolah masih tertinggal di antara bantal dan lipatan seprai.
Lelaki itu memejamkan mata, tetapi tidurnya tak kunjung datang.
Untuk pertama kalinya, ia merasa rumahnya bukan sekadar kehilangan penghuni, melainkan juga kehilangan suara-suara kecil yang selama ini dianggapnya biasa.
Padahal, beberapa hari sebelumnya, suara-suara itulah yang kerap membuatnya kesal. Perselisihan itu bermula dari perkara yang sesungguhnya sederhana.
***
Sore itu, istrinya pulang dengan wajah masam. Lelaki tersebut baru saja selesai mandi ketika perempuan itu meletakkan tasnya di atas kursi dengan gerakan agak kasar.
"Abang dari mana tadi?" tanyanya.
"Memangnya kenapa?"
"Aku telepon berkali-kali tidak diangkat."
"Aku sedang di luar."
"Di luar ke mana?"
Lelaki itu menghela napas. Ia merasa pertanyaan istrinya terlalu berlebihan.
"Kenapa harus menyelidik begitu? Aku ini suamimu, bukan anak kecil."
Sebenarnya, bukan hanya pertanyaan istrinya yang mengusik pikirannya. Sejak beberapa hari sebelumnya, ada satu perkara yang terus mengganjal.
Sebuah foto istrinya tersimpan di galeri telepon seluler perempuan itu. Ia pernah melihatnya, tetapi tak pernah merasa menerima foto tersebut. Kepada siapa foto itu dikirimkan? Mengapa tidak dikirimkan kepadanya?
Pertanyaan-pertanyaan itu berputar di kepalanya, menumbuhkan kecurigaan yang semakin sulit dikendalikan.
Jangan-jangan foto itu dikirimkan kepada mantan kekasihnya.
Pikiran tersebut terus mengganggunya. Ia ingin bertanya, tetapi tak tahu bagaimana memulainya. Ia takut pertanyaannya terdengar seperti tuduhan, tetapi juga tak sanggup membiarkan kecurigaan itu terus menggerogoti pikirannya.
Akhirnya, ketika istrinya kembali bertanya, segala kegelisahan yang selama ini ditahannya meledak.
"Memangnya Abang saja yang boleh bertanya?" ujar perempuan itu.
"Aku cuma ingin tahu Abang dari mana."
"Kalau begitu, sekarang aku juga mau bertanya!"
Perempuan itu terdiam, menatap suaminya dengan dahi berkerut.
"Tentang apa?"
"Tentang fotomu yang ada di galeri telepon selulermu itu!"
"Foto yang mana?"
"Jangan pura-pura tidak tahu! Foto itu kau kirim kepada siapa?"
Perempuan itu mengernyitkan dahi. Ia tampak terkejut dengan pertanyaan yang datang tiba-tiba.
"Kenapa Abang bertanya begitu?"
"Karena aku tidak pernah menerima foto itu darimu!"
"Memangnya kalau aku menyimpan foto sendiri, harus selalu kukirim kepada Abang?"
Lelaki itu terdiam sesaat. Jawaban tersebut justru membuat kecurigaannya semakin membesar.
"Jadi, kau memang mengirimkannya kepada orang lain?"
"Aku tidak pernah mengatakan begitu!"
"Tapi kau tidak menjawab pertanyaanku!"
"Aku tidak mengirimkannya kepada siapa pun. Titik."
Perempuan itu berusaha menahan emosi. Sejak tadi, ia hanya ingin mendapatkan penjelasan sederhana tentang kepergian suaminya. Kini, percakapan mereka berbelok menjadi persoalan lain yang sama sekali tak pernah dibayangkannya.
"Aku cuma bertanya, Bang."
"Ya, sudah kujawab. Jangan memperpanjang masalah."
Kalimat itu membuat perempuan tersebut tersinggung.
"Jadi, sekarang aku tidak boleh bertanya?"
"Jangan memutarbalikkan perkataanku!"
"Abang yang selalu begitu. Kalau aku bertanya, Abang bilang aku cerewet. Kalau aku diam, Abang bilang aku berubah."
Lelaki itu mulai meninggikan suara.
"Karena kau selalu mencari-cari kesalahan!"
"Dan Abang selalu merasa paling benar!"
Mereka saling menatap. Tak seorang pun bersedia mengalah. Kata-kata yang seharusnya bisa ditarik kembali telanjur meluncur, satu demi satu, menghantam perasaan masing-masing.
Perempuan itu kemudian mengungkit beberapa perkara lama: janji yang tak ditepati, perhatian yang semakin berkurang, dan kebiasaan suaminya meremehkan perasaannya.
Lelaki itu membalas dengan mengungkit pengorbanannya selama ini, seolah-olah segala sesuatu yang pernah diberikannya dapat dijadikan alasan untuk memenangkan pertengkaran.
"Aku sudah melakukan banyak hal untukmu!" bentaknya.
"Memangnya hanya Abang yang berkorban? Aku juga punya perasaan!"
"Kalau tidak tahan hidup denganku, terserah!"
Perempuan itu terdiam.
Barangkali, jika lelaki itu segera menarik kembali ucapannya, semuanya tak akan berakhir sejauh itu. Barangkali, jika perempuan itu menahan diri untuk tidak membalas dengan kalimat yang lebih tajam, pintu rumah mereka tak akan menjadi saksi kepergian yang menyakitkan.
Namun, ketika amarah menguasai hati, manusia sering lupa bahwa kata-kata memiliki daya untuk merobohkan sesuatu yang dibangun bertahun-tahun.
"Baik!" jawab perempuan itu dengan suara bergetar. "Kalau memang itu yang Abang inginkan, aku pergi!"
Ia masuk ke kamar, mengemasi beberapa pakaian, lalu keluar dengan mata berkaca-kaca.
Lelaki itu berdiri di dekat pintu. Ia berharap istrinya berhenti, menoleh, lalu meminta maaf. Akan tetapi, perempuan itu terus melangkah.
Sebaliknya, perempuan itu berharap suaminya menahannya. Ia menunggu satu kalimat sederhana yang bisa meruntuhkan seluruh pertahanannya.
Jangan pergi. Kita bicarakan baik-baik.
Namun, kalimat itu tak pernah terdengar.
Pintu tertutup.
Dan keduanya sama-sama menunggu siapa yang akan lebih dahulu mengalah.
Hari pertama berlalu.
Hari kedua menyusul.
Pada pagi ketiga, lelaki itu kembali mendatangi penjual sarapan.
"Tolong bungkuskan nasi, menu seperti biasa."
"Berapa bungkus, Pak?"
Lelaki itu menatap penjual nasi tersebut. Ada sesuatu yang terasa mengganjal ketika mendengar pertanyaan yang sebenarnya sudah berkali-kali dijawabnya.
"Dua."
Penjual nasi mengangguk. Tak ada pertanyaan lain.
Dua bungkus nasi itu kemudian dibawanya pulang.
Satu dimakannya bersama secangkir kopi. Satu lagi diletakkannya di meja makan.
Ia memandangi bungkus nasi itu cukup lama.
Barangkali hari ini istriku akan pulang.
Ia bahkan membersihkan meja makan, merapikan kursi, dan menyapu ruang tengah. Piring plastk kesukaan istrinya dikeluarkan dari lemari. Gelas yang biasa dipakai perempuan itu dicucinya sampai bersih, kemudian diletakkan di dekat tempat duduknya.
Sore menjelang malam, semuanya masih utuh.
Tak ada suara langkah kaki di halaman. Tak ada bunyi pintu dibuka. Tak ada suara perempuan yang biasanya mengeluh tentang tubuhnya, menanyakan lauk makan malam, atau sekadar bercerita tentang tetangga.
Lelaki itu akhirnya mengambil bungkus nasi yang sejak pagi tergeletak di meja.
Ketika dibuka, aroma nasi telah berubah. Permukaannya mulai mengering, sementara lauknya tak lagi menggugah selera.
Ia menuangkan nasi itu ke piring kucing yang tergeletak di depan teras.
Sesaat kemudian, ia berdiri terpaku.
Ada sesuatu yang terasa ganjil. Selama ini, nasi yang dibuangnya hanyalah makanan yang tak sempat dimakan. Namun, kali ini ia merasa sedang membuang sesuatu yang jauh lebih besar daripada sepiring nasi.
Ia membuang kesempatan untuk duduk bersama istrinya.
Kesempatan untuk bertanya bagaimana harinya.
Kesempatan untuk mendengar keluhan yang mungkin selama ini dianggapnya remeh.
Dan yang paling menyakitkan, kesempatan untuk mengatakan bahwa dirinya tak pernah sungguh-sungguh menginginkan perempuan itu pergi.
***
Hari-hari berikutnya berjalan dengan kebiasaan yang sama.
Setiap pagi, dua bungkus nasi.
Setiap siang, satu bungkus telah dimakan, sementara satu lainnya tetap menunggu seseorang yang tak kunjung pulang.
Menjelang sore, nasi itu mulai basi.
Lelaki itu membuangnya, membersihkan meja, kemudian membiarkannya kembali kosong.
Keesokan paginya, ia mengulanginya lagi.
Penjual nasi mulai memperhatikan perubahan lelaki tersebut. Dahulu, ia datang dengan wajah biasa, sesekali bercanda, dan tak pernah lupa mengucapkan terima kasih. Kini, ia lebih sering diam. Matanya tampak lelah, sementara senyumnya semakin jarang terlihat.
"Maaf, Pak," ujar penjual nasi suatu pagi. "Kalau boleh tahu, mengapa sekarang selalu membeli dua bungkus? Bukankah Bapak tinggal sendiri?"
Pertanyaan itu membuat lelaki tersebut terdiam.
Ia ingin menjawab bahwa dirinya tidak tinggal sendiri. Bahwa di rumahnya ada seorang perempuan yang selalu menunggunya pulang. Bahwa mereka memiliki kebiasaan sarapan bersama, meskipun sering kali perempuan itu hanya duduk sambil menyeruput teh hangat dan mengomentari tubuhnya sendiri.
Namun, semua jawaban itu mendadak terasa seperti cerita tentang seseorang yang telah lama meninggal.
"Istri saya ...," katanya, kemudian berhenti.
Penjual nasi menunggu.
"Istri saya mungkin sebentar lagi pulang."
Ia meraih dua bungkus nasi yang disodorkan kepadanya, lalu pergi sebelum penjual sempat bertanya lebih jauh.
Di perjalanan, ia menyadari sesuatu yang selama ini berusaha dihindarinya: ia tak benar-benar tahu kapan istrinya akan pulang. Bahkan, ia tak tahu apakah perempuan itu masih ingin kembali ke rumah mereka.
Selama ini, ia hanya berpegang pada kebiasaan.
Ia membeli dua bungkus nasi seolah-olah kebiasaan itu cukup untuk mempertahankan sebuah perkawinan. Seolah-olah dengan tetap menyediakan sarapan, ia dapat meyakinkan dirinya bahwa segala sesuatu belum berubah.
Padahal, meja makan tak pernah bisa menggantikan percakapan yang terputus.
Dan sebungkus nasi tak pernah mampu meminta maaf.
Pada suatu malam, lelaki itu duduk sendirian di ruang tengah.
Hujan turun sejak selepas magrib. Air mengalir dari ujung atap, jatuh berirama di halaman. Ia memandangi pintu yang tertutup, mengingat pertengkaran terakhir mereka.
Dulu, ia selalu menganggap istrinya terlalu sensitif. Sedikit-sedikit tersinggung, sedikit-sedikit curiga. Ia merasa telah cukup menjadi suami yang baik dengan memenuhi kebutuhan rumah tangga dan sesekali melontarkan pujian tentang penampilan istrinya.
Ia lupa bahwa perempuan itu tak hanya membutuhkan kata-kata manis. Ia membutuhkan perhatian yang nyata, telinga yang bersedia mendengarkan, dan seseorang yang tak buru-buru menganggap perasaannya sebagai perkara sepele.
Namun, bukankah dirinya juga manusia?
Ia pun lelah. Ia pun memiliki perasaan. Ia pun ingin dimengerti tanpa harus menjelaskan segala sesuatu berulang kali.
Mungkin, selama ini, mereka sama-sama merasa paling banyak memberi dan paling sedikit menerima.
Mereka sama-sama ingin dipahami, tetapi tak seorang pun benar-benar bersedia memahami.
Mereka sama-sama ingin didengarkan, tetapi terlalu sibuk menyiapkan jawaban untuk membantah.
Dan ketika pertengkaran tiba, keduanya lebih memilih mempertahankan harga diri daripada menyelamatkan perasaan orang yang dicintai.
Lelaki itu meraih telepon genggamnya. Ia membuka nomor istrinya, memandangi nama yang tersimpan di sana, lalu menekan tombol panggilan.
Nomor itu tak lagi dapat dihubungi.
Ia mencoba sekali lagi. Hasilnya tetap sama.
Akhirnya, ia sadar bahwa telepon seluler istrinya sudah lama tak aktif. Tak ada cara baginya untuk mengetahui di mana perempuan itu berada atau apakah ia masih bersedia mendengar suaranya.
Ia meletakkan telepon genggam, kemudian mengambilnya kembali.
Dengan jemari yang sedikit gemetar, ia membuka ruang pesan dan mulai mengetik.
Pulanglah. Kita bicara baik-baik.
Ia membaca kalimat itu berulang kali. Terlalu singkat, pikirnya. Terlalu sederhana untuk menampung semua yang ingin disampaikannya.
Ia menambahkan beberapa kalimat, menghapusnya, lalu menulis kembali.
Aku minta maaf kalau selama ini banyak menyakiti perasaanmu. Aku juga salah. Aku terlalu sibuk membela diri sampai lupa mendengarkanmu.
Jarinya berhenti di atas layar.
Ada satu kalimat lagi yang ingin ditulisnya, tetapi entah mengapa terasa begitu sulit.
Aku merindukanmu.
Kalimat itu tampak sederhana. Namun, bagi seorang lelaki yang terbiasa menyembunyikan kelemahan di balik kerasnya suara, mengaku rindu terasa seperti mengakui kekalahan.
Akhirnya, ia menyimpan pesan itu tanpa tahu apakah suatu hari perempuan tersebut akan membacanya.
Kemudian, ia menunggu.
Satu menit.
Sepuluh menit.
Satu jam.
Tak ada jawaban.
Malam semakin larut. Hujan telah reda, tetapi dingin masih menggantung di udara. Lelaki itu meletakkan telepon genggam di meja, lalu masuk ke kamar.
Ia tidur di sisi tempat tidurnya sendiri.
Untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa rumah tak selalu memberikan kelapangan. Ada kesunyian yang dapat memenuhi seluruh ruangan, bahkan ketika pintu dan jendela tertutup rapat.
Pagi berikutnya, ia kembali membeli dua bungkus nasi.
Kali ini, penjual nasi tak lagi bertanya.
Lelaki itu membawa pulang sarapan tersebut, meletakkannya di meja, lalu duduk di kursi yang biasa ditempati istrinya. Ia membuka bungkus pertama dan mulai makan.
Di hadapannya, bungkus kedua tergeletak begitu saja.
Ia memandangnya lama-lama.
Dalam bayangannya, istrinya duduk di kursi itu. Perempuan tersebut membuka bungkus nasi, mengeluh karena lauknya terlalu pedas, lalu mengingatkannya agar tidak terlalu banyak minum kopi.
Mungkin, setelah sarapan, mereka akan berbincang tentang hal-hal kecil. Tentang harga kebutuhan pokok, tentang pekerjaan, atau tentang sesuatu keinginannya .
Mungkin, perempuan itu akan kembali mengeluhkan tubuhnya yang semakin membesar.
Dan mungkin, kali ini ia tak sekadar menjawab bahwa tubuh istrinya masih ideal.
Ia akan menggenggam tangan perempuan itu dan berkata bahwa selama ini dirinya terlalu sering merasa benar, terlalu cepat membantah, dan terlalu lambat menyadari bahwa cinta membutuhkan lebih banyak kesediaan untuk mendengarkan daripada keinginan untuk memenangkan perdebatan.
Namun, semua itu hanya hidup dalam pikirannya.
Kursi di hadapannya tetap kosong.
Sebungkus nasi kembali basi.
Begitu pula keesokan harinya.
Dan hari-hari setelahnya.
Lelaki itu tetap membeli dua bungkus nasi setiap pagi. Ia tak pernah mengurangi jumlahnya, meskipun tahu hanya satu bungkus yang akan dimakannya. Penjual nasi pun tak lagi bertanya, seakan-akan dua bungkus itu telah menjadi bagian dari kebiasaan yang tak perlu dijelaskan.
Sementara itu, rumahnya perlahan berubah menjadi tempat yang hanya menyimpan kenangan.
Ia mulai memahami bahwa kehilangan tak selalu datang bersama kematian. Ada kehilangan yang terjadi ketika seseorang masih hidup, tetapi memilih untuk tidak lagi hadir dalam kehidupan kita.
Ada pula penyesalan yang tumbuh bukan karena tak pernah mencintai, melainkan karena terlambat memahami cara mencintai.
Suatu pagi, ketika membuka bungkus nasi yang tak tersentuh sejak dibelinya sehari sebelumnya, lelaki itu mendapati nasi tersebut telah mengeluarkan aroma asam. Ia memandangnya lama sekali, lalu menghela napas.
"Kenapa selalu basi?" gumamnya.
Pertanyaan itu terdengar sederhana.
Namun, di dalam kepalanya, pertanyaan lain menyusul bertubi-tubi.
Mengapa ia tak pernah benar-benar mendengarkan istrinya?
Mengapa ia selalu ingin menang ketika mereka bertengkar?
Mengapa kata maaf terasa begitu berat diucapkan ketika perempuan itu masih berada di hadapannya?
Dan mengapa baru sekarang ia menyadari bahwa ada hal-hal yang tak bisa diperbaiki hanya dengan menunggu?
Kali ini ia membawa nasi itu ke tempat sampah. Sebelum membuangnya, ia terdiam, menatap butiran nasi yang mulai mengeras.
Dahulu, ia mengira cinta akan selalu menemukan jalan pulang, betapa pun keras pertengkaran yang terjadi. Ia percaya bahwa setelah kemarahan reda, semuanya akan kembali seperti semula.
Ternyata, tak semua yang pergi bersedia kembali.
Tak semua luka sembuh hanya karena waktu dibiarkan berjalan.
Dan tak semua pintu yang pernah terbuka akan tetap menunggu seseorang yang terlalu lama membiarkan harga dirinya berdiri di ambang.
Pagi itu, lelaki tersebut kembali berdiri di hadapan penjual sarapan.
"Tolong bungkuskan nasi, menu seperti biasa."
Penjual nasi mengangguk. Tangannya bergerak cekatan memasukkan nasi dan lauk ke dalam dua bungkus daun pisang.
"Seperti biasa, ya, Pak?"
Lelaki itu mengangguk pelan.
"Dua bungkus."
Ia menerima kantung plastik tersebut, lalu pulang.
Di rumah, ia meletakkan kedua bungkus nasi di atas meja makan.
Satu untuk dirinya.
Satu lagi untuk perempuan yang tak pernah tahu bahwa setiap pagi, meskipun telah pergi, namanya masih disediakan tempat di meja makan.
Hari berlalu. Pagi berganti pagi. Sebungkus nasi dimakannya, meskipun terkadang tak habis. Sementara sebungkus lainnya perlahan kehilangan kehangatan, mengering, kemudian mengeluarkan aroma basi.
Lelaki itu terus membuangnya, lantaran kucing tidak memakanya lagi.
Setiap kali melakukannya, ia seperti sedang membuang kembali sesuatu yang dahulu tak pernah benar-benar dijaganya: kesempatan untuk mengalah, kesempatan untuk memahami, dan kesempatan untuk meminta maaf sebelum semuanya terlambat.
Kini, ia mengerti bahwa nasi bisa dimasak kembali, kopi bisa diseduh ulang, dan meja makan bisa dibersihkan setiap hari.
Namun, hati manusia tak selalu sesederhana itu.
Ada hati yang lelah menunggu.
Ada cinta yang perlahan kehilangan kepercayaan.
Ada rumah yang tetap berdiri, tetapi tak lagi menjadi tempat pulang.
Dan ada sebungkus nasi yang setiap pagi dibeli dengan harapan, lalu setiap sore dibuang bersama penyesalan.
Lelaki itu masih membeli dua bungkus nasi setiap pagi, seolah-olah kebiasaan tersebut dapat menjaga pintu rumahnya tetap terbuka bagi seseorang yang telah lama memilih pergi.
Barangkali, ia masih berharap perempuan itu akan pulang suatu hari nanti. Membuka pintu, meletakkan tasnya di kursi, lalu duduk di hadapannya untuk menikmati sarapan bersama.
Barangkali, ia masih ingin mendengar keluhan tentang tubuh yang semakin membesar, tentang lauk yang terlalu pedas, atau tentang kopi yang diminumnya terlalu banyak.
Hal-hal kecil yang dahulu terasa biasa, kini justru menjadi sesuatu yang paling dirindukannya.
Namun, pagi terus berganti, dan kursi di hadapannya tetap kosong.
Sebungkus nasi kembali basi.
Ia memandangnya, kemudian teringat pertengkaran terakhir mereka: pertanyaan yang tak dijawab dengan jujur, foto yang melahirkan kecurigaan, tuduhan yang tak disertai bukti, dan kata-kata yang terlontar ketika keduanya sama-sama ingin menang.
Mungkin, jika hari itu ia bersedia mendengarkan, semuanya akan berbeda.
Mungkin, jika perempuan itu bersedia menjelaskan tanpa membalas dengan kemarahan, mereka masih bisa duduk bersama di meja makan.
Mungkin, jika salah seorang dari mereka bersedia mengalah, rumah itu tak akan sesunyi sekarang.
Namun, hidup tak menyediakan tombol untuk mengulang hari yang telah berlalu.
Ia hanya menyisakan ingatan tentang apa yang pernah terjadi dan penyesalan tentang apa yang seharusnya dilakukan.
Lelaki itu kembali mengambil bungkus nasi yang telah basi, lalu membuang ke tong sampah.
Untuk sesaat, ia berdiri tanpa bergerak.
Sebab, yang membuat nasi itu basi bukan semata-mata waktu, melainkan ketiadaan seseorang yang dahulu selalu disediakan tempat untuknya.
Dan yang membuat cinta kehilangan kehangatan bukan selalu karena ia telah habis, melainkan karena dua hati terlalu larut dalam diam hingga lupa merawat pikiran masing-masing yang terus digelisahkan oleh berbagai pertanyaan.
Barangkali, bukan hanya nasi itu yang telah basi.
Barangkali, permintaan maaf yang terlalu lama disimpan juga demikian.
Dan barangkali, cinta yang dibiarkan kalah oleh ego pada akhirnya akan menjadi seperti sebungkus nasi basi: tak lagi dapat dinikmati, meskipun dahulu disiapkan dengan penuh harapan.[]
Catatan Redaksi:
Agusni AH adalah seorang kuli demokrasi dan tukang sastra kelahiran pesisir Aceh, yang kini berdomisili di Kota Banda Aceh. Ia mengabdikan diri dalam penyelenggaraan pemilu dan demokrasi sejak Pemilu 1999. Perjalanan pengabdiannya membawanya menapaki berbagai posisi dalam penyelenggaraan pemilu, mulai dari pengawasan pemilu hingga menjadi Ketua Komisi Independen Pemilihan (KIP) Kota Langsa selama dua periode, Ketua Divisi Data dan Informasi KIP Aceh, Wakil Ketua KIP Aceh, hingga dipercaya sebagai Ketua KIP Aceh periode 2023–2028. Di sela-sela pengabdiannya pada demokrasi, Agusni AH merawat dunia sastra melalui cerpen, puisi, esai, dan opini. Ia dikenal sebagai sastrawan Aceh yang mengembangkan corak sastra kosmik dengan sentuhan realisme kontemplatif, melalui narasi yang lirih, metaforis, dan reflektif. Karya-karyanya merekam denyut kehidupan manusia, pergulatan batin, kenangan, serta relasi manusia dengan alam dan semesta. Baginya, sastra bukan sekadar ruang untuk merangkai kata, melainkan juga jalan untuk merawat nalar, rasa, dan nurani di tengah kesibukan mengawal demokrasi.
Berita Terkait


































Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda