Breaking News
Memuat breaking news...

CINTA DI UJUNG SENJA

Redaksi
Redaksi
Rabu, 29 April 2026 - 6.27 PM WIB
CINTA DI UJUNG SENJA
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

Cerpen: Agusni AH

SENJA itu datang lebih cepat dari biasanya, seolah tahu ada hati yang ingin diselesaikan sebelum malam benar-benar jatuh.

Di sebuah bangku bambu tua di tepi pantai Lhoknga, Ali duduk sendiri. Ia memandangi laut yang perlahan berubah warna menjadi tembaga, pasir di sepanjang pantai dipenuhi kilauan cahaya hamparan perak.

Angin membawa hawa asin dan kenangan yang tak pernah benar-benar pergi dari setiap momen saat bersama.

Duapuluhlima tahun lalu, di tempat yang sama, ia pernah berjanji.

“Jika kita tak bersama hari ini, dan bila umur kita masih ada Insya Allah kita bertemu lagi saat uban memutih nanti,” tukas Ali dalam nada bergetar dengan mata yang selalu menyimpan cahaya senja.

Munah tersenyum tipis waktu itu.

Ada satu hal untuk saling dipahami bahwa waktu tidak pernah ingkar, hanya manusia yang kadang tak sempat menepati janji. Bukan lantaran adanya pengkhianatan, namun terkadang menjadi beda haluan seiring masa berlalu.

Hari itu, Munah menerima sebuah pesan singkat dari nomor yang tak ia kenal.

"Aku di senja yang dulu. Jika kau masih mengingatku, datanglah."

Tak ada nama. Tapi ia tahu, hanya satu orang yang akan menulis dan memiliki bahasa seperti itu.

Langkahnya berat saat turun dari becak motor. Napasnya tersengal, tapi hatinya berlari lebih cepat dari tubuhnya yang renta. Ia takut, bukan karena pertemuan. Tapi, karena kemungkinan bahwa waktu telah mengubah segalanya.

Dan di sana, di ujung bangku yang menghadap laut, perempuan itu menghampirinya. Tepat di belakangnya perempuan itu berdiri dengan balutan kebaya dan kerudungnya putih, sederhana. Sebuah performa busana yang tak berubah. Namun, kini tubuhnya sedikit membungkuk. Ketika ia menoleh, Ali tahu semuanya masih sama. Tak terkecuali, dua bolamata itu juga masih sama. Mata yang dulu membuatnya kepayang hingga lupa pada kenyataan dunia lainnya.

“Ali…!” Suaranya hampir patah.

Perempuan itu tersenyum. Senyum yang pernah ia rindukan dalam diam selama puluhan tahun.

“Kau datang juga,” seru Ali bernada pelan.

Mereka tak saling berpelukan. Tidak ada drama seperti dalam kisah muda-mudi. Hanya dua manusia yang dipertemukan kembali oleh waktu sedianya membawa luka yang sudah terlalu lama dipendam. Sejoli yang sudah renta.

Mereka duduk berdampingan.

Senja perlahan turun.

“Aku kira kau tak akan datang,” pungkas Ali.

“Aku takut terlambat,” jawab Munah.

Ali tertawa kecil. Tapi, sedikit menyiratkan girang. “Kita memang selalu terlambat, bukan ?”

Munah terdiam. Kalimat itu seperti menampar masa lalu mereka. Dulu, ketika cinta mereka tumbuh begitu dalam, namun ada tembok yang tak bisa ditembus. Munah melangsungkan pernikahan setelah sebelumnya Ali jauh di perantauan. Bukan tanpa sepengetahuan, bukan diantara keduanya tak saling sayang. Tapi, lebih keduanya saling memahami kondisi, walau akhirnya membawa luka yang tak sempat disembuhkan.

“Bagaimana hidupmu, anak-anak dan suamimu ?” Tanya Ali, hati-hati.

Munah menatap laut. “Aku menjalani apa yang harus dijalani.”

“Bahagia ?”

Perempuan itu diam dan tak memberi jawaban karena sesungguhnya Ali sudah sangat paham akan keadaan rumah tangganya, karena sejak awal Munah acap mengabari lelaki itu.

Hanya tak lama kemudian, belakangan mereka terputus kontak. Di antara senyumnya yang samar, seperti cahaya senja yang mulai redup.

“Dia sudah meninggal delapan tahun lalu,” jawab Munah sekenanya. “Anak-anak sudah punya hidup masing-masing.” Ali mengangguk pelan. “Aku masih seperti yang dulu, masih sebagaimana terakhir waktu kita teleponan.”

Munah menoleh, matanya berkaca-kaca. “Syukurlah,” sela Munah lirih. “Tapi, aku terus menunggu sesuatu yang mungkin tak akan pernah kembali,” pungkas Ali. Sunyi. Hanya suara ombak yang pecah pelan di kejauhan. Munah menarik napas dalam: “aku juga menunggu.”

Ali menoleh cepat. “Menunggu apa ?”

“Menunggu keberanian yang tak pernah datang,” tambah Munah.

“Aku selalu berpikir, mungkin suatu hari aku akan mencarimu. Tapi waktu terlalu cepat berjalan,” sejurus kemudian Munah diam.

Senja semakin gelap. Langit mulai tertutup awan.

Munah merasa ada sesuatu yang berbeda. Napas lelaki tua itu terdengar berat. Tangannya dingin saat tanpa sadar menyentuh punggung tangannya.

“Ali, kau baik-baik saja ?” tanya Munah cemas.

Ali tersenyum lemas diantara getir menyirat di wajahnya yang mulai berkeriput. “Aku ingin menepati janji kita, Munah.”

“Apa maksudmu ?”

“Aku ingin bertemu denganmu sebelum semuanya benar-benar selesai.”

Munah menggenggam tangannya sendiri. “Kita bisa bertemu lagi besok. Atau lusa. Atau setiap hari-hari berikutnya.”

Ali menggeleng pelan. “Tidak semua orang punya banyak waktu.”

Kalimat itu membuat dada Munah sesak. Munah mulai meraba setiap kata-kata yang meluncur lewat bibir kering, namun selalu basah nan renyah dengan makna-makna yang harus disingkap dengan teliti. Dan, bahasa Ali hanya Munah yang paling paham.

“Ali…!”

“Aku sakit. Sudah lama dokter bilang waktuku tidak banyak.”

Dunia seakan berhenti.

Munah menatapnya lekat-lekat seraya menggenggam tangannya sendiri lebih erat, ini adalah cara mereka dalam menjaga dan merawat cinta. Munah ketakutan, ia tak mau ada yang hilang begitu saja.

“Kenapa kau baru memberitahuku sekarang,” suaranya bergetar.

Ali tersenyum tipis, airmatanya jatuh perlahan, menganaksungai dari kelopak matanya yang kian kuyu. Ali semakin layu. “Karena aku ingin kau datang bukan karena iba, tapi karena rasa cinta yang masih tersisa."

Dadanya penuh oleh sesuatu yang terlalu berat untuk disebut kata, dadanya mulai menggemuruh.

Kini, langit hampir gelap. Hanya sisa cahaya tipis di ujung cakrawala.

“Aku lelah, Munah.”

“Bersandarlah di batu,” ujar Munah cepat. Ali perlahan menyandarkan kepalanya seraya berujar belan,

“aku bahagia kau datang."

“Aku juga,” timpal Munah.

Air matanya jatuh tanpa suara. Beberapa detik berlalu.

Lalu hening yang terlalu panjang.

“Ali...?”

Tak ada jawaban.

Ia hanya menoleh dengan senyum tipis. Namun matanya telah tertutup. Nafasnya telah berhenti.

Senja benar-benar pergi. Sebuah kehilangan yang datang terlalu lengkap.

Ia datang tepat waktu.

Tapi tetap saja terlambat. Malam turun perlahan, menyelimuti laut dan hanya tinggal seorang perempuan tua yang kini duduk sendiri dengan cintanya yang telah pulang, tapi untuk pergi selamanya pada sua di batas senja.***.

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement