Breaking News
Memuat breaking news...

Bonus Demografi Di IKN Semu

Redaksi
Redaksi
Jumat, 28 Juni 2024 - 11.10 AM WIB
Bonus Demografi Di IKN Semu
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

SEMARANG (Waspada) : Pemindahan Ibu Kota Negara Indonesia diharapkan mampu meratakan pembangunan antara Indonesia bagian timur dan bagian barat. Sehingga tidak ada lagi kesenjangan dan mempercepat pemerataan pembangunan. Namun, sesungguhnya persoalan kependudukan di Ibu Kota Nusantara (IKN), Ibu Kota Negara Indonesia yang baru di Kalimantan Timur, menjadi hal menarik karena penduduk IKN mayoritas penduduk usia produktif.

"Jendela peluang bonus demografi di IKN seolah terlihat positif. Tetapi yang perlu kita ingat, itu bisa menjadi semu karena banyaknya pendatang yang tiba-tiba datang ke sana di saat usia kerja," kata Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) dr. Hasto, usai menggelar Sarapan Bergizi Keluarga Melalui Gerakan Kembali ke Meja Makan, Balai Diponegoro, Kodam IV/Diponegoro, Semarang, Jawa Tengah, Jumat (28/6/2024)

Menurutnya, dampak kedatangan pendatang usia produktif di IKN menjadikan penduduk yang bekerja melimpah dibanding penduduk tidak bekerja.

"Sayangnya, uang belum tentu beredar di IKN karena keluarga mereka berada di Jawa atau di luar IKN. Sehingga penghasilannya menjadi 'capital flight' alias dikirim atau ditransfer ke keluarga," ungkap dokter Hasto.

Dalam kaitan ini Hasto menekankan pentingnya memperhatikan proporsi penduduk dan prospek bonus demografi di IKN.

Lansia & Generasi Strawberry

Lebih jauh, dokter Hasto memprediksi di 2035 jumlah lansia di Indonesia akan semakin banyak. Di sisi lain, generasi berikutnya, terutama Gen-Z adalah generasi strawberry yang lebih kreatif tetapi lembek atau tidak kuat.

Kondisi itu ditunjukkan oleh data BPS tahun 2023. Diketahui, sekitar 9,9 juta penduduk generasi usia 15-24 tahun di Indonesia tidak bekerja dan tidak sedang bersekolah (not in employment, education and training).

Angka ini setara dengan 22,25 persen dari total penduduk usia muda di Indonesia. “Katakanlah lama sekolah 9,4 tahun rata- rata. Maka, bisa dipahami yang tidak lulus SD dan SMP lebih banyak dibanding yang lulus perguruan tinggi,” ujar dokter Hasto.

Dokter Hasto menjelaskan BKKBN berupaya meningkatkan kualitas SDM. Caranya, dengan mengantisipasi tidak terjadinya kawin usia muda. BKKBN bekerjasama dengan mitra juga melakukan kegiatan pemberdayaan ekonomi keluarga, seperti kegiatan pameran dan gelar dagang. Tujuannya, untuk memacu upaya peningkatan pendapatan keluarga melalui UPPKA.

"BKKBN membantu mewujudkan wirausaha, mendukung sekolah vokasi, kesempatan kerja untuk jadi lebih baik dan juga kegiatan kelompok Bina Keluarga Remaja," ujar dokter Hasto. (j01)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik
No topics for this article yet.

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement