BNI Perkuat Fundamental Bisnis Hadapi Gejolak Geopolitik GlobalBNI Perkuat Fundamental Bisnis Hadapi Gejolak Geopolitik Global

JAKARTA (Waspada.id): PT Bank Negara Indonesia (Persero) atau NNI Tbk, terus memperkuat fundamental bisnis menghadapi gejolak geopolitik global dengan melalui strategi pertumbuhan yang berorientasi pada kualitas, penguatan bisnis inti, serta transformasi organisasi dan digital secara berkelanjutan.
Direktur Utama BNI Putrama Wahju Setyawan mengatakan, pertumbuhan kredit yang sehat dan terdiversifikasi dengan baik, struktur pendanaan yang
kuat, kualitas aset yang terjaga, serta transformasi bisnis yang berkelanjutan menjadi fondasi
BNI dalam menciptakan pertumbuhan yang berkualitas dan nilai jangka panjang bagi seluruh pemangku kepentingan.
"Di tengah perubahan lingkungan bisnis yang semakin dinamis, BNI mengarahkan sumber
daya pada sektor dan ekosistem yang memiliki prospek pertumbuhan sehat. Pendekatan ini memungkinkan perseroan menjaga produktivitas aset sekaligus meningkatkan relevansi layanan bagi nasabah di setiap segmen," ujar Putrama dalam keterangan pers di Jakarta, Rabu (5/7/2026).
Menurutnya, arah pengembangan bisnis tersebut sejalan dengan agenda transformasi
BUMN di bawah koordinasi Danantara Indonesia yang menitikberatkan pada penguatan
fundamental perusahaan, penerapan tata kelola yang profesional, serta penciptaan nilai secara berkelanjutan.
Transformasi Digital dan Implementasi BRAVE Perkuat Produktivitas Bisnis Transformasi digital dan penguatan jaringan menjadi salah satu penggerak utama peningkatan produktivitas dan pertumbuhan bisnis BNI.
Hingga akhir Juni 2026, jumlah
pengguna wondr by BNI mencapai 15,1 juta, dengan volume transaksi tumbuh 110% secara tahunan. Sementara pada segmen wholesale, jumlah pengguna BNIdirect mencapai 280 ribu, dengan volume transaksi tumbuh 17% secara tahunan menjadi Rp6.039 triliun.
Pertumbuhan tersebut mencerminkan semakin luasnya pemanfaatan kanal digital BNI oleh nasabah ritel maupun korporasi.Dari sisi jaringan, implementasi BRAVE atau Branch, Region & Area Value Empowerment kini
telah diterapkan di seluruh wilayah operasional BNI.
Program tersebut memperkuat fungs kantor cabang sebagai pusat penjualan, meningkatkan produktivitas jaringan, serta
mengoptimalkan potensi bisnis di setiap daerah.
Putrama menuturkan, transformasi digital dan implementasi BRAVE merupakan bagian dari strategi jangka panjang BNI untuk membangun organisasi yang semakin lincah, memperkuat kapabilitas bisnis, serta menghadirkan layanan yang relevan dengan kebutuhan nasabah.
"Melalui BRAVE, setiap wilayah dan kantor cabang memiliki peran yang semakin kuat dalam
menggali potensi ekonomi lokal serta membangun ekosistem bisnis. Integrasi antara
kapabilitas jaringan dan solusi digital diharapkan dapat mempercepat akuisisi, memperluas transaksi, dan meningkatkan kualitas hubungan dengan nasabah," ujar Putrama.
Dengan penguatan strategi bisnis, transformasi organisasi, dan digitalisasi yang dijalankan
secara konsisten, BNI optimistis dapat terus meningkatkan daya saing sekaligus menciptakan
nilai jangka panjang bagi para pemangku kepentingan.
Direktur Finance & Strategy BNI Hussein Paolo Kartadjoemena menuturkan, hingga akhir
Juni 2026, kredit BNI tumbuh 24,4% secara tahunan menjadi Rp968,5 triliun.
Pertumbuhan tersebut ditopang oleh portofolio kredit yang semakin terdiversifikasi pada
berbagai sektor ekonomi dan segmen bisnis utama, mulai dari korporasi, menengah, UMKM
hingga konsumer.
Ekspansi kredit dilakukan secara selektif dengan mempertimbangkan prospek industri serta profil risiko masing-masing debitur guna menjaga keseimbangan antara pertumbuhan bisnis
dan kualitas portofolio.
Strategi intermediasi tersebut berjalan seiring dengan penguatan struktur pendanaan. Terutama di tengah persaingan likuiditas yang masih ketat, CASA BNI tumbuh 11,2% secara tahunan sehingga mampu mempertahankan rasio CASA pada level 65,4%.
Pencapaian ini mendukung efisiensi biaya dana. Cost of fund dana pihak ketiga membaik menjadi 2,56%, dibandingkan dengan 2,78% pada periode yang sama tahun lalu.
Struktur pendanaan yang kuat menjadi modal penting bagi BNI untuk menjaga daya saing
sekaligus mendukung pertumbuhan kredit secara berkelanjutan.
Penguatan fundamental bisnis BNI juga tercermin pada peningkatan pendapatan inti
Perseroan. Hingga semester I 2026, pendapatan bunga bersih atau net interest income (NII)
tumbuh 14,2% secara tahunan menjadi Rp22,3 triliun. Pada periode yang sama, pendapatan berbasis komisi atau fee-based income (FBI) meningkat 14,2% menjadi Rp9 triliun.
Pertumbuhan yang solid dan seimbang dari kedua sumber pendapatan tersebut mendorong
laba operasional sebelum pencadangan atau pre-provision operating profit (PPOP)
mencapai Rp18,5 triliun, tertinggi sepanjang sejarah BNI untuk periode semester pertama.
Sementara itu, laba bersih perseroan tercatat sebesar Rp10,8 triliun.
Paolo mengatakan, penguatan profitabilitas menunjukkan kontribusi bisnis inti BNI yang
semakin solid dan berimbang.
"Peningkatan pendapatan tidak hanya berasal dari ekspansi kredit, tetapi juga dari
pertumbuhan transaksi, solusi cash management, layanan digital, serta aktivitas berbasis
komisi lainnya.
"Diversifikasi sumber pendapatan ini penting untuk menjaga ketahanan profitabilitas BNI dalam berbagai kondisi siklus ekonomi," tandas Paolo.
Kualitas Aset Terjaga
Sejalan dengan pertumbuhan bisnis, kualitas aset BNI terus menunjukkan ketahanan yang
baik. Hingga akhir Juni 2026, rasio kredit bermasalah atau loan at risk (LAR) membaik dari
11,0% menjadi 8,1%, sementara rasio non performing loan (NPL) berada pada level 1,9%.
Perseroan juga mempertahankan kebijakan pencadangan yang konservatif sebagai bagian
dari disiplin manajemen risiko. Kebijakan tersebut memperkuat ketahanan neraca sekaligus
memberikan ruang bagi BNI untuk melanjutkan ekspansi bisnis secara sehat dengan tetap
mengedepankan prinsip kehati-hatian.
Direktur Risk Management BNI David Pirzada mengatakan, kualitas aset yang terjaga
merupakan hasil penerapan manajemen risiko secara disiplin dan konsisten pada seluruh
tahapan proses bisnis perseroan.
"Pengelolaan risiko dilakukan sejak tahap penetapan sektor prioritas, analisis kelayakan
debitur, hingga pemantauan pascapenyaluran kredit.
BNI juga terus memperkuat sistem peringatan dini agar setiap perubahan profil risiko dapat diidentifikasi dan ditangani secara lebih cepat," ujar David.
Dengan kualitas aset yang sehat dan pencadangan yang memadai, BNI memiliki fondasi kuat
untuk menjaga stabilitas bisnis di tengah dinamika perekonomian sekaligus mendukung
ekspansi secara berkelanjutan.
Memasuki paruh kedua 2026, BNI akan memperkuat struktur pendanaan, menjaga
pertumbuhan kredit yang berkualitas dan terdiversifikasi, serta mempertahankan kualitas aset melalui pengelolaan risiko dan pencadangan yang disiplin.
BNI juga akan melanjutkan transformasi BRAVE dan digital guna meningkatkan produktivitas, memperkuat fundamental bisnis, serta menciptakan pertumbuhan yang sehat dan berkelanjutan, sejalan dengan agenda transformasi BUMN di bawah koordinasi Danantara Indonesia. (Id88)































Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda