Denyut Rp300 Juta Per Hari: Saat Ruh 800 Tahun Samudera Pasai Menghidupkan Dapur Rakyat


Aroma bubuk kopi yang pekat beradu tajam dengan wangi bumbu mi yang menumis di atas wajan besar. Di sudut lain, tawa anak-anak pecah, bersahutan dengan derit wahana permainan komidi putar yang berputar konstan. Di atas lahan seluas lebih dari sepuluh hektar di Landing, Lhoksukon itu, tanah Aceh Utara yang biasa senyap, tiba-tiba berubah menjadi lautan manusia yang bergemuruh.
Pemerintah Kabupaten Aceh Utara baru saja mengetuk palu takdir: Peringatan Milad ke-800 Tahun Samudera Pasai bukan lagi sekadar upacara seremonial yang kaku. Ia telah bermutasi menjadi sebuah karnaval budaya raksasa, sebuah ruang temu yang memicu efek domino ekonomi bagi rakyat kecil secara musiman.
Gelombang Manusia di Bahu Jalan Nasional
Jika Anda berdiri di titik pusat acara, sejauh mata memandang adalah kerumunan. Dari 27 kecamatan yang tersebar di pelosok Aceh Utara, rakyat bergerak seolah ditarik oleh daya mistis yang sama. Mereka datang mengendarai rindu akan hiburan.
Asisten II Setdakab Aceh Utara, M. Nasir, mencatat angka yang membuat bulu kuduk merinding. Sejak hari pertama gerbang pameran dibuka, rata-rata pengunjung harian konstan menyentuh angka 40 hingga 50 ribu jiwa. Puncaknya terjadi ketika malam zikir dan tablik akbar bergema di bawah pimpinan Ustadz Habibi. Malam itu, bumi Pasai sesak. Nyaris 100 ribu pasang kaki berdiri di sana, melantunkan doa ke langit yang sama.

Asisten II Setdakab Aceh Utara, M. Nasir. Waspada.id/Ist
Lautan manusia ini membawa berkah yang tak terhingga bagi para pedagang kecil. Lihatlah lintasan aspal itu. Bahu Jalan Nasional—jalur urat nadi pulau Sumatra—lumpuh secara positif. Kendaraan mengular, membentuk barisan parkir sepanjang satu kilometer. Keadaan ini menjadi berkah bagi pemuda setempat yang mendadak menjadi penjaga malam, memastikan setiap kendaraan aman demi rupiah yang halal. Ratusan pedagang kuliner mulai dari warung kopi, bakso, mi, hingga jajanan anak-anak meraup untung dari setiap jengkal tanah yang disediakan.
Oase di Tengah Dahaga Hiburan
Perputaran uang yang menembus angka Rp300 juta setiap harinya bukanlah angka statistik mati di atas kertas. Nilai fantastis ini berbicara jujur tentang satu hal: rakyat Aceh Utara sedang haus. Mereka tidak hanya haus akan perputaran modal yang menyambung napas dapur mereka, tetapi juga haus akan sebuah panggung hiburan yang megah sekaligus inklusif.
Daya pikat paling magis dari festival ini terletak pada panggung utamanya. Ketika lampu sorot menyala, sejarah seolah hidup kembali. Hentakan kaki penari Seudati yang ritmis, kekompakan tangan penari Saman yang magis, gemuruh talu Rapai, harmoni Poh Kipah, hingga eksotisme Ale Tunjang bergantian menggetarkan panggung. Seni tradisional ini bukan sekadar tontonan, melainkan mesin waktu.
Di sudut lain, stand pameran kebudayaan dipadati oleh anak-anak muda. Mereka berdiri tegak, membaca silsilah, meraba replika koin emas, dan menggali informasi sejarah tentang indatu (leluhur) mereka, sang sultan agung Malikussaleh. Ada kebanggaan yang membuncah di mata mereka; kesadaran bahwa mereka adalah darah daging dari sebuah peradaban kosmopolitan yang pernah disegani dunia.
Menatap Hari Esok: Menjaga Api Tetap Menyala
Fenomena meledaknya Milad Samudera Pasai ini melahirkan sebuah kesimpulan mutlak: agenda ini patut dan wajib dipertimbangkan untuk dilaksanakan secara rutin setiap tahun. Ia adalah oase ekonomi sekaligus benteng kebudayaan yang konkret.
Namun, pemerintah daerah tidak boleh terlena oleh angka ratusan juta per hari atau pesona jepretan kamera di media sosial. Di balik kesuksesan ini, ada pekerjaan rumah yang nyata. Parkiran yang meluap hingga satu kilometer di jalan nasional adalah alarm darurat bagi manajemen lalu lintas di masa depan. Sampah yang tersisa dari puluhan ribu manusia adalah tantangan persiapan sanitasi yang nyata.
Jika tahun depan genderang Pasai kembali ditabuh, kita berharap persiapannya jauh lebih matang. Jalur logistik harus rapi, kantong parkir harus manusiawi, dan para pedagang lokal harus naik kelas dari sekadar pedagang musiman menjadi pilar ekonomi yang tangguh.
Malam telah larut di Aceh Utara, namun sisa-sisa kemeriahan itu masih terasa. Delapan ratus tahun lalu Pasai berjaya karena jalur perdagangannya yang mendunia. Hari ini, spirit yang sama kembali ditiupkan, membuktikan bahwa sejarah tidak pernah benar-benar mati—ia hanya sedang menunggu untuk dibangunkan lewat secangkir kopi, kepulan asap mi, dan perputaran rupiah yang merakyat. (Maimun Asnawi, S.HI.,M.Kom.I/WASPADA.id)












Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda