Breaking News
Memuat breaking news...

BERTAHAN DI UJUNG JANGKAR CERPEN AGUSNI AH

Redaksi
Redaksi
Rabu, 5 Agustus 2026 - 11.50 AM WIB
BERTAHAN DI UJUNG JANGKAR CERPEN AGUSNI AH
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

PENGANTAR REDAKSI:

"BERTAHAN DI UJUNG JANGKAR", cerpen karya Agusni AH menghadirkan perjalanan laut bukan sekadar perpindahan dari Banda Aceh menuju Sabang, melainkan sebuah perjalanan batin yang menguji keteguhan manusia di hadapan kuasa alam. Ombak, badai, dan dermaga yang rusak menjadi metafora tentang kenyataan hidup: sering kali ujian terbesar bukan saat menghadapi bahaya, melainkan ketika harus bertahan dalam ketidakpastian setelah merasa telah selamat.

Dengan gaya bertutur yang tenang, reflektif, dan puitis, Agusni AH sebagai mantan wartawan yang sudah terbiasa merangkai pengalaman faktual dengan ingatan kolektif atas tragedi tenggelamnya KMP Gurita, sehingga cerita ini tidak hanya menyimpan ketegangan perjalanan, tetapi juga merekam trauma sosial yang masih membekas dalam memori masyarakat Aceh. Dari ruang kabin kapal hingga ujung jangkar di Teluk Balohan, pembaca diajak merenungkan bahwa hidup tidak selalu diukur dari seberapa cepat mencapai tujuan, melainkan dari kesanggupan memelihara harapan ketika perjalanan seakan terhenti.

Cerpen ini menjadi refleksi tentang kesabaran, ketabahan, dan keyakinan bahwa setiap penantian pada akhirnya akan menemukan pelabuhannya. Sebuah kisah yang memperlihatkan bagaimana manusia tetap belajar percaya, bahkan ketika nasib harus bertahan di ujung jangkar. Selamat menikmatinya.

BERTAHAN DI UJUNG JANGKAR

PELABUHAN Ulee Lheue telah dipenuhi penumpang. Satu demi satu mereka melangkah menaiki ferry kapal cepat yang bergoyang pelan diterpa gelombang. Tepat pukul 08.00 WIB, kapal bertolak meninggalkan dermaga menuju Pelabuhan Balohan, Kota Sabang—pulau di ujung barat Indonesia yang menjadi gerbang pertama negeri ini.

Sejak kakiku menginjak pintu kapal yang terus bergoyang dihantam ombak, embusan angin laut yang dingin langsung menyergap. Gerimis tipis mulai turun, seolah menaburkan butiran air yang perlahan meresap hingga ke tulang. Beruntung aku mengenakan jaket, sehingga hawa laut yang menggigit masih dapat kutahan.

Aku duduk di deretan kursi tengah, mendampingi Pimpinan Pusat. Sementara anggota rombongan lainnya menyebar di kursi-kursi bagian belakang. Wajah-wajah mereka memancarkan rasa ingin tahu sekaligus kegembiraan. Bagi sebagian besar, inilah pengalaman pertama menyeberangi laut menuju Sabang, pulau yang oleh banyak orang disebut memiliki keelokan yang tak kalah memesona, bahkan melebihi Pulau Dewata.

Perlahan kapal meninggalkan Pelabuhan Ulee Lheue. Lima menit pertama, lajunya masih tenang, seolah memberi kesempatan kepada para penumpang menikmati perpisahan dengan daratan Koetara yang semakin mengecil di kejauhan. Laut tampak bersahabat, sementara percakapan ringan dan tawa kecil memenuhi ruang kabin.

Namun memasuki lima menit berikutnya, suasana mulai berubah. Kapal mempercepat laju, membelah luasnya Samudra Hindia. Gelombang yang semula tampak jinak mulai menghantam lambung kapal dengan tenaga yang lebih keras. Guncangan demi guncangan membuat tubuh ikut terayun. Di antara sekitar seratus penumpang, termasuk tiga puluh orang rombongan kami yang mendampingi pimpinan pusat, kegembiraan perlahan berganti dengan kecemasan. Beberapa saling berpandangan, sebagian lagi memilih terdiam, seakan menunggu bagaimana laut akan memperlakukan kami sepanjang pelayaran menuju pulau paling barat Nusantara itu.

"Seperti inikah selalu cuaca lautnya?" tanya pimpinan kepadaku. Suaranya nyaris hilang ditelan deru angin dan debur ombak yang menghantam lambung kapal. Ia duduk di sisi jendela sebelah kananku, menatap laut lepas yang bergolak tanpa berkedip. Sesaat kami sama-sama terdiam. Yang terdengar hanya raungan mesin kapal, desir angin, dan ombak yang seakan tak pernah lelah menguji keberanian setiap penumpang.

"Kalau pagi seperti ini biasanya laut jauh lebih tenang," kataku, mencoba memecahkan keheningan. Pimpinan menoleh sejenak, lalu kembali mengarahkan pandangannya ke laut yang terus bergolak, seolah sedang membaca sesuatu yang tak kasatmata di balik riak dan gelombang. Aku mencoba menutupi gelisahku dengan senyum tipis. Namun, di dalam dada kecemasan terus beriak mengikuti gelombang laut, diselimuti harap agar samudra tidak memuntahkan murkanya dan mengizinkan perjalanan ini berakhir dengan selamat. Tiba-tiba ingatan mengapung ke permukaan, membawa serpihan kenangan tentang tragedi tenggelamnya KMP Gurita. Malam Jumat, 19 Januari 1996, sekitar pukul 20.30 WIB, kapal itu karam di perairan antara Pelabuhan Malahayati, Aceh Besar, dan Pelabuhan Balohan, Sabang, sekitar lima hingga enam mil laut dari Teluk Balohan. Laut yang semula menjanjikan seberang, seketika berubah menjadi hamparan duka. Ombak menelan ratusan harapan, menyisakan ratapan panjang yang hingga kini masih bergema di ingatan banyak orang.

Aku mencoba menepis kenangan tragedi itu di tengah kebisuan laut. Kuingatkan diri bahwa setiap pelayaran memiliki takdirnya sendiri. Namun laut seolah memiliki cara untuk menghidupkan kembali ingatan yang telah lama kukubur. Ombak yang berkejaran dengan angin membuat masa silam terasa begitu dekat, seakan duka itu baru saja terjadi.

***

Waktu terasa berjalan begitu lambat. Jarum jam seolah enggan berputar, membuat laju kapal cepat pun terasa kehilangan kecepatannya. Di tengah bentangan Samudra Hindia, ombak kian meninggi. Angin laut datang bertubi-tubi menerpa lambung kapal, mengombang-ambingkan tubuh kami tanpa ampun. Sesekali kapal terangkat di puncak gelombang, lalu menghunjam ke lembah laut, menghadirkan hentakan yang membuat dada ikut berdebar.

Suasana kabin perlahan berubah sunyi. Para penumpang yang semula bercakap dan tertawa kini memilih diam. Pimpinan yang duduk di sisi kananku pun tak lagi mengucapkan sepatah kata. Wajah-wajah yang tadi dipenuhi antusiasme kini menyimpan kecemasan masing-masing.

Padahal, sejak awal perjalanan, banyak hal yang ingin kusampaikan kepadanya. Berbagai persoalan yang mengemuka di wilayahku telah kususun rapi dalam benak, berharap sepulang dari Sabang nanti semuanya dapat menjadi bahan pembicaraan di tingkat nasional. Namun, di hadapan keganasan laut, segala rencana itu seketika menguap. Kata-kata terasa kehilangan makna. Yang tersisa hanyalah doa dalam diam agar pelayaran ini segera membawa kami ke daratan dengan selamat.

Untuk mengusir kecemasan yang mulai menguasai pikiran, aku mencoba mengalihkan perhatian dengan membuka layar gawai. Jemariku bergerak pelan menyusuri beranda, tetapi pandanganku tak benar-benar mampu menangkap apa yang tersaji. Guncangan kapal yang tak henti-hentinya membuat huruf-huruf di layar seolah ikut bergoyang, sementara pikiranku tetap tertambat pada ombak yang terus menantang perjalanan kami menuju pulau di ujung barat negeri.

Dari kejauhan mulai tampak siluet Pulau Rondo, pulau terluar Indonesia yang berbatasan dengan gugusan Kepulauan Andaman di India, di utara Pulau Weh. Kehadirannya seakan menjadi penanda bahwa perjalanan telah mendekati tujuan. Rasa cemas yang sejak tadi menggelayuti dada perlahan mulai menyusut. Dalam harap-harap cemas, aku, pimpinan, dan seluruh penumpang kapal sama-sama menantikan saat haluan merapat di Pelabuhan Balohan. Tak seorang pun lagi banyak berbicara. Masing-masing larut dalam doa dan harapan agar perjalanan yang menguras keberanian itu segera berakhir dengan selamat, meski keesokan hari masih menanti tugas dan perjalanan lain yang tak kalah berat.

Tiba-tiba layar gawaiku menyala. Sejumlah panggilan tak terjawab dari penunggu rombongan di Pelabuhan Balohan memenuhi layar. Rupanya mereka telah berkali-kali mencoba menghubungi kami. Aku dapat membayangkan kecemasan yang menyelimuti mereka. Barangkali dari bibir pelabuhan mereka terus menatap ke arah laut, berusaha memastikan apakah kapal cepat yang mulai tampak di kejauhan itu benar kapal yang membawa rombongan kami. Jarak yang kian menyusut perlahan mengikis kegelisahan, sementara harapan untuk segera menjejak daratan tumbuh semakin kuat di hati setiap penumpang. "Insya Allah, sebentar lagi kita menginjak Sabang, Pimpinan," kataku pelan. Pimpinan mengangguk-angguk kecil, matanya masih terpaku ke arah daratan yang kian jelas. Kutelepon kembali salah satu nomor yang memenuhi layar gawaiku. Belum sempat nada dering kedua berbunyi, panggilanku sudah disambut dari seberang. "Benarkah itu kapal yang membawa rombongan Bapak?" terdengar suara penuh harap, bercampur cemas.

"Ya, benar...," jawabku singkat. Namun, sebelum sempat melanjutkan penjelasan, suara dari seberang segera memotong.

"Maaf, Pak... sepertinya kapal belum bisa merapat. Dermaga mengalami kerusakan cukup parah akibat dihantam gelombang besar."

Kalimat itu bagai menyambar di tengah kelegaan yang baru saja tumbuh. Harapan untuk segera menjejak daratan seketika kembali menggantung.

Tak lama berselang, pengeras suara dari ruang kemudi memecah kesunyian.

"Kepada seluruh penumpang, mohon tetap tenang. Kapal belum dapat bersandar dan terpaksa melempar jangkar di perairan Pelabuhan Balohan sambil menunggu proses perbaikan dermaga."

Dari balik jendela tampak ujung dermaga porak-poranda. Benturan ombak besar yang datang bertubi-tubi telah memecahkan bagian sandaran kapal hingga rusak berat. Laut rupanya belum benar-benar meredakan amarahnya. Ia masih menyisakan ujian terakhir sebelum mengizinkan kami menapakkan kaki di Sabang.

Kami yang berada di geladak dua hanya bisa mengintip ke arah dermaga melalui jendela kapal. Tampak sejumlah alat berat sibuk menyingkirkan balok-balok kayu penyangga dermaga yang patah dan berserakan. Para petugas bergegas membangun sandaran darurat agar kapal dapat segera merapat, sehingga para penumpang bisa menjejakkan kaki di daratan.

Dalam hati terbersit harapan, andai saja kapal ini dapat berbalik arah menuju Pelabuhan Ulee Lheu. Namun harapan itu segera pupus. Kabar yang baru kami terima menyebutkan bahwa Pelabuhan Ulee Lheu pun mengalami kerusakan serupa. Ombak besar telah melumpuhkan kedua dermaga di dua sisi penyeberangan. Kami pun tak memiliki pilihan selain tetap bertahan di atas kapal, menunggu dengan cemas hingga jalur sandar kembali memungkinkan.

Walau badai baru saja berlalu, kapal belum juga bisa bersandar. Jangkar tetap mencengkeram dasar laut, seolah mengajarkan bahwa selamat dari amukan ombak bukan berarti perjalanan telah usai. Ada saatnya manusia hanya mampu menunggu, sementara waktu terus merayap dan harapan diuji. Di mulut Teluk Balohan itu kami menyadari, bukan hanya laut yang menyimpan gelombang, tetapi kehidupan pun kerap terhalang di antara tiba dan sampai. Dan pada setiap penantian, selalu ada pelajaran tentang kesabaran, ketabahan, serta keyakinan bahwa setiap pelabuhan pada akhirnya akan menerima kepulangan.

Kini nasib bertahan di ujung jangkar. Kapal terdiam, laut masih menyimpan ketidakpastian, sementara mata terus menatap dermaga yang belum juga dapat direngkuh. Di antara debur ombak dan desir angin, ternyata tidak semua perjalanan ditentukan kecepatan, tetapi oleh kesanggupan menunggu. Sebab, yang paling berat bukan menghadapi badai, melainkan bertahan dalam jeda setelah badai berlalu.***.

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik
No topics for this article yet.

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement