DIA CERPEN AGUSNI AH

PENGANTAR REDAKSI:
Agusni AH yang selama ini dikenal melalui tulisan-tulisannya yang bernuansa kosmik, kali ini menghadirkan cerpen berjudul "DIA" dengan pendekatan yang lebih kontemplatif. Meski tetap menyisakan ruang-ruang perenungan khas yang menjadi ciri kepengarangannya, cerpen ini bergerak pada pencarian makna hidup melalui sosok yang hanya disebut sebagai DIA.
Dalam cerita tersebut, DIA bukan sekadar tokoh. Ia hadir sebagai cahaya yang menerangi jalan batin tokoh Aku. Sosoknya tidak tampil dengan berbagai pidato panjang atau petuah yang menggurui, tetapi melalui sikap, keteguhan, dan cara pandangnya terhadap kehidupan. Dari kejauhan, tokoh Aku mengamati, merenungi, lalu tanpa sadar mulai mengadopsi pemikiran-pemikiran DIA.
Proses itu berlangsung perlahan. Bukan peniruan yang membabi buta, melainkan sebuah perjalanan kesadaran.
Cerpen ini menunjukkan bahwa inspirasi sering lahir dari sosok-sosok yang tidak banyak berbicara tentang dirinya sendiri. Justru dalam kesederhanaan itulah pengaruh mereka bekerja. Tokoh Aku menjadikan pemikiran DIA sebagai kompas batin lewat jalan sunyi. Agusni AH seakan mengingatkan bahwa setiap manusia membutuhkan teladan. Bukan untuk disembah atau diikuti secara mutlak, melainkan sebagai cermin untuk mengenali diri sendiri. Membaca plot cerita ini sekaligus mengajak melihat kesusastraan bukan sesuatu yang dipinggirkan atau berada di tepi dari keberlangsungan sebuah negeri, karena sebahagian besar pendiri bangsa berlatar sastrawan yang kini bagai terlupakan.
Dalam perjalanan itulah, DIA menjadi inspirasi, sementara AKU menemukan jalannya sendiri menuju keteguhan hati. Pembaca dapat menyimaknya berikut ini:
D I A
Aku coba meraba-raba. Tanpa sengaja dahiku mengerut. Kalimat-kalimat pendek yang baru saja muncul di layar telepon genggam itu seperti menyisakan gema panjang di ruang kepala. Sebuah chatting sederhana dari seorang pimpinan yang selama ini kujadikan panutan.
Tidak banyak kata yang dia tulis. Bahkan jika dihitung mungkin tidak sampai sepuluh baris. Namun seperti biasa, kalimat-kalimatnya tidak pernah berhenti pada makna yang tampak. Dia selalu menyimpan ruang yang lebih luas untuk ditafsirkan.
Aku membaca sekali.
Lalu dua kali. Setelah berapa kali, baru aku menimpalinya lagi.
Di luar jendela, senja mulai turun perlahan. Langit seperti lembaran kain yang dicelup warna tembaga. Angin menggerakkan dedaunan aru yang berderet di sepanjang bahu sungai Krueng Aceh di sebelah rumahku. Namun pikiranku masih tertahan pada layar kecil yang memantulkan wajahku sendiri.
Seorang bijak pernah berkata bahwa ada orang yang pandai berbicara, penuh retorika. Ada pula orang yang pandai berpikir luas bak samudra. Tetapi sangat sedikit orang yang mampu membuat pikirannya hidup di dalam pikiran orang lain.
Dan bagiku, dia adalah orang semacam itu.
Dia cerdas.
Bahkan terlalu cerdas untuk sekadar disebut pintar.
Setiap kali berbicara di forum, kata-katanya mengalir seperti sungai yang jernih. Tidak terburu-buru, tetapi juga tidak berputar-putar. Dia mampu mengubah sesuatu yang rumit menjadi sederhana tanpa kehilangan kedalamannya. Yang lebih memberi simpati, dia tak pernah menggurui.
Aku selalu menjadi salah seorang peserta yang paling tekun mendengarkannya.
Ketika dia mengisi acara, aku jarang keluar ruangan. Bahkan sekadar untuk mengisap sebatang rokok yang biasanya begitu akrab menemani jeda pikiranku.
Ada sesuatu yang membuatku enggan beranjak.
Aku takut kehilangan satu kalimat.
Takut melewatkan satu gagasan.
Takut ada sebutir mutiara yang jatuh sia-sia tanpa aku memungutnya, bilamana aku sedang berada di luar ruangan.
Karena pengalaman telah mengajarkanku, sering kali satu kalimat yang keluar dari mulutnya mampu mengubah cara pandang seseorang terhadap kehidupan.
Bicaranya tidak meledak-ledak.
Tidak pula penuh retorika yang memabukkan.
Namun setiap kata yang keluar seakan telah melewati perjalanan panjang di ruang terdalam pikirannya.
Kata-kata itu matang.
Seperti buah yang dipetik tepat pada musimnya.
Dan bagi kami yang mendengar, kalimat-kalimat itu menjadi semacam daging bergizi yang mengenyangkan akal.
Aku masih ingat suatu ketika seseorang bertanya tentang kepemimpinan.
Dia tersenyum sebelum menjawab.
"Lampu tidak pernah sibuk memberi tahu orang-orang bahwa dirinya bercahaya. Ia cukup menyala."
Ruangan seketika hening.
Kalimat sesederhana itu terus tinggal bertahun-tahun di dalam kepalaku, sejak pertama mengenalnya.
Hari itu aku pulang dengan membawa lebih banyak pertanyaan daripada jawaban.
Dan mungkin memang begitulah orang-orang besar bekerja. Mereka tidak sekadar memberikan jawaban. Mereka menanamkan pertanyaan yang terus tumbuh.
Malam semakin turun.
Aku kembali membaca pesan singkat yang dia kirim.
Di sana tidak ada petuah panjang.
Tidak ada ceramah.
Tidak ada pula kalimat-kalimat yang ingin terlihat hebat.
Hanya beberapa baris sederhana.
"Sastra punya idealisme, karena sastra lahir dari sebuah nilai yang ingin diwujudkan, Bang Ketua," dia menyebutku Bang Ketua.
Membaca kalimatnya itu menjadikanku tercekat beberapa detik. Aku cepat-cepat membereskan pikiranku. Apakah ini dia sedang menyimpulakan pikiranku atas sebuah kalimatku sebelumnya, ataukah dia sedang menerjemahkan sebuah situasi lain ? Dimana chattingan awal kami tentang sebuah perayaan hari lahirnya Pancasila, yang dirayakan lebih gempita dari sebuah skala prioritas bangsa.
"Sebenarnya Pancasila tidak dilahirkan tapi ditemukan kembali," tulisnya.
"Bicara dalam konteks Bangsa, saya pribadi harus bedakan dengan bicara dalam konteks Republik.
Bangsa jauh lebih awal, bahkan sejak peradaban Nusantara ada."
" Buktinya Kitab Sutasoma dan Kitab Negara Kartagama menyebut kata Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika. Isi karya sastra Kitab Sutasoma adalah penjelasan dari relief Candi Borobudur, Bang Ketua."
"18 Agustus harusnya kita merayakan Hari Konstitusi jauh lebih gemerlap dari Pancasila yang hari ini sila-silanya kita baca dan sila-sila tersebut ada dalam pembukaan UUD 1945, Bang Ketua." Itu kalamat-kalimat pendek dia di satu sisi. Di bagian lain dia menyebut Moh. Yamin sebagai pahlawan nasional.
"Bukankah beliau sastrawan hebat ?"
"Ya...Beliau juga seorang pujangga sebagai salah satu pelopor sastra modern Indonesia Angkatan Balai Pustaka," timpalku.
"Beliaulah yang merumuskan konsep tanah air. Narasi Indonesia Raya ada campur tangan dari Moh. Yamin. Beliau putra Sumatra Barat. Beliaulah memperjuangkan merah putih jadi bendera nasional, Bang Ketua. Ada karya sastra dibalik nasionalisme."
"Bagi saya, kenapa bangsa ini punya narasi nasionalisme sangat kuat, karena ada karya sastra di dalamnya. Dan negeri ini sering kali melupakan itu." Cetus dia menghunjam. Dan aku terdiam panjang sekaligus merasa bahagia karena dunia itu ikut merawatku menjadi individu yang cenderung berusaha jernih.
Selama ini yang kutahu, dia adalah seorang yang hidup diantara pasal-pasal hukum. Bertahun-tahun namanya berkelindan dengan berbagai persoalan hukum nasional maupun internasional. Dia juga dikenal sebagai salah satu ahli kepemiluan dan pilkada yang jejak pengabdiannya nyaris tanpa jeda. Sejak lembaga penyelenggara pemilu lahir di daerah lebih dari dua puluh tiga tahun silam, dia telah menjadi bagian dari denyut panjang perjalanan demokrasi itu. Dari satu fase ke fase berikutnya, dari satu generasi ke generasi berikutnya, dia tetap berada di sana, menyaksikan sekaligus ikut membentuk arah perjalanan demokrasi negeri ini hingga akhirnya menempati posisi penting pada level tertinggi, itu.
Namun malam itu aku menemukan sisi lain yang selama ini mungkin luput dari penglihatanku. Di balik ketegasannya membaca undang-undang, dibalik kecermatannya menafsirkan norma hukum, ternyata tersimpan kecintaan yang begitu dalam terhadap dunia kesusastraan. Aku sempat terkejut ketika dalam percakapan ringan dia menyebut beberapa nama sastrawan besar dengan begitu akrab, seolah sedang membicarakan sahabat lama yang telah dikenalnya sejak bertahun-tahun. Bahkan dia berbicara panjang tentang tokoh-tokoh pendiri bangsa yang memiliki latar belakang sastrawan dan budayawan. Menurutnya, bangsa yang besar tidak hanya dibangun oleh kekuatan hukum dan kokohnya institusi, tetapi juga oleh imajinasi, kebudayaan, dan daya cipta para pemikirnya. Hukum dapat menjaga keteraturan, tetapi sastra menjaga nurani. Hukum mengatur perilaku manusia, sementara sastra mengajarkan manusia memahami dirinya dan orang lain.
Aku terdiam mendengarnya. Selama ini banyak orang memandang sastra sebagai sesuatu yang berada di pinggir jalan kehidupan. Sebuah dunia yang indah tetapi tidak selalu dianggap penting. Padahal dari tuturannya malam itu aku memahami bahwa banyak gagasan besar lahir dari para pemimpi yang menulis. Banyak perubahan dimulai dari orang-orang yang terlebih dahulu merangkainya menjadi kata-kata. Bahkan para pendiri bangsa ini tidak sedikit yang mengasah kesadarannya melalui bacaan, puisi, esai, dan pergulatan panjang dengan dunia pemikiran.
Barangkali itulah sebabnya cara berpikirnya selalu terasa berbeda. Dia tidak hanya melihat persoalan dari sudut hukum yang hitam-putih, tetapi juga dari sisi kemanusiaan yang penuh warna. Di dalam dirinya, logika dan rasa berjalan beriringan. Pasal-pasal hukum tidak membuatnya kehilangan kepekaan, sebagaimana kecintaannya pada sastra tidak membuatnya mengabaikan ketegasan.
Dan pada saat itulah aku menyadari satu hal. Orang-orang besar tidak pernah membangun dirinya hanya dari satu bidang ilmu. Mereka menjadikan pengetahuan sebagai samudra yang luas, lalu berlayar ke berbagai penjuru untuk menemukan hikmah. Karena itulah pemikirannya tidak mudah kering. Karena itulah setiap kalimat yang keluar dari mulutnya selalu terasa hidup, seakan membawa jejak perjalanan panjang antara hukum, demokrasi, sejarah, kebudayaan, dan sastra yang bersemayam dalam satu tubuh bangsa.***



























Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda