Breaking News
Memuat breaking news...

BI Tahan Suku Bunga, Pengamat: Rupiah Belum Ditopang Fundamental Ekonomi Kuat

Redaksi
Redaksi
Rabu, 22 Juli 2026 - 3.18 PM WIB
BI Tahan Suku Bunga, Pengamat: Rupiah Belum Ditopang Fundamental Ekonomi Kuat
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

MEDAN (Waspada.id): Bank Indonesia (BI) memutuskan mempertahankan suku bunga acuan (BI-Rate) di level 5,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG). Keputusan tersebut dinilai mampu menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dalam jangka pendek, namun belum cukup memperkuat fondasi ekonomi nasional.

Pengamat Ekonomi Sumatera Utara, Gunawan Benjamin mengatakan, kebijakan moneter yang mengandalkan suku bunga tinggi memang efektif menarik aliran dana asing ke pasar keuangan, terutama obligasi, sehingga membantu menopang nilai tukar rupiah. Namun, strategi tersebut tidak bisa menjadi solusi utama dalam jangka panjang.

"Pendekatan moneter memang mampu mengakomodasi kepentingan investor sehingga memberikan dukungan terhadap penguatan rupiah. Tetapi, kebijakan ini tidak serta-merta memperbaiki fundamental ekonomi nasional," ujar Gunawan, Rabu (22/7).

Menurutnya, keputusan BI mempertahankan suku bunga kali ini berbeda dari ekspektasi sebagian pelaku pasar yang sebelumnya memperkirakan masih ada ruang kenaikan bunga acuan. Meski demikian, kebijakan tersebut menunjukkan BI tetap fokus menjaga stabilitas nilai tukar di tengah tekanan eksternal.

Gunawan mengingatkan, apabila setiap pelemahan rupiah selalu direspons dengan menaikkan suku bunga acuan, maka sektor riil akan menjadi pihak yang paling terdampak. Kenaikan bunga akan meningkatkan biaya pinjaman dan beban operasional dunia usaha, sehingga berpotensi menekan investasi maupun ekspansi bisnis.

"Pertanyaannya, apakah beban menjaga stabilitas rupiah hanya akan ditanggung Bank Indonesia? Sampai sejauh mana BI harus menaikkan suku bunga jika tekanan terhadap rupiah terus berlanjut?" katanya.

Di sisi lain, tekanan terhadap perekonomian nasional juga datang dari faktor eksternal, terutama kenaikan harga minyak mentah dunia yang mempersempit ruang fiskal pemerintah. Kondisi tersebut memaksa pemerintah menyeimbangkan kebutuhan menjaga daya beli masyarakat dengan keberlanjutan anggaran negara.

Saat ini pemerintah masih mempertahankan berbagai kebijakan subsidi, termasuk menjaga harga bahan bakar minyak (BBM), di tengah lonjakan harga minyak dunia. Selain itu, pemerintah juga harus membiayai berbagai program prioritas seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih, yang membutuhkan anggaran besar.

Gunawan menilai, tanpa dukungan kebijakan fiskal yang mampu memperkuat fundamental ekonomi, upaya BI menjaga stabilitas rupiah akan semakin berat.

"Kalau desain fiskal pemerintah tidak berubah, maka kebijakan moneter berpotensi kehilangan efektivitasnya, terutama ketika ketidakpastian global dan risiko geopolitik terus meningkat. Penguatan rupiah membutuhkan topangan fundamental yang kuat, bukan hanya mengandalkan instrumen suku bunga," jelasnya.

Ia menambahkan, koordinasi yang lebih erat antara kebijakan fiskal dan moneter menjadi kunci agar stabilitas rupiah dapat terjaga secara berkelanjutan. Tanpa sinergi tersebut, rupiah dinilai masih rentan kembali melemah apabila sentimen negatif dari pasar global semakin memburuk. (id09)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement