Breaking News
Memuat breaking news...

DALAM DIAM CERPEN AGUSNI AH

Redaksi
Redaksi
Kamis, 20 Agustus 2026 - 10.29 PM WIB
DALAM DIAM CERPEN AGUSNI AH
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

PENGANTAR REDAKSI:

“DALAM DIAM”, cerpen karya Agusni AH mengisahkan luka seorang istri yang bertahun-tahun memilih memberi tanpa menuntut. Cinta, waktu, kesetiaan, bahkan seluruh hidupnya diserahkan sebagai bentuk pengabdian. Namun, di balik diam itu tersimpan kecewa dan pengkhianatan yang perlahan menggerogoti.

Cerpen ini memperlihatkan bahwa diam bukan selalu tanda keikhlasan. Ada saatnya diam berubah menjadi luka, dan luka menuntut sebuah kejujuran. Ketika sang istri akhirnya berani bersuara dan meminta suaminya memilih, ia tidak sedang menuntut lebih—ia hanya sedang menuntut hak untuk dicintai sebagai seorang istri.

“DALAM DIAM” adalah kisah tentang cinta yang terlalu lama dipendam hingga akhirnya menemukan suara. Lebih lanjut silahkan pembaca menyimaknya.

DALAM DIAM

PEREMPUAN itu biasanya memberi ikhlas apa pun kepada suaminya. Dia tak pernah menuntut, apalagi meminta dibalas dari semua yang diserahkan, tak terkecuali rasa cinta. Baginya, harus diserahkan apa pun kepada suaminya.

Tubuh, waktu, kesetiaan, bahkan air mata yang diam-diam jatuh di ujung malam.

Ia menyerahkan semuanya seperti tanah menyerahkan dirinya kepada hujan—tanpa bertanya berapa banyak pucuk mayang tumbuh beserta dedaun menghijau, dan bunga yang akan bermekaran.

Sejak menjadi istri, ia belajar bahwa mencintai bukan sekadar memiliki. Mencintai adalah menyerahkan sebagian dari dirinya kepada seseorang yang dipercaya akan menjaga dan mengasihinya. Maka ia tak pernah menghitung berapa kali telah menunggu, berapa kali telah mengalah, atau berapa banyak luka yang disembunyikannya di balik senyum.

Suaminya pun tahu.

Atau barangkali, pura-pura tidak tahu.

Setiap pagi perempuan itu menyiapkan sarapan. Setiap malam ia menunggu pintu terbuka. Jika suaminya pulang larut, ia tidak bertanya terlalu banyak. Jika suaminya diam, ia ikut diam. Manakala suaminya marah, ia memilih menundukkan kepala.

Bukan karena ia tak punya suara.

Ia hanya terlalu lama percaya bahwa seorang istri harus pandai menyimpan segala sesuatu di dalam dirinya.

Termasuk kecewa.

Begitupun curiga.

Tak terkecuali cinta yang perlahan-lahan kehilangan tempat untuk pulang.

Pada suatu malam, ketika rumah telah senyap dan jam dinding terdengar seperti mengetuk-ngetuk kesunyian, ia duduk seorang diri di tepi ranjang.

Untuk pertama kalinya ia bertanya kepada dirinya sendiri:

Apakah penyerahan selalu berarti keikhlasan?

Atau jangan-jangan selama ini ia hanya sedang menyerahkan dirinya kepada kesepian?

Ia memandang cincin di jari manisnya. Benda kecil itu berkilau dalam cahaya lampu, tetapi entah mengapa terasa seperti belenggu.

Lalu ia tersenyum getir.

Barangkali cinta memang tidak selalu pergi ketika seseorang berhenti mencintai.

Kadang-kadang cinta tetap tinggal.

Hanya pemiliknya yang sudah tidak mengenalinya lagi. Atau memang cinta itu sudah berlalu seiring waktu yang terus melaju.

Tiba-tiba sang suami pulang tengah malam, sementara si istri masih melamun diam di sudut ranjang. Pintu kamar terbuka perlahan. Lelaki itu masuk tanpa suara, meletakkan kunci di atas meja, lalu memandang istrinya yang masih termangu.

“Kenapa kau terasa dingin akhir-akhir ini, dan semakin jauh di antara kita?” tanyanya.

Perempuan itu tidak segera menjawab. Matanya tetap tertuju pada lantai. Ada sesuatu yang ingin dikatakannya, tetapi seperti tersangkut di tenggorokan.

“Aku tidak berubah,” jawab perempuan itu akhirnya.

“Lalu kenapa kau seperti menyimpan sesuatu?”

Ia menarik napas panjang.

“Mungkin karena terlalu lama aku sendiri dalam diam.”

Suaminya terdiam.

“Terdiam cinta, waktu, kesetiaan, bahkan diriku sendiri,” ucapnya lirih, seraya melanjutkan: “Aku menyerahkan semuanya tanpa pernah tahu kepada siapa semua itu kuserahkan.”

Lelaki itu menatapnya.

“Dan sekarang?”

Perempuan itu mengangkat wajah. Matanya mulai basah, tetapi suaranya tetap tenang.

“Sekarang aku hanya ingin tahu... apa yang masih tersisa dari diriku setelah semua penyerahan itu?”

Lelaki itu masih dalam diam.

Namun, pertanyaan-pertanyaan besar mulai menyeruak di benaknya. Ia ingin menjawab, tetapi tak tahu harus memulai dari mana. Bahkan ia tak tahu bahasa apa yang pantas digunakan untuk merespons bahasa istrinya yang tiba-tiba terasa asing.

Selama ini ia mengira diam adalah cara paling aman untuk menyelesaikan segala persoalan. Ia lupa, diam yang terlalu lama kadang berubah menjadi jarak. Dan jarak, bila dibiarkan, perlahan-lahan menjelma dinding tembok tebal.

Ia menatap perempuan di hadapannya. Perempuan yang selama ini selalu ada ketika ia pulang, selalu mengumbar senyum, selalu menunggu ketika ia pergi, selalu memberi ketika ia meminta—bahkan sebelum ia sempat meminta.

Malam itu, untuk pertama kalinya, ia merasa sedang berhadapan dengan seseorang yang telah lama dikenalnya, tetapi tak pernah benar-benar dipahaminya.

“Maaf...” hanya kata itu yang akhirnya keluar.

Perempuan itu tersenyum tipis.

“Maaf untuk apa?”

Lelaki itu kembali terdiam.

Lelaki itu tak mampu memberi jawaban atas pertanyaan yang dilontarkan istrinya barusan. Ia hanya bisa bertanya dan terus bertanya, mencoba mencari celah dari perubahan yang begitu tiba-tiba. Perempuan yang kini duduk di hadapannya terasa bukan lagi perempuan yang selama ini dikenalnya. Tampak begitu asing.

Bukankah istrinya selalu pendiam? Selalu tersenyum, berbicara seperlunya, dan tak pernah banyak menuntut. Ia menerima hampir segala sesuatu dengan diam. Bahkan ketika kecewa, ia memilih menyimpannya sendiri.

Tak pernah meminta lebih.

Tak pernah mempersoalkan kekurangan.

Tak pernah menagih apa yang telah diberikannya.

Lalu, apa yang membuatnya berubah?

Pertanyaan itu berputar-putar di kepala lelaki tersebut.

“Sejak kapan kau merasa seperti ini?"

“Kenapa baru sekarang kau mengatakannya?” tanyanya pelan.

Perempuan itu mengangkat wajah. Tatapannya tidak lagi marah. Justru terlalu tenang, seperti seseorang yang telah lama selesai berperang dengan dirinya sendiri.

“Karena selama ini,” katanya perlahan, “aku kira diam adalah bentuk cinta.”

Lelaki itu menelan ludah.

***

Jauh di lubuk hati terdalam, perempuan itu sesungguhnya ingin mengungkapkan sebuah kejujuran tentang segala yang selama ini diberikannya: waktu, cinta, tubuh, bahkan seluruh hidupnya. Semua itu ternyata tak lebih dari sebuah tugas dan tanggung jawab yang dijalaninya dengan sabar, tak lebih sebuah rutinitas, sebagai konsekuensi atas sebuah pengkhianatan yang bertahun-tahun dipendamnya seorang diri.

Ia menunduk. Ada rahasia yang selama ini dikuburnya begitu dalam, sampai-sampai ia sendiri hampir percaya bahwa rahasia itu telah mati.

Namun malam itu, rahasia tersebut kembali mengetuk dari dalam dirinya.

Bukan untuk menuntut.

Bukan pula untuk menyalahkan.

Ia hanya ingin sekali mengatakan yang sebenarnya.

Sebab selama bertahun-tahun, lelaki di hadapannya mengira semua yang diberikan adalah cinta. Ia mengira setiap senyum adalah ketulusan, setiap penantian adalah kerinduan, dan setiap penyerahan adalah kehendak hati.

Padahal, ada sesuatu yang jauh lebih pahit di balik semua itu.

Ia menjalani perkawinan itu bukan karena cinta yang tumbuh, melainkan karena sebuah kewajiban yang lahir dari kesalahan-kesalahan masa lalu.

Dan perempuan itu telah terlalu lama membayar kewajiban tersebut dengan seluruh hidupnya.

***

Perempuan itu masih begitu segar mengingat seorang wanita yang pernah datang mencari suaminya yang, tanpa banyak basa-basi, dengan mudah mengatakan bahwa lelaki yang dicari itu adalah mantannya.

Kalimat itu sederhana, tetapi menghantamnya seperti sesuatu yang telah lama menunggu waktu untuk terbuka.

Sejak saat itu, banyak hal yang selama ini dianggapnya biasa tiba-tiba berubah makna.

Senyum suaminya yang dahulu ia percaya sebagai kebahagiaan, menjadi tanda tanya. Pulang larut malam yang selama ini diterimanya tanpa bertanya, mulai menyisakan curiga. Bahkan diam yang selama bertahun-tahun dianggapnya sebagai bagian dari kehidupan rumah tangga, kini terasa seperti ruang kosong yang menyimpan kebusukan.

Ia masih ingat wajah wanita itu.

Tatapan matanya.

Cara bicaranya.

Dan keberaniannya menyebut nama lelaki yang selama ini menjadi suaminya.

“Dia itu masa laluku.” ungkap lelaki itu dengan nada santai sembari mengumbar senyum, tanpa merasa bersalah. Seolah-olah sebuah hal biasa dan bagai merasa bangga disukai wanita. Tetapi si istri sangat merasa terluka. Dan sepanjang itu diamnya yang dianggap sebagai kewajiban, menjelma dendam yang terpendam?

Dalam diam perempuan itu tidak pernah bertanya kepada suaminya siapa dia. Tidak pernah pula memaksa lelaki itu menjelaskan. Barangkali karena jauh di dasar hatinya, ia sudah mengetahui bahwa setiap orang memiliki masa lalu yang tidak mungkin seluruhnya dikuburkan.

Tetapi ada satu hal yang terus mengganggunya:

Mengapa wanita itu datang setelah segalanya dianggap berlalu?

Dan lebih jauh lagi—

mengapa setelah sekian tahun, masa lalu tiba-tiba ingin mengambil kembali seseorang yang selama ini telah ia serahkan seluruh hidupnya untuk menjaga?

***

Untuk pertama kalinya, perempuan itu mengubah dirinya—dari seseorang yang selama ini hanya tahu memberi, menjadi seorang istri yang berani menuntut. Bukan harta, bukan kemewahan, melainkan sesuatu yang selama ini ia serahkan tanpa pernah meminta kembali: cinta.

Untuk pertama kalinya, ia menuntut suaminya atas segala yang telah ia berikan—waktu, kesetiaan, tubuh, bahkan seluruh hidupnya. Sebab ia mulai menyadari, penyerahan diri bukanlah penghapusan hak untuk dicintai.

Dan malam itu, dengan suara yang nyaris patah, ia berkata:

“Aku sudah menyerahkan segalanya kepadamu. Untuk pertama kalinya, aku meminta satu hal darimu—cintailah aku sebagai istrimu, bukan sebagai kewajibanmu.”

“Dan aku memintamu untuk memilih,” katanya lirih, tetapi kali ini tanpa keraguan. “Bukan karena aku cemburu pada masa lalumu, melainkan karena kini semuanya telah menjadi nyata. Dia ternyata bukan sekadar wanita dari masa lalu yang datang mencarimu. Dia juga istri simpananmu.”

Perempuan itu menatap suaminya lama. Ada luka yang selama bertahun-tahun ia sembunyikan, tetapi malam itu tak lagi mampu ditahannya.

“Aku sudah memberikan segalanya kepadamu. Waktu, cinta, tubuh, kesetiaan, bahkan hidupku. Maka untuk pertama kalinya, aku menuntut sesuatu darimu—pilih aku, atau tinggalkan dia.” perempuan itu dengan tegas. Lelaki itupun hanya bisa diam.***.

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik
No topics for this article yet.

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement