DI PALUNG MARIANA¹


Cerpen Agusni AH
PENGANTAR REDAKSI:
Agusni AH kembali menghadirkan sastra kosmik, DI PALUNG MARIANA, membawa pembaca menyelam ke kedalaman yang bukan semata-mata berada di bawah samudra, melainkan juga di dalam kesadaran manusia. Cerpen ini memadukan ketegangan ekspedisi, misteri kosmik, dan renungan filosofis tentang betapa kecilnya pengetahuan manusia di hadapan semesta yang tak berbatas.
Melalui sosok Lutthur Arkha, Agusni AH menghadirkan Palung Mariana sebagai metafora tentang rahasia: bahwa setiap dasar mungkin hanyalah pintu menuju kedalaman yang lebih jauh. Pada akhirnya, cerpen ini tidak sekadar bertanya tentang apa yang hidup di bawah laut, melainkan mengajak kita merenungkan pertanyaan yang jauh lebih menggetarkan: seberapa dalam sebenarnya dunia tempat manusia hidup—dan apakah manusia benar-benar pernah mengetahui batas ciptaan Tuhan?
Selamat menyelam ke dalam sunyi, gelap, dan misteri. Barangkali, setelah sampai di akhir cerita, kita tak akan lagi memandang langit dengan cara yang sama.(red).
DI PALUNG MARIANA¹
TIDAK ada siang dan malam. Tidak ada makhluk yang hidup, hanya beberapa jenis organisme kecil yang mampu bertahan dalam tekanan yang mencapai lebih dari seribu atmosfer di kedalaman sebelas ribu meter di bawah permukaan laut. Dan ini adalah tempat paling sunyi di planet bumi.
Namun, di kedalaman yang tak pernah disentuh matahari itu, sesuatu bergerak. Mula-mula hanya berupa getaran halus pada lambung kapsul, seperti ketukan dari tangan yang sangat jauh. Lutthur Arkha menahan napas. Di luar kaca pengamat, kegelapan Palung Mariana mendadak berpendar oleh cahaya kebiruan yang bukan berasal dari lampu kapsulnya. Cahaya itu menjalar perlahan di dasar palung, membentuk garis-garis seperti urat pada tubuh makhluk raksasa yang sedang terbangun. Layar instrumen bergetar, jarum tekanan melonjak, lalu terdengar suara asing dari sistem komunikasi—bukan suara manusia, bukan pula gangguan mekanis.
Lutthur Arkha mencoba mengaktifkan mesin pendorong untuk menjauh, tetapi kapsulnya seperti ditahan oleh sesuatu dari dasar laut. Bayangan besar bergerak di balik kabut sedimen², begitu luas hingga tak mampu ditangkap seluruhnya oleh pandangan. Saat itulah ia menyadari bahwa kehidupan yang ditemukannya bukan sekadar organisme yang bertahan di tengah tekanan ribuan meter di bawah permukaan laut. Ia sedang berhadapan dengan sesuatu yang mungkin telah hidup jauh sebelum manusia belajar menyebut dirinya sebagai manusia. Kapsul mulai retak. Alarm meraung. Oksigen terus menipis. Dan di tengah gelap yang menelan segala cahaya itu, Lutthur Arkha hanya memiliki dua pilihan: melawan sesuatu yang tak ia pahami, atau menyerahkan tubuhnya kepada kedalaman yang sejak awal memang tidak pernah berniat mengembalikannya.
Di kedalaman yang tak lagi sanggup dijangkau cahaya itu, segala sesuatu kehilangan nama. Samudra bukan lagi laut. Air bukan lagi sumber kehidupan. Oksigen bukan kebutuhan pernapasan bagi paru-paru. Waktu bukan lagi deretan detik yang bergerak dari masa lalu menuju masa depan. Semuanya berubah menjadi tekanan—sunyi yang memadat, gelap yang memiliki berat, dan keabadian yang menekan tubuh dari segala arah.
Kapal selam itu turun perlahan.
Di dalam kabinnya, Lutthur Arkha memandangi angka-angka yang terus berubah pada layar. Delapan ribu meter. Tak ada seorang pun berbicara. Sembilan ribu meter. Lampu-lampu di dalam kabin memantul pada wajah tiga orang awak ekspedisi. Wajah mereka tampak pucat, seolah-olah bukan sedang menyelam ke dasar samudra, melainkan sedang meninggalkan bumi. Lutthur Arkha memejamkan mata. Ia teringat langit. Tiba-tiba ia merindukan sesuatu yang selama hidupnya tak pernah dianggap penting, namun ia suka: warna biru. Di atas sana, langit pasti sedang membentang. Matahari mungkin sedang terbit di suatu tempat. Burung-burung mungkin sedang melintasi awan. Atau pelangi melengkung di cakrawala langit raya. Seseorang mungkin sedang membuka jendela rumah. Dan tidak seorang pun tahu bahwa, hampir sebelas kilometer di bawah permukaan laut, tiga manusia sedang turun menuju tempat yang lebih asing daripada sebagian besar ruang angkasa. 10.000 meter, yang berjuang mempertahankan hidup atau mati. Kemudian terdengar suara retakan kecil. Tik...
Semua orang menoleh. Kapten kapal selam segera memeriksa panel.
"Apa itu?" tanya Lutthur Arkha. Tak ada jawaban.
Tikkk...
Suara itu terdengar lagi.
Namun kali ini bukan dari dinding kapal.
Suara itu datang dari luar. Lutthur Arkha menempelkan wajahnya ke jendela kecil yang tebal. Tak ada apa-apa. Hanya kegelapan pekat hingga menyusup raga. Kegelapan yang begitu mutlak sehingga mata manusia tidak dapat membedakan antara membuka dan menutup kelopak.
Lalu sesuatu bergerak. Lutthur Arkha tersentak.
Ada sesuatu di luar. Dua awak lainnya mendekat. Lampu sorot dinyalakan. Cahaya menembus air beberapa meter, lalu lenyap, seakan-akan ditelan oleh mulut raksasa. Dan di ujung cahaya itu—
mereka melihat sebuah mata. Bukan mata ikan, bukan juga mata paus. Ia memastikan tak ada makhluk yang bisa hidup di Palung Mariana. Tak dinyana, ada mata. Mata itu sebesar kabin kapal selam mereka. Tak ada tubuh yang terlihat. Hanya sebuah mata yang terbuka dalam kegelapan. Mereka memandang. Diam mematung. Sang Kapten segera mematikan lampu.
"Naik..!" perintahnya. Namun mesin tidak bergerak. Panel-panel berkedip. Lalu padam. Untuk pertama kalinya, kapal selam itu benar-benar menjadi benda kecil yang terapung di tengah jurang samudra terdalam. Tak ada suara seperti di permukaan bumi. Tak ada cahaya, sekalipun blitz kamera di tengah gegap gempita pesta. Tak ada arah penunjuk seperti di tengah kota, atau isyarat alam di rimba belantara.
Lutthur Arkha mendengar napasnya sendiri. Kemudian—
sebuah suara masuk ke dalam kepalanya.
Bukan melalui telinga. Bukan pula dalam bahasa apa pun yang pernah ia pelajari. Namun ia memahami kalimat itu: KALIAN TERLALU JAUH TURUN. Lutthur Arkha membuka mata. Di hadapannya, dua sejawat--mitra memegangi kepala. Mereka juga mendengarnya.
"Siapa kau?" teriak salah seorang. Tidak ada jawaban.
Beberapa saat kemudian, suara itu kembali: KALIAN MENYEBUT TEMPAT INI PALUNG.
Lutthur Arkha menelan ludah.
Suara itu lagi: PADAHAL INI BUKAN DASAR.
Suhu di dalam kabin terasa turun.
Dan lagi: INI HANYA LUKA KECIL DI KULIT BUMI.
Salah seorang awak kapal selam mulai menangis. "Kita harus keluar dari sini."
Lutthur Arkha memandangi kegelapan di balik jendela. Lalu, entah dari mana, cahaya mulai muncul. Bukan cahaya dari kapal.
Bukan cahaya matahari. Jutaan titik biru berpendar-pendar menyala di luar.
Satu. Dua. Seratus. Bahkan ribuan. Laut di sekeliling mereka berubah menjadi semesta. Makhluk-makhluk kecil bercahaya berenang dalam kegelapan seperti bintang yang terlepas rontok dari langit. Kemudian Lutthur Arkha melihat sesuatu yang membuat tubuhnya membeku. Bintang-bintang itu membentuk pola. Konstelasi. Sama persis seperti langit. Ia melihat Orion. Ia melihat rasi-rasi yang pernah dipelajarinya ketika kecil. Namun semua itu berada di dasar laut. "Ini mustahil," bisiknya.
Suara itu berkata: LANGIT DAN DASAR ADALAH CERMIN.
Lutthur Arkha terdiam.
:KALIAN HANYA SELALU MEMANDANG KE ATAS.
Kapal selam bergetar. Angka kedalaman pada panel yang telah mati tiba-tiba menyala sendiri. Menunjukkan angka 10.935 meter. Kemudian digital itu berubah: 10.936. Kapten menatap layar. "Tidak mungkin."
Angka di monitor bergerak cepat menjadi 10.937 hingga
10.938. Kedip berhenti.
Kapal mereka masih turun. Padahal menurut semua peta, mereka telah mencapai titik terdalam: 10.950.
Lutthur Arkha menatap angka itu dengan perasaan yang perlahan berubah menjadi ketakutan purba. Selama ini manusia mengira mereka mengetahui dasar. Ternyata mereka hanya mengetahui angka terakhir yang sempat mereka ukur. 11.000.
Di luar jendela, kegelapan mulai membuka diri.
Bukan karena cahaya datang, melainkan sesuatu yang jauh lebih gelap daripada gelap sedang bergerak. Lutthur Arkha melihat sebuah celah. Sangat besar. Bahkan begitu besar hingga Palung Mariana tampak seperti retakan kecil di hadapannya. Di dalam celah itu—
ada sesuatu yang menyerupai langit.
Bukan air. Bukan batu. Bukan api. Namun seperti sebuah ruang tak berbatas. Penuh bintang. Salah seorang awak berteriak: "Kita bukan berada di dalam laut...!"
Kalimat itu menggantung di kabin. Lalu suara tadi berkata untuk terakhir kalinya:
TIDAK.
LAUTLAH YANG BERADA DI DALAM KALIAN.
Pada saat itu, semua lampu menyala. Mesin kembali hidup.
Kapal selam melesat ke atas.
Mereka tidak tahu berapa lama perjalanan pulang itu berlangsung. Mungkin berjam-jam. Mungkin bertahun-tahun. Atau hanya satu detik. Tidak.
Ketika akhirnya mereka muncul ke permukaan, matahari menyambut mereka. Lutthur Arkha menangis.
Ia menangis bukan karena selamat. Ia menangis karena langit: Biru. Begitu luas.
Tim penyelamat naik ke dalam kapal selam itu.
Para ilmuwan memeriksa dengan seksama, merekam data, mengajukan pertanyaan. Namun ada satu hal yang membuat semua orang terdiam. Jam di kapal selam menunjukkan bahwa ekspedisi itu berlangsung selama enam puluh tiga menit. Padahal, berdasarkan waktu keberangkatan mereka—
mereka telah hilang selama enam puluh tiga tahun. Lutthur Arkha berlari menuju radio.
Ia meminta mereka menghubungi rumahnya. Ia ingin segera tersambung orang-orang yang dicintai. Nama-nama yang disebutkannya telah menjadi nama-nama orang mati. Abah dan Emak telah lama dikuburkan. Istri dan anak-anaknya juga telah meninggal. Lutthur Arkha terdiam ketika seorang petugas membawa seorang perempuan renta ke hadapannya. "Ini putrimu."
Perempuan bungkuk itu menatapnya lama: "Ayah...?"
Lutthur Arkha ingin menjawab. Keduanya larut dalam diam. Tanpa kata-kata. Hanya saling memandang. Termangu. Selebihnya
terasa asing.
Ia memandang laut.
Permukaan tampak menggelegak-gelegak. Mendidih. Membuncah. Kemudian meletus. Menggelegar, mengeluarkan bara api. Debu vulkanik mengudara. Lalu Lutthur Arkha menyadari sesuatu.
Di bawah kapal, jauh di bawah air, tepat di bawah mereka, sebuah cahaya biru mulai menyala.
Satu titik.
Kemudian dua.
Kemudian ribuan.
Seperti bintang-bintang.
Lutthur Arkha tersenyum setengah memaksa dengan wajah pucat pasi.
Kini ia mengerti:
Manusia tidak pernah benar-benar menemukan dasar Palung Mariana.
Mereka hanya pernah menyentuh bagian dari sebuah pintu.
Dan sejak kapal selam itu kembali ke permukaan, Luttur Arkha tidak lagi memandang langit dengan cara yang sama.
Sebab setiap malam, ketika ia melihat bintang-bintang di atas kepalanya, ia selalu bertanya:
Apakah itu benar-benar langit?
Ataukah—
sesungguhnya kita semua sedang hidup di dasar sesuatu yang jauh lebih dalam di bawah bumi?
Dan di suatu tempat, di bawah samudra yang tak pernah benar-benar tidur, sebuah mata raksasa kembali terbuka. Menatap ke atas.
Menunggu manusia berikutnya
yang berani turun
untuk mencari
dasar dari Tuhan.(***).
¹palung laut terdalam di dunia, berada di bagian barat Samudra Pasifik.
²air keruh seperti kabut.












Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda