Berliku, Langkah Sandiaga Masuk Bursa CawapresBerliku, Langkah Sandiaga Masuk Bursa Cawapres

JAKARTA (Waspada): Sebagai politisi muda, Sandiaga S Uno memiliki hasrat untuk maju menjadi cawapres dalam pilpres 2024 mendatang. Berbagai upaya terus dilakukan oleh Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf).
Sandiaga bahkan rela meninggalkan Partai Gerindra dan mencoba mendapatkan tiket dari PPP bahkan ingin balik ke PKS dan berjuang bersama parpol pimpinan Ahmad Syaikhu itu.
Direktur Eksekutif Institute for Democracy and Strategic Affairs (Indostrategic) Ahmad Khoirul Umam menilai Sandiaga yang ingin bergabung dengan PKS menunjukkan indikasi gagalnya pengajuan proposal PPP kepada PDI-P. Proposal yang dimaksud adalah PPP menawarkan Sandiaga ke PDI-P sebagai bacapres pendamping Ganjar Pranowo.
Diberitakan sebelumnya, Sandiaga melempar sinyal bahwa dirinya ingin bergabung dengan PKS usai pamit dari Partai Gerindra. Sandiaga menyatakan dirinya ingin kembali berjuang bersama dengan PKS. Sandi mengaku sudah berjuang berkali-kali bersama PKS di dunia politik.
Umam meyakini bahwa Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri turut menentukan sosok bacapres pendamping Ganjar. Jika begitu, proses pencapresan bagi PDI-P bukan ditentukan oleh komunikasi dalam koalisi yang egaliter. Tetapi, akan ditentukan oleh Bu Mega.
Di sisi lain, Umam mengingatkan bahwa PKS sudah mengusung Anies sebagai bacapres bersama Koalisi Perubahan untuk Persatuan (KPP).
Namun perjuangan Sandiaga untuk merapat ke parpol berbasis Islam ini juga berpotensi mendapatkan tentangan dari sebagian besar petinggi PKS. Sebab Sandiaga pernah mendukung dan menghadiri IPO perusahaan miras Daebak Soju dan Daebak Sparks di BEI Januari 2023 yang lalu.
Beberapa waktu yang lalu pengamat Kebijakan Publik Universitas Trisakti, Trubus Rahadiansyah pernah memprediksi kehadiran Sandiaga tersebut bisa menjadi bumerang bagi dirinya untuk maju dalam konstestasi Pemilihan Presiden 2024. Langkah Sandiaga yang mendukung dan bangga atas IPO perusahaan miras di BEI ini merupakan kebijakan yang membuat publik bingung. Ketika hendak memimpin Jakarta bersama Anies, Sandiaga sangat anti terhadap maraknya maksiat di Jakarta.
Langkah yang dilakukan Sandiaga menurut Trubus rentan akan mencederai perasaan pendukungnya.






























Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda