Cahaya Selawat dari Bujang Salim: Pesan Abu Paya Pasi di Maulid AkbarCahaya Selawat dari Bujang Salim: Pesan Abu Paya Pasi di Maulid Akbar

RIBUAN warga Kecamatan Dewantara, Aceh Utara, Selasa (25/8/2026) hadir memadati halaman Masjid Bujang Salim di Keude Krueng Geukueh. Mereka duduk bersimpuh mendengar ceramah maulid yang disampaikan ulama kharismatik Aceh, Tengku Muhammad Ali (Abu Paya Pasi). Diantara kerumunan warga terlihat duduk orang nomor satu di Aceh Utara, Ismail A. Jalil (Ayahwa).
Di sana, Bupati Aceh Utara ini ditemani oleh Sekda, Dayan Albar, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Dr. Jamaluddin, S.Sos.,M.Pd, Kepala Dinas Syariat Islam, Hadaini, Plt. Kepala Badan Dayah, M. Yunus, dan sejumlah kepala SKPK lainnya.
Dalam ceramah Maulid Akbar tersebut, Abu Paya Pasi menyerukan pesan yang sederhana namun sarat makna: “Perbanyaklah selawat kepada Rasulullah.” Pesan ini bukan sekadar nasihat, melainkan warisan sejarah. Pada sebuah masa, umat Uslam pernah lengah hingga Baitul Maqdis dikuasai pasukan Salib selama 80 tahun.
Namun, di bawah kekuasaan Salahuddin Al-Ayyubi, dengan semangat selawat yang menggema, umat bersatu, berjuang, dan akhirnya merebut kembali tanah suci itu. Selawat menjadi cahaya yang menyalakan persatuan.
Lalu, Abu kembali menyampaikan, pernah pada masa itu, sebutnya, orang-orang sedang berselawat kepada Rasulullah dengan ucapan, “Ya Nabi Salam alaika....sampai Marhaban Ya Marhaban, Marhaban Jaddal Husaini, Marhaban Ya Marhaban, Marhaban ya Nurul Aini. Semua orang yang berselawat kepada Rasulullah pada saat itu nampak melihat rombongan Rasululllah. Masing-masing orang-orang itu mulai bangun berdiri.
“Inilah sejarah mengapa ketika ada yang berselawat kita bangun berdiri,” ucap Abu, seraya menambahkan, pada masa itu, pernah, orang yang berselawat. Kemudian pada malam harinya bermimpi, Rasulullah serta sahabatnya berkunjung pada tempat mereka berselawat. Karena itu, selawat menjembatani dunia fana dengan cahaya ilahi, menghadirkan rasa dekat dengan nabi yang dicintai.
Sejarah Aceh pun tak lepas dari kekuatan selawat. Tujuh puluh tahun berperang melawan Belanda, Aceh tidak pernah dicap kalah. Mengapa? Karena sejak awal, Aceh sudah merdeka. Selawat menjadi energi spiritual yang menjaga semangat juang. Dari tanah rencong, kemenangan itu mengalir, memberi kekuatan bagi saudara-saudara di seluruh Nusantara. “Dengan kemenangan kita di Aceh, kita bisa membantu saudara kita di seluruh Indonesia.”
Tradisi selawat terus dibudayakan di gampong-gampong. Abu Paya Pasi sendiri pernah menyaksikan di Makkah, sebuah rumah pesantren yang setiap malam Sabtu mengadakan majelis selawat. Meski berada di lingkungan Wahabi, rumah itu tetap terbuka, menerima tamu, memberi kenduri, dan membagikan nasi kepada jamaah. Selawat menjadi perekat, melampaui batas kelompok, mengikat manusia dalam zikir dan kebersamaan.
“Berapa pun jumlah orang yang datang berkunjung ke rumah itu tetap diberikan khanduri. Saya sendiri sudah beberapa kali datang berkunjung ke rumah itu,” sebut Abu.
Sejarah Rasulullah mengajarkan pentingnya persatuan. Pada saat Rasulullah akan menyerang sebuah negeri dan sebelum melakukan penyerangan, Rasulullah lebih dulu menulis surat, beliau menawarkan tiga pilihan: menerima Islam, menyerah dengan damai, atau menghadapi pasukan. Di balik strategi itu, ada pesan mendalam: ulama dan umara harus bersatu. Ulama menjadi pelita, umara menjadi pengatur. Tanpa persatuan, umat akan tercerai-berai. Dengan persatuan, segala rencana akan berhasil atas izin Allah.
Kisah Tgk Chik dan Ase (Anjing)
Di masa lain, ada kisah Tgk Chik bersama kawannya. Saat berburu di hutan, mereka dikejar babi hutan. Orang-orang yang ikut bersama Tengku Chik lari kesana kemari hingga mereka melepaskan diri dari kejaran babi hutan dengan manjat pohon. Sedangkan Tengki Chik tidak bisa memanjat pohon karena ada sepatu.
Saat sedang berupaya menyelamatkan diri dari kejaran babi hutan, datanglah sekelompok ase (anjing) dan mengejar babi hutan yang membahayakan Tengku Chik. Dari kisah ini, sebut Abu Paya Pasi, yang menyelamatkan Tengku Chik bukanlah orang-orang hebat yang ada bersamanya. Orang-orang hebat itu sibuk menyelamatkan diri.
“Kawanan ase (anjing) yang menyelamatkan Tengku Chik. Anjing bersatu melawan babi. Orang-orang hebat yang ada bersama Tengku Chik tercerai berai hilang persatuan karena menyelamatkan diri. Anjing itu setia, meskipun dia itu anjing tapi terhormat, asalkan anjing itu tidak berkhianat dan mencuri harta kita, maka tidak masalah memiliki teman seperti anjing asalkan tidak merusak syariat,” kata Abu.
Selawat bukan sekadar tradisi, melainkan warisan spiritual yang menjaga syariat. Ia adalah cahaya yang menyatukan umat, menguatkan perjuangan, dan menumbuhkan rasa kebersamaan. Dari Baitul Maqdis hingga gampong Aceh, dari majelis maulid hingga pesantren di Makkah, selawat selalu hadir sebagai pengikat hati.
“Bersatulah di jalan Allah, karena dengan persatuan segala rencana berhasil, dan Allah memberi kemenangan,” kata Abu Paya Pasi sebelum mengakhiri ceramah maulid di Masjid Bujang Salim itu. Selanjutnya, acara dilanjutkan dengan menyantap hidangan dan menututp dengan shalat zhuhur berjamaah. (Maimun Asnawi, S.HI.,M.Kom.I/WASPADA.id).



























Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda