Breaking News
Memuat breaking news...

Bidadari Sakti, Balada Bariton dari Tanah Pidie

Redaksi
Redaksi
Senin, 18 Mei 2026 - 9.46 PM WIB
Bidadari Sakti, Balada Bariton dari Tanah Pidie
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size
Advertisement

Di tengah derasnya perkembangan industri musik digital yang dipenuhi lagu-lagu modern dengan irama cepat dan lirik instan, kehadiran lagu “Bidadari Sakti” menjadi warna tersendiri bagi penikmat musik slow rock Indonesia.

Lagu yang dipopulerkan oleh Boim Riza ini hadir membawa nuansa romantis, melankolis, dan magis dalam balutan musik slow rock berbahasa Indonesia yang lembut serta mudah diterima berbagai kalangan.

Menariknya, di balik nuansa sendu dan penuh penghayatan dalam lagu tersebut, proses rekaman di RS Studio Bireuen, Aceh, justru dipenuhi suasana santai dan cerita-cerita kocak.

Boim Riza mengaku beberapa kali harus mengulang pengambilan vokal karena suasana studio terlalu cair dan sering dipenuhi candaan dari tim produksi.

“Lagu ini kan penuh rasa dan suasana sedih. Tapi waktu rekaman di RS Studio Bireuen malah sering pecah ketawa. Kadang baru mau masuk bagian emosional, ada saja yang melawak,” ujar Boim sambil tertawa.

Ia bahkan mengenang ada momen ketika konsentrasinya buyar saat hendak menyanyikan bagian reff lagu. “Pernah waktu mau nyanyi bagian ‘Oh Bidadari Sakti’, tiba-tiba ada yang bilang jangan sampai bidadarinya kabur duluan sebelum lagunya selesai. Langsung buyar konsentrasi semua,” katanya sambil tersenyum.

Meski dipenuhi cerita lucu, Boim menilai suasana santai itu justru membuat proses rekaman terasa lebih hidup dan penuh kekeluargaan.

“Walaupun banyak ketawa, semua tetap serius saat take rekaman. Justru suasana santai seperti itu yang membuat rasa dalam lagu bisa keluar alami,” ujarnya.

Boim juga mengaku sangat menikmati membawakan lagu “Bidadari Sakti” karena karakter slow rock romantis yang dibangun dalam lagu tersebut sangat dekat dengan warna vokal dan gaya bernyanyinya selama ini.

“Lagu slow rock seperti ini memang sudah dekat dengan karakter suara saya. Jadi saat menyanyikannya, saya tinggal mengikuti rasa dan suasana yang ada di lirik,” kata Boim.

“Bidadari Sakti” bukan sekadar lagu cinta biasa. Karya ciptaan Chesby Kaum (Polem) tersebut menghadirkan perpaduan antara kerinduan, imajinasi, dan harapan tentang sosok perempuan yang digambarkan begitu indah layaknya bidadari.

Liriknya sederhana, namun memiliki kekuatan emosional yang mampu menyentuh hati pendengar. Sejak bait awal, lagu ini langsung membawa suasana sunyi dan penuh lamunan.

Kalimat “Dikebisuan malam, hayal ku bagaikan mimpi” menjadi pintu pembuka menuju kisah tentang seseorang yang tenggelam dalam angan-angan cinta.

Sosok “Bidadari Sakti” hadir bukan hanya sebagai perempuan cantik, tetapi juga simbol cinta yang sulit digapai namun terus diharapkan.

Nuansa magis dalam lagu ini terasa kuat. Diksi seperti “Senyumannya menikam, merasuk jantung dan nadi” menggambarkan bagaimana pesona sang bidadari mampu menguasai hati dan perasaan seseorang.

Kekuatan lirik seperti inilah yang membuat lagu tersebut terasa hidup dan memiliki kedalaman makna. Istilah “Sakti” sendiri memberi makna ganda dalam lagu ini.

Selain identik dengan aura kekuatan dan magis, Sakti juga merupakan nama salah satu kecamatan di Kabupaten Pidie dengan pusat pemerintahan di Lamlo atau Kota Bakti.

Penggunaan nama daerah itu memberi identitas lokal yang sangat kuat dan menjadikan lagu ini memiliki kedekatan emosional dengan masyarakat Aceh, khususnya warga Pidie.

Di sinilah letak keunikan “Bidadari Sakti”. Lagu ini tidak hanya menjual romantisme cinta, tetapi juga membawa nama daerah ke dalam karya musik modern.

Dalam banyak kasus, musik lokal sering kehilangan identitas karena terlalu mengikuti arus pasar nasional. Namun lagu ini justru mempertahankan karakter daerahnya tanpa kehilangan nuansa modern.

Secara musikal, “Bidadari Sakti” mengusung genre slow rock berbahasa Indonesia dengan sentuhan Melayu yang lembut dan mendayu.

Aransemen yang digarap Rahmat RS mampu menghadirkan suasana melankolis yang kuat melalui permainan gitar, keyboard, dan tempo musik yang tenang. Pendengar dibuat larut dalam suasana sepi, rindu, dan penuh pengharapan.

Rahmat RS mengatakan proses aransemen lagu ini sengaja dibangun dengan pendekatan emosional, bukan sekadar mengejar kemewahan instrumen musik.

Menurutnya, kekuatan utama “Bidadari Sakti” justru berada pada kesederhanaan nada dan ruang yang diberikan kepada vokal Boim Riza untuk berbicara lebih dalam kepada pendengar.

“Aransemen lagu ini memang kita buat senyaman mungkin di telinga penikmat slow rock. Tidak terlalu ramai, karena fokus utamanya ada pada rasa dan karakter suara Boim. Kalau musiknya terlalu penuh, emosi lagunya justru bisa hilang,” ujar Rahmat RS.

Dalam analisis musikalnya, Rahmat RS mempertahankan pola slow rock klasik yang identik dengan nuansa pop Melayu era 1990-an hingga awal 2000-an.

Permainan gitar melodi dibuat lembut dengan dominasi nada-nada minor yang mampu membangun suasana sendu dan romantis. Ketukan drum dimainkan pelan dan stabil agar tidak menutupi vokal utama, sementara sentuhan keyboard digunakan untuk memperkuat atmosfer magis dalam lagu.

Menurut Rahmat, aransemen “Bidadari Sakti” sengaja tidak dibuat terlalu modern agar tetap memiliki ruh slow rock yang kuat. Ia menilai banyak lagu saat ini kehilangan rasa karena terlalu padat efek dan permainan digital.

“Kita ingin lagu ini tetap punya jiwa. Slow rock itu kekuatannya ada di penghayatan. Pendengar harus bisa merasakan sepi, rindu, dan imajinasi yang ada di dalam lirik,” katanya.

Komentar serupa juga datang dari musisi senior Repelitaa yang menilai Boim Riza memiliki karakter vokal yang jarang dimiliki penyanyi lokal saat ini.

Menurutnya, kekuatan utama Boim bukan hanya pada teknik bernyanyi, tetapi pada kemampuan membangun emosi dalam setiap lagu yang dibawakan.

“Boim itu punya warna suara yang kuat. Baritonnya khas, berat, dan sangat hidup saat menyampaikan lagu-lagu slow rock. Pendengar bisa merasakan isi lagu hanya dari cara dia mengucapkan tiap bait,” ujar Repelitaa.

Repelitaa menilai lagu “Bidadari Sakti” memiliki kekuatan pada perpaduan antara lirik puitis, aransemen yang tenang, dan karakter vokal Boim Riza yang emosional.

Menurutnya, lagu tersebut menghidupkan kembali nuansa slow rock Melayu yang pernah menjadi warna kuat musik Indonesia dan Aceh di era lampau.

Repelitaa menyebut “Bidadari Sakti” bukan tipe lagu yang mengejar ledakan pasar sesaat, tetapi lebih mengutamakan ketahanan rasa. Ia melihat lagu tersebut memiliki kekuatan untuk bertahan lama karena dibangun dengan penghayatan dan identitas musikal yang jelas.

“Sekarang banyak lagu cepat viral tapi cepat hilang. ‘Bidadari Sakti’ justru punya karakter. Lagu seperti ini biasanya lambat naik, tapi lama tinggal di hati pendengar,” katanya.

Penilaian senada juga datang dari rekan sesama penyanyi Aceh, Aie Arbi. Ia menilai “Bidadari Sakti” memiliki kekuatan emosional yang sangat kuat karena dibangun dari perpaduan karakter vokal Boim Riza dan aransemen musik yang tidak berlebihan.

“Boim punya karakter suara yang tidak dibuat-buat. Ketika dia menyanyi, pendengar bisa langsung merasakan emosinya. Itu yang membuat ‘Bidadari Sakti’ terasa hidup,” ujar Aie Arbi.

Menurut Aie Arbi, salah satu kekuatan terbesar Boim Riza adalah karakter suara baritonnya yang khas dan mudah dikenali. Ia menilai tidak banyak penyanyi lokal yang memiliki warna suara kuat sekaligus kemampuan penghayatan yang stabil dalam lagu-lagu slow rock.

“Baru beberapa bait dinyanyikan, orang sudah tahu itu suara Boim. Karakter seperti itu tidak bisa dibentuk secara instan,” katanya.

Aie Arbi juga memberikan apresiasi terhadap aransemen Rahmat RS yang dinilainya berhasil menjaga keseimbangan antara instrumen musik dan vokal.

“Musiknya tidak berlebihan. Justru karena sederhana, vokal Boim jadi lebih menonjol dan emosinya sampai ke pendengar. Itu kekuatan slow rock yang sebenarnya,” tutur Aie Arbi.

Ia menilai lagu “Bidadari Sakti” memiliki peluang besar menjadi salah satu lagu slow rock lokal yang mampu bertahan lama di hati masyarakat Aceh.

“Lagu yang dibangun dengan hati biasanya tidak cepat hilang. ‘Bidadari Sakti’ punya rasa, punya karakter, dan punya jiwa,” pungkasnya.

Pandangan menarik juga disampaikan musisi sekaligus pencipta lagu Aceh, Nek Kabong. Ia menilai kekuatan “Bidadari Sakti” bukan hanya pada hasil akhirnya, tetapi juga pada sudut pandang penciptanya, Chesby Kaum (Polem), yang mampu membangun lirik dengan nuansa puitis dan imajinatif.

Namun menurut Nek Kabong, yang paling menarik justru bagaimana karya tersebut dirancang dari sisi penulisan lagu. Ia melihat Chesby Kaum berhasil menghadirkan diksi sederhana namun tetap memiliki kedalaman rasa yang kuat.

“Saya melihat lagu ini lebih dari sudut pandang penciptanya. Chesby Kaum berhasil membangun suasana dalam liriknya. Ada rasa sunyi, rindu, harapan, bahkan nuansa magis yang dibentuk secara sederhana tapi mengena,” ujar Nek Kabong.

Ia menilai penggunaan kata “Sakti” juga menjadi kekuatan simbolik yang cerdas karena mampu menghadirkan identitas lokal tanpa terasa dipaksakan.

“Itu cerdas menurut saya. Nama daerah bisa masuk ke lagu tanpa terasa dipaksakan. Jadi lagunya punya identitas lokal yang kuat,” ujarnya.

Meski lebih menyoroti sisi penulisan lagu, Nek Kabong juga memberikan penilaian terhadap Boim Riza. Menurutnya, Boim berhasil menerjemahkan emosi lirik menjadi nyanyian yang hidup.

“Boim menyanyi seperti orang sedang bercerita. Itu yang membuat pendengar nyaman dan ikut larut dalam lagunya,” katanya.

Ia menambahkan bahwa kekuatan utama Boim Riza terletak pada kesederhanaan interpretasi vokalnya yang justru membuat lagu terasa lebih dalam dan emosional.

“Tidak semua penyanyi bisa membawa rasa seperti ini. Boim berhasil membuat lagu ini tidak hanya didengar, tapi juga dirasakan,” pungkas Nek Kabong.

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement