Breaking News
Memuat breaking news...

DEBURAN OMBAK SILAM (2) CERPEN AGUSNI AH

Redaksi
Redaksi
Sabtu, 13 Juni 2026 - 7.58 AM WIB
DEBURAN OMBAK SILAM (2) CERPEN AGUSNI AH
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

PENGANTAR REDAKSI

Agusni AH dalam cerpen "Deburan Ombak Silam (2)" melanjutkan rangkaian kenangan masa lalu tokoh "Aku" di kampung nelayan tempat ia dibesarkan. Di tengah nostalgia yang mengalir lirih, ia dikejutkan oleh kabar tentang Pawang Ma'e yang ditemukan dalam keadaan menyisakan misteri. Yang lebih mengherankan, pada subuh buta sebelumnya tokoh "Aku" sempat bertemu, bercakap-cakap, bahkan berpelukan dengan Pawang Ma'e.

Kisah yang menghadirkan duka, tanda tanya, sekaligus sensasi merinding ini mengajak pembaca menyusuri batas tipis antara kenangan, kenyataan, dan misteri. Selengkapnya, simak cerpen berikut ini.

DEBURAN OMBAK SILAM (2)

AKU masih berdiri di gundukan pasir yang menghampar, menyusuri kenangan masa kanak-kanak yang dahulu begitu ramai di sepanjang bibir Pantai Selat Malaka. Dulu, begitu banyak orang memenuhi pesisir ini. Tak hanya kaum pria dan perempuan tua-muda, remaja serta anak-anak seusiaku juga ikut bergelut menangguk rezeki. Para nelayan seusai Subuh turun melaut mencari ikan, lalu kembali mendarat ketika arah mata angin berbalik menjelang siang. Tak ayal, perahu-perahu layar dan boat-boat kecil bermesin diesel lalu-lalang di antara para pencari benur di tepian pantai. Gelombang yang terus menghempas pantai membuat kawasan ini nyaris tak pernah sunyi.

Ya, dulu aku juga berada di sini. Di pantai ini. Pantai yang kini mulai sepi. Banyak yang telah berubah, termasuk orang-orangnya. Bahkan, terakhir yang kuketahui, banyak di antara mereka telah berpulang; Bang Sen, Teungku Piah, Bang Nan, Apa Ni, Pawang Do Raman, Tauke Ali, dan Kak Som—satu-satunya perempuan penampung benur dan nener bandeng kala itu. Sedangkan generasiku belum satu pun jumpa, selain Bang Ma'e seniorku itu tadi pagi bertemu sebentar saat ia turun melaut yang menjalani profesinya itu sejak sedari usia remaja dulu. Tak sempat banyak bercerita, karenanya dia pun memintaku untuk menunggunya sampai ia kembali melaut siang nanti. Semoga Pawang Ma'e membawa hasilnya yang banyak seperti janjinya untuk membakar ikan seperti dulu yang kerap aku nyalakan api di bawah pohon aru, di balik rerimbun pandan duri.

Pandanganku menyisir perlahan hamparan pasir putih di sepanjang pesisir Selat Malaka. Tak banyak lagi pohon aru yang masih tegak berdiri. Kini yang tampak hanya gerumbulan semak liar dan tumpukan-tumpukan pohon pandan berduri. Beberapa batang kelapa masih tersisa. Dulu pohon-pohon itu tumbuh rindang dan sarat buah, kerap menjadi sasaran kami untuk dipanjat dan dipetik buahnya. Batangnya yang masih rendah membuat kami, anak-anak kampung saat itu, begitu mudah memanjatinya.

Angin sepoi-sepoi menyapu pantai dengan lembut, sementara air laut tampak tenang tanpa gelombang besar. Hanya matahari yang mulai terik, telah bertengger tepat di atas kepala. Namun cuaca seperti ini masih membuatku nyaman menikmati pantai yang kian sunyi.

Walau tak seindah dulu, pantai ini masih menyimpan hamparan kenangan tentang masa lalu yang penuh gempita. Di sinilah kehidupan warga nelayan berdenyut, tak terkecuali aku menggantungkan penghidupan pada kemurahan laut. Kini tak ada lagi orang-orang yang menangguk benur. Tak ada lagi pukat ikan yang ditarik beramai-ramai. Deretan sampan dan boat mesin yang dahulu memenuhi bibir pantai pun nyaris lenyap. Hanya beberapa yang masih tersisa, di antaranya perahu layar milik Pawang Ma'e.

Orang-orang di kampung pesisir ini telah beralih mata pencaharian. Nyaris setiap rumah kini dipenuhi susunan batu bata yang menjadi sumber penghasilan baru, bahkan lebih menjanjikan daripada melaut. Sementara itu, sareng benur atau nener bandeng praktis sudah tak ditemukan lagi. Para petambak kini lebih memilih membeli benur hasil hatchery yang dibudidayakan secara modern karena harganya lebih murah dan ukurannya lebih seragam. Meski demikian, daya tahan hasil penetasan tersebut kerap dianggap lebih rentan dibandingkan benur dan nener yang berasal dari alam.

Baru saja kutunaikan shalat jama' ta'khir pada waktu Ashar di bawah pohon aru yang tersisa. Namun Bang Ma'e, sapaan takzimku yang kadang pula kupanggil Pawang Ma'e sebagai penghormatan atas kemahirannya sebagai pelayar, belum juga kembali mendarat.

Sebenarnya aku sudah sangat lapar. Sejak usai Subuh tadi tak ada makanan yang kubawa, hanya sebotol besar air mineral yang sesekali kureguk. Magrib nyaris tiba. Senja perlahan turun menyelimuti bumi yang kian gelap.

Sejak pagi hingga menjelang malam, tak seorang pun kutemui selain Bang Ma'e yang turun melaut. Rasanya mustahil terus bertahan menunggunya seorang diri di tempat ini. Berbeda dengan masa lalu, pantai ini tak pernah sepi. Siang, petang, hingga larut malam bahkan menjelang pagi selalu dipenuhi orang-orang.

Kini aku mulai merasakan sesuatu yang lain. Ada firasat tak enak yang perlahan merayap, melampaui rasa cemas dan risau yang sejak tadi memenuhi batinku. Tiba-tiba bulu kudukku meremang.

Akhirnya aku memutuskan pulang. Kebetulan waktu Magrib pun telah tiba. Seusai salat di Meunasah Teupin Tirom, aku berniat mencari Bang Ma'e ke rumahnya. Siapa tahu ia telah pulang sejak siang tadi dan mengira aku sudah lebih dahulu meninggalkan pantai.

Namun aku tak melihat perahu layar Bang Ma'e mendarat. Kalau pun ia berlabuh agak jauh dari tempatku menunggu, tentu layar perahunya masih dapat kulihat dari kejauhan.

Seusai salat, aku menyalami beberapa orang yang masih kukenali. Sayangnya, tak seorang pun di antara mereka tampak mengenaliku lagi. Aku tak ingin berlama-lama berbasa-basi karena ingin segera menuju rumah Bang Ma'e.

Biar nanti saja aku memperkenalkan diri, pikirku dalam hati.

Sesampainya di sana, kulihat sejumlah warga kampung berkumpul. Dari dalam rumah terdengar lantunan rateb, orang-orang berkumpul bertahlilan. Sebuah ritual doa berjama'ah tanpa dalil yang kuat namun dilakukan turun-temurun pada setiap ada yang mebinggal dunia. Siapa yang mati ?

Jantungku mendadak berdegup lebih kencang.

"Ada apa gerangan ini ?" Batinku.

“Siapa yang meninggal ?” tanyaku tergesa, tak mampu lagi menahan rasa penasaran setelah kusampaikan salam takzim kepada kawan kecilku yang kini menjadi Imum (baca: imam) Meunasah Teupin Tirom di kampung ini.

“Pawang Ma'e,” bisik Imum Nusyah lirih di telingaku. Kami masih berangkulan erat, menuntaskan rindu yang tertahan puluhan tahun sejak perjumpaan terakhir di kampung nelayan ini.

> Aku terkesiap. Airmata yang sedari tadi kutahan akhirnya luruh tanpa mampu kubendung lagi. Dari Pawang Laot, Mat Nafi, kerabat dekat Pawang Ma'e sejak kecil. Aku mendengar kisah pilu yang menyelimuti kampung nelayan itu tanpa bisa berkata-kata. Hanya pikiranku melayang kembali pada tadi pagi. Kami saling memeluk rindu dan ia berjanji membawa ikan banyak untuk kami bakar.

Pawang Ma'e karam sepekan lalu setelah ombak besar menenggelamkan perahunya pada subuh buta saat ia sedang melaut. Sejak peristiwa itu, seluruh aktivitas warga dihentikan selama tujuh hari, sebagaimana lazim dilakukan ketika musibah besar menimpa salah seorang warga. Tradisi itu telah menjadi _risam_ yang diwariskan turun-temurun di kampung pesisir ini sebagai bentuk penghormatan kepada mereka yang ditimpa kemalangan.

“Lantas, siapa yang kupeluk tadi pagi ?” tanyaku lirih dalam hati berusaha menahan sesak yang terasa mengunci dada.***

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement