Breaking News
Memuat breaking news...

Dibina PTAR, UMKM Kuliner Tapsel Naik Kelas, Omzet Eza Cake Melonjak hingga Rp20 Juta

Redaksi
Redaksi
Rabu, 19 Agustus 2026 - 8.39 PM WIB
Dibina PTAR, UMKM Kuliner Tapsel Naik Kelas, Omzet Eza Cake Melonjak hingga Rp20 Juta
Dian Angraini Siregar, 38, dan Rohimah Hasibuan, pelaku UMKM binaan PT AR, diabadikan bersama Senior Supervisor SME Agincourt Resources, Nurlailah (tengah), Rabu (19/8/2026). waspada.id/Mohot Lubis
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

Pembinaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), terutama home industry, tidak cukup hanya dengan bantuan modal. Namun, dibutuhkan pendampingan dan pembinaan mulai dari kualitas produksi, manajemen, hingga pemasaran agar UMKM dapat tumbuh dengan baik.

Hal itulah yang dilakukan PT Agincourt Resources (AR), pengelola Tambang Emas Martabe, dalam mendorong pelaku UMKM di wilayah Kecamatan Batang Toru dan sekitarnya, Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel), agar usaha home industry dapat bertumbuh.

Salah satu dari 53 UMKM binaan PT AR yang telah naik kelas dalam mengelola usahanya adalah UMKM kuliner Eza Cake di Kelurahan Aek Pining, Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel). Kini, omzetnya telah mencapai Rp10 juta sampai Rp20 juta per bulan.

Dian Angraini Siregar, 38, pemilik usaha kuliner Eza Cake, Rabu (19/8/2026), dalam pertemuan di Bagas Silua Batang Toru mengatakan sangat bersyukur dengan adanya pembinaan dan bantuan dari PT AR sehingga usaha yang digelutinya bisa berkembang.

Pada awalnya, ungkap Dian, usaha kuliner yang dirintisnya pada 2018 hanya bersifat berdasarkan pesanan konsumen. Namun, sejak bergabung sebagai UMKM binaan PTAR pada 2023, usahanya mengalami peningkatan dan secara perlahan terus berkembang.

Dian Angraini Siregar, 38, pemilik usaha Kuliner Eza Cake, memperlihatkan kuliner hasil produksinya di Bagas Silua, Batang Toru, Tapsel , Rabu (19/8/2026). waspada.id/Mohot Lubis

Dian yang banting setir dari karyawan perusahaan Tambang Emas Martabe menjadi pelaku usaha kuliner kini merasa lega karena berkat dukungan penuh dari PT AR, omzetnya melonjak tajam hingga mencapai Rp20 juta per bulan.

“Setelah menjadi binaan PTAR, order mulai naik. Omzet saya sebelumnya hanya Rp1 juta sampai Rp2 juta per bulan. Sekarang bisa mencapai Rp10 juta sampai Rp20 juta,” ujar Dian.

Ditanya tentang nama Eza Cake, ibu tiga anak itu menjelaskan, kata Eza merupakan nama ketiga anaknya, yakni E, Z, dan A.

Dukungan yang diberikan PTAR dalam pengembangan usaha Eza Cake bukan hanya pembinaan, pelatihan, dan pendampingan dalam membuat produk yang dihasilkan semakin beragam, tetapi juga mencakup bantuan oven berkapasitas besar dan kemasan snack box.

“Awalnya saya hanya membuat cake ulang tahun. Setelah mendapat pendampingan, saya belajar membuat kue basah, roti, dan bolu gulung yang kemudian menjadi bagian dari produk snack box,” katanya.

Selain keterampilan produksi, Dian juga mendapat pembinaan manajemen usaha melalui pelatihan 5R, yakni ringkas, rapi, resik, rawat, dan rajin, serta pelatihan pembukuan sederhana dan digital marketing.

Saat ini, usaha Eza Cake telah mempekerjakan tiga orang karyawan dan menggunakan bahan berkualitas. Sedangkan harga kue ulang tahun yang diproduksinya berkisar Rp150 ribu hingga Rp600 ribu. Sementara snack box dibanderol sekitar Rp15 ribu per kotak.

Ke depan, Dian menargetkan omzet usahanya dapat mencapai Rp300 juta per bulan sekaligus menguasai pasar snack box di Tapanuli Selatan. Namun, ia masih menghadapi kendala berupa belum tersedianya dapur produksi khusus dan pencatatan keuangan usaha yang masih bercampur dengan keuangan pribadi.

Dari Keripik Rp1.000, Kini Punya Rumah Produksi

Cerita serupa datang dari Rohimah Hasibuan, 38, pemilik usaha Mak Bastian Snack. Sebelum berkembang seperti sekarang, Rohimah merupakan guru mengaji sore yang sambil berjualan keripik dengan kemasan sederhana seharga Rp1.000.

Ibu tiga anak hasil perkawinannya dengan sang suami yang bekerja sebagai penderes karet itu menuturkan, usahanya mulai berkembang setelah menjadi mitra PTAR pada 2022.

Setelah menjadi mitra UMKM binaan PT AR, Rohimah mengikuti berbagai pelatihan dan mulai memperkuat kualitas serta kemasan produknya.

Rohimah Hasibuan, 38, pemilik usaha Mak Bastian Snack memperlihatkan snack hasil produksinya di Bagas Silua, Batang Toru, Tapsel , Rabu (19/8/2026). waspada.id/Mohot Lubis

Nama Bastian sendiri diambil dari nama anak pertamanya. Produk andalannya antara lain rempeyek kacang tanah dan rempeyek kacang hijau.

“Saya lebih suka menggoreng keripik daripada membuat kue,” ujar Rohimah.

Produksi kuliner Mak Bastian Snack kemudian dikembangkan sesuai permintaan masyarakat dan dipasarkan dengan kemasan yang lebih menarik dengan harga sekitar Rp25 ribu.

Dalam mendukung pengembangan usaha UMKM, PTAR memberikan bantuan pembangunan rumah produksi berukuran 2,5 x 5 meter sehingga Rohimah bisa memperbesar kapasitas produksinya.

Ditanya tentang penghasilannya saat ini, Rohimah mengungkapkan sekitar Rp2 juta per bulan.

“Alhamdulillah lumayan, Pak, sudah bisa dapat Rp2 juta,” ungkapnya.

PTAR Dorong UMKM Tak Sekadar Hidup dari Pesanan

Senior Supervisor SME Agincourt Resources, Nurlailah, mengatakan pembinaan UMKM dilakukan secara bertahap. Tahap awal diarahkan pada pemenuhan legalitas usaha sekaligus pembinaan pengembangan usaha.

“Pertama kita mendorong supaya memiliki izin dan kita fasilitasi. Setelah perizinan beres, baru kita perluas cakupan pasar,” katanya.

PTAR juga memberikan dukungan terhadap kemasan dan peralatan pendukung produksi agar produk UMKM memiliki daya saing lebih tinggi.

Menurut Nurlailah, perusahaan juga mendorong pelaku UMKM terus melakukan inovasi. Salah satu kanal pemasaran yang dikembangkan adalah Bagas Silua, yang menjadi ruang pemasaran produk UMKM di Tapsel, baik binaan maupun nonbinaan.

27 Rumah Produksi UMKM Dibangun

Program pembinaan UMKM kuliner PTAR telah berjalan sejak 2022 dan hingga kini tercatat 53 UMKM di wilayah Batang Toru dan sekitarnya yang menjadi binaan. Sedangkan yang sudah dibantu pembangunan rumah produksinya sebanyak 27 UMKM.

Nurlailah menyebut indikator keberhasilan pembinaan bukan sekadar meningkatnya omzet, tetapi usaha mampu berkelanjutan dan tidak hanya bergantung pada pesanan sesaat atau sistem by order.

“Indikator keberhasilan pembinaan adalah usaha itu berkelanjutan, bukan hanya tergantung by order. Pada 2025, omzet sejumlah UMKM binaan telah mencapai ratusan juta rupiah per bulan,” tuturnya.

Meski demikian, pembinaan UMKM masih menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya adalah pencatatan keuangan yang belum tertib karena uang usaha masih bercampur dengan keuangan rumah tangga. Kemudian, sanitasi lingkungan produksi sebagian UMKM juga belum memenuhi standar.

Upaya memperkuat kapasitas UMKM, lanjut Nurlailah, juga dilakukan melalui pelatihan yang digelar Yayasan Dana Bhakti Astra. Pada periode Juli-Agustus, tiga UMKM mengikuti rangkaian pelatihan, yakni Bunda 2R, Eza Cake, dan Bastian Snack. (Mohot Lubis/Waspada.id)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik
No topics for this article yet.

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement