DI RIMBA BAJA CERPEN AGUSNI AHDI RIMBA BAJA CERPEN AGUSNI AH

PENGANTAR REDAKSI:
Cerpen "Di Rimba Baja" menghadirkan potret getir tentang mimpi, kemiskinan, dan keterasingan manusia di tengah gemerlap kota metropolitan. Melalui sudut pandang seorang jurnalis yang tanpa sengaja menemukan jasad sahabat masa kecilnya, Agusni AH mengajak pembaca merenungkan ironi kehidupan. Tidak semua orang yang datang ke kota besar menemukan harapan; sebagian justru tenggelam dan terlupakan.
Dengan bahasa yang puitis namun tetap membumi, cerpen ini memadukan realitas sosial, kenangan, dan emosi kemanusiaan menjadi sebuah kisah yang menyentuh. Di Rimba Baja bukan sekadar cerita tentang kematian seorang perantau, melainkan juga kritik halus terhadap ketimpangan sosial yang membuat mimpi-mimpi besar dapat berakhir sunyi di balik kemegahan "rimba baja". Sebuah cerpen yang mengajak kita untuk tidak kehilangan empati kepada sesama manusia. Berikut kisah yang mengelus kalbu lewat tokoh "aku" Agusni AH:
DI RIMBA BAJA
UDARA Jakarta terasa semakin panas. Teriknya menyengat, membuat tubuhku lekas gerah dan lelah. Namun, aku tak memedulikannya. Aku tetap memilih berjalan kaki. Bukan semata-mata untuk menghemat biaya, melainkan juga sebagai cara sederhana menyehatkan jiwa dan raga. Lagi pula, aku memang jarang berolahraga. Paling-paling hanya berjalan beberapa menit, lalu singgah ke warung kopi langganan untuk menikmati sarapan, seperti kebiasaanku ketika berada di Koetaraja.
Entah mengapa, setiap berada di Jakarta, rasa sumpek begitu cepat menyergap. Hiruk-pikuk ibu kota seakan menguras tenaga dan pikiran, membuatku ingin segera menuntaskan segala urusan. Padahal, kunjunganku kali ini hanya sehari. Namun, sehari di Jakarta terasa jauh lebih panjang dibandingkan berhari-hari di tanah asal kampung halaman.
Aku memang jarang mendapat penugasan liputan ke Ibu Kota. Selama ini aku lebih banyak bertugas di ibu kota provinsi, tanah kelahiranku sendiri. Beberapa kali aku dipindahtugaskan ke berbagai daerah dalam provinsi yang sama. Sebagai jurnalis daerah, aku tak pernah ingin dicap sebagai orang yang kampungan. Sebaliknya, aku selalu berusaha melebur dengan kehidupan masyarakat setempat. Meski masih berada dalam satu provinsi, setiap daerah memiliki corak budaya, bahasa, adat, dan gaya hidup yang berbeda. Syukurlah, aku tak pernah mengalami kesulitan berarti untuk menjadi bagian dari kehidupan mereka.
Kini, untuk pertama kalinya dalam waktu yang tak terlalu lama, aku harus memburu berita di Ibu Kota. Tentu suasananya jauh berbeda dengan daerah-daerah yang selama ini kukenal. Siang itu aku menyusuri lorong-lorong di tengah rimba belantara baja, di antara gedung-gedung yang mencakar langit, seolah berlomba menembus awan. Menara-menara kaca menjulang angkuh, memantulkan cahaya matahari sekaligus bayangan ambisi manusia yang tak pernah selesai.
Sebentar lagi aku akan memasuki salah satu menara itu, menemui seorang narasumber penting. Dari pertemuan itulah kuharapkan lahir sebuah laporan yang kelak menghiasi tajuk utama media tempatku bekerja. Di tengah hiruk-pikuk kota yang tak pernah benar-benar tidur, aku hanya seorang jurnalis yang datang membawa buku catatan, pena, dan keyakinan bahwa setiap peristiwa selalu menyimpan cerita yang layak disampaikan kepada dunia.
Aku memasuki sebuah lorong sempit yang memotong jalan utama, berharap jalur itu membawaku lebih cepat menuju gedung tinggi yang menjadi tujuanku. Namun, baru beberapa langkah, langkahku mendadak terhenti. Di depan sana, kerumunan orang mengelilingi sesuatu.
Beberapa warga tampak mengangkat sesosok tubuh yang telah membeku dari selokan di sepanjang lorong itu. Mayat seorang lelaki. Tubuhnya telah kaku, wajahnya pucat kebiruan, seolah sisa dingin malam masih melekat pada kulitnya. Dari percakapan warga, lelaki malang itu diduga terpeleset lalu terperosok ke dalam parit pada dini hari. Sebelumnya, ia terlihat lama duduk termenung di bibir selokan kecil yang alirannya bermuara ke Sungai Ciliwung.
"Sudah lama dia di sini," ujar seseorang di antara kerumunan.
Tak seorang pun mengenalnya. Tak seorang pun mengetahui dari mana asalnya. Lebih dari itu, hampir tak ada yang benar-benar memedulikannya. Toh, selama ini ia tak pernah mengganggu siapa pun. Hari-harinya hanya dihabiskan dengan duduk diam menatap entah ke mana, sesekali berjalan mondar-mandir menyusuri lorong yang sama, lalu kembali lagi ke tempat semula. Seakan-akan seluruh dunianya hanya seluas lorong sempit itu.
Entah mengapa, ada sesuatu yang terasa begitu akrab pada sosok lelaki itu. Perasaan itu datang begitu saja, samar sekaligus mengusik. Aku terdorong mendekat, menerobos kerumunan yang mulai membubar.
Kuperhatikan wajahnya lekat-lekat. Kedua mataku menyusuri setiap bagian tubuhnya, seolah sedang mencari petunjuk yang tercecer oleh waktu. Oleh masa lalu. Tubuh lelaki itu begitu ringkih. Pipinya cekung, kulitnya kusam, seakan telah lama kehilangan sentuhan kehidupan yang layak. Kumis tipis tumbuh tak beraturan. Rambutnya gondrong, kusut, pertanda sudah lama tak mengenal sisir. Baju dan celananya compang-camping, nyaris tak lagi pantas disebut pakaian. Tanpa alas kakinya telanjang.
Sekali lagi kuteliti tubuhnya. Hingga pandanganku berhenti pada tangan kirinya. Jempolnya... Tak utuh. Separuh pangkalnya telah hilang, menyisakan bekas luka lama yang telah menyatu dengan kulit.
Dadaku seketika sesak, menggemuruh. Benak dan pikiranku berasa teracak-acak. Ngilu halus menyeruak dadaku.
"Abang..."
Nama itu nyaris meluncur tanpa kusadari, Abang Ridwan Banta. Ya, dialah teman akrabku semasa sekolah dasar. Selalu menjadi juara kelas, paling piawai mengerjakan soal-soal matematika, dan paling indah merangkai puisi. Di usia ketika anak-anak lain masih sibuk bermain, ia telah mampu menulis sajak-sajak yang membuat guru-guru kami berdecak kagum. Aku dan Abang dahulu sering tampil bersama membaca puisi di hari perayaan tujuh belas Agustus.
Namun, selepas menamatkan SMA, ia menghilang. Merantau, entah ke mana. Sejak itu kami tak pernah lagi berjumpa. Kabar terakhir yang kudengar, ia meninggalkan kampung halaman karena tak sanggup menanggung beban hidup. Mimpinya menjadi mahasiswa kedokteran kandas setelah gagal diterima di fakultas kedokteran ternama di ibu kota provinsi. Sempat terpikir untuk mencoba jalur mandiri, tetapi biaya yang terlalu besar membuat kedua orang tuanya tak sanggup membiayainya. Sejak saat itu, ia memilih pergi. Tak seorang pun benar-benar tahu ke mana langkahnya berakhir. Apa yang dikerjakan kemudian tak ada seorang kampung pun tahu.
Aku kembali menatap tangan kirinya. Tak mungkin aku keliru. Jempol yang tak lagi utuh itu adalah penanda yang tak mungkin dimiliki orang lain. Bertahun-tahun silam, saat kami membelah kelapa muda bersama di kebun, sebilah parang lepas kendali dan menghantam jempol kirinya hingga putus sebagian. Kini, bekas luka itu menjadi saksi terakhir yang mempertemukan kami kembali.
Aku tak lagi ragu.
Mayat yang terbujur kaku di hadapanku adalah Abang—sahabat masa kecilku yang pernah menyimpan mimpi-mimpi paling tinggi, tetapi akhirnya dipatahkan oleh kerasnya kehidupan.
Aku tak sanggup lagi menahan diri. Kuberanikan memeluk tubuhnya yang telah kaku. Tubuh itu dingin, berlumuran lumpur dan air hitam yang menggenang di selokan-selokan Ibu Kota, kota yang siang malam dipenuhi gemerlap cahaya. Tetapi tak selalu mampu menerangi nasib manusia yang terpinggirkan.
Tak ada lagi yang bisa kulakukan selain mendekapnya erat, seolah ingin mengembalikan kehangatan yang telah lama direnggut kehidupan darinya.
Perlahan kubisikkan di telinganya yang telah bisu:
"Abang... Izinkan aku memelukmu dalam sua sunyimu. Di tengah gemerlap negeri yang menjulang dengan rimba belantara baja ini, akhirnya kita dipertemukan kembali. Bukan untuk mengenang mimpi-mimpi masa kecil, melainkan untuk mengantar kepergianmu yang nyaris tak disaksikan siapa pun."
Air mataku jatuh tanpa mampu kutahan. Di hadapanku, bukan sekadar terbujur jasad seorang lelaki tanpa nama. Yang terbujur adalah seorang anak kampung yang pernah menjadi kebanggaan sekolah, pemilik mimpi setinggi langit, tetapi akhirnya dikalahkan oleh kerasnya hidup hingga mati sendirian di sebuah selokan, di bawah bayang-bayang gedung-gedung yang terus menjulang seolah tak pernah peduli nasib manusia jelata. Selamat jalan, Abang.***






























Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda