Breaking News
Memuat breaking news...

DEBURAN OMBAK SILAM (3) CERPEN AGUSNI AH

Redaksi
Redaksi
Minggu, 14 Juni 2026 - 7.37 AM WIB
DEBURAN OMBAK SILAM (3) CERPEN AGUSNI AH
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

PENGANTAR REDAKSI:

Agusni AH, dalam cerpen "Deburan Ombak Silam (3)", menutup kisah dengan nuansa duka yang mendalam. Tokoh "Aku" akhirnya harus tunduk pada kenyataan pahit tentang Bang Ma'e—yang akrab dipanggil Pawang Ma'e—sosok pelaut tangguh yang selama ini memenuhi ingatan dan kerinduannya. Setelah sekian lama berharap dan menolak percaya, ia pun menyadari bahwa Bang Ma'e benar-benar telah karam dan berpulang menghadap Sang Rabb.

Di tengah kenangan masa kecil, debur ombak, dan jejak kehidupan kampung nelayan yang terus hidup dalam ingatan, tokoh "Aku" belajar menerima takdir yang tak dapat ditolak. Cerpen ini bukan hanya berkisah tentang kehilangan seorang sahabat dan panutan, tetapi juga tentang perjalanan batin seseorang dalam berdamai dengan duka, kenangan, dan kehendak Ilahi yang selalu menyimpan rahasia di balik setiap peristiwa. Seperti halnya di dalam kisah berikut ini:

DEBURAN OMBAK SILAM (3)

AKU kembali berdiri di pantai sunyi ini setelah semalaman tak bisa memejamkan mata sepulang dari rumah Pawang Ma'e pada malam tahlilan untuknya. Seperti usai Subuh kemarin, pagi buta ini aku kembali ke sini. Pikiranku masih dipenuhi tanda tanya tentang kepergian Bang Ma'e. Apakah aku yang terjebak dalam halusinasi pada pagi kemarin, ataukah orang-orang kampung yang keliru ?

Aku belum benar-benar bisa menerima kenyataan bahwa Bang Ma'e telah karam sepekan yang lalu. Sebab, dengan mata kepalaku sendiri, aku melihatnya begitu nyata. Ia memelukku dengan hangat dan sempat bercengkerama penuh keakraban sebelum mendorong perahunya ke laut untuk mencari ikan.

Bahkan, aku masih mengingat dengan jelas ucapannya. Ia memintaku menunggu kepulangannya dari melaut karena ingin mengajakku membakar ikan hasil tangkapannya. Suara itu, senyum itu, dan sosoknya terasa begitu nyata. Bahkan rambutnya yang penuh ubanan, bewokan dan kumisnya telah memutih semua, seolah tak mungkin berasal dari seseorang yang menurut warga Gampong Teupin Tirom telah lama berpulang.

Kini, berdiri di hadapan hamparan laut yang tenang. Aku semakin sulit membedakan mana kenyataan dan mana bayang-bayang kenangan yang masih enggan melepaskanku. Aku juga merasakan bahwa ia ingin bercengkerama lebih panjang denganku. Seperti waktu dulu, ia sangat merasa terhibur dengan segala tingkah kekanak-kanakanku. Walau tak jarang sikapku merugikannya, jaring ikan dan mata pancing hanyut ke laut ketika terlepas di tanganku, waktu memberisihkan perahu. Namun ia tak pernah marah. Tidak seperti orang pesisir lainnya yang bicaranya kasar walau terkadang tak begitu besar kesalahannya. Tapi, langsung besar-besar suaranya. Memang demikian orang-orang pesisir, namun sejujurnya hati mereka pada umumnya sangat baik dan penyayang.

Aku masih berharap Bang Ma'e cepat-cepat kembali pulang dari melaut, membawa hasil tangkapannya seperti dijanjikannya, mengajakku membakar ikan bersama sebagai sebentuk reuni setelah sekian lama kami tak pernah bersua. Aku ingin kembali menikmati serpihan masa kanak-kanak yang pernah kami bagi puluhan tahun lalu. Bang Ma'e yang membawa ikan, aku yang menyalakan api di bawah pohon aru. Bang Ma'e selalu memberiku ruang istimewa di antara aneuk-aneuk iteuk lainnya kala itu, membuatku merasa lebih dekat dengannya dibandingkan dengan anak-anak seusiaku yang lain.

Rasa rinduku kepadanya masih menggantung, tak ubahnya awan kelabu yang enggan beranjak dari langit. Bersamaan dengan itu, penasaranku semakin menggelayut tentang apa yang sebenarnya terjadi. Jika benar Bang Ma'e telah karam dan berpulang sepekan yang lalu, lantas siapakah sosok yang kutemui di pantai kemarin pagi ? Siapakah yang memelukku dengan hangat, mengajakku bercengkerama, dan memintaku menunggu kepulangannya dari laut ? Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di benakku, berbaur dengan desir angin dan debur ombak yang seakan menyimpan rahasia yang belum terungkap.

"Ini sudah memasuki hari kedelapan Pawang Ma'e berpulang."

Tiba-tiba suara Pawang Laot Mat Nafi terdengar dari arah belakang, seolah hendak meyakinkanku tentang kenyataan yang terus kutolak. Aku sontak terkesiap. Lamunanku buyar seketika. Di dalam dada, kegundahan semakin menghimpit sanubari, mengaduk-aduk perasaan yang saling bertentangan, antara rindu yang belum tuntas dan ketidakpercayaan yang masih bercokol kuat di benakku.

Aku menoleh perlahan ke arahnya. Namun pandanganku segera kembali tertuju ke hamparan laut yang membentang di depan. Entah mengapa, hingga detik itu aku masih berharap melihat sebuah perahu muncul dari kejauhan, lalu sosok Bang Ma'e berdiri di atasnya sambil melambaikan tangan dan memanggil namaku seperti dulu. Namun yang tampak hanyalah riak ombak yang berkejaran menuju pantai, seakan membawa pergi harapan yang terus berusaha kupertahankan.

Pawang Laot Mat Rafi mengajakku pulang. Ia bermaksud mengantarkanku ke pemakaman Bang Ma'e. Antara rindu dan duka membilur pikiran serta hatiku yang masih menyimpan harapan bahwa Bang Ma'e masih hidup dan akan kembali seperti dulu. Namun kali ini aku tak mampu lagi menolak kenyataan. Takdir Allah Ta'ala telah memanggilnya pulang menghadap Ilahi Rabbi.

Setelah anak dan istri Bang Ma'e meyakinkanku di hadapan pusaranya, barulah aku benar-benar menyadari bahwa semua yang kudengar bukanlah kabar yang keliru. Aku hanya bisa berurai airmata, membiarkan kesedihan mengalir bersama kenangan tentang dirinya. Dengan tangan menengadah dan hati yang dipenuhi doa, kupanjatkan harapan kepada Allah Subhanahu Wata'ala agar Bang Ma'e diampuni segala khilafnya, dilapangkan kuburnya, serta ditempatkan sebagai penghuni Surga . Aamiin.***

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement