Dapur Hijau Perkuat Ketahanan Pangan Keluarga Pascabencana di Aceh TamiangDapur Hijau Perkuat Ketahanan Pangan Keluarga Pascabencana di Aceh Tamiang

Oleh: Tim pelaksana program Zidni Ilman Navia, S.Si., M.Si. (Ketua) bersama Ir. Adnan, M.P. dan Dr. Adi Bejo Suwardi, S.Si., M.Si (anggota)
Pendahuluan
Tim dosen Universitas Samudra melaksanakan Program Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM) bertajuk “Pemberdayaan Perempuan melalui Inovasi Dapur Hijau untuk Penguatan Resiliensi Pangan Keluarga Pascabencana di Desa Paya Udang, Aceh Tamiang” bersama TP-PKK Kampung Paya Udang, Kecamatan Seruway, Kabupaten Aceh Tamiang.
Program yang memperoleh pendanaan melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat Tahun Anggaran 2026 ini diarahkan untuk membantu masyarakat membangun kembali kemampuan keluarga dalam menyediakan pangan segar secara mandiri setelah terdampak bencana banjir.
Pelaksanaan program dimulai sejak Juni 2026 melalui koordinasi dengan pemerintah kampung dan TP-PKK Kampung Paya Udang. Tahap awal tersebut dilakukan untuk menyelaraskan rencana pelaksanaan, mengidentifikasi kebutuhan masyarakat, menentukan rumah tangga sasaran, serta menyesuaikan teknologi yang akan diterapkan dengan kondisi aktual pascabencana.
Memasuki Juli hingga Agustus 2026, kegiatan dilanjutkan melalui sosialisasi, pelatihan, praktik budidaya, serta penerapan teknologi Dapur Hijau bersama kader TP-PKK dan masyarakat sasaran. Pendampingan dan monitoring-evaluasi selanjutnya terus dilakukan hingga September 2026 untuk melihat perkembangan tanaman, penerapan teknologi, peningkatan keterampilan masyarakat, serta keberlanjutan pengelolaan program.
Memulihkan Pekarangan Pascabencana
Program Dapur Hijau dikembangkan sebagai respons terhadap sulitnya pemanfaatan kembali pekarangan setelah banjir. Sebagian lahan pekarangan warga mengalami kondisi berlumpur, lembap, dan berisiko mengalami genangan berulang sehingga budidaya yang mengandalkan tanah secara langsung belum dapat dilakukan secara optimal.
Kondisi tersebut berdampak terhadap ketersediaan sayur, bumbu, dan tanaman rumah tangga yang sebelumnya dapat diperoleh dari pekarangan sendiri. Pada fase awal pemulihan, sebagian besar pekarangan belum siap ditanami sehingga ketergantungan keluarga terhadap pasokan pangan dari luar kampung meningkat.
Di tengah kondisi tersebut, TP-PKK Kampung Paya Udang memiliki modal sosial yang kuat. Sebelum bencana, kelompok ini telah terbiasa melakukan pemanfaatan pekarangan melalui penanaman sayuran dan tanaman obat keluarga. Struktur organisasi dan semangat kolektif TP-PKK yang tetap terjaga menjadi salah satu kekuatan dalam mengembangkan program pemulihan pangan berbasis masyarakat.

Pelatihan penerapan teknologi Dapur Hijau bersama kader TP-PKK dan masyarakat sasaran.
Ketua Tim Pelaksana, Zidni Ilman Navia, S.Si., M.Si menjelaskan bahwa pendekatan yang digunakan tidak hanya berfokus pada penyediaan sarana budidaya, tetapi juga pada penguatan kemampuan perempuan dalam mengelola sumber pangan keluarga secara mandiri.
“Melalui Dapur Hijau, masyarakat didorong agar dapat kembali melakukan kegiatan budidaya tanpa harus menunggu kondisi tanah pekarangan benar-benar pulih. Sistem yang diterapkan dibuat sederhana, menggunakan media tanam yang lebih bersih, dan disesuaikan dengan kondisi lingkungan pascabanjir,” ujarnya.
Perempuan Menjadi Penggerak Utama
Program ini menempatkan perempuan, khususnya kader TP-PKK, sebagai penggerak utama dalam proses pemulihan ketahanan pangan keluarga.
Kegiatan pelatihan dan praktik yang berlangsung selama Juli hingga Agustus 2026 mencakup pengenalan teknik penyemaian, penyiapan media tanam, pindah tanam, pemeliharaan tanaman, pengelolaan kelembapan, pengendalian organisme pengganggu tanaman, hingga praktik pemanenan yang bersih dan higienis.
Peserta tidak hanya menerima materi melalui penyuluhan, tetapi juga melakukan praktik secara langsung sehingga keterampilan yang diperoleh dapat segera diterapkan di lingkungan rumah masing-masing.
Kader TP-PKK juga dipersiapkan untuk berperan sebagai pendamping bagi rumah tangga sasaran. Pendekatan tersebut diharapkan memungkinkan proses transfer pengetahuan berlangsung lebih luas dan tidak berhenti setelah kegiatan pelatihan selesai.
Program Dapur Hijau menargetkan 20 rumah tangga terdampak dan/atau rentan pascabencana sebagai penerima manfaat awal. Pelaksanaan menggunakan pendekatan berbasis komunitas dengan TP-PKK sebagai pusat penggerak dan rumah tangga sasaran sebagai pelaksana budidaya di tingkat keluarga.
Didukung Penyuluh Pertanian Setempat
Dalam pelaksanaannya, kegiatan Dapur Hijau juga mendapat dukungan teknis dari penyuluh pertanian Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Wilayah Seruway.
Dua penyuluh pertanian, Saleh, S.P. dan Nur Cahaya, S.P., turut mendampingi kegiatan dan membantu memberikan penyuluhan kepada kader TP-PKK serta masyarakat sasaran.
Keterlibatan penyuluh pertanian tersebut berkembang selama pelaksanaan program sebagai bentuk dukungan teknis terhadap kebutuhan masyarakat di lapangan. Kehadiran penyuluh membantu memperkuat materi dan praktik mengenai teknik budidaya, pemeliharaan tanaman, serta penanganan berbagai persoalan yang dapat muncul selama proses penanaman.
Kolaborasi di lapangan tersebut juga memberi nilai tambah bagi program karena penyuluh memiliki pengalaman pendampingan masyarakat serta memahami kondisi pertanian dan lingkungan di wilayah Seruway.
Dengan demikian, proses pemberdayaan tidak hanya bertumpu pada transfer pengetahuan dari perguruan tinggi kepada masyarakat, tetapi diperkuat oleh dukungan tenaga penyuluh yang sehari-hari berinteraksi dengan masyarakat setempat.
Teknologi Disesuaikan dengan Kondisi Lapangan
Salah satu teknologi yang diterapkan dalam program adalah rak bedengan tinggi satu tingkat sebagai tempat penataan tanaman dalam polybag atau wadah budidaya.
Desain teknologi tersebut disesuaikan berdasarkan hasil pengamatan kondisi lapangan dan kebutuhan pengguna. Posisi media tanam dibuat lebih tinggi dari permukaan tanah sehingga tanaman tidak berkontak langsung dengan tanah berlumpur dan lebih terlindungi dari risiko genangan.

Lokasi penerapan teknologi Dapur Hijau di Desa Paya Udang, Aceh Tamiang.
Model rak satu tingkat juga memberikan kemudahan bagi kader TP-PKK dan masyarakat dalam melakukan penanaman, penyiraman, pemeliharaan, monitoring hingga pemanenan. Bentuknya yang relatif sederhana diharapkan memudahkan pemanfaatan sekaligus membuka peluang replikasi oleh masyarakat.
Penyesuaian desain tersebut tidak mengubah tujuan utama inovasi Dapur Hijau, yaitu memungkinkan kegiatan budidaya tetap berlangsung pada lingkungan pascabanjir tanpa harus menunggu kondisi tanah pekarangan pulih sepenuhnya.
Bank Bibit Desa Jaga Keberlanjutan
Selain penerapan Dapur Hijau pada rumah tangga, program juga mengembangkan Bank Bibit Desa yang dikelola bersama kader TP-PKK. Bank Bibit Desa berfungsi sebagai pusat penyemaian, perawatan, dan distribusi bibit sayuran serta tanaman bumbu.
Keberadaan fasilitas ini diharapkan dapat membantu menjamin kontinuitas ketersediaan bibit sekaligus mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap pasokan bibit dari luar. Pengelolaannya dilakukan melalui sistem pencatatan sederhana yang memuat jenis dan jumlah bibit yang disemai, perkembangan bibit, hingga distribusinya kepada rumah tangga sasaran.
Bank Bibit Desa juga diproyeksikan sebagai pusat pembelajaran bagi kader dan masyarakat sehingga kegiatan budidaya dapat terus berlangsung setelah periode pendampingan program berakhir.
Pendampingan Berlanjut hingga September
Setelah tahapan pelatihan dan praktik, tim Universitas Samudra bersama kader TP-PKK terus melakukan pendampingan untuk memastikan teknologi dan keterampilan yang diperkenalkan benar-benar dapat diterapkan oleh masyarakat.
Monitoring dilakukan terhadap perkembangan tanaman, praktik pemeliharaan, penerapan budidaya yang aman, pengelolaan Bank Bibit Desa, serta kemampuan kader dalam memberikan pendampingan kepada rumah tangga sasaran.
Dukungan penyuluh pertanian BPP Wilayah Seruway juga memperkuat proses pendampingan teknis di lapangan, khususnya dalam membantu masyarakat memahami praktik budidaya dan menyelesaikan kendala teknis yang ditemukan selama pelaksanaan kegiatan.
Rangkaian monitoring dan evaluasi dilaksanakan hingga September 2026. Evaluasi diarahkan untuk melihat perkembangan pelaksanaan program, peningkatan pengetahuan dan keterampilan masyarakat, keberhasilan penerapan teknologi, perkembangan produksi pangan rumah tangga, serta kesiapan mitra dalam melanjutkan kegiatan secara mandiri.
Program Dapur Hijau diharapkan tidak hanya menghasilkan sarana fisik, tetapi juga membangun kapasitas lokal dan sistem pendampingan yang dapat mendukung keberlanjutan pemanfaatan pekarangan.
Melalui sinergi Universitas Samudra, Pemerintah Kampung Paya Udang, TP-PKK, penyuluh pertanian BPP Wilayah Seruway, dan masyarakat, Dapur Hijau diharapkan dapat berkembang menjadi model sederhana pemulihan pangan keluarga yang adaptif dan dapat direplikasi pada kawasan dengan risiko banjir serupa.
Tim pelaksana program terdiri atas Zidni Ilman Navia, S.Si., M.Si. sebagai ketua, bersama Ir. Adnan, M.P. dan Dr. Adi Bejo Suwardi, S.Si., M.Si. sebagai anggota. Kegiatan juga melibatkan mahasiswa Universitas Samudra dalam pelatihan, pendampingan budidaya, monitoring, dokumentasi, serta pengelolaan Bank Bibit Desa. Kegiatan ini juga melibatkan mahasiswa dari Prodi Biologi, Pendidikan Biologi, dan Agroteknologi. WASPADA.id
* Program ini didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat Tahun Anggaran 2026.


























Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda