BPS: Kepuasan Jamaah Haji 2026 Naik ke 91,45, Tertinggi Sejak 2019BPS: Kepuasan Jamaah Haji 2026 Naik ke 91,45, Tertinggi Sejak 2019

JAKARTA (Waspada.id): Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indeks Kepuasan Jamaah Haji Indonesia (IKJHI) untuk layanan di luar negeri pada penyelenggaraan haji 2026 mencapai 91,45 poin, meningkat dari 88,46 poin pada tahun sebelumnya. Capaian tersebut menjadi yang tertinggi sejak 2019, sekaligus menandai meningkatnya kepuasan jamaah terhadap penyelenggaraan ibadah haji pada tahun pertama pelaksanaan di bawah Kementerian Haji dan Umrah.
Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan, kenaikan indeks ini menunjukkan adanya peningkatan kualitas layanan yang dirasakan langsung oleh jamaah.
Seiring hadirnya Kementerian Haji dan Umrah sebagai penyelenggara ibadah haji, BPS juga menyempurnakan metode pengukuran kepuasan dengan memperkenalkan Indeks Kepuasan Layanan Haji Indonesia (IKLHI) sebagai indikator baru yang lebih komprehensif.
"Kalau kita lihat untuk indeks IKJHI luar negeri dari 88,46 tahun lalu menjadi 91,45. Peningkatan pada tahun 2026 merupakan skor tertinggi dalam deretan pengukuran sejak 2019," kata Amalia saat merilis hasil Survei Kepuasan Layanan Haji Indonesia (SKLHI) 1447 Hijriah/2026 Masehi di Jakarta, Kamis (6/8/2026).
Menurut Amalia, penyempurnaan metode dilakukan untuk mengatasi keterbatasan IKJHI yang selama ini hanya mengukur layanan di luar negeri, berfokus pada hasil pelayanan (output), dan masih mengacu pada regulasi lama. Melalui IKLHI, pengukuran kini mencakup layanan di dalam dan luar negeri, sekaligus menilai proses maupun hasil pelayanan sesuai regulasi terbaru penyelenggaraan ibadah haji.
"IKLHI menggunakan pendekatan yang lebih komprehensif karena mengukur layanan dalam negeri dan luar negeri, menilai proses sekaligus output pelayanan, serta disesuaikan dengan regulasi terbaru penyelenggaraan ibadah haji," ujarnya.
Amalia menegaskan skor IKLHI tidak dapat dibandingkan secara langsung dengan IKJHI karena menggunakan metode perhitungan yang berbeda. Untuk menjaga kesinambungan data, BPS melakukan back-casting terhadap data tahun 2019–2025 sehingga tren kepuasan tetap dapat dianalisis secara konsisten.
Berdasarkan metode baru, IKLHI luar negeri tahun 2026 mencapai 82,71 poin, meningkat dibandingkan hasil back-casting tahun 2025. Sementara IKLHI dalam negeri mencapai 83,85 poin.
Secara keseluruhan, Indeks Kepuasan Layanan Haji Indonesia (IKLHI) 2026 mencapai 83,28 poin atau berada pada kategori memuaskan.
Amalia menjelaskan seluruh jenis layanan memperoleh nilai di atas 81 poin. Layanan transportasi menjadi aspek dengan tingkat kepuasan tertinggi, sedangkan layanan kesehatan memperoleh nilai terendah, meski tetap berada pada kategori memuaskan.
Ia menambahkan, layanan pada fase puncak ibadah di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna) masih menjadi titik dengan indeks terendah dibandingkan lokasi pelayanan lainnya. Meski demikian, seluruh jenis layanan di Armuzna mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya.
"Ini menunjukkan adanya perbaikan kualitas pelayanan pada fase puncak ibadah haji," katanya.
Survei Kepuasan Layanan Haji Indonesia 2026 melibatkan 14.400 responden jamaah haji yang tersebar di berbagai titik layanan di Indonesia dan Arab Saudi. Pengumpulan data dilakukan melalui kombinasi metode Paper Assisted Personal Interviewing (PAPI), Computer Assisted Web Interviewing (CAWI), wawancara, dan observasi lapangan.
Menanggapi hasil survei BPS tersebut, Menteri Haji dan Umrah Mochamad Irfan Yusuf mengakui bahwa kawasan Mina masih menjadi tantangan terbesar dalam penyelenggaraan ibadah haji di Arab Saudi. Menurutnya, keterbatasan kapasitas kawasan Mina dibandingkan jumlah jamaah yang harus dilayani menjadi persoalan yang hingga kini terus diupayakan solusinya.
"Tantangannya di Mina, semuanya di Mina tantangannya. Karena Mina tempatnya relatif kurang dari separuhnya Arafah, sehingga diperlukan berbagai terobosan untuk mengatasinya," ujar Irfan Yusuf.
Sebagai langkah perbaikan, Kementerian Haji dan Umrah pada musim haji 2026 telah menerapkan skema tanazul, yakni memindahkan sekitar 20 ribu jamaah dari tenda di Mina ke hotel untuk mengurangi kepadatan selama fase puncak ibadah haji.
"Salah satu yang kita lakukan tahun ini, tahun 2026, kita mentanazulkan 20 ribu orang dari tenda Mina ke hotel. Kemungkinan tahun depan akan kita tambah jumlah yang tanazul sehingga jumlah yang ada di tenda berkurang dan tendanya kita harapkan lebih longgar," katanya.
Menurut Irfan, kebijakan tersebut akan terus dievaluasi dan dikembangkan sebagai bagian dari upaya meningkatkan kenyamanan dan kualitas layanan jamaah, terutama pada fase puncak ibadah di Mina yang selama ini menjadi titik paling menantang dalam penyelenggaraan haji.(id11)































Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda