Breaking News
Memuat breaking news...

Cerita Budaya dan Gizi dalam Sepiring Pelleng

Redaksi
Redaksi
Kamis, 22 Oktober 2026 - 11.09 PM WIB
Cerita Budaya dan Gizi dalam Sepiring Pelleng
foto kompasiana.com
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size
Advertisement

Edy Suhartono¹

Rahel Andryati Sinaga dan Winda Ikrimah Marito²

Pengantar

Masyarakat Pakpak di Sumatera Utara memiliki berbagai bentuk kebudayaan yang diwariskan secara turun-temurun. Kebudayaan tersebut mencakup adat istiadat, tradisi, bahasa, kesenian, serta nilai-nilai yang mengatur kehidupan masyarakat. Keberadaan berbagai unsur budaya tersebut menjadi bagian penting dalam membentuk identitas masyarakat Pakpak dan menunjukkan adanya pengetahuan lokal yang terus diwariskan antargenerasi.

Salah satu makanan tradisional yang berasal dari masyarakat Pakpak di Sumatera Utara adalah Pelleng. Pelleng merupakan makanan berbahan dasar nasi yang diolah menggunakan berbagai rempah sehingga memiliki warna, aroma, dan cita rasa yang khas. Keunikan makanan tradisional tidak hanya terletak pada bahan dan cita rasanya, tetapi juga pada istilah, cara pengolahan, penyajian, serta hubungan makanan tersebut dengan kebiasaan dan kegiatan masyarakat. Makanan ini tidak hanya berfungsi sebagai pangan, tetapi juga memiliki nilai budaya yang berkaitan erat dengan kehidupan masyarakat Pakpak.

Makna Pelleng dari Aspek Budaya

Dalam masyarakat Pakpak, Pelleng memiliki hubungan erat dengan tradisi dan kepercayaan yang diwariskan secara turun-temurun. Pelleng biasanya disajikan pada kegiatan atau keadaan tertentu, seperti ketika seseorang akan mengikuti ujian, mencari pekerjaan, merantau, maupun dalam momen duka. Penyajian Pelleng dalam kegiatan tersebut mengandung harapan agar seseorang memperoleh keberhasilan, keberanian, kekuatan, dan kelancaran dalam menjalani kegiatan yang akan dilakukan. Hal ini menunjukkan bahwa Pelleng tidak hanya memiliki nilai pangan, tetapi juga mengandung nilai sosial dan budaya bagi masyarakat Pakpak.

Pengenalan dan pelestarian Pelleng penting dilakukan agar makanan khas Pakpak ini tetap dikenal oleh generasi muda serta nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya dapat terus diwariskan. Keberadaan budaya lokal menghadapi perubahan seiring dengan perkembangan zaman. Perubahan kehidupan masyarakat dan globalisasi dapat memengaruhi cara generasi muda mengenal dan menjalankan tradisi yang diwariskan oleh generasi sebelumnya. Kajian mengenai makanan tradisional menunjukkan bahwa perubahan pola konsumsi dan berkurangnya perhatian generasi muda terhadap makanan lokal dapat menjadi tantangan dalam mempertahankan makanan tradisional sebagai bagian dari identitas budaya.

Kondisi tersebut juga menjadi penting dalam melihat keberadaan Pelleng pada masyarakat Pakpak. Jika Pelleng hanya dikenal sebagai makanan dengan warna, rasa, dan bahan tertentu tanpa memahami latar belakang penggunaannya, sebagian pengetahuan budaya dapat kurang dipahami oleh generasi berikutnya.

Cerita Budaya dan Gizi dalam Sepiring Pelleng

Berdasarkan hal tersebut, analisis Pelleng dilakukan untuk mengetahui karakteristik makanan tersebut, baik dari segi bahan yang digunakan, proses pengolahan, karakteristik organoleptik, maupun nilai gizinya. Hasil analisis diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai karakteristik Pelleng sekaligus menambah informasi mengenai makanan tradisional khas Pakpak yang dapat mendukung upaya pengenalan dan pelestarian kuliner daerah.

Pelleng merupakan makanan tradisional yang bahan utamanya adalah beras dan bumbu, seperti bawang merah, bawang putih, jahe, kunyit, cabai merah, serai, dan daun salam yang dihaluskan. Beras dimasak hingga lunak, seperti membuat lontong atau nasi tim, dengan menambahkan kunyit yang sudah dihaluskan untuk memberikan warna kuning pada nasi. Selanjutnya, tumis cabai, kunyit, jahe, bawang merah, dan bawang putih yang sudah dihaluskan, serta serai dan daun salam. Semua bumbu ditumis dengan air asam cikala secukupnya.

Pelleng dari Aspek Gizi

Dari segi nilai gizi, nasi berperan sebagai sumber karbohidrat yang menjadi sumber energi bagi tubuh untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Sementara itu, santan mengandung lemak yang dapat memberikan cita rasa gurih pada makanan. Rempah-rempah yang digunakan berfungsi untuk memperkuat aroma dan cita rasa khas Pelleng. Namun, jika dikonsumsi hanya dengan bahan-bahan tersebut, Pelleng belum melengkapi asupan zat gizi yang cukup, seperti protein dan serat.

Penggunaan bumbu dan rempah menjadi bagian penting dalam pengolahan Pelleng, antara lain kunyit, lengkuas, bawang, dan cabai. Bahan dan rempah tersebut dicampurkan dengan nasi yang telah dimasak sehingga menghasilkan karakteristik warna dan cita rasa khas pada Pelleng.

Potensi dan Prospek Pelleng

Penelitian etnobotani Pelleng oleh Rivaldi Sitinjak dkk. (2025) di komunitas Bakal Julu, Dairi, menunjukkan bahwa Pelleng menggunakan berbagai tumbuhan yang dimanfaatkan sebagai bahan pangan dan rempah. Dengan demikian, penggunaan tumbuhan dan rempah dalam pengolahan Pelleng merupakan salah satu karakteristik yang membentuk kekhasan makanan tersebut.

Keterbatasan tersebut dapat menjadi pertimbangan dalam melakukan modifikasi Pelleng agar memiliki kandungan gizi yang lebih seimbang. Penambahan ayam gulai dapat menjadi pilihan untuk meningkatkan kandungan protein hewani yang berperan dalam pembentukan dan perbaikan jaringan tubuh. Selain itu, ayam juga mengandung sejumlah vitamin dan mineral yang mendukung fungsi tubuh. Penggunaan ayam gulai sebagai pelengkap tetap dapat mempertahankan cita rasa masakan tradisional sekaligus menambah variasi sumber zat gizi dalam hidangan Pelleng.

Selain penambahan sumber protein, Pelleng juga dapat dilengkapi dengan mentimun dan selada sebagai sumber serat dan vitamin. Serat berperan dalam membantu menjaga fungsi pencernaan, sedangkan vitamin dibutuhkan untuk mendukung berbagai proses metabolisme tubuh. Penambahan kedua jenis sayuran tersebut juga dapat memberikan warna dan kesegaran sehingga hidangan menjadi lebih menarik.

Penutup

Sebagai makanan tradisional masyarakat Pakpak, Pelleng tidak hanya penting dari sisi budaya, tetapi juga menarik untuk dilihat dari aspek gizi, khususnya terkait dengan bahan-bahan yang digunakan dalam makanan tersebut. Kombinasi ayam gulai, mentimun, dan selada dapat menjadi alternatif pengembangan makanan tradisional Pelleng yang lebih beragam zat gizinya tanpa menghilangkan identitas khas makanan ini.

Pelleng adalah salah satu dari sekian banyak ragam kuliner tradisional yang ada di masyarakat dan memiliki potensi serta prospek untuk dikembangkan dan dijadikan daya tarik wisata, dengan tetap memperhatikan asupan dan kecukupan nilai gizi yang terkandung di dalamnya. Waspada.id


¹ Dosen Antropologi UNIMED

² Mahasiswa Ilmu Gizi UNIMED

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.

Berita Terkait

Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement