Breaking News
Memuat breaking news...

Di Bawah Teduh Ayahwa – 800 Pohon, 800 Tahun, 800 Doa

Redaksi
Redaksi
Jumat, 11 September 2026 - 8.47 PM WIB
Di Bawah Teduh Ayahwa – 800 Pohon, 800 Tahun, 800 Doa
Bupati Aceh Utara yang ke-19, Ismail A. Jalil (Ayahwa) atau bupati ke-24 jika hitungannya termasuk seluruh penjabat bupati, Jumat (11/9/2026) menanam pohon di situs sejarah islam di areal lahan makam Sultanah Nahrasiyah. Waspada.id/Ist
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size
Advertisement

“Kejayaan Samudera Pasai tidak hidup dalam batu nisan, melainkan dalam senyuman anak yatim yang kembali menemukan pelukan.”



Angin Selat berbisik pelan di Kompleks Makam Sultanah Nahrasiyah, tanah sakral tempat fondasi peradaban Islam Nusantara pernah berdiri megah. Pada Jumat manis, 11 September 2026, waktu seolah melambat: bukan sekadar perayaan angka, melainkan ziarah rindu pada kejayaan delapan abad silam.

Alih-alih pesta kembang api, Pemerintah Kabupaten Aceh Utara memilih cara paling sunyi namun paling abadi: menanam kehidupan, memeluk masa depan.

Di tengah riuh ingatan sejarah, hadir sosok pemimpin yang akrab disapa Ayahwa—Bupati Aceh Utara, H. Ismail A. Jalil. Tatapannya teduh, jemarinya menyentuh tanah. Ia tidak membangun menara semen yang pongah, melainkan membenamkan 800 bibit pohon yang diiringi doa ke rahim bumi.

Setiap tunas adalah doa tertulis, janji bahwa oksigen dan kesejukan akan tetap mengalir untuk anak cucu Aceh Utara. "Delapan ratus tahun adalah perjalanan sejarah yang sangat panjang. Melalui 800 pohon ini, kita sedang menanam kebaikan untuk masa depan lingkungan," ucapnya penuh takzim, sembari melempar senyuman yang menjadi monumen.

800 Anak Yatim, 800 Senyuman

Namun ziarah sejarah ini tidak berhenti pada hijaunya daun. Peradaban Pasai dikenal dengan kelembutan hati terhadap sesama. Maka, di sela aroma tanah basah, Ayahwa membuka tangannya untuk 800 anak yatim.

Genggaman tangan sang bupati menyambung rantai kasih sayang yang sempat terputus oleh waktu. Angka 800 menjelma menjadi 800 senyuman polos, bukan statistik dingin di atas kertas dinas. Memilih makam Sultanah Nahrasiyah sebagai altar perayaan adalah puisi tersendiri. Batu nisan berukir indah—saksi kejayaan masa lalu—berhadapan langsung dengan agenda masa depan.

Di satu sisi, akar-akar 800 pohon baru akan mencengkeram bumi menjaga air. Di sisi lain, kepedulian pada 800 anak yatim menjaga jiwa kemanusiaan Aceh Utara tetap menyala.

Warisan Sejati: Teduh yang Tak Pernah Padam

Ketika matahari condong ke barat, riuh seremoni perlahan lenyap ditelan senja. Namun, warisan sejati baru saja dimulai. Delapan ratus tahun silam dihormati bukan dengan pesta yang habis dalam sekejap, melainkan dengan 800 pohon yang akan menjulang memayungi bumi dan 800 doa anak yatim yang mengetuk pintu langit.

Perayaan ini adalah metafora hidup: bahwa kejayaan tidak hanya dikenang, tetapi ditanam. Di bawah teduh Ayahwa, Aceh Utara menulis bab baru sejarahnya—lebih hijau, lebih manusiawi, dan lebih abadi. (Maimun Asnawi, S.HI.,M.Kom.I/WASPADA.id)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement