BAYANG MENYUSUP CERPEN AGUSNI AHBAYANG MENYUSUP CERPEN AGUSNI AH

PENGANTAR REDAKSI:
Dalam "Bayang Menyusup", Agusni AH meramu drama rumah tangga, ketegangan psikologis, dan misteri menjadi satu jalinan cerita yang memikat.
Kepulangan seorang suami setelah bertahun-tahun berpisah menghadirkan harapan akan utuhnya kembali sebuah keluarga. Namun, di balik kebahagiaan itu, tersimpan masa lalu yang tak pernah bisa terkubur. Dengan alur yang mengalir tenang, lalu berangsur berubah mencekam, cerpen ini mengajak pembaca menyelami ruang batin yang dipenuhi rasa bersalah, cinta yang keliru, dan dosa yang terus menagih pengakuan. Bayang Menyusup menjadi pengingat bahwa manusia mungkin mampu menyembunyikan masa lalunya dari dunia, tetapi tidak dari nurani yang suatu saat akan datang sebagai bayang yang menyerang, menyusup ke relung jiwa di tengah hadirnya kebahagian sekalipun. Seperti halnya cerpen Agusni AH berikut ini:
BAYANG MENYUSUP
"SENIN pekan depan aku mulai berkantor di kota kita. Aku telah dipindahtugaskan. Ini SK-nya," kata lelaki itu sumringah sambil menyodorkan amplop berwarna ubi kepada istrinya. Di dalamnya tersimpan selembar Surat Keputusan yang mengakhiri delapan tahun penugasannya di daerah. Mata perempuan itu berbinar. Penantian panjang yang selama ini hanya dihitung dari kepulangan-kepulangan singkat akhirnya menemukan ujungnya.
"Alhamdulillah... akhirnya kita bisa bersama membesarkan anak-anak. Kita bisa merajut kembali hari-hari yang pernah terputus dan menapaki sisa usia dengan saling menemani," ucap perempuan itu. Suaranya bergetar, bercampur haru dan bahagia.
Lelaki itu menggenggam kedua tangan istrinya, lalu merengkuhnya erat ke dalam pelukan.
"Maafkan aku. Selama ini aku terlalu jarang pulang. Tugas di daerah membuatku lebih berjibaku dengan duniaku sendiri daripada hadir di tengah kalian. Kini, Insya Allah, kita tak perlu lagi menghitung waktu dari perpisahan menuju pertemuan. Aku sudah pulang."
Beberapa saat keduanya larut dalam pelukan yang menyimpan rindu bertahun-tahun. Tak ada lagi kata-kata yang perlu diucapkan, keheningan telah menjadi bahasa yang paling fasih menjelaskan setiap rasa menyeruak mereka berdua. Setelah itu mereka beranjak menuju ruang tamu, lalu duduk berdampingan di kursi jati yang kian berkilap tergesek waktu. Mereka saling menatap, seolah ingin menebus kesalahan bertahun-tahun dalam jarak dengan percakapan yang sekilas hanya tersambung melalui telepon dan kepulangan yang serba singkat. "Ayo, diminum kopinya, mumpung masih hangat," ujar sang istri seraya menyilahkan suaminya menikmati secangkir kopi arabika Gayo kesukaannya yang telah tersaji di atas meja.
Di luar gelap alam terus merambat. Setelah bercengkerama panjang di ruang tamu, keduanya beranjak ke kamar tidur. Mereka masih saling berbagi cerita, diselingi canda dan kemanjaan kecil yang seakan mengembalikan ingatan pada masa-masa awal pernikahan. Di kamar masing-masing, anak-anak telah lama terlelap. Jarum jam menunjukkan pukul 03.30 dini hari. Perjalanan jauh dan luapan rindu yang sudah lama tertahankan akhirnya mengalahkan daya lelaki itu. Tak lama kemudian ia terlelap dalam tidur yang pulas.
Sang istri perlahan bangkit dari pembaringan. Ia hendak menuju kamar mandi untuk menyucikan diri dan membasuh wajahnya. Namun baru beberapa langkah, tubuhnya mendadak terasa berat dengan dadanya disesaki perasaan yang tak mampu ia jelaskan. Ada desir dingin menjalari tengkuknya. Benaknya seperti terlempar ke ruang yang asing, dan hatinya digelayuti ngilu yang halus. Bagai gerakan samar menyusup-nyusup ke relung jiwa.
Tepat di ambang pintu kamar mandi, langkahnya terhenti oleh seseorang yang berdiri di sana. Sosok itu tegak membisu, seolah telah lama menunggu. Wajahnya pucat, tatapannya tak berkedip, dan sejak tadi seakan menjadi saksi bisu atas seluruh peristiwa yang berlangsung di ruangan rumah itu.
Perempuan itu tercekat. Napasnya tertahan. Ia tak mampu memastikan apakah yang berdiri di hadapannya benar-benar manusia, atau hanya bayangan, atau sesuatu yang selama ini bersembunyi di balik sunyi. "Siapa kau?"
"Aku adalah kita. Bukankah bertahun-tahun kita menghuni kamar ini?" Sergah sosok itu dengan berbalik tanya. Perempuan itu terbelalak. Jantungnya berdegup kencang. "Sebenarnya aku juga ikut bahagia karena ia telah pulang," lanjut sosok itu dengan suara yang begitu dikenalnya. "Namun kepulangannya untuk selamanya di sini memaksaku menyusup kembali ke kamar kita, ini."
Kini wajah sosok itu semakin jelas. Nada bicaranya tetap khas, tenang. Tetapi menyimpan letupan yang sewaktu-waktu dapat meledak. Dulu, setiap kali muncul amarah, kata-katanya bagai petir yang menyambar bumi. Namun di balik ledakan-ledakan itu, ia memiliki kelembutan yang justru menjerat hati perempuan tersebut. Kelembutan itulah yang dahulu membuatnya terbuai, hingga tanpa disadari ia masuk ke ruang cinta yang sepertinya hingga kini masih terkurung di kamar rumahnya. Lelaki itu pernah menjadi tempatnya bernaung dari sepi, sampai akhirnya hubungan itu berakhir dalam tragedi. Lelaki itu ditemukan tak bernyawa, terbunuh oleh tangan perempuan yang kini berdiri gemetar di ambang kamar mandi.
Bayangan masa lalu yang selama ini dikuburnya rapat-rapat, tiba-tiba bangkit, berdiri di hadapannya, menagih pengakuan yang tak pernah selesai. Perempuan itupun akhirnya ambruk tak sadarkan diri di pintu kamar mandi. Suaminya terjaga, melihat istrinya tersungkur lemas, diangkatkannya ke ranjang yang sempat menjadi saksi bisu di malam-malam lalu.***



























Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda