E-SMILE, Skrining Dini Psikososial Berbasis Aplikasi Mobile


Oleh: DR. Lulu Lusianti Fitri, M.Sc
BERDASARKAN data World Risk Index 2025, Indonesia menempati peringkat ketiga negara dengan risiko bencana tertinggi di dunia dengan skor 39,80 setelah negara-negara Filipina dan India yang berada di peringkat kesatu (skor 46,5) dan kedua (skor 40,73).
Data tersebut mengindikasikan bahwa Indonesia memiliki skor tinggi karena berada di kawasan yang rawan berbagai bencana seperti gempa bumi, banjir, tanah longsor, erupsi gunung berapi, kekeringan, badai, karhutla, gelombang pasang, tsunami, hingga dampak perubahan iklim.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat di penghujung tahun 2025 bencana hidrometeorologi mendominasi wilayah tiga Provinsi di Sumatera, yakni Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat yang disebabkan dengan munculnya bencana banjir besar.
Tim Institut Teknologi Bandung (ITB) turut hadir di lokasi bencana banjir 2025 tersebut yang melanda wilayah Kecamatan Tanjung Pura, Kabupaten Langkat, dengan membawa berbagai keperluan primer bagi para korban antara lain dengan pengadaan Unit IPA (Instalasi Pengolahan Air), menggelar kegiatan balai (posko) Kesehatan, pemberian obat esensial, pendampingan psikosisial bagi anak-anak, pembagian makanan emergensi.
Termasuk juga pemberian hygiene kits serta pemasangan Automatic Water Level Recorder (AWLR) perangkat sistem peringatan dini (early warning system) yang bekerja secara otomatis dan kontinu untuk mendeteksi peningkatan ketinggian permukaan air Sungai Batang Serangan yang berpotensi menyebabkan banjir.

Sosialisasi Aplikasi E-SMILE di Lingkup Puskesmas dan RSUD Kecamatan Tanjung Pura.
Berdasarkan hasil pantauan tim kesehatan di lapangan terlihat bahwa kondisi penyintas tak hanya menghadapi kerugian material, namun juga yang mengalami stress akut pasca trauma (PTSD), kecemasan, gangguan tidur hingga depresi. Reaksi ini muncul sebagai respons langsung terhadap peristiwa traumatis yang dialami penyintas.
Oleh karena itu kehadiran tenaga kesehatan (Nakes) dan kader desa berperan penting dalam memberikan dukungan psikososial dan kesehatan jiwa kepada penyintas. Diketahui bahwa Kementerian Kesehatan telah menyediakan sistem dukungan psikososial dan kesehatan jiwa, namun pemanfaatannya masih belum optimal karena keterbatasan tenaga profesional seperti psikiater atau psikolog di tingkat komunitas.
Ketiadaan data kesehatan jiwa yang mumpuni serta sistem pemantauan yang berkelanjutan menjadi kompleks karena metode skrining konvensional masih menggunakan kertas sehingga sulit diaplikasikan secara massal yang disebabkan oleh kendala logistik dan tantangan literasi pada kelompok lansia.
Oleh karena itu diperlukan intervensi teknologi yang inklusif yang dalam program ini mengusulkan implementasi E-SMILE (Sistem Skrining Dini Psikososial Berbasis Aplikasi Mobile). Berbeda dengan aplikasi umumnya, E-SMILE dirancang dengan pendekatan hybrid (Suara dan Teks) untuk memfasilitasi penyintas yang memiliki keterbatasan literasi digital atau kesulitan mengetik.
Sistem ini tidak hanya melakukan skrining sesaat, tetapi juga pemantauan kualitas hidup harian melalui mood tracker (pelacak suasana hati), baik pada individu penyintas bencana atau normal.
Pada akhir bulan Agustus 2026, tim ITB kembali terjun ke lokasi bencana tahun 2025 dan memperkenalkan aplikasi E-SMILE di lingkup Departemen Psikiatri/Kedokteran Jiwa FK USU dan para Nakes di lingkup RSUD Tanjung Pura dan Puskesmas di Kecamatan Tanjung Pura, Kabupaten Langkat.
Pembuatan aplikasi E-SMILE disusun dengan seksama oleh tenaga ahli ITB dan bekerjasama dengan staf dokter psikiatri dari Departemen Psikiatri FK UNPAD dan FK USU. Sistem E-SMILE dapat diakses langsung oleh penyintas maupun oleh psikiater/Nakes dan hasil pengisian pada aplikasi langsung dapat diketahui dan dicetak dalam bentuk file PDF.
Pada sistem E-SMILE juga sudah menyertakan persetujuan (Informed Consent) dari penyintas dan apabila penyintas membutuhkan dukungan dari psikiater, maka dapat dilanjutkan dengan melakukan konsultasi pada dokter psikiatri. Aplikasi E-SMILE dapat diakses oleh individu selain penyintas, yang karena keberadaan mood tracker juga dapat dimanfaatkan orang awam.
Sistem E-SMILE juga sudah dilengkapi dengan sistem pendataan tiap individu yang dapat diikuti secara rutin, sehingga pola kebiasaan individu dapat diketahui secara rutin. Agar dapat dimanfaatkan oleh masyarakat luas, maka apikasi E-SMILE juga telah diproses pendaftaran hak ciptanya di Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI), Kementrian Hukum. *Penulis adalah Dosen Program Studi Biologi, Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati, Institut Teknologi Hayati.












Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda