Breaking News
Memuat breaking news...

Dampak Banjir Terhadap Penurunan Kualitas Kesehatan Masyarakat Akibat Krisis Air Bersih di Desa Pematang Tengah Tanjung Pura

Redaksi
Redaksi
Kamis, 6 Agustus 2026 - 1.23 PM WIB
Dampak Banjir Terhadap Penurunan Kualitas Kesehatan Masyarakat Akibat Krisis Air Bersih di Desa Pematang Tengah Tanjung Pura
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

Oleh: Melani Putri Siringoringo, Dameria Putri Zai, Chintia Ramadhani Br.Sembiring, Chelsea Rosmery Doloksaribu , Kiki Fitria Eviana , Robitoh Salamah Siregar , Miranda Clarisya Br.Tarigan

Banjir merupakan salah satu bencana hidrometeorologi yang paling sering terjadi di Indonesia termasuk di Kabupaten Langkat yang menimbulkan kerugian signifikan, baik secara sosial, Kesehatan maupun ekonomi. Penyebab utama banjir antara lain curah hujan yang cukup tinggi, kerusakan pada daerah aliran sungai (DAS), serta perkembangan permukiman di sekitar bantaran sungai.
Kabupaten Langkat termasuk wilayah yang memiliki potensi banjir cukup tinggi karena dilalui oleh beberapa sungai besar, seperti Sungai Wampu, Sungai Besitang, dan Sungai Secanggang. Kejadian banjir yang berulang di Kecamatan Tanjung Pura menyebabkan sumber air bersih seperti sumur warga dan air sungai tercemar oleh lumpur, limbah, serta mikroorganisme berbahaya, sehingga memicu krisis air bersih yang berdampak langsung terhadap kesehatan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dampak banjir terhadap penurunan kualitas kesehatan masyarakat yang disebabkan oleh krisis air bersih di Desa Pematang Tengah, Kecamatan Tanjung Pura, Kabupaten Langkat.

Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif analitik dengan pengumpulan data melalui observasi kondisi sumber air dan wawancara menggunakan kuesioner kepada kepala keluarga yang tinggal di wilayah terdampak banjir, yang dipilih menggunakan teknik random sampling. Data dianalisis secara univariat untuk melihat distribusi masing-masing variabel, serta secara bivariat menggunakan uji Chi-Square untuk mengetahui hubungan antara krisis air bersih dengan kejadian penyakit pada masyarakat.

Hasil yang diharapkan menunjukkan penurunan kualitas fisik dan mikrobiologis sumber air bersih pasca-banjir, serta tingginya angka keluhan kesehatan seperti diare, penyakit kulit (dermatitis), dan gangguan pencernaan lainnya.

Masyarakat yang menggunakan sumber air yang telah terkontaminasi diperkirakan memiliki risiko sekitar 2–3 kali lebih tinggi mengalami gangguan kesehatan dibandingkan masyarakat yang memiliki akses terhadap air bersih. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran nyata mengenai hubungan antara krisis air bersih akibat banjir dengan kondisi kesehatan masyarakat, serta menjadi dasar rekomendasi bagi pemerintah daerah, Puskesmas, dan masyarakat dalam upaya mitigasi dan penanganan dampak kesehatan pasca-banjir.

Secara hidrologis, banjir terjadi ketika volume air permukaan melampaui kapasitas tampung sungai, sistem drainase, maupun daya resap tanah di suatu wilayah, sehingga air meluap dan menggenangi kawasan permukiman (Prahasta, 2015). Fenomena ini banyak dijumpai di wilayah yang dilintasi jaringan sungai besar, seperti Kabupaten Langkat, yang dialiri Sungai Wampu, Sungai Besitang, dan Sungai Secanggang.

Kombinasi antara curah hujan tinggi, degradasi daerah aliran sungai (DAS), dan alih fungsi lahan di sekitar bantaran sungai menjadikan sebagian besar kecamatan di Kabupaten Langkat berada pada kategori kerentanan banjir sedang hingga tinggi (InaRISK-BNPB, 2021). Namun, peta kerentanan yang tersedia saat ini masih bersifat makro dan belum secara spesifik mempertimbangkan jarak antarwilayah terhadap badan sungai sebagai salah satu determinan utama risiko banjir, sehingga diperlukan kajian yang lebih rinci mengenai dampaknya pada tingkat komunitas.

Salah satu dampak banjir yang paling signifikan namun sering luput dari perhatian adalah terganggunya ketersediaan air bersih. Ketika banjir terjadi, sumber air masyarakat seperti sumur gali dan aliran sungai mudah tercemar oleh lumpur, limbah domestik, maupun mikroorganisme patogen, termasuk bakteri Escherichia coli. Kondisi ini menyebabkan krisis air bersih yang pada gilirannya menurunkan kualitas kesehatan masyarakat. Beberapa penelitian terdahulu menunjukkan bahwa kualitas air bersih yang menurun berkorelasi dengan meningkatnya kejadian penyakit berbasis air (water-borne diseases), seperti diare, penyakit kulit, dan gangguan saluran pencernaan (Pratama et al., 2023; Susanti & Maulana, 2021).

Kecamatan Tanjung Pura, Kabupaten Langkat, merupakan salah satu wilayah yang kerap mengalami banjir akibat luapan sungai, termasuk Sungai Batang Serangan. Genangan air yang berlangsung lama tidak hanya merusak infrastruktur sanitasi, tetapi juga memaksa masyarakat menggunakan sumber air yang sebenarnya sudah tidak layak konsumsi karena keterbatasan alternatif, terutama pada masa tanggap darurat. Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menegaskan bahwa banjir merupakan bencana yang paling sering terjadi di Indonesia dan berdampak langsung terhadap krisis air bersih serta kesehatan masyarakat.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia juga menyatakan bahwa keterbatasan air bersih dan sanitasi yang buruk menjadi faktor utama meningkatnya penyakit menular, khususnya pada saat dan setelah banjir. Hal ini diperkuat oleh data
Badan Pusat Statistik yang menunjukkan bahwa wilayah yang sering terdampak banjir cenderung memiliki angka kejadian penyakit berbasis lingkungan yang lebih tinggi.

Meskipun sejumlah penelitian sebelumnya telah mengkaji dampak banjir terhadap kesehatan masyarakat maupun permasalahan krisis air bersih secara terpisah, kajian yang secara spesifik menghubungkan kedua aspek tersebut pada tingkat komunitas terdampak—khususnya di wilayah Tanjung Pura, Kabupaten Langkat—masih terbatas. Sebagian besar penelitian terdahulu masih berfokus pada dampak umum banjir, kondisi sanitasi secara umum, atau upaya edukasi dan intervensi kesehatan, tanpa mengaitkan secara langsung rantai sebab-akibat antara krisis air bersih pascabanjir dan pola penyakit yang muncul di masyarakat.

Pemanfaatan pendekatan deskriptif analitik dalam penelitian ini diharapkan mampu memberikan gambaran yang lebih menyeluruh mengenai kondisi ketersediaan air bersih, jenis penyakit yang dialami masyarakat, serta keterkaitan di antara keduanya.

Berdasarkan uraian tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dampak banjir terhadap penurunan kualitas kesehatan masyarakat yang disebabkan oleh krisis air bersih di wilayah Tanjung Pura, Kabupaten Langkat. Secara khusus, penelitian ini diarahkan untuk menggambarkan kondisi ketersediaan air bersih selama dan setelah banjir, mengidentifikasi jenis-jenis penyakit yang dialami masyarakat akibat kondisi tersebut, serta menganalisis hubungan antara keterbatasan air bersih dengan kondisi kesehatan masyarakat setempat. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar rekomendasi bagi pemerintah daerah, tenaga kesehatan, dan masyarakat dalam upaya mitigasi risiko kesehatan akibat banjir di
masa mendatang.

Metode Penelitian

1. Jenis dan Desain Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif analitik. Metode ini dipilih untuk menggambarkan kondisi krisis air bersih yang terjadi di Kecamatan Tanjung Pura sekaligus menganalisis dampaknya terhadap penurunan kualitas kesehatan masyarakat secara sistematis. Pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi atau pengukuran terhadap variabel krisis air bersih dan kondisi kesehatan masyarakat pada waktu yang sama, baik saat banjir berlangsung maupun setelah banjir terjadi di lokasi penelitian.

2. Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan di Desa Pematang Tengah, Kecamatan Tanjung Pura, Kabupaten Langkat, dengan fokus pada desa yang memiliki tingkat risiko banjir cukup tinggi, sepert Desa Pematang Tengah atau wilayah di sekitar bantaran Sungai Batang Serangan. Penelitian dilaksanakan pada tahun 2026.

3. Populasi dan Sampel
Populasi penelitian ini adalah seluruh Masyarakat tinggal di wilayah terdampak banjir di Kecamatan Tanjung Pura, Kabupaten Langkat. Sampel penelitian dipilih menggunakan teknik random sampling, yaitu pemilihan responden berdasarkan kriteria tertentu, misalnya rumah tangga yang terendam banjir lebih dari tiga hari dan mengalami kesulitan akses air bersih.

4. Teknik Pengumpulan Data
Data dalam penelitian ini diperoleh dari dua jenis sumber.
 Data primer dikumpulkan secara langsung melalui observasi kondisi sumber air serta
wawancara dengan masyarakat terdampak menggunakan kuesioner.
 Data sekunder diperoleh dari dokumen atau laporan, seperti data dari Puskesmas Tanjung Pura dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Langkat mengenai jumlah korban terdampak dan sebaran penyakit di masyarakat.

5. Instrumen Penelitian
Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data terdiri atas kuesioner, lembar observasi, dan alat pendukung. Kuesioner berisi pertanyaan terstruktur terkait identitas responden, sumber air yang digunakan, serta keluhan kesehatan selama dan setelah banjir. Lembar observasi digunakan untuk mencatat kondisi lingkungan, kualitas air, serta keberadaan limbah atau sampah di sekitar sumber air.
Alat pendukung berupa kamera digunakan untuk dokumentasi kondisi lapangan, serta alat tulis untuk pencatatan data masyarakat.

6. Analisis Data
Data yang telah dikumpulkan diolah melalui beberapa tahapan, yaitu editing untuk memeriksa kelengkapan dan kejelasan data dari kuesioner; coding untuk memberikan kode pada setiap jawaban guna mempermudah proses pengolahan; dan entry data untuk memasukkan data ke dalam aplikasi pengolah data seperti SPSS atau Microsoft Excel. Analisis univariat digunakan untuk melihat distribusi masing-masing variabel, misalnya persentase warga yang mengalami diare atau proporsi sumber air yang tercemar.

Hasil dan Pembahasan
A. Gambaran Umum Wilayah Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Desa Pematang Tengah, Kecamatan Tanjung Pura, Kabupaten Langkat. Berdasarkan data kependudukan desa, jumlah kelompok rentan yang teridentifikasi cukup signifikan, terdiri atas 60 bayi, 290 balita, 82 anak prasekolah, 59 ibu hamil, 59 ibu nifas, serta 110 lansia (40 lansia aktif dan 70 lansia non-aktif). Besarnya proporsi kelompok rentan ini penting untuk diperhatikan, mengingat kelompok tersebut secara fisiologis memiliki daya tahan tubuh yang lebih rendah sehingga lebih berisiko mengalami gangguan kesehatan akibat krisis air bersih pascabanjir.
Dari sisi sosial ekonomi, dari total 985 kepala keluarga (KK) di desa ini, sebanyak 381 KK, (38,7%) tergolong keluarga kurang mampu, dengan rincian 130 KK penerima Program Keluarga Harapan (PKH) dan 251 KK penerima Bantuan Pangan Non-Tunai (BPNT). Kondisi sosial ekonomi ini turut memengaruhi kemampuan rumah tangga dalam mengakses alternatif sumber air bersih yang layak selama masa darurat banjir, seperti membeli air kemasan atau menggunakan jasa penjernihan air mandiri.
B. Dampak Kesehatan Masyarakat Pascabanjir
Data kesehatan yang dihimpun dari desa dan fasilitas kesehatan setempat menunjukkan adanya penurunan kualitas kesehatan masyarakat yang cukup nyata pascabanjir. Temuan paling dominan di lapangan adalah tingginya kasus penyakit kulit berupa gatal-gatal, yang tercatat dialami oleh sebagian besar warga terdampak dan secara eksplisit dikaitkan dengan krisis air bersih akibat banjir. Selain penyakit kulit, tercatat pula 51 warga mengalami gangguan kesehatan lain, dengan rincian sebagai berikut:
Meskipun sebagian penyakit di atas (seperti diabetes dan jantung) tergolong penyakit tidak menular yang tidak secara langsung disebabkan oleh banjir, tingginya angka penyakit kulit yang eksplisit dikaitkan dengan krisis air bersih memperkuat dugaan awal penelitian bahwa kontak dengan sumber air yang tercemar pascabanjir menjadi faktor risiko dominan gangguan kesehatan berbasis lingkungan di Desa Pematang Tengah. Selain itu, munculnya 2 kasus stres/gangguan psikologis juga mengindikasikan bahwa dampak banjir tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga berpotensi memengaruhi kondisi psikososial masyarakat, sejalan dengan temuan bahwa bencana hidrometeorologi kerap menimbulkan beban
psikologis bagi masyarakat terdampak.
C. Karakteristik Responden Kuesioner
Kuesioner penelitian berhasil dihimpun dari 34 responden yang tersebar di empat dusun, dengan rincian

Dusun Harapan sebanyak 16 responden, Dusun Fajar 9 responden, Dusun Pelangi 6 responden, dan Dusun Kesuma 3 responden. Mayoritas responden bekerja sebagai ibu rumah tangga (lebih dari 75% responden), sedangkan sisanya bekerja sebagai wiraswasta, guru, buruh, pensiunan, dan produsen dodol rumahan. Dominannya responden ibu rumah tangga ini relevan dengan fokus penelitian, mengingat kelompok ini umumnya berperan besar dalam pengelolaan air bersih dan sanitasi rumah tangga sehari-hari.
D. Tingkat Pengetahuan Masyarakat tentang Air Bersih dan Kesehatan

Pascabanjir Hasil rekap kuesioner (pre-test) menunjukkan bahwa secara umum tingkat pengetahuan masyarakat Desa Pematang Tengah mengenai air bersih dan risiko kesehatan pascabanjir tergolong baik, dengan skor rata-rata sebesar 85,6 (skala 0–100; median 95, dengan rentang skor 30–100). Sebanyak 17 dari 34 responden (50%) bahkan memperoleh skor sempurna (100), yang mengindikasikan bahwa mayoritas masyarakat telah cukup memahami konsep dasar air bersih dan kaitannya dengan kesehatan.
Namun demikian, ketika ditelaah per butir pertanyaan, ditemukan beberapa area pengetahuan yang masih perlu diperkuat, sebagaimana dirangkum pada tabel berikut:
Aspek Pengetahuan Persentase Jawaban Benar
Pengertian air bersih 94,1%
Ciri air yang tidak layak pakai 76,5%
Penyakit akibat air kotor 85,3%
Manfaat cuci tangan dengan sabun 85,3%
Penyebab penyakit kulit pascabanjir 85,3%
Dampak krisis air bersih 94,1%
Dampak utama banjir terhadap kesehatan 76,5%
Cara pencegahan penyakit pascabanjir 82,4%
Akibat sampah menumpuk pascabanjir 91,2%
Kerentanan anak-anak dan lansia 85,3%
Dua aspek dengan tingkat pemahaman terendah adalah "dampak utama banjir terhadap kesehatan masyarakat" dan "ciri air yang tidak layak pakai", masing-masing dengan 76,5% jawaban benar.
Pada aspek pertama, sebanyak 7 responden (20,6%) keliru menganggap bahwa banjir justru membuat lingkungan menjadi lebih bersih, sedangkan pada aspek kedua, 5 responden (14,7%) belum dapat membedakan ciri fisik air yang tercemar. Temuan ini mengindikasikan adanya kesenjangan pemahaman terkait dampak tidak langsung banjir terhadap kualitas lingkungan dan kesehatan, meskipun pengetahuan dasar mengenai definisi air bersih dan pentingnya cuci tangan sudah relatif tinggi.
E. Pembahasan
Secara keseluruhan, hasil penelitian ini memperkuat temuan-temuan sebelumnya bahwa banjir berkontribusi terhadap penurunan kualitas kesehatan masyarakat melalui jalur krisis air bersih (Pratama et al., 2023; Rahmawati et al., 2023). Tingginya kasus penyakit kulit di Desa Pematang Tengah sejalan dengan penelitian Susanti dan Maulana (2021) yang menemukan hubungan erat antara sanitasi air bersih dengan kejadian penyakit kulit di wilayah banjir. Kontak berulang dengan air yang tercemar lumpur, limbah, dan mikroorganisme patogen pascabanjir diduga menjadi mekanisme utama di balik tingginya angka kejadian gatal-gatal pada warga terdampak.
Menariknya, tingkat pengetahuan masyarakat yang tergolong baik (rata-rata skor 85,6) belum sepenuhnya sejalan dengan tingginya angka kejadian penyakit kulit di lapangan. Kondisi ini mengindikasikan adanya kesenjangan antara pengetahuan (knowledge) dan praktik (practice) masyarakat—suatu fenomena yang umum ditemukan dalam studi perilaku kesehatan pascabencana.
Keterbatasan akses terhadap sumber air alternatif yang layak, terutama pada 381 KK kategori kurang mampu, kemungkinan besar memaksa masyarakat tetap menggunakan air yang sebenarnya sudah diketahui tidak layak, karena ketiadaan pilihan lain selama masa darurat banjir. Hal ini sejalan dengan teori kesehatan lingkungan yang menyatakan bahwa faktor keterpaksaan situasional dapat mengesampingkan pengetahuan yang telah dimiliki seseorang (forced non-compliance).
Selain itu, rendahnya pemahaman masyarakat mengenai dampak tidak langsung banjir terhadap lingkungan mengindikasikan perlunya penguatan edukasi kesehatan yang tidak hanya berfokus pada definisi dan ciri fisik air bersih, tetapi juga pada mekanisme pencemaran lingkungan pascabanjir secara lebih menyeluruh. Temuan munculnya kasus stres/gangguan psikologis, meski jumlahnya kecil, juga mengisyaratkan perlunya perhatian terhadap aspek kesehatan mental masyarakat pascabencana yang selama ini kerap terabaikan dalam program tanggap darurat banjir.

Penulis adalah mahasiswa Program Studi D3 Kebidanan Fakultas Kesehatan Universitas Satya Terra Bhinneka

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik
No topics for this article yet.

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement