Dari Setetes Air Menjadi Harapan Daerah: Saat “Ie Loen” Mengalirkan Mimpi Ekonomi Aceh Utara


"Ie Loen bukan sekadar air minum dalam kemasan. Ia adalah bukti bahwa ketika sumber daya lokal dikelola dengan baik, setiap tetesnya dapat berubah menjadi pendapatan, pekerjaan, dan masa depan." — Direktur Utama Perumda Tirta Pase, Imran, S.T., M.S.M.
Di tanah yang dialiri Krueng Pase, tempat kehidupan tumbuh dari sawah, kebun, dan denyut pasar rakyat, kini lahir sebuah harapan baru dari sesuatu yang selama ini dianggap biasa: air.
Bukan sekadar air minum dalam kemasan, melainkan sebuah ikhtiar panjang yang dibotolkan dalam nama sederhana, tetapi sarat makna, “Ie Loen”. Dalam bahasa Aceh, istilah itu berarti air saya, sebuah ungkapan kepemilikan yang terasa akrab sekaligus menyimpan pesan tentang kemandirian ekonomi daerah.
Selasa, 20 Oktober 2026, di kompleks pabrik Perumda Tirta Pase, Gampong Meunasah Reudeup, Kecamatan Lhoksukon, langkah baru itu resmi dimulai. Di hadapan jajaran pemerintah, Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), perbankan, dan masyarakat, Bupati Aceh Utara Ismail A. Jalil atau Ayahwa meluncurkan produk air minum dalam kemasan (AMDK) lokal yang digadang-gadang menjadi salah satu sumber penguatan Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Momentum itu bukan sekadar seremoni memotong pita atau menekan tombol peluncuran. Ini merupakan penanda bahwa Aceh Utara sedang berusaha mengubah sumber daya yang mengalir dari perut bumi menjadi mesin ekonomi yang memberi nilai tambah bagi daerahnya sendiri.
“Alhamdulillah, hari ini, Selasa (20/10/2026), Bapak Bupati Aceh Utara, Ismail A. Jalil, telah dengan resmi meluncurkan produk Ie Loen. Semoga, setelah hari ini, masyarakat dapat mencintai produk sendiri. Dengan begitu, nantinya, Ie Loen akan menjadi produk yang menghasilkan PAD bagi Aceh Utara,” sebut Imran.
Air yang Tak Lagi Sekadar Mengalir
Air selama ini mengalir diam-diam. Ia hadir di keran rumah, membasahi sawah petani, menyegarkan tenggorokan yang kehausan, lalu hilang tanpa banyak mendapat perhatian.
Namun, di era ekonomi modern, air bukan hanya kebutuhan dasar. Air telah menjadi komoditas bernilai tinggi, industri yang menciptakan lapangan kerja, memutar rantai distribusi, dan menghasilkan pendapatan bagi daerah. Kesadaran itulah yang kini coba ditangkap Aceh Utara melalui “Ie Loen”.
Ayahwa, sebut Imran, meminta seluruh instansi pemerintahan di Aceh Utara menjadi garda terdepan dalam menggunakan produk lokal tersebut. Sebelum merambah pasar yang lebih luas, produk itu harus lebih dahulu hidup di rumahnya sendiri.
Pesan itu sederhana, tetapi strategis. Sebab, keberhasilan sebuah produk lokal tidak hanya ditentukan oleh kualitas produksi, melainkan juga oleh keberpihakan masyarakat dalam mengonsumsi hasil daerahnya sendiri.
Di balik sebotol air, terdapat harapan agar uang belanja masyarakat tidak lagi mengalir keluar daerah, melainkan berputar di wilayah sendiri, memperkuat ekonomi lokal dari hulu hingga hilir.
Investasi Raksasa dan Tuntutan Kinerja
Di tengah peresmian itu, Ayahwa menyampaikan angka yang membuat banyak orang menoleh. Hampir Rp500 miliar anggaran telah dialokasikan pemerintah daerah untuk pengembangan usaha daerah melalui Tirta Pase.
Angka tersebut bukan nominal kecil bagi sebuah pemerintah kabupaten. Itu merupakan investasi besar yang lahir dari kepercayaan bahwa perusahaan daerah harus mampu menjadi lokomotif ekonomi. Karena itu, Ayahwa menegaskan bahwa setiap rupiah yang ditanam harus dibalas dengan hasil nyata.
“Tak boleh ada kebocoran. Tak boleh ada ruang untuk inefisiensi,” sebut Ismail A. Jalil seusai memotong pita peluncuran produk Ie Loen.
Dalam bahasa ekonomi, pesan itu merupakan dorongan menuju tata kelola yang sehat. Dalam bahasa rakyat, itu berarti uang daerah harus kembali menjadi manfaat bagi daerah. Tak hanya mengejar keuntungan, Ayahwa juga mengingatkan pentingnya kesejahteraan para pekerja.
Baginya, keberhasilan perusahaan bukan semata-mata tentang grafik pendapatan yang menanjak, tetapi juga tentang karyawan yang menerima haknya tepat waktu. Sebab, di balik pabrik yang berdiri megah dan mesin yang bekerja tanpa henti, terdapat keluarga-keluarga yang menggantungkan harapan hidup pada setiap lembar gaji yang dibawa pulang.
Menempuh Jalan Panjang Bernama Tirta Pase
Keberadaan “Ie Loen” hari ini sesungguhnya bukan cerita yang lahir dalam semalam. Produk ini merupakan buah dari perjalanan panjang pengelolaan air minum Aceh Utara yang penuh tikungan sejarah.
Pada kesempatan itu, Imran mengisahkan bagaimana perusahaan tersebut bermula dari BPAM dengan kapasitas produksi hanya 55 liter per detik dan 2.084 pelanggan yang mengandalkan sumur dalam di Paya Leupah, Simpang Keuramat. Sejak masa itu, sebutnya, jalan yang ditempuh tidak selalu mulus.
Kerja sama investasi internasional dengan perusahaan Belanda senilai sekitar Rp307 miliar pernah dirancang pada 1989, tetapi kandas sebelum terealisasi. Upaya berikutnya bersama PT Sarana Asa Putra Utama juga tidak mampu bertahan akibat hantaman krisis moneter 1998.
Namun, seperti aliran sungai yang selalu mencari jalan menuju muara, pembangunan sektor air minum terus bergerak.
Tahun 2002 menjadi titik kebangkitan melalui program PAMSUSD-P yang didukung dana pinjaman ADB. Dari sana, lahir Water Treatment Plant (WTP) Krueng Pase, disusul beroperasinya instalasi pengolahan air (IPA) Lhoksukon yang hingga kini menjadi tulang punggung penyediaan air bersih bagi masyarakat.
Kini, kata Imran, jumlah pelanggan telah melonjak menjadi sekitar 53.000 sambungan rumah. Dari dua ribu pelanggan menjadi puluhan ribu pelanggan, Tirta Pase tidak hanya sedang menjual air, tetapi juga menjual kepercayaan publik yang dibangun selama puluhan tahun.
Dari Lumpur Menjadi Ruang Harapan
Transformasi Tirta Pase tidak hanya terjadi pada sisi bisnis. Lahan seluas 1,3 hektare yang sebelumnya menjadi kawasan penampungan lumpur kini berubah menjadi ruang terbuka hijau dan kawasan wisata air. Perubahan itu menghadirkan simbol kuat tentang arah pembangunan yang sedang ditempuh.
“Bahwa sesuatu yang sebelumnya dianggap beban dapat diubah menjadi nilai. Bahwa limbah dapat disulap menjadi edukasi. Bahwa ruang yang dulunya identik dengan endapan kini menjadi ruang tumbuh harapan,” ungkap Imran kepada Waspada.id.
Di tempat itu pula, anak-anak sekolah nantinya akan belajar tentang pentingnya menjaga sumber daya air sebagai warisan kehidupan.
Ketika Teknologi dan SDM Bertemu
Perjalanan Tirta Pase juga menunjukkan wajah baru badan usaha milik daerah (BUMD) yang mulai bertransformasi. Penerapan Good Corporate Governance (GCG) bersama BPKP Perwakilan Aceh pada 2024 menjadi fondasi tata kelola yang lebih modern.
Sementara itu, pembangunan Control Room berbasis Supervisory Control and Data Acquisition (SCADA) pada 2025, yang dikembangkan oleh tenaga teknologi informasi (TI) lokal perusahaan, menunjukkan bahwa inovasi tidak selalu harus datang dari luar daerah. Anak-anak muda Aceh Utara juga mampu membangun sistem yang mengawasi layanan air minum secara waktu nyata (real time).
Di era ketika daerah-daerah berlomba mengejar digitalisasi, langkah ini menjadi bukti bahwa transformasi teknologi telah menjadi kebutuhan, bukan lagi pilihan.
Menjual Air, Menghidupkan Ekonomi
Lebih rinci, Imran menjelaskan bahwa pabrik AMDK “Ie Loen” yang kini beroperasi memiliki kapasitas produksi 20 liter per detik, setara dengan sekitar 15.000 galon per hari. Produk ini hadir dalam kemasan 300 mililiter, 600 mililiter, dan galon 19 liter.
Namun, nilai terbesar produk ini bukan terletak pada ukuran kemasannya, melainkan pada efek bergandanya.
Mulai dari tenaga kerja pabrik, distributor, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), badan usaha milik desa (BUMDes), hingga pedagang kecil, semuanya memiliki peluang menjadi bagian dari rantai ekonomi yang terbentuk.
Bahkan, program distribusi galon “Ie Loen” melalui BUMDes telah mendapat pengakuan nasional sebagai praktik terbaik (best practice) dalam laporan Voluntary National Review (VNR) SDGs oleh Bappenas pada 2025.
“Artinya, produk ini bukan hanya tentang bisnis, tetapi juga tentang pemberdayaan ekonomi masyarakat akar rumput,” kata Imran.
Mengalir Menuju Masa Depan
Perjalanan Tirta Pase memang belum selesai. Banjir yang pernah merusak infrastruktur pengolahan air dan jaringan distribusi menjadi pengingat bahwa tantangan akan selalu ada. Namun, di tengah berbagai dinamika itu, peluncuran “Ie Loe
n” membawa pesan yang lebih besar daripada sekadar hadirnya merek baru di rak-rak toko.
Ini adalah cerita tentang daerah yang berusaha berdiri di atas kekuatannya sendiri. Tentang bagaimana setetes air dapat berubah menjadi sumber pendapatan. Tentang bagaimana investasi, teknologi, tata kelola, dan keberpihakan terhadap produk lokal dapat bertemu dalam satu tujuan: kesejahteraan masyarakat.
Dan ketika tutup botol pertama “Ie Loen” dibuka, kata Imran, yang mengalir sesungguhnya bukan hanya air, melainkan optimisme bahwa dari tanah Pase, ekonomi daerah dapat tumbuh, mengalir, dan menemukan muaranya sendiri. (Maimun Asnawi, S.HI., M.Kom.I/WASPADA.id)
Berita Terkait





































Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda