Breaking News
Memuat breaking news...

BAYANG TAKDIR CERPEN AGUSNI AH

Redaksi
Redaksi
Minggu, 26 Juli 2026 - 2.38 PM WIB
BAYANG TAKDIR CERPEN AGUSNI AH
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

PENGANTAR REDAKSI:

Dalam "Bayang Takdir", Agusni AH mengajak pembaca memasuki ruang batin seorang lelaki yang bergulat dengan ketakutan paling sunyi: menghadapi hari tua seorang diri. Cerpen ini tidak bertumpu pada ledakan peristiwa, melainkan pada pergulatan psikologis yang dibangun melalui aliran kenangan, kehilangan, penyesalan, dan penerimaan terhadap takdir. Kesunyian hadir bukan sekadar sebagai latar, tetapi menjelma tokoh yang perlahan menguasai kehidupan sang protagonis.

Kekuatan cerpen ini terletak pada kemampuan pengarang mengolah bahasa yang puitis tanpa kehilangan daya naratif. Rangkaian metafora tentang rumah, malam, angin, dan musim kemarau mempertebal suasana muram sekaligus memperlihatkan kepiawaian Agusni AH dalam memadukan prosa dan nuansa liris. Di balik kesedihan yang mendominasi, pembaca diajak merenungkan bahwa manusia boleh takut pada masa depan, tetapi tidak berhak mengingkari ketetapan Tuhan. Pada akhirnya, Bayang Takdir bukan hanya kisah tentang kesepian, melainkan juga tentang ikhtiar menerima hidup sebagai amanah yang harus disyukuri hingga akhir. Para penikmat sastra dapat menyimaknya berikut ini:

BAYANG TAKDIR

AWALNYA hanya rasa cemas yang menjalar, tipis seperti embun yang turun diam-diam di penghujung malam. Namun hari demi hari, kecemasan itu mengeras, mengkristal menjadi ketakutan yang tak lagi dapat disembunyikan. Ketakutan akan hari-hari tua yang harus dijalani seorang diri; ketika tubuh tak lagi setangguh dahulu, tulang-tulang mulai rapuh, penglihatan memudar, telinga mulai sayup pendengaran, dan langkah hanya mampu berpindah dari satu sudut rumah ke sudut yang lain. Di usia senja, ia sadar, kesepian bukan lagi sekadar perasaan, melainkan kenyataan yang perlahan mengambil alih seluruh hidupnya.

Ia kerap membayangkan rumah kecil itu kelak hanya diisi suara napasnya sendiri. Dinding-dinding kusam akan menjadi saksi bisu hari-hari yang berjalan lambat. Jam tua yang tergantung di ruang tengah berdetak nyaring, seolah sengaja menghitung sisa waktu yang terus berkurang. Tak ada lagi percakapan, tak ada lagi tawa yang memantul di ruang sempit itu. Yang tersisa hanyalah bunyi angin menyusup melalui celah-celah jendela, lalu menghilang bersama senja.

Hidupnya kelak hanya bertumpu pada belas kasih keadaan. Para tetangga yang masih beriba hati mungkin akan datang menengoknya setiap pagi, siang, atau petang. Mereka membawakan sebungkus nasi, segelas teh hangat, atau sekadar menanyakan kabar sebelum kembali tenggelam dalam kesibukan masing-masing. Setelah pintu ditutup, rumah itu kembali dikuasai kesunyian yang terasa semakin pekat. Menjelang malam, dingin merayap dari lantai hingga ke tulang-belulang, memeluknya lebih erat daripada siapa pun yang pernah dimilikinya.

Malam selalu menjadi waktu yang paling ia takuti. Dalam gelap, setiap bunyi terdengar lebih dekat, setiap kenangan terasa lebih hidup. Kesunyian seakan memiliki suara; memanggil-manggil dari sudut rumah, menghidupkan kembali wajah-wajah yang telah lama pergi. Ia kerap terjaga hingga lewat tengah malam, memandangi langit-langit yang mulai lapuk, berharap kantuk datang lebih cepat daripada kenangan.

Dahulu, selagi Emak masih hidup, perempuan tua itu adalah satu-satunya tempat ia bersandar. Emak tak pernah membiarkannya merasa benar-benar sendiri. Sepiring nasi hangat bersama secangkir kopi panas menemaninya setiap pagi, suara lirih yang membangunkannya untuk Shalat Shubuh, atau sekadar pertanyaan sederhana, "sudah makan?", mampu mengusir sepi yang singgah di hati. Kini, setelah Emak tiada, rumah itu tetap berdiri, tetapi kehangatannya ikut terkubur bersama perempuan yang telah melahirkannya. Sejak saat itulah ia mulai memahami bahwa kehilangan bukan hanya tentang ditinggalkan seseorang, melainkan tentang hidup yang perlahan kehilangan suara. Yang tersisa hanyalah bayang-bayang dan sunyi. Sunyi yang mula-mula mengetuk pelan, lalu menetap sebagai penghuni paling setia.

Rindu yang mengaduk-aduk benaknya membaluri hati dengan seribu satu rasa. Cinta yang telah tamat jauh sebelum hidupnya benar-benar berakhir menjelma luka yang tak pernah sempat mengering. Di tengah sergapan sunyi yang tak terperi, ia berubah laksana sebongkah batu cadas di tanah yang kerontang: diam, keras, tetapi menyimpan retak yang tak tampak. Lelaki itu merasa seolah terkurung di hamparan sabana tanpa tepi, berjalan ke mana pun hanya akan bertemu cakrawala yang sama. Tak ada pohon tempat berteduh, tak ada suara yang menyahut langkahnya. Yang ada hanyalah angin yang datang silih berganti, membawa kenangan, lalu meninggalkannya kembali dalam kesunyian yang semakin purba.

Hidupnya kini dipenuhi andai-andai. Sekiranya Emak masih ada. Seandainya sampai ke pelaminan, dari perkawinannya dengan perempuan yang amat dicintainya lahir beberapa orang anak yang menemani hari-hari tuanya, meski hidup serba seadanya. Barangkali rumah itu tak akan seramai kenangan dan sesunyi sekarang. "Tentunya aku tak akan seperti ini," desah lelaki itu lirih, selembut suara dedaunan kering yang luruh disentuh angin lalu jatuh ke bumi. Dadanya kembali sesak. Kegelisahan yang tak kunjung usai membuat hidupnya terasa terpasung dalam musim kemarau yang tak berkesudahan. Hari-harinya mengering perlahan, sementara harapan yang dahulu pernah tumbuh satu demi satu gugur, menyisakan kesunyian yang semakin menua bersamanya.

Sejak Emak dipanggil Yang Mahakuasa, hidupnya tenggelam dalam kesunyian yang nyaris sempurna. Sebelum berpulang, Emak pernah berpesan, "Emak sudah sangat renta. Kamu harus segera mencari pendamping hidupmu." Kata-kata itu menghunjam hatinya bagai aliran bah. Namun, yang paling mengilukan adalah pesan Emak berikutnya: "Jangan lagi menunggu orang yang telah pergi."

Ia tak lagi berharap pada perempuan yang pernah dicintainya, perempuan yang kini telah melahirkan anak-anak dari lelaki lain dan hidup bahagia dengan dunianya sendiri. Ia sadar, perempuan itu tak mungkin kembali. Karena itulah, ia telah berjuang keras menghapus bayangannya dari hati. Meski begitu, ada satu hal yang belum sanggup dilakukannya: membuka hati untuk mencari, apalagi memilih perempuan lain sebagai pendamping hidupnya.

Yang kini merisaukannya bukan lagi kepergian Emak, bukan pula kenangan tentang kekasih lama yang telah lama terkubur sebelum mati. Yang paling ditakutinya adalah masa tua yang perlahan mendekat—masa ketika ia harus menjalani hari-hari dalam kesunyian, lalu menjadi beban dan menyusahkan para tetangga. Namun, ia pun tak pernah berani memohon agar Allah Subhanahu Wata'ala segera mencabut nyawanya sebelum masa itu benar-benar tiba.

Namun, ia pun tak pernah berani berdoa agar Allah Azzawajalla segera mencabut nyawanya sebelum masa itu datang.

Ia tak ingin Allah Swt. murka karena menganggap dirinya tak mensyukuri segala takdir yang telah ditetapkan-Nya kepadanya.***.

(Koetaraja dalam genang kenangan, 2018-2026).

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik
No topics for this article yet.

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement