DEBURAN OMBAK SILAM (1) CERPEN AGUSNI AH

PENGANTAR REDAKSI
Agusni AH kembali bernostalgia lewat cerpen berjudul "Deburan Ombak Silam". Cerpen ini mengisahkan perjuangan seorang bocah pencari benur bandeng di tepian pantai kampung nelayan tempat tokoh "Aku" dilahirkan dan dibesarkan. Sebuah kisah tentang kerja keras, harapan, dan kenangan masa kecil yang menggelayut dalam ingatan seperti deburan ombak yang tak pernah berhenti. Pembaca dapat membacanya berikut ini:
DEBURAN OMBAK SILAM (1)
EMPAT puluh tahun silam, aku mulai berlayar mengarungi kehidupan. Pantai gampong nelayan, tempat aku dilahirkan dan dibesarkan, tempat madrasah pertamaku tentang kerja keras sekaligus menjadi awal mula tumbuh hasratku untuk merengkuh asa. Di antara debur ombak dan desir angin laut, aku belajar mengais rezeki. Bukan sebagai nelayan yang bertaruh nyawa di laut lepas, melainkan sebagai bocah yang saban hari, sebelum berangkat dan sepulang sekolah, ikut mendorong sareng serta menangguk benur bersama orang-orang dewasa di sepanjang pantai. Pada satu pagi, setelah
aku rehat sejenak untuk memulihkan rasa pegal lantaran kedua tangan dan pinggangku terasa seperti hendak copot akibat berkali-kali dihantam ombak. Saat itu usiaku masih kanak-kanak, belum cukup kuat untuk melawan ganasnya laut yang sedang pasang.
Banyak orang dewasa, pria maupun perempuan lebih memilih selonjoran di atas pasir kering, sekitar sepuluh meter dari riak bertemali yang datang dan pergi saling berkejaran. Air laut terus merangkak naik hingga mencapai leherku. Gelombang silih berganti menghantam tubuh, sementara arus di bawahnya tak henti-henti menyeret kaki hingga tubuh ikut terombang-ambing menyusul gelombang pecah.
Alat sareng penangkap benur bandeng yang sejak tadi kudorong terasa semakin berat. Setiap kali ombak datang, alat penangguk itu terkadang terdorong maju dan terseret ke belakang ketika air surut, arus menariknya menjauh. Aku harus mengerahkan seluruh tenaga untuk menahannya tetap pada jalur yang kuinginkan. Tubuhku terguncang-guncang, namun harapan memeroleh benur banyak membuatku bertahan di antara deburan ombak laut yang seolah tak pernah lelah menguji kekuatanku.
Awalnya aku setengah memaksa diri. Tubuhku sudah sangat penat dan lelah, namun aku berusaha mengabaikannya. Pagi buta itu aku memiliki target sederhana: mendapatkan uang yang cukup untuk jajan di sekolah. Target itulah yang membuatku tetap bertahan melawan ombak dan arus yang tanpa henti.
Aku tak menghiraukan orang-orang dewasa yang memilih duduk bercengkerama di hamparan pasir. Mereka masih memiliki banyak waktu untuk menangguk benur. Ketika air laut surut menjelang siang nanti, mereka masih bisa melanjutkan pekerjaan itu. Sementara aku terikat waktu. Pukul tujuh pagi aku sudah harus pulang untuk bersiap berangkat ke sekolah di sebuah SD Negeri yang letaknya tak begitu jauh dari rumah.
Kulirik mentari yang mulai naik di ufuk timur, cahaya langit mulai terang. Masih ada waktu sekitar setengah jam lagi. Aku kembali mendorong alat tangguk benur itu menyusuri bibir pantai. Sebelum meninggalkan laut, hasil tangkapanku akan kujual kepada Tauke Ali, pengumpul benur yang setiap pagi menunggu para penangkap benur pulang.
Benur yang kami sareng ukurannya hanya sebesar ujung lidi. Harganya dua puluh lima rupiah per ekor. Jika rezeki berpihak dan aku berhasil memeroleh seratus ekor, aku akan membawa pulang uang dua ribu lima ratus rupiah. Jumlah tersebut sudah sangat besar di penghujung era 80-an.
Dengan uang sebanyak itu, aku bukan saja bisa membeli jajanan di sekolah, tetapi juga menyisihkan sebagian besar untuk ditabung. Lagi pula, uang dua ratus rupiah sudah cukup untuk membeli sepiring mie goreng, segelas teh manis dingin, dan sebatang es lilin. Selebihnya bisa kusimpan rapat-rapat di celengan kaleng yang kuselipkan di sudut ruang rumah berkonstruksi panggung.
Pikiran tentang mie goreng, teh manis dingin, es lilin dan bunyi krang-krieng yang bertambah di dalam celengan membuat rasa lelahku berangsur-angsur menghilang. Aku kembali mendorong sareng, menantang ombak tanpa henti menguji keteguhan seorang anak kampung yang sedang mengejar impiannya sendiri.
"Sudah lama kamu di sini, sama siapa, kapan pulang ?" Tiba-tiba suara itu mengejutkanku. "Ya...Ya, Bang Ma'e." Suaraku cekak, menjawab sekenanya.
"Kapan tiba ?"
Bang Ma'e mendekat memelukku. Aku menyalaminya tanpa ragu. Walau usiaku sudah setengah abad, dan ia lebih tua dariku. Rambut, kumis dan berewoknya sudah memutih. Meski sudah lama tak berjumpa, namun kami masih sangat saling mengenali. Ia lama memeluk aku pun tak melepasnya. Dulu setiap ia pulang melaut, selalu disisihkan beberap ikan tongkol untukku. Terutama pada setiap hari Minggu atau saat-saat liburan sekolah aku menjadi aneuk itek sebagai tukang bersih-bersih dan membereskan segala peralatan perahu layar Bang Ma'e. Aku diperlakukan seperti adiknya sendiri.
"Jangan kemana-mana dulu, ya. Tungguku pulang dari melaut nanti siang usai dzuhur kita bakar-bakar ikan. Doain agar dapat ikan banyak hari ini. Awas jika kau tidak menunggu," pungkas Bang Ma'e awalnya bernada lembut namun penutup pesannya penuh mengancam dengan menyungging senyum. Ia buru-buru mendorong perahunya turun melaut. "Siap Bang Pawang," sergahku seraya menabik ke arahnya yang sudah di dalam perahu. Seperti kebiasaanku dulu, saat melepaskannya menerobos ombak. "Ternyata kau belum berubah, ya." Bang Ma'e setengah berteriak.***



























Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda